Disisihkan

1051 Words
Pagi ini, Gagah sudah siap berangkat ke kampus. Hari ini Dia sedikit berbeda dari sebelumnya. Biasanya, jika berangkat ke kampus. Dia tersenyum bahagia, setidaknya bersemangat. Namun sekarang, dia terlihat sangat malas. Seandainya bisa libur. Dia memilih untuk berdiam diri di dalam kamar. Percuma pergi, di sana hanya akan jadi bahan tertawaan orang-orang saja. Karena kasus yang menimpanya kemarin. "Kenapa harus kuliah, jika memang ingin di rumah. Masuk kamar saja sana. Tetaplah jadi pengecut. Biar saja, orang lain menertawakan keberhasilan mereka. Karena telah berhasil membuatmu terpuruk." Masih pagi, tapi kupingnya sudah terasa panas. Dia juga ingin seperti yang lain, disupport oleh keluarganya. Dia hanya butuh ditenangkan, bukan malah dijatuhkan secara mental seperti ini. Dia menarik nafas panjang kemudian duduk dengan tegap. Sepatunya juga sudah selesai ditali dengan sangat rapih. Kemudian, dia bangun. "Aku berangkat dulu Bu." Gagah merasa, dia lebih baik menghadapi mereka. Dibandingkan harus menghadapi ibunya dengan mulut pedas yang sangat tidak berprikemanusiaan. "Iya," ucap wanita paruh baya itu. Kemudian langsung masuk ke dalam rumah. Dia hanya mengintip dari jendela dengan wajah tanpa ekspresi, ketika sang anak sudah benar-benar pergi, barulah dirinya melanyutkan pekerjaan. Setelah sampai di kampus, Gagah semakin menudukan kupluk jaketnya. Jalannya pun tidak seperti biasanya. Dia mencari tempat yang tidak terlalu banyak orang lewati. Meskipun lebih jauh. Setidaknya lebih baik, dibanding harus melewati banyak orang yang akan memandangnya sebelah mata. "Lemah. Sekarang, Lo malah lewat jalur lain. Supaya gak dilihat orang-orang. Kasian banget," ujar Dino. Lelaki itu sepertinya memang menunggu kedatangannya. Karena langsung tahu dia berada di mana. "Permisi, Saya tidak ada urusan dengan bocah ingusan. Masih pakai harta orang tua untuk kekuasaan saja bangga." Gagah sudah menahan diri untuk tidak banyak bicara, tapi dia tidak bisa melakukannya. "Kasihan sekali, yang biasanya angkuh dan membanggakan jabatan. Sekarang sudah tidak bisa. Mereka udah gak respect sama Lo. Sebentar lagi, Lo akan out dari kampus ini." Dino kesal, secara tidak langsung. Gagah mengatainya anak manja. Karena masih pakai harta orang tua, padahal lelaki itu juga belum bisa menghasilkan uang sendiri. Tangannya hanya bisa terkepal, tanpa pelampiasan. Tidak pamit, lelaki itu langsung berjalan menjauh dari Dino. Karena percuma, sampai kapanpun teman lamanya itu akan selalu menindasnya. Sesampainya di kelas. Ternyata teman-temannya cukup mengerti, tidak ada yang melihatnya dengan sinis atau apapun yang sekiranya terlihat membenci, mereka semua bersikap biasa saja. "Bro, hari ini dosen masuk semua kan?" tanyanya pada ketua kelas. Kebetulan mereka cukup akrab. Karena ketua kelas itu, selalu bertanya padanya jika ada pelajaran-pelajaran yang susah. "Hmm," jawabnya seadanya. Dengan ekpresi yang datar. Gagah mengerti, mungkin temannya itu sedang banyak pikiran. Jadi terlihat kurang bersemangat. Dia memilih untuk diam saja di kursi dan mengulang pelajaran yang sudah dia baca semalam. Karena takut hari ini ada kuis. Tidak lama setelah itu, dosen pun masuk dan memberikan pelajaran. Mereka belajar seperti biasa, dan tibalah saatnya untuk pembagian kelompok. "Gagah, kamu bersama Sena, Dira, Bintang." "Baik Pak," jawabnya. Karena game rasa kelompoknya sudah tepat. Namun setelah dia berkata seperti itu, tiba-tiba di kursi belakang ada yang instruksi kepada dosen. "Saya mau pindah kelompok saja Pak," ujian pria berkacamata dengan rambut di belah tengah. Setelah dikejutkan oleh temannya