latihan hari pertama

1049 Words
Hari ini, sesuai janjinya. Bahwa dia akan latihan bersama Angkasa di tempat yang sudah ditentukan oleh Lelaki itu. Sebelumnya mereka janjian terlebih dahulu, di depan gerbang kampus. Gagah membereskan barang-barangnya. Setelah dosen keluar dari kelas. Teman sekelasnya, sekarang sudah benar-benar berubah. Dia sangat pusing, memikirkan nasibnya yang memang sudah tidak memiliki harapan di kampus ini. Namun, dia tetap bertahan. Karena sedikit lagi dia akan mendapatkan gelar yang sudah diimpikan. Perasaan hatinya sangat tidak karuan, dia juga kerap kali di Landa rasa malu. Mereka benar-benar menghindar. Bahkan anak perempuan yang kerap kali mengejarnya, mencari perhatian kini habis-habisan mencemoohnya. Semua dianggap angin lalu, meksipun sesaknya tidak berkurang sedikitpun. Raganya berada di kelas ini, tapi tidak satupun dari mereka yang menganggap dia ada. Dia pikir, seharusnya sebagai orang yang sudah dewasa. Mereka bisa menyikapi dengan baik. "Gagah!" Teriak seseorang dari arah pintu yang terbuka. Dia yang baru selesai memasukan perlatan belajarnya pun tersenyum. Dia merasa tidak perlu bersedih, masih ada Angkasa. Meskipun hanya teman baru. Setidaknya, lelaki itu tidak munafik seperti yang lain. "Iya, tunggu sebentar." Dia berdiri, dan menghampiri Angkasa. Banyak pasang mata yang merasa keheranan. Karena masih ada yang berani mendekati Gagah. Mereka melakukan tos tangan. "Lo dah siap?" Tanya Angkasa. "Siap," jawab Gagah dengan semangat. "Ya sudah. Ayo ikut Gue." Mereka pergi bersama menggunakan motor Angkasa, pria itu membawa Gagah ke sebuah lokasi seperti tempat bermain badminton, tapi di sana tidak ada net. Hanya ada ring boxing. Dan juga beberapa peralatan untuk latihan fisik. "Ini beneran?" tanyanya. Dia merasa sedikit ragu. Sepertinya badannya tidak akan sekuat itu untuk latihan di sini. "Pemanasan aja dulu. Payah!" Pria itu meledek, menyunggingkan senyum evil yang membuat Gagah muak melihatnya. "Ya sudah. Sebentar, ganti baju dulu." Setelah itu, sesi latihanpun di mulai. Mereka pemanasan terlebih dahulu. Gagah sudah ngos-ngosan, wajahnya mulai keringetan. Pria itu memang sangat mudah lelah. Mungkin, karena tidak terbiasa melakukan ini. "Ya sudah, Lo latihan pemanasan aja dulu. Gak lucu, kalau hari pertama udah pingsan. Gue gak mau gotong, lihat sendiri di sini kosong." "Latihan gimana?" "Ya, Lo lari kecil aja. 50 puteran." "Hah? 50 puteran?" Tanyanya kaget, sembari menelan ludahnya. "Kalau pengen gampang, main bekel aja." Angkasa sebenarnya memaklumi. Hanya heran saja. Ternyata fisik pria itu memang lemah. "Ya, masa 50 puteran. Enggak bisa 25 aja." "Kalau nawar di pasar. Ini tempat latihan. Cepet!" Pria itu berkata dengan suara yang lantang. Berdiri tegap sembari melipat tangannya di d**a. Angkasa benar-benar menyeramkan. Gagah saja langsung nurut. Meskipun dia terpaksa. Baru beberapa menit. Dia sudah menyesal menyetujui mengikuti bela diri ini. Dia merasa tersiksa. Kakinya juga mulai pegal dan sakit. Padahal baru 15 putaran. Kepalanya pun mulai keleyengan. "Tangkap!" Teriak Angkasa mengagetkannya. Dengan refleks, dia mengikuti perintah tersebut. Botol air mineral itu mendarat dengan mulus di wajahnya yang tampan. "Aduh!" Teriaknya reflek. Karena memang sakit, meskipun tidak kencang jika yang terkena muka, jadi sangat terasa. Dia juga yakin, jika wajahnya memerah. "Itu artinya Lo gak fokus." Bukan meminta maaf. Pria itu malah menyalahkannya. Benar-benar sangat kejam dan tidak manusiawi. Pikir Gagah yang masih setia mengusap wajahnya. Dia takut ini akan berbekas dan membuat ibunya curiga. "Ya tapi jangan di pipi kan bisa. Ini pelanggaran namanya." Dia melakukan pembelajaran diri. Karena merasa tidak sepenuhnya salah. "Gimana nggak kena pipi, kan itu kena tangan dulu terus mental ke pipi. Jadi jangan salahin Gue dong, Lu nya aja kurang fokus. Ingat ya kita harus waspada nggak boleh lengah sedikitpun meskipun itu 1 detik. Karena kita nggak akan tahu musuh menyerang dari arah mana saja." "Tapi musuh nggak akan ada yang lempar botol mineral. " "Masih bagus botol mineral, dari pada dilemparin batu." Gagah langsung diam, dia mengiyakan perkataan tersebut. Jujur saja, dia masih merasa ngeri dan setengah hati melakukan ini semua. Dia merasa, ini sangat berat. "Ini semua akan mudah pada waktunya. Lo jangan kebanyakan ngeluh." Pria itupun menggerutu, melatih Gagah seperti melatih anak kecil yang seringkali merengek. "Gue boleh minum dulu?" Tanyanya karena tenggorokannya terasa sangat seret, beruntung juga dia sedang memegang botol mineral. "Bebas. Tapi, sekali ijin minum. Lari tambah 5 puteran," ujarnya sembari tersenyum penuh kemenangan. Badannya langsung lemas tanpa bisa protes. Bagaimana dia bisa membayar 1 kali minum dengan 5 putaran jika tugasnya saja belum selesai. Dia menjatuhkan dirinya di lantai. "Kenapa jalannya gitu?" tanya ibunya. Begitu dia masuk ke dalam rumah. Padahal dia sudah sebisa mungkin untuk menutupi agar tidak terlihat aneh saat berjalan. Namun ternyata tidak mempan. Ibunya terlalu jeli untuk melihat apa yang terjadi pada anaknya. "Aku jalan kaki Bu." Ia sudah pikirkan alasan yang cocok saat ibunya bertanya. Dengan ekspresi yang dibuat seolah-olah nyata. "Memangnya uang transportasinya kurang? Bukannya hari ini ibu tambahin." Ibunya tidak lupa, bahwa tadi pagi dia memberikan uang jajan lebih. Jika dihitung-hitung cukup untuk pulang-pergi naik ojek online. "Habis Bu, dipakai beli minuman." Hal yang paling tidak dia sukai adalah menutupi kebohongan dengan kebohongan yang baru karena itu akan membuat menjadi tumpukan rasa bersalah. "Minuman apa? Masa minuman Samapi 20 ribu." "Ada Bu dari coklat pakai es." "Terus, tadi suara motor siapa?" Tanyanya lagi. Dia merasa mendengar suara motor. "Temen. Tadi ketemu di jalan Bu. Kasihan katanya lihat Aku jalan kaki." Ini adalah bantuan alasan dari Angkasa, temannya itu ikut memikirkan jika seandainya Ibu Gagah curiga. "Kamu gak habis berantem lagi kan?" Tanya ibunya penuh dengan rasa curiga. Karena melihat wajah anak yang sangat lesu. "Enggak Bu, kapok. Aku hanya kelelahan, karena banyak tugas." "Ya sudah, bersih-bersih sana." Akhirnya, dia bisa bernafas lega. Karena berhasil melewati sesi introgasi. Dia pun segera pergi dari ruangan itu, sebelum himpunan yang terpikirkan pertanyaan yang lain. Sesampainya di kamar. Bukannya langsung mandi, dia justru rebahan. Kakinya terasa remuk, lututnya lemas sekali. Bahkan ketika berjalan pun sudah tidak kuat. Namun, di hadapan ibunya harus terlihat baik-baik saja. Dia kembali merenung, memikirkan sekiranya apakah sudah benar jalan yang ditempuh. Ketika melihat wajah ibunya. Ada rasa bersalah dalam diri Gagah. Namun dia selalu meyakinkan bahwa latihannya ini bukan untuk menyalakan orang lain. Dia mencoba mengisi semangat pada dirinya sendiri. Ketika sekelebatan rasa kesal itu muncul, di situ emosinya naik. Bukan dendam, tapi rasa ingin membuktikan pada orang-orang yang telah menyakitinya. Jika bisa, dia ingin membantu orang-orang lemah sepertinya. Dia yakin yang mengalami hal seperti ini bukan hanya dirinya saja, mereka memanfaatkan kelemahan orang lain untuk menjatuhkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD