Chapter 2 (Young Royal)

1227 Words
Ketika Louis MacMillan datang ke sekolah anaknya, suasana menjadi lebih heboh dari sebelumnya. Para murid saling berdesak-desakan untuk melihat Louis MacMillan dan seperti biasa, para guru akan berjejer di gebang sekolah untuk menyambut kedatangannya. Kedengaran seperti berlebihan sekali, tapi Louis memiliki pengaruh besar di sana. Kekuasaannya tidak bisa disandingkan oleh siapapun dan itulah mengapa orang-orang sangat sungkan padanya. Hanya ada satu orang yang tidak tertarik melihat kedatangannya; Aleksander MacMillan. Aleksander masih berada di ruang konselor sendirian. Memainkan jari-jarinya dengan gugup dan berdecak berkali-kali. Dia tidak peduli dengan keadaan di luarnya yang sangat ricuh. Sementara itu, kepala sekolah dari Green Hills High School, menghampiri Louis sambil membungkukkan kepalanya. “Tuan Louis—” “Boleh saya tahu di mana putra saya?” tanyanya dingin namun tetap berwibawa. “Ada di ruang konselor, Tuan.” Louis mengangguk. Dia menyuruh anak buahnya yang ikut bersamanya untuk diam di sana dan menunggu, sementara ia menyusul anaknya. “Aleksander MacMillan.” Aleksander yang sedari tadi melamun, cukup terkejut dengan seruan tegas itu. Dia menoleh ke belakang tubuhnya dan langsung berdiri. “Ayah.” Louis terlihat menyeramkan. “Keluar.” Aleksander mengangguk. Dia mengikuti langkah kaki ayahnya. Masih dengan kepala yang tertunduk sungkan. Ayahnya berhenti tiba-tiba di lorong yang dipenuhi banyak murid. “Di mana teman kamu?” tanya Louis pada Aleksander yang membuat anaknya mengeryitkan dahinya bingung. “Siapa?” “Teman bertengkar kamu tadi,” ujarnya sinis. Aleksander menghela napasnya. Dia mengendikkan kedua bahunya karena dia memang belum sempat bertemu dengan Max setelah pertengkaran mereka tadi. Setaunya, Max mendapatkan hukuman 3 hari skors dan dilarang untuk pergi ke sekolah. “Aku tidak tahu, Ayah.” Louis menghela napas sebal. Dia menghampiri kepala sekolah yang berdiri canggung di dekat mereka. “Saya mencari anak yang bertengkar bersama putra saya tadi.” Kepala sekolah itu mengangguk dan segera memanggil Max. Lelaki itu berada di antara kerumunan tadi dan ketika dipanggil, dia langsung maju walaupun langkahnya ragu. Pandangan kedua anak itu sama-sama menunduk. Entah karena malu mereka menjadi pusat perhatian, atau karena enggan bertatapan mengingat kejadian sebelumnya. “Aleksander, minta maaf.” Aleksander langsung mendongak dan menatap ayahnya tidak percaya. Dia salah dengar, kan? Bagaimana mungkin Louis MacMillan ingin dia meminta maaf pada lelaki yang menyulut emosinya lebih dulu? Aleksander menggeleng tegas. “Aku tidak mau. Dia yang lebih dulu membuat aku emosi, Ayah—” ucapan Aleksander terhenti ketika Louis MacMillan menoleh ke arahnya dengan tatapan dingin. Iya, Aleksander tahu ayahnya tidak suka ketika dia mencoba untuk mendebatnya. Aleksander menghela napas kasar. Meminta maaf pada bocah yang sudah membuatnya kesal bukan main? Ayahnya pasti bercanda! Aleksander tahu bahwa kini Max sedang tersenyum diam-diam dan merasa menang. Hal itu membuatnya semakin enggan untuk meminta maaaf. Ayahnya benar-benar membuatnya malu! “Max. Aku minta maaf.” Aleksander mengulurkan tangannya yang dengan ragu, dibalas oleh Max, lelaki itu juga meminta maaf padanya. “Bagus.” Louis bergumam. “Max Alderon, saya pribadi minta maaf atas kelakuan anak saya. Tapi, kamu tahu sendiri, bahwa bertengkar bukanlah tindakan yang dewasa, bukan?” Max tahu Louis mencoba untuk mengintimidasinya—dan itu berhasil. Max ketakutan sekarang. Dia mengangguk patuh. “Problem solved?” Louis berjalan meninggalkan keramaian itu, juga Aleksander yang mukanya memerah karena malu. Dia tidak salah di sini dan ayahnya membuatnya mengakui sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh Max. “Saya ingin membawa anak saya pulang sekarang, apa boleh?” Louis berjabat tangan dengan kepala seolah yang terlihat sangat sungkan padanya. Sementara itu, Aleksander MacMillan berdiri di belakangnya dengan wajah tertekuk. “Ah iya, silakan, Tuan. Tidak apa-apa.” Louis mengangguk. “Saya akan pastikan kejadian ini tidak akan terjadi lagi.” *** Di mobil yang akan membawanya pulang, Aleksander memilih untuk menatap jendela ketimbang meliahat wajah ayahnya. Sedari tadi, tidak ada yang ingin memulai percakapan di antara mereka. Dua lelaki beda generasi itu hanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. “Aleksander.” Louis akhirnya memecah keheningan di antara mereka. “Kamu tahu Ayah paling tidak suka jika kamu bermasalah di sekolahmu, bukan?” Aleksander menghela napas kasar. “Hm.” Dia bergumam sebagai jawaban. Tadi di sekolah, dia sudah setengah mati menahan emosinya. Dia bersikap sebagai anak yang penurut dan tidak melawan apa yang diperintahkan oleh Louis. Tapi sekarang, Aleksander tidak akan melakukannya lagi. “Lalu, kenapa tadi kamu bertengkar, Aleksander?” Aleksander bergeming. “Aku berbicara dengan kamu.” Nada suara Louis tetap tenang. Namun, penuh akan ketegasan dan ancaman. Louis MacMillan memang tidak pernah berlaku kasar pada keluarganya, bahkan memukul saja tidak pernah ia lakukan. Tapi, itulah sebenarnya yang membuatnya lebih menakutkan. Nada bicaranya dan tatapannya yang tenang adalah hal paling menakutkan menurut Aleksander. “Dia menyinggung aku.” Louis menghela napas. “Hanya karena itu?” “Dia menyebalkan, Ayah!” Aleksander tidak ingin menceritakan bagaimana detail pertengkarannya dengan Max kepada ayahnya. Dia hanya … canggung jika harus menceritakan itu semua. “Menyebalkan, dan kamu harus berulah seperti ini?” “Ayah tidak mengert—” Aleksander diam tiba-tiba ketika ayahnya melirik ke arah dia, secara tidak langsung mengatakan Aleksander untuk diam. “Kamu akan dipindahkan ke sekolah asrama setelah ini.” Ucapan Louis itu membuat Aleksander menegakkan punggungnya dan menatap ayahnya tidak percaya. “Apa?!” “Aleksander, berteriak pada orang tua kamu, bukanlah hal yang bagus.” Louis masih berujar tenang tanpa tersulut emosi sedikit pun. Berbeda dengan anaknya yang kini sudah emosi setengah mati dan siap untuk melampiaskan semuanya. “Sekolah asrama, Ayah?! Hanya karena aku bertengkar?!” Louis diam saja. Sebenarnya, ide ini sudah ia pikirkan sebelumnya. Dia memang berencana untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah asrama karena dia pikir di sana akan lebih aman untuk Aleksander. “Aleksander, di sana—” “Aku tidak mau!” Louis membiarkan anaknya emosi sendiri dan tidak berbicara lagi. Tidak ada gunanya dia membuat anaknya mengerti ketika Aleksander sedang marah seperti ini. Mereka sampai di kediaman mereka, MacMillan Castle, dan Aleksander segera turun dari mobilnya tanpa menunggu ayahnya terlebih dahulu. “Aleksander,” tegur Louis yang sama sekali tidak didengar oleh anaknya sama sekali. Sydney, istrinya, sudah menunggu di luar gerbang kastil mereka dan menghela napas. “Aleksander, Mama sudah menyiapkan makan untuk kamu.” Aleksander tidak menjawab dan terus melangkahkan kakinya. Louis menghampiri Sydney. “Louis, apa yang terjadi?” Louis menggeleng dan mengecup pelipis istrinya. “Dia hanya marah.” “Aku sangat tahu anakku, Louis. Dia bukan hanya marah.” Sydney mengeryitkan dahinya. “Apa kamu yang membuatnya seperti itu?” “Iya,” jujur Louis. “Aku menyuruh dia untuk pindah ke sekolah asrama.” Sydney memutar bola matanyaa malas. “Louis, bukankah kita sudah sepakat? Kita akan membicarakan ini dengannya ketika waktunya sudah pas. Bukan sekarang.” Sydney berujar dengan lembut. Suami dan putra pertamanya sedang dalam kondisi yang tidak mengenakkan, tidak akan berujung baik jika Sydney juga ikut tersulut emosinya. “Sudah saatnya dia pindah, Sydney. Dia juga masih ada di tahun pertama.” “Louis—” Louis meninggalkannya begitu saja membuat Sydney menghela napas sebal. “Mama.” Seorang gadis kecil menghampirinya dengan mata bulatnya yang menatap Sydney. Dia Blair MacMillan, putri keduanya—dan semoga anak terakhirnya pula—yang masih berusia enam tahun. “Kakak marah?” tanyanya dengan polos. Sydney tersenyum. “Kenapa Blair bertanya begitu?” “Dia menyeramkan.” “Tidak, dia hanya capek dari sekolahnya.” Sydney tertawa kecil dan mengangkat putrinya ke gendongannya. ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD