bc

Thread Madness

book_age16+
16.3K
FOLLOW
76.5K
READ
forced
second chance
pregnant
goodgirl
billionairess
heir/heiress
bxg
highschool
first love
tricky
like
intro-logo
Blurb

6 tahun setelah kepergian Laluna Laine dari tanah air menuju Inggris Raya, wanita berusia 24 tahun itu akhirnya kembali lagi ke Indonesia bersama dengan seorang bocah laki-laki bernama Aiden.

Laluna pergi ke Inggris untuk mengejar mimpinya sekaligus untuk menghilangkan masa lalu yang nggak ingin diingatnya lagi seumur hidupnya. Namun, saat wanita itu kembali ke Indonesia, mengapa orang pertama yang bertandang ke studio gaun pengantin yang baru saja dibukanya haruslah seorang Ezra Miller yang notabenenya adalah satu-satunya orang yang paling nggak ingin ditemui oleh wanita itu? Apakah takdir dan semesta sedang bermain-main di sini?

chap-preview
Free preview
Thread Madness - Prologue
"Good morning, Mama," bisik Aiden dengan mata yang masih terpejam. Bocah itu kini memindahkan kepalanya pada lengan atasku sebagai bantal sembari melingkarkan lengan kecilnya pada leherku. Ulah anak ini mau nggak mau pun menerbitkan seulas senyum di bibirku. Anak yang cerdas, persis seperti... Ucapan di dalam batinku tertahan, aku nggak mampu melanjutkannya dan juga nggak ingin kembali mengingat memori yang sangat-sangat ingin kuhapus dalam hidupku jikalau saja bisa. "Ayo, bangun, Aiden. Ini udah jam 7 pagi, Sayang. Kamu harus bangun kalau nggak mau terlambat," jelasku seraya menepuk kecil b****g Aiden sebanyak beberapa kali hingga anak itu terusik dari tidurnya. Aiden mengerang nggak suka dengan ulahku, anak lelaki itu dengan sangat terpaksa membuka matanya kemudian menatap tepat di mataku sambil bergumam, "Oke. Lima belas menit lagi, Mama." "No, no, Aiden. Bangun dan pergi sikat gigi kemudian mandi yang bersih. Jika school bus sampai meninggalkanmu seperti kemarin lagi, Mama nggak akan mau mengantarmu ke sekolah lagi, Boy," jelasku dengan nada intimidasi yang kentara pada kalimatku. Aiden pun akhirnya menganggukkan kepalanya dengan setengah hati kemudian turun dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya sendiri. Bersamaan dengan menghilangnya putraku di balik pintu kamar mandi itu, seulas senyum pun terbit di bibirku. Otakku kembali mengingat-ingat alasanku bertahan sampai hari ini, Aiden Ernesto, putra semata wayangku. Rasanya aku akan melakukan apapun untuk mengabulkan permintaan yang masih tergolong wajar dari anak itu karena ialah satu-satunya alasan aku masih berada di sini. Mungkin kalau Aiden nggak pernah hadir di dalam hidupku, aku akan pergi menyusul ayah dan ibuku saja yang sudah tenang di atas sana. Kedua lenganku kini berpindah di bawah kepala untuk menjadi bantalanku. Dengan kepala yang menghadap ke atas dan mata yang menatap pada langit-langit kamar, aku mulai mengilas balik saat hari di mana aku melahirkan Aiden seorang diri. Di saat usia seperti itu, semua gadis seumuranku baru saja memasuki universtas, bersenang-senang dengan sahabat mereka, pergi berkencan dan menonton bioskop dengan pacar mereka, sementara aku malah berada di salah satu ruangan bersalin di rumah sakit tanpa ditemani oleh siapapun. Ya, benar, aku adalah gadis 19 tahun yang menghadapi persalinan seorang diri tanpa siapapun di sampingku. Namun, aku nggak pernah menyesali kehadiran Aiden sejak pertama kali aku mengetahuinya melalui alat tes kehamilan yang menandakan tanda positif. Yang kusayangkan hanyalah... anak itu hadir di waktu yang nggak tepat. Di saat aku harus berkuliah dan bekerja paruh waktu di dua tempat dengan shift yang berbeda, aku juga harus tetap menyusui Aiden saat itu apalagi bocah itu kerap terbangun setiap 2 sampai 3 jam sekali karena kehausan untuk meminum s**u. Jelas pola tidurku menjadi berantakan dan kacau balau saat itu, ditambah dengan kekhawatiranku mengenai beasiswaku yang akan dicabut jika nilaiku nggak memuaskan seperti yang tertulis di kontrak perjanjian. Aku hanya cuti dari kuliah selama 2 bulan setelah persalinan. Tentu saja aku sudah memberikan maternity certificate pada tutor dan dosenku di kampus sebelum mendiskusikan rencana perkuliahanku dengan pemberi beasiswa. Untung saja mereka mengiyakan dengan senang hati tentang keputusan kampus yang memberikanku cuti paska melahirkan selama 2 bulan. Dua bulan setelah Aiden melihat dunia, aku pun kembali berkuliah dan menitipkan putraku pada seorang kenalan yang bernama Carol. Wanita paruh baya itu adalah tetanggaku di sebelah apartemen yang aku sewa dulu, ia juga kerap membantuku menyiapkan barang-barang untuk menghadapi persalinan. Kupikir daripada menghabiskan 18-20 poundsterling setiap harinya untuk biaya baby care Aiden, lebih baik aku menitipkannya pada Carol yang jelas bisa memberikanku harga yang jauh lebih murah daripada nursery atau baby care yang ada di London. Lagi pula, Carol hanya berdua di apartemen bersama suaminya yang merupakan orang Indonesia namun sudah berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara Inggris. Pasangan paruh baya itu tampak masih saling mencintai dan mengasihi pasangan mereka walaupun usia mereka sudah nggak lagi muda. Dan yang membuatku bersyukur adalah mereka yang juga menyayangi Aiden seperti cucu mereka sendiri karena dari cerita yang kudengar, Carol dan suaminya—Pak Ahmad, nggak dikarunia anak sejak mereka menikah. Tapi itulah cinta yang sejati, selalu bersama nggak peduli apapun yang terjadi. Terkadang decakan iri di dalam hati pun nggak luput saat mendapati Carol dan Pak Ahmad yang masih tampak mesra. Mereka bahkan nggak malu memamerkan kasih sayang mereka terhadap pasangannya di depan umum dan itu tentu saja membuatku kagum sekaligus iri pada pasangan paruh baya itu. Lamunanku buyar ketika mendengar suara Aiden dari dalam kamar mandi bertepatan dengan munculnya sosok anak lelaki itu dengan handuk kecil yang melilit di tubuh bagian bawahnya. "Mama!" panggil Aiden dengan teriakannya dan berjalan menghampiriku. "Yes?" balasku lembut. "Om Galvin jadi datang nggak, ya, hari ini?" gumam Aiden bertanya-tanya. Kedua jari bocah itu bahkan sampai mengusap-usap dagunya dengan ekspresi berpikir yang kentara pada wajahnya. "Mungkin nanti setelah pulang kerja," ujarku menjawab. "Iyakah?" tanya Aiden sekali lagi. Aku mengendikkan bahu kemudian menjawab, "Nggak tahu. Masih mungkin, Aiden, bukan pasti." Aiden terkekeh. "Lalu, kapan Mama dan Om Galvin akan menikah?" tanya bocah itu seraya memakai pakaiannya di hadapanku. Aku melototkan mata ketika mendengar pertanyaan Aiden yang absurd itu. Sedangkan putraku malah membalasku dengan tatapan polosnya. "Siapa yang mengajarkanmu berkata seperti itu, Aiden?" tanyaku dengan nada galak. "Oma Carol. Oma bilang kalau Mama dan Om Galvin seharusnya menikah secepatnya," jelas Aiden yang masih mempertahankan ekspresi polosnya. Keningku berkerut ketika mendengar penjelasan bocah lelaki itu sembari mengeringkan rambut basahnya dengan pengering rambut. Aku kemudian menggelengkan kepala saat mengingat ucapan Carol sejak beberapa tahun lalu yang menyarankanku untuk menikah dengan Galvin, sahabatku. Memang pria itu sendiri yang menawarkan diri untuk menjadi ayahnya Galvin. Bukan satu atau dua kali pria itu memintaku untuk menikah dengannya, tapi... aku tetap nggak bisa melakukan itu. Galvin adalah pria berusia 26 tahun