Godaan

1043 Words
Matahari sore, yang mereka sebut senja. Masuk ke dalam celah-celah jendela kamarnya. Hangat mulai terasa di pipi Gagah, dan juga matanya terasa silau. Mau tidak mau, dia akhirnya membuka mata. Setelah mencari posisi yang enak, tapi tak kunjung didapatkan. Seharusnya, sebelum tidur. Dia menutup jendel terlebih dahulu. Karena terlalu kelelahan, jadi langsung ketiduran. Perlahan, dia membuka mata. Berusaha meredakan emosinya. Kebiasaan, setiap tidur sore pasti seperti ini. Namun, tidak pernah kapok. Selalu saja kebablasan. Meskipun pada akhirnya akan pusing sendiri. "Nak, bangun. Sebentar lagi Maghrib. Kamu cepat mandi!" Perintah ibunya dari luar kamar. "Iya Bu. Gagah mandi." Dia menjawab dengan nada bicaranya khas orang bangun tidur, masih serak dan berat. Badannya seperti belum ikhlas untuk bangun, tapi kenyataan mengharuskannya untuk bangun. Mendengar suara ibunya, dia jadi ingat. Bahwa tadi sudah disiapkan baju untuknya. Dia pun bersiap pergi mandi dan menunaikan ibadah. "Ibu masak apa? Kenapa harum sekali?" "Jangan pura-pura tidak tahu. Heran, senang sekali basa-basi." Glek Memang serba salah jadi gagah, bertahun-tahun hidup dengan wanita yang sangat sulit dia mengerti. Ibunya memang tipekal wanita langka. Bahkan sangat langka. "Kenapa sih Ibu? Sedang lelah ya? Mau dibantu?" "Ibu lelahnya mikir Kamu. Sudah besar kok senang sekali bikin masalah." Glek Dia pikir, dengan menyelesaikan masalahnya sendiri. Tanpa harus ibunya pergi ke kampus. Maka selesai sudah masalah itu. Namun ternyata tidak. "Maaf. Tapi, itu bukan salahku." Dia sangat pintar berbicara di khalayak ramai. Tapi selalu kalah jika debat dengan ibunya. Bahkan ketika kata maaf sudah terlontar, dia masih bisa terus disalahkan. "Mereka ingin menang. Berikan itu pada mereka. Kamu fokus saja pada bidangmu. Tidak harus jadi terlalu pintar, aktif dan membanggakan. Cukup menjadi biasa tapi berguna." "Bu Aku lapar." Bukan ingin mengalihkan pembicaraan. Dia merasa lelah sekali hari ini. Banyak orang yang ingin melihatnya jatuh. Namun, itu semua tidak masalah baginya. Asal jangan ibu yang memintanya untuk jatuh. "Kamu denger gak Gagah?" Tanyanya dengan nada bicara setingkat lebih naik dibandingkan sebelumnya. "Iya Bu, Gagah sudah minta maaf pada mereka. Meskipun tidak salah." Dengan berat hati, dia pun mengakui hal yang dilakukannya di kampus. Sepertinya, hanya dengan cara ini. Ibunya bisa senang. Terkadang, dia berpikir mungkin dirinya bukan anak kandung sang ibu. Mana mungkin, ada ibu yang tega melihat anaknya selalu dipermalukan orang lain. Tidak masalah di bully dan tidak boleh terlalu terlihat oleh banyak orang. Selera makannya hilang, seiring dengan rasa lapar yang berubah menjadi mual. Dia kembali ingat kejadian di kampus yang membuatnya naik darah. Rasanya sangat sulit menjadi dia. Jika boleh, dia ingin memutar waktu. Tidak perlu menjadi dewasa. Karena saat kecil, ibunya tidak berubah seperti ini. Apa yang dia inginkan dituruti, dia sedih dihibur, dia dijahati. Maka ibunya yang akan langsung turun tangan. Bahagianya masa kecil, tidak berlanjut ke usia remaja sampai saat ini. Dia benar-benar diajarkan memiliki hati yang luas, badan yang kuat, pikiran yang jernih, dah sabar yang tidak berbatas. "Makan. Ibu masih ada kerjaan." "Bu, tunggu!" "Kenapa?" "Sekali aja Bu, kita makan bareng." Lelaki itu sudah hialng selera makannya, tapi jika ibunya menemani. Sepertinya masih bisa dia pertahankan. "Ibu sudah kenyang memikirkan masalahmu." "Bu, Gagah harus gimana lagi? Biar ibu maafin." "Tidak ada, ibu tidak marah." "Tapi kecewa." Sakit hatinya, terasa seperti tergores. Mendengar hal itu. Anehnya, dia selalu merasakan hal yang sama, tapi tidak pernah pudar perasaan seperti itu. Dia selalu merasa bersalah dan tidak berguna. "Bu, Aku gak apa-apa kok makan sendiri." "Heem." Ibunya pergi meninggalkan dia sendirian. Setelah acara marahnya waktu itu, memang dia sudah tidak ditemani makan lagi. Memang biasa seperti ini lah hukuman yang diberikan. Namun, hal ini justru lebih sakit dibandingkan dengan pukulan yang diterimanya. Dia merasa tidak dianggap. Hak untuk bersuara nya pun dicabut paksa. Gagah tetap memaksakan diri untuk makan. Sembari terus memikirkan ucapan Angkasa tadi siang. Apa dia masih memiliki kesempatan untuk belajar bela diri di usianya yang sudah kepala 2 ini. Apa otot dalam tubuhnya tidak kaku, atau mungkin tenaga dalamnya masih bisa dilatih? Banyak sekali pertanyaan dalam otak kecilnya. Dia merasa terlalu terlambat. Namun, jika terus begini. Bagaimana bisa melindungi orang-orang yang dia sayangi. Meskipun ibu selalu berkata, melindungi tidak harus dengan kekuatan fisik. Namun, baginya itu hal yang terpenting. Karena banyak orang yang menganggapnya lemah. Hanya karena tidak bisa bela diri. Dia makan dengan cepat, kemudian mencuci piring. lalu segera menyusul ibunya yang sedang minum teh di luar. "Bu, sudah malam. Ayo di dalam saja." "Duduk Nak." Gagah mengangguk, lalu dia duduk di samping ibunya. "Iya Bu, kenapa?" "Kamu tidak perlu dendam pada mereka yang memperlakukanmu dengan buruk. Kamu hanya butuh sabar, bukan banyak tenaga untuk membuktikan kebenaran, karena sesungguhnya kebenaran akan tampak dengan sendirinya seiring berjalannya waktu." "Banyak hal yang ingin kubuktikan. Namun, sangat sulit jika sendirian." "Berhenti mencari hal yang tidak penting. Fokus saja pada tujuanmu kuliah, mereka hanya ingin melihatmu tidak fokus." "Aku ingin ketemu Ayah." Lagi dan lagi tanpa merasa bosan. Dia seperti anak kecil yang butuh balon. Terus meminta hal yang sama meskipun tahu tidak akan diberikan. "Mereka punya Ayah yang bisa melindunginya. Aku gak punya Bu. Aku cuma sendiri. Apalagi, saat ibu tidak mau ikut campur dengan masalahku." "Kamu sudah merasa dewasa, ibu tidak perlu ikut campur. Bukankah bertindak tanpa meminta persetujuan, adalah tindakan orang dewasa?" "Kenapa semua menyalahkan ku?" Matanya sudah memerah, dia merasa sendirian sekarang. Semua memojokkan. Apa tidak seberuntung itu dirinya? "Karena Kamu gegabah." "Tolongin Gagah Bu. Sekali ini saja," "Tidak Nak. Kamu harus tetap seperti biasa. Jika masih ingin diurusi Ibu. Baju kotor saja masih kamu simpan di pojok kasur, jangan harap ibu bisa ijinkanmu menjadi jagoan." "Tapi bu-" "Sudah, ini malam. Tidak baik terlalu lama di luar." Ibunya segera membawa cangkir teh. Lalu pergi masuk ke dalam rumah, tidak memperdulikan ucapan sang anak yang belum selesai. Karena dia tahu ke mana arah pembicaraan itu akan berlangsung. Semakin dicegah maka semakin penasaran. Mungkin itulah yang dirasakannya saat ini. Banyak sekali bisikan dari sana sini, yang membuatnya yakin melangkah lebih jauh. Bukankah dia bisa bersembunyi melakukan itu semua, tanpa diketahui ibunya. Selama ini, dia masih bisa pulang sore tanpa dicurigai. Meskipun resikonya memang akan sangat besar sekali, tapi dia tidak akan tahu hasil akhirnya jika tidak mencoba. Mungkin, inilah saatnya kembali mencari apa yang sempat hilang dari dirinya. Meskipun tanpa direstui, dia nekat. Gagah terbawa suasana, dan dia memutuskan sesuatu dengan emosi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD