Esok harinya, Gagah kembali ke kampus. Meskipun semalam dia meriang dan luka di wajahnya belum membaik, dia tidak mau sampai tertinggal pelajaran. Gagah memarkirkan motor kesayangannya, lalu dia berjalan ke arah fakultasnya. Di perjalanan banyak yang melihat ke arahnya, dia bukan terlalu percaya diri, memang kenyataannya seperti itu. Hal seperti ini, sudah biasa dialaminya. Jadi, dia tidak terlalu pusing.
Tetap melanjutkan jalannya, Gagah tidak terganggu dengan tatapan warga kampus. Jika saja, celetukan mereka tidak terdengar olehnya.
"Ternyata hanya namanya saja yang Gagah, orangnya cupu parah."
Dia tidak tahu, apa yang terjadi setelah hari kemarin. Mungkin, masih ada ide yang tersisa di otak Dino, untuk kembali menjatuhkannya.
Dia tidak mau terpancing emosi, tetap berjalan menuju kelasnya. Benar saja, ternyata dia sudah disambut oleh teman sekelas, mereka meminta penjelasan atas Vidio yang beredar.
Ternyata, masih berlanjut drama menyedihkan ini. Di Vidio ini, terlihat dirinya yang hendak menghajar Dino, tapi malah menghajar angin dan justru dirinya yang terjatuh. Pantas saja, mereka terlihat antusias dengan kedatangannya.
"Kita sebagai teman hanya bisa support, tapi gak bisa bantu. Lo tahu sendiri, siapa orang yang dihadapi."
"Terima kasih."
Gagah tidak memberikan tanggapan apapun. Wajahnya pun datar, dia tidak membiarkan orang lain tahu. Bahwa dirinya sedang ketakutan saat ini.
Siang hari, panggilan untuknya pun datang. Gagah langsung dipanggil oleh Rektor.
"Kamu bisa jelaskan ini semua."
Rektor berkata dengan sangat tegas, di depan dua pemuda yang sempat dilantiknya itu.
"Saya tidak punya banyak alasan, juga kekuatan untuk melawan. Jika masih ada mata yang jujur, biarkan mulut berbohong. Karena dari mata, langsung turun ke hati. Sejahat apapun seseorang, Saya yakin, hatinya tidak pernah berpura-pura tidak mendengar selayaknya telinga."
Dia sangat yakin, bahwa Rektor sudah tahu siapa yang sebenarnya salah. Namun, karena ayah Dino adalah donatur kampus. Dia mendapat beberapa hak yang tidak dimiliki oleh mahasiswa lain. Ini terlihat klise, tapi memang masih berjalan sampai saat ini. Mereka semua menyembunyikan kebenarannya.
Dino terlihat kesal, karena begitu mendengar ucapan Gagah, Rektor itu langsung terdiam. Dia benci, selalu gagal menjatuhkan lelaki di sampingnya ini.
"Jangan ulangi lagi."
Rektor tersebut akhirnya bersuara. Dia tidak mau mencoret nama baik kampus dan reputasi yang selama ini dia bangun dengan sangat baik. Hanya karena bocah ingusan yang masih mengedepankan ego.
"Tapi Pak," ujar Dino. Dia tidak mengharapkan diskusi berjalan seperti ini.
""Saya juga memiliki saham. Meskipun lebih banyak Ayahmu. Setidaknya, Saya bisa bersuara. Saya minta, kejadian ini untuk terakhir kalinya. Jika sampai terjadi lagi, Saya yang akan langsung mengeluarkan Kamu."
Gagah pamit, dia juga tidak lupa mengucapkan terima kasih. Karena tidak ada surat panggilan orang tua. Kenapa mereka bisa tahu bahwa Dino yang salah? Jawabannya adalah cctv.
"Silahkan keluar Dino. Urusan Kamu dengan saya sudah selesai."
Dino dengan wajah merah padam, keluar dari ruangan tersebut. Sementara dirinya masih harus tetap di sini.
"Senang? Bagaimana rasanya menang?"
Gagah yang awalnya sedang memperhatikan Dino keluar dari ruangan, kini matanya dia fokuskan ke sang rektor.
"Terima kasih."
"Jika Kamu sungguh-sungguh berterima kasih, Saya ingin Kamu meminta maaf kepada seluruh warga kampus yang sudah merasa