Tiga hari berlalu, aku belum sempat meminta ijin pada pria ini. Sudah seperti gangsing yang berputar kesana kemari, pria ini baru berhenti saat tenaganya benar-benar habis. Membuatku merasa tak nyaman untuk membahas rencana yang sudah aku susun dari tiga hari lalu. Lalu kini, aku terdiam di hadapan Disaka yang asik dengan layar besarnya. Alisnya semakin berkerut dari hari ke hari, aku tak mengira pria yang ku kenal begitu tenang bisa se gelisah ini. "Apa yang kau lihat Disaka?" Mendengar suaraku, Disaka beralih. "Hm?" "Ah ini, kau mau lihat sayang?" Aku mengangguk, menghampiri Disaka. Aku berdiri di sampingnya. "Eih?" Ku rasakan kedua alisku tak kalah berkerut nya dengan Disaka, bagaimana tidak? Di layar itu hanya ada garis berwarna warni yang terlihat seperti gunung. Turun naik. "