yang satu itu, kini Gagah masih harus bersabar. "Sama kita juga." Kedua wanita yang ada di kelompoknya pun ingin mundur, dengan memberikan alasan yang cukup logis. Namun pada dasarnya dia tahu bahwa, teman-temannya tidak ingin sekelompok bersamanya. Tidak banyak yang bisa dilakukan selain diam, dan sesekali melirik kepada temannya yang mungkin bisa membantu. Namun tidak ada satupun dari mereka yang bersedia. Saat gagah melihat mereka langsung membuang muka. "Jadi siapa yang mau satu kelompok dengan Gagah?" Tanya dosen yang masih merasa keheranan dengan apa yang terjadi. Karena kelas ini, sangat kekanak-kanakan sekali.. Satu kelas pun terdiam hening, mereka tidak ada yang mau menjawab satupun. Sepertinya memang diamnya mereka adalah bentuk ketidaknyamanan terhadap Gagah. Pemuda itu awalnya mengira bahwa teman-temannya biasa saja, tapi ternyata mereka tidak ada yang peduli padanya. "Dea, kamu sediakan sekelompok dengan Gagah?" Dosen itu awalnya tidak paham kenapa semuanya tidak ingin sekelompok dengan Gagah, tapi ketika dia mengingat apa yang yang baru-baru ini terjadi. Akhirnya dia menyadari, sekaligus kasihan terhadap pemuda itu. Padahal sebelum ada kasus ini, gagah termasuk orang yang disebutkan ketika membuat kelompok. Mereka berlomba ingin satu kelompok dengan lelaki itu. Sudah jelas bahwa kepintarannya cukup mumpuni. "Bukannya eggak mau Pak, tapi sudah janji dengan satu kelompok Saya." "Instruksi Pak, saya akan melakukannya sendiri saja." Akhirnya pemuda itu pun angkat tangan, dia tidak peduli ada atau tidaknya teman-teman. Dia akan mengerjakan tugas ini sendirian. Ketika kerja kelompok pun, biasanya dia akan mengerjakannya sendiri. Jadi tidak terlalu berpengaruh untuknya. "Ya sudah, saya tunggu tugas kalian. Minggu depan kita ada pertemuan di kelas ini langsung presentasi. Tidak menerima ada alasan terlambat atau tugas belum selesai." Dosen itu tidak lagi mempermasalahkan, dia cukup kasihan pada Gagah.. "Baik Pak." Mereka semua menjawab dengan kompak. Mereka pun bubar dari kelas. Karena setelah ini tidak ada lagi pelajaran. Hari ini ada rapat di organisasinya. Dia tidak bisa langsung pulang. Melainkan harus ke ruangan. Semalam dia sudah memberitahukan kepada anggotanya agar berkumpul pukul 2 siang ini. Sesampainya di sana, belum ada satu orang pun yang datang. Dia langsung mengecek aplikasi yang ada grup mereka. Ternyata dari semalam memang tidak ada yang membalas pesannya. Bahkan sampai hari ini mereka mereka tidak ada yang menanggapi pesan tersebut. Dia masih berpikir positif, tetap menunggu mereka datang di sini. Sembari mencoba untuk mengerjakan sisa-sisa tugasnya yang belum selesai. "Lo sendirian aja?" Tanya seseorang yang datang dengan ransel berwarna hitam. "Iya." "Nih minum. Udah makan belom?" Pria itu perduli padanya. Dia hanya mengangguk saja, dan melanjutkan mengerjakan tugas. "Masih kenyang. Udah kelar kelas?" "Udah dong. Murid teladan selalu bisa pulang duluan." Dia heran ketika teman-teman yang lain menjauh. Hanya orang ini yang tetap bertahan. Padahal mereka baru kenal, sepertinya takdir memang masih berpihak. Setidaknya dia tidak benar-benar sendirian. "Jangan terlihat akrab. Takut orang lain akan menjauhi." Gagah memang baik, meskipun sebenarnya dia masih membutuhkan teman, sepi banget dia tidak ingin sampai orang lain ikut dimusuhi karena ulahnya. "Masalahnya di mana? Gue kan di sini emang gak punya temen. Lo aja enggak mau temenan sama gue." "Bukan gitu, tapi mereka akan memusuhi jika kita berteman." "Mereka semua gelap mata. Selagi nggak nyalahin orang lain, Gue tetap ada di pihak Lo."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD