Gagah menunggu teman-teman organisasinya. Sembari dia mengerjakan tugas. Lelaki itu ditemani oleh pria asing yang tidak diketahui siapa. Maksudnya, mereka baru bertemu kemarin dan hari ini.
Sebagai orang yang perduli pada orang lain, dia tidak membiarkan lelaki itu terkena masalah karena berada dekat dengannya. Namun, sepertinya lelaki itu sangat menikmati peran sebagai orang baik.
Tanpa perduli kata orang. Dia tetap memilih untuk berdekatan dengan Gagah. Dia juga tidak takut dengan kata orang dan apa yang akan mereka lakukan.
"Hari sudah sore, sepertinya anggota organisasi ini tidak akan datang."
Gagah sangat bersedih hati, dia tidak tahu jika imbasnya akan sebesar ini. Padahal, dari apa yang terjadi. Dia tidak menyusahkan siapapun. Mereka semua tidak ada yang membelanya. Padahal, jelas-jelas dia tidak bersalah.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Popularitas memang akan selalu ada akhirnya."
Siapa yang tidak kaget. Dia tidak biasa dengan situasi seperti ini. Hidupnya selalu dikelilingi dengan orang yang mengagungkan dia. Hanya karena tidak bisa berkelahi. Mereka semua pergi dan menganggapnya lemah.
"Tapi kenapa, dari sekian banyak orang. Mereka tidak ada yang toleransi padaku. Kemana mereka? Perasaan selama ini Aku tidak pernah menyakiti mereka. Hingga harus diperlakukan seperti ini."
"Mungkin sudah waktunya. Kamu belajar mengondisikan mentalmu."
Ucapan pria itu cukup masuk akal, membuatnya semakin merenung.
"Jika yang mereka inginkan adalah melihatmu bisa bela diri. Ayo lakukan! Aku bisa membantumu."
"Tidak."
Gagah menjawabnya dengan sangat tegas.
"Kenapa?" Tanyanya dengan ekpresi wajah yang bingung.
"Ibuku tidak akan suka. Dia akan marah, dan memusuhiku sebisanya."
"Kenapa begitu? Kamu kan melakukannya demi kebaikan sendiri. Memangnya, tidak bercerita pada beliau bahwa Kamu mengalami hal yang sangat merugikan."
"Ibu tidak akan menerima alasan apapun. Dia lebih suka anaknya mengalah."
"Namun, dalam dirimu. Sebenarnya ingin kan? Aku tidak akan menawari dua dan tiga kali lagi. Jika memang mau belajar bela diri. Ayo aku bantu."
"Terima kasih. Lebih baik Aku diam saja, mereka akan lelah dengan sendirinya."
"Jangan bercanda. Mereka akan tetap menindasmu sampai kapanpun. Ayolah, kesempatan tidak datang berkali-kali. Lagipula, bela diri bukan untuk balas dendam saja. Kamu bisa pakai untuk mejaga diri. Lagipula, tidak perlu sampai ibumu tahu."
Gagah terdiam, dia seperti mulai tertarik dengan ucapan Angkasa. Dia juga berpikir hal yang sama.
"Apa tidak masalah?"
"Sama sekali enggak. Itu hak Lo sebagai manusia bisa untuk menjaga diri. Sekarang gini deh. Lo udah pinter, badan juga bagus. Hanya karena gak bisa bela diri. Semuanya jadi minus."
"Tapi kenapa harus? Bukannya orang lain juga sama. Mereka hanya bisa main keroyokan."
"Kehidupan keras bro. Hari ini Lo masih selamat, gimana suatu saat nanti akan ada hal yang jauh lebih parah."
"Kalau misalnya ragu, karena takut ibu Lo tahu. Tenang aja. Dia gak akan tahu. Selama Lo belajarnya bareng Gue."
"Apa Lo bisa jaga rahasia?" Tanya Gagah. Dia merasa tertarik, dan ingin belajar.
"Bisa." Lelaki itu menjawab dengan suara yang lantang dan juga sangat yakin.
"Kapan bisa mulai latihan?"
Angkasa menyunggingkan senyumnya, dia merasa berhasil meyakinkan Gagah.
"Secepatnya. Kalau Lo udah siap, hari ini juga bisa."
"Kalau sekarang sudah terlalu sore. Mungkin besok atau lusa. Lihat jadwal dulu."
"Oke siap."
Gagah pun membereskan peralatan belajarnya. Lalu, dia mengajak Angkasa keluar karena pintu ruangan harus segera ditutup.
Sejujurnya, dia merasa lebih lega. Mungkin, jika tidak ada angkasa. Dia akan sangat bersedih. Karena tidak ada yang mau menjadi temannya dan membantunya keluar dari masalah ini.
Lelaki itu belum tahu, jika di dunia ini. Selalu ada alasan yang dibalut dengan kebaikan.
Dia pun pulang, mereka pulang terpisah. Karena tidak satu arah.