yang berkebangsaan Indonesia, sama seperti diriku. Kami pertama kali bertemu di universitas 6 tahun yang lalu. Saat itu aku berada di jurusan fashion design and development, sedangkan Galvin di jurusan fashion marketing. Salah satu teman kami yang mengenalkan Galvin padaku di tahun pertama aku berkuliah di London College of Fashion. Aku ingat sekali, pria itu bersikap sangat sopan dan ramah padaku di saat banyak mahasiswa-mahasiswi lainnya yang melayangkan cibiran ketika melihat kondisiku yang sedang berbadan dua. Maka dari sanalah, aku pun mulai berteman dengan Galvin sampai hari ini setelah mutual friend kami yang mengenalkanku pada pria itu pulang kembali ke kampung halamannya di Korea. Namanya Kim Ji Soo. Meskipun Ji Soo sudah kembali ke Korea, kami—aku dan Galvin tetap melakukan kontak dengan gadis itu. Terkadang aku ditemani oleh Aiden dan nggak jarang juga kami bertiga yang lebih dulu menelepon Ji Soo via FaceTime. Carol dan Pak Ahmad yang sudah lumayan lama mengenal Galvin—sejak 6 tahun yang lalu pun selalu meyakinkanku kalau Galvin adalah kandidat terbaik untuk menjadi ayah Aiden. Bahkan pasangan paruh baya itu juga kerap kali berkata bahwa Aiden sedikit mirip dengan Galvin. Ucapan mereka sedikit kubenarkan di dalam hati, namun aku meyakininya sebagai akibat dari Aiden yang sudah mengenal Galvin sejak ia bahkan belum bisa berjalan. Mungkin karena intensitas bertemu mereka yang tinggi, maka wajah mereka juga perlahan akan tampak mirip sekilas. "Jangan berbicara seperti lagi, ya, Sayang. Apalagi di depan Om Galvin," pesanku sebelum meletakkan hair dryer yang ada di tanganku kembali pada tempatnya semula. Aiden menatapku dengan pandangan bertanya. "Kenapa? Bukannya Om Galvin juga sayang sama Mama? Seperti dia sayang sama Aiden." Aku menggeleng lalu membawa Aiden ke dalam gendonganku. "Kami masih terlalu kecil, Boy, untuk mengerti hal-hal orang dewasa yang merumitkan," jawabku menjelaskan. Aiden nggak lagi bertanya apa-apa ketika aku menyodorkan semangkuk sereal coklat dengan s**u ke hadapan bocah itu. Sereal dengan s**u adalah sarapan kesukaan Aiden, bahkan putraku itu hampir setiap hari menggunakan menu itu sebagai sarapannya. Berbicara tentang makanan yang dimakan oleh Aiden, bocah itu adalah omnivora yang memakan segala jenis makanan. Tapi ada satu hal yang paling ia benci di dunia ini, kacang polong. Aiden sungguh-sungguh membenci makanan berjenis polong-polongan itu. Kebencian mengakarnya terbukti dari dirinya yang lebih memilih untuk memisahkan kacang polong yang ada di Nasi Goreng Yangzhou sebelum menyantapnya. Anak itu benar-benar persis seperti seseorang yang sudah seharusnya kulupakan sejak lama. Namun sampai detik ini, aku belum mampu melakukan hal tersebut. Aku sendiri juga masih bingung dengan apa yang harus kulakukan agar memori-memori menyakitkan itu bisa lenyap dari benak dan nggak lagi menjadi bagian dari hidupku. Mungkin aku hanya perlu bersabar sesuai dengan quotes yang berkata 'time will heal your wounds'. "Hello, Mama!" panggil Aiden yang mengibaskan tangannya di depan wajahku. Aku yang tersadar dari lamunan pun tersentak. "Yes?" Aiden mendorong mangkuknya yang sudah kosong ke hadapanku. "I am done." Mataku menatap bingung pada Aiden lalu bertanya, "Then? Mama udah ajarkan berapa kali untuk selalu meletakkan alat makanmu di tempat pencucian?" Putraku itu menepuk jidatnya sambil terkekeh. "Maaf, aku lupa," ujar Aiden sambil berjalan menuju tempat pencucian piring dengan alat-alat makan yang berada di tangannya. Setelah Aiden meletakkan benda-benda itu ke dalam bak pencucian, bocah itu kemudian berjalan menghampiriku. Tanganku langsung