Aleksander melempar tas sekolahnya sembarangan dan langsung menjatuhkan badannya ke kasurnya. Kedua alisnya tertekuk dan napasnya memburu. Sekuat tenaga dia menahan emosinya. Bagaimana bisa Louis MacMillan mengirimnya ke sekolah asrama? Sungguh, sekolah asrama?!
Padahal Aleksander hanya bertengkar dan itupun tidak membuat dia maupun lawannya babak belur—ya, walaupun wajahnya sekarang tetap sakit karena pukulan kuat dari Si Berengsek Max Alderon itu.
“Aleks?”
Ketukan di pintu itu membuat Aleksander berdecak sebal. Ingin sekali dia tidak mengacuhkan ketukan pintunya, tapi dia tidak bisa—ibu dan ayahnya mengatakan, kalau itu bukanlah tindakan yang baik. Maka, dengan rasa sebal di hatinya, Aleksander bangkit dari posisinya dan membuka pintu kamarnya.
“Kamu tidak apa-apa? Boleh Mama masuk?” Sydney MacMillan tersenyum kecil. Senyuman yang tidak akan Aleksander berani untuk hapuskan dari wajahnya. Aleksander mengangguk dan mereka berdua duduk di sisi ranjangnya.
Sydney hanya menghela napas sambil mengusap rambut anaknya. “Kamu marah, ya?” Pertanyaan itu sebenarnya tidak perlu dijawab oleh Aleksander, karena Sydney sudah tahu hal itu. Namun, dia berpikir alangkah baiknya untuk memancing Aleksander bercerita terlebih dahulu.
Aleksander hanya berdecak. “Ayah berlebihan, apa hanya karena aku bertengkar, aku harus dipindahkan ke sekolah asrama? Aku tidak mau!” Aleksander tidak menahan emosinya lagi. “Ayah tidak tahu apa yang Max katakan hingga aku marah seperti itu, Mama!”
Sydney mengangguk-anggukkan kepalanya. Aleksander putranya dan Louis, memiliki satu sifat yang sama; keras kepala. Mereka tidak akan menemukan titik tengah dari permasalahan mereka jika berdebat tanpa ada orang ketiga—dan biasanya, Sydney yang menjadi penengah. “Jadi, apa yang dikatakan Max? Mama sangat mengenal kamu, Aleks. Tidak mungkin kamu tersulut emosi hanya karena masalah sepele, bukan?”
Pertanyaan tenang dari Sydney justru menjadi tamparan untuk Aleksander. Karena pada kenyataannya, dia memang bertengkar karena masalah sepele; karena Max mengatakan bahwa dia adalah pangeran yang dimanja oleh kedua orang tuanya dan hanya menikmati kekayaan mereka. Aleksander tidak suka dikatakan seperti itu.
Sydney hanya menghembuskan napasnya. Memaklumi kenapa amarah Aleksander meletup-letup.
“Mama, bisa Mama bicarakan dengan Ayah? Aku tidak ingin pergi ke sana.”
Sydney terdiam. Louis sudah bersikeras untuk mendaftarkan Aleksander ke sekolah tersebut sejak lama. Sydney menjadi ragu bahwa keputusan Louis ini bisa diubah dengan mudah.
“Mama?”
Sydney hanya mengusap rambut anaknya. “Anak Mama sudah besar, pasti kamu bisa menatap semua keputusan dan apapun yang terjadi di hidup kamu dengan dewasa, ya?”
Aleksander menghela napasnya. Dia kembali membaringkan badannya dan akan menutupnya dengan selimut, namun gerakannya itu tertahan ketika adik perempuannya yang bernama Blair, tiba-tiba saja masuk. “Kakak!” serunya dengan wajahnya yang sangat imut. Apalagi rambutnya dikucir dua, membuat wajahnya terlihat semakin bulat.
“Blair, Mama sudah bilang, bukan? Kalau ingin masuk kamar, ketuk dulu.” Sydney mengingatkan putrinya. Sudah beberapa kali Sydney gemas pada anaknya yang selalu masuk sembarangan pada kamar orang lain, dan sering kali Louis dan Sydney yang menjadi sasarannya. Ketika Louis dan Sydney berada di kamar suaminya itu, Blair selalu saja masuk tanpa memberitahu dulu. Hal itu sempat membuat Louis kesal, apalagi karena apa yang sedang dilakukan dia dan istrinya.
Sementara itu, Blair tidak begitu mendengarkan dan memilih untuk naik ke ranjang kakaknya.
“Kakak, main?”
Aleksander mengerang pelan. “Mama,” rengeknya, secara tidak langsung memberitahu bahwa dia sedang tidak mau diganggu.
Sydney tertawa kecil. “Blair, ikut Mama yuk?” Sydney mengangkat tubuh Blair dari ranjang Aleksander yang membuat gadis kecil itu merengek kesal.
“Tidak mau!”
“Blair, Mama juga sudah bilang untuk tidak berteriak pada Mama, ‘kan?” Sydney harus ekstra sabar menghadapi dua anaknya yang sedang dalam suasana hati yang tidak baik.
“Ayo, ikut Mama saja, ya. Kita lihat ke kebun belakang, mau?” Dengan segala jurus dan kesabarannya, akhirnya Sydney berhasil membawa Blair dan membuat anak pertamanya bisa bernapas lega.
***
Sekolah MacMillan yang sudah didirikan selama beberapa tahun ini, berkembang pesat dan baik. Banyak donatur yang ikut serta dalam sekolah itu. Murid-murid di sana juga semakin banyak dan mengharuskan Louis MacMillan melakukan beberapa renovasi lagi untuk memberikan fasilitas yang maksimal.
Louis baru saja pulang selepas memeriksa beberapa lokasi sekolahnya ketika Blair, anak keduanya, menghampiri dia. “Ayah!” Anaknya itu langsung memeluk kedua kakinya. Louis tidak tahan untuk tidak menggendong anak keduanya.
“Ada apa, Blair? Di mana Mama?”
Biasanya, anak keduanya itu tidak pernah lepas dari pengawasan Sydney, jadi Louis sedikit heran ketika istrinya tidak berada di sisi anaknya. Blair tidak menjawab dan hanya mengoceh tidak nyambung.
“Louis.”
Sydney tiba-tiba saja menghampirinya dengan wajah serius. Tidak seperti biasanya di mana istrinya itu selalu saja tersenyum tiap kali menghampirinya.
“Ada apa?” tanya Louis kepada istri cantiknya. Dia mengecup pipi Sydney namun hal itu tidak juga membuat istrinya tersenyum.
“Aku ingin bicara.”
Louis mengangguk. Dia segera memanggil Ester, pelayan di kastil itu yang juga merupakan baby sitter dari Blair. Berbeda dengan Aleksander yang dulu ketika seusia Blair tidak ingin dipegang oleh siapapun selain orang tuanya, Blair sendiri tidak masalah ketika diajak kemanapun oleh orang lain. Hal itu menjadikan Blair, anak kecil paling favorit di kastil itu.
“Jadi, ada apa?” Louis menggandeng tangan istrinya untuk diajaknya ke ruangan lebih tertutup. Mereka duduk berdampingan di sofa.
“Ini soal Aleks.”
Louis terdiam dan hanya menghela napas lelah. Sydney sendiri tahu Louis akan seperti ini. Suaminya itu akan sulit dibujuk jika menyangkut hal soal Aleksander. “Louis, Aleksander benar-benar tidak mau. Dia mengatakan padaku agar aku bisa membujuk kamu untuk tidak memasukkannya ke sekolah asrama.”
Louis membenarkan anak rambut istrinya di dahi Sydney dan memerhatikan wajah wanita itu. “Itu semua juga untuk kepentingan Aleksander, Sydney.”
Sydney menggeleng. “Aku rasa bukan. Dia hanya bertengkar, Louis, dan itu juga tidak fatal. Dia akan merasa tidak adil jika kamu memaksa untuk membawanya ke sekolah itu.”
“Jika tidak mendapatkan hukuman, dia bisa jadi melakukan tindakan itu lagi.”
Sydney sedikit gemas karena suaminya tidak juga mengerti. Harusnya pernikahan yang menginjak delapan belas tahun ini membuatnya bisa membujuk Louis dengan mudah, nyatanya, Louis MacMillan tetaplah Louis MacMillan—pria keras kepala yang pernah Sydney temui.
“Anakku bukan bocah nakal yang akan mengulangi tindakan salah. Dia tahu itu.” Sydney memegang tangan suaminya. “Lagipula, jika dia dimasukkan ke sekolah asrama, aku akan sangat jarang bertemu dengan dia, Louis. Blair juga akan kehilangan teman bermainnya.” Anak-anaknya itu sangat dekat walaupun umur mereka terpaut cukup jauh. Sydney tidak bisa membayangkan Blair kesepian karena kakaknya tidak ada.
“Tidak masalah. Sydney, kamu membuat hal yang seharusnya bukan masalah menjadi masalah. Kamu tahu hal itu tidak benar.”
Sydney melepaskan genggaman tangannya dari Louis dengan sedikit kasar. “Kamu menyebalkan!”
“Aku hanya ingin melindungi putra kita, Sydney. Dia akan menjadi the next viscount dan harus menyadari beberapa hal.”
“Kamu sudah berjanji kalau kamu tidak akan menjadi ayah kamu.”
Louis terdiam.
***