Sesampainya di rumah. Ibunya seperti biasa. Sedang duduk di teras. Tidak mengerti, kenapa ibunya selalu di sana. Tapi, ketika dia datang. Beliau langsung masuk ke dalam rumah. Seolah karena menunggu. Namun, tidak seperti itu kenyataannya. Karena setelahnya, dia langsung kembali sibuk dengan aktivitas, tanpa memperdulikan apalagi menanyakan bagaimana hari sang anak di sekolah.
Gagah masuk ke dalam kamar, dia memegang bagian bawah leher, merasa ada nafas yang tidak beraturan. Baru saja dia mengamini ingin ikut bela diri. Namun, ketika melihat ibunya dan juga janjinya kala itu. Membuat dia ingin sekali mengurunkan niatnya.
Karena sampai kapanpun. Dia tidak akan diberikan ijin oleh sang ibu.
"Bu, maafin Gagah. Kali ini, tekadku sudah bulat."
Dia bangkit, mengambil handuknya. Segera pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
Setelah mengumpulkan tenaga. Dan merasa semua hal telah dilakukan. Dia mencari ibunya, berjalan keluar dari kamar dan ternyata ibunya sedang sibuk dengan beberapa baju yang belum di jahit.
"Bu, sudah malam. Istirahat," ujarnya penuh dengan perhatian. Memang pada dasarnya dia sangat mengkhawatirkan kondisi fisik ibunya yang kian hari kian melemah.
"Sebentar lagi, lebih baik Kamu istirahat saja. Besok kan masih ada jadwal kuliah."
"Besok masuk siang Bu, hanya satu mata pelajaran saja. Tapi, Aku ada kerja kelompok, ijin pulang malam."
"Di mana?"
"Dekat kampus. Tidak akan lama. Mungkin jam 7 sudah pulang."
"Jangan terbawa arus pergaulan. Jika mereka bisa di sini. Maka, belajarnya di rumah ini saja."
Ibunya selalu memberikan keluasan, tapi sebisa mungkin mencari cara agar anaknya tidak lepas kontrol darinya. Padahal, dia juga butuh lingkungan dan bersosialisasi.
Tidak pernah sekalipun, dia bisa nongkrong dengan alasan tidak jelas. Tidak seperti teman sebayanya. Seperti main game di cafe, dan memakai WiFi mereka. Hal itu, tidak bisa didapatkan oleh Gagah.
Dan saat seperti kerja kelompok, ibunya selalu minta agar mereka kerjakan di rumah saja. Sementara, anak-anak sebayanya mana mau. Mereka lebih memilih kerja kelompok di perpustakaan.
"Iya Bu, tapi gak bisa janji. Takutnya mereka keberatan."
"Iya," jawab ibunya sangat singkat. Wanita paruh baya itu sedang fokus dengan benang yang hendak dia masukan ke dalam lubang jarum.
"Aku bantu Bu."
"Tidak perlu. Kamu sebaiknya istriahat."
"Gagah belum mengantuk. Ibu yang yang harusnya tidur. Ini sudah malam. Dari siang kerja gak ada lelahnya."
"Kalau lelah, gimana kita bisa makan? Biaya kuliah Kamu juga apa kabarnya nanti."
"Maafin Gagah ya Bu, belum bisa bahagiakan ibu."
"Cukup kamu nurut dan jangan melakukan hal yang aneh-aneh. Itu lebih dari cukup. Setelahnya, nanti kamu tinggal fokus bekerja. Karena tangan ibu mungkin tidak akan sekuat sekarang. Kaki itu juga bisa berhenti bergerak kapan saja. Mesin jahit ini sama tuanya. Kapan saja bisa berhenti."
Gagah terdiam. Kenapa dia merasa, ibunya tahu bahwa besok dia akan belajar bela diri lagi.
"Iya Bu. Makasih sudah bertahan sekuat ini, menemaniku yang selalu membuatmu cemas dan bersedih. Aku janji, jika nanti sudah bekerja. Ibuntidak boleh lagi bekerja. Ibu harus diam dan jalan-jalan saja kerjaannya."
"Tidak akan bisa Nak. Kita bukan dari keluarga berada. Semisalnya Kamu kerja, dan ibu masih bisa bergerak. Tidak akan kutinggalkan alat jahit ini. Tetaplah berterima kasih dengan cara yang istimewa."
Ibunya memang istimewa. Dia sangat menyayangi alat jahit yang sudah hampir menemaninya setengah dari hidup dan juga saksi bagaimana dirinya sangat berusaha sebaik mungkin untuk Gagah.
"Iya Bu."
Gagah mengalah, dia memang tidak ada apa-apanya dibandingkan sang ibu. Namun, untuk besok. Niatnya sudah sangat kuat. Meskipun harus membohongi ibunya, dia berjanji tidak akan menggunakan ilmu bela diri itu dengan sembarangan.