menyampirkan tas sekolah pada pundak Aiden. "Hurry up, Aiden. Your bus is almost coming," titahku dengan tangan yang menepuk kecil puncak kepalanya beberapa kali. Baru saja aku membuka pintu rumah, sebuah bus bewarna kuning terang sudah tampak berhenti di depan pagar rumahku. Aiden berlari kecil menghampiri bus yang akan membawanya ke sekolah itu. "Aku pergi, Mama. Love you so much," teriak Aiden yang menjauhiku dengan tangan yang melambai mengiringi kepergian bocah itu. * Setelah membersihkan diri dan berpakaian ala wanita kantoran, aku masuk ke dalam studio kecil yang berada di sebelah kamarku. Saat memasuki ruangan itu, aroma parfum Creed Aventus langsung menyerbu indra penciumanku. Parfum dengan base notes Musk, Oak Moss, Ambergris dan Vanille itu membuatku memejamkam mata sejenak sebelum menutup kembali menutup rapat pintu ruangan mini studio ini. Tanganku menyentuh kotak fibre transparan bersekat yang tertempel di dinding sebelah pintu. Otakku kembali mengingat alasan mengapa aku mengumpulkan gulungan-gulungan benang yang ada di setiap sekat kotak itu. Saat pertama kali aku menginjakkan kaki di London atau dengan kata lain saat pertama kalinya aku berkuliah di London College of Fashion, aku selalu membeli 1 gulung benang yang berbeda warna setiap minggunya. Setiap bulannya, aku selalu menyusun benang-benang itu berdasarkan kategori warnanya ke dalam kotak fibre transparan yang tertempel di dinding. Terakhir kali aku menghitungnya, sudah ada 320 gulung benang di dalam kotak transparan tersebut. Itu menandakan sudah 6 tahun lebih aku pergi dari tanah airku. Entah kenapa, sejak pertama kali menginjakkan kaki di London, toko pertama yang kudatangi adalah toko benang yang berada dekat dengan kampusku. Kupikir, itu hanyalah faktor mengidam dari kehamilanku, namun ternyata dugaanku salah. Kesenangku untuk mengoleksi benang-benang masih terus berlanjut setelah Aiden lahir dan sampai hari ini. Kenapa aku hanya membeli 1 gulung benang saja setiap minggunya? 6 tahun yang lalu, aku hanyalah wanita hamil berumur 18 tahun yang merantau ke London karena mendapatkan beasiswa. Pada umur 15, kedua orang tuaku sudah meninggal. Meskipun mereka nggak mewariskan apa-apa padaku, setidaknya mereka nggak mewariskan hutang yang harus kutanggung setelah kepergian keduanya dan aku sangat bersyukur akan hal itu. Dengan uang pertanggungan yang didapat dari polis asuransi kedua orang tuaku yang nggak terlalu besar, aku pun akhirnya bisa sampai di London setelah menempuh banyak cobaan berat saat masih berada di Indonesia. Maka dari itu, untuk bisa terus melanjutkan hidup, aku pun memutuskan untuk bekerja serabutan sembari kuliah dengan kondisi yang sedang hamil besar. Uang pertanggungan polis asuransi itu nggak kugunakan sedikit pun ketika berada di London karena aku tahu biaya hidup di kota ini sangat tinggi dan juga aku perlu untuk membayar biaya persalinan dan kebutuhan Aiden setelah aku melahirkan. Aku memejamkan mata kemudian menggeleng. Aku nggak ingin mengingat-ingat apa yang sudah terjadi di masa lalu. Setidaknya semua sakit hati di masa lalu yang pernah kurasakan, menjadikanku seorang Laluna Laine yang sekarang. Yang nggak pernah bergantung pada siapapun lagi, apalagi pria yang bernama Ezra Miller.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Siap, Mas Bos!

read
11.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
203.2K
bc

Tentang Cinta Kita

read
188.4K
bc

Single Man vs Single Mom

read
97.1K
bc

My Secret Little Wife

read
92.1K
bc

Iblis penjajah Wanita

read
3.3K
bc

Suami Cacatku Ternyata Sultan

read
14.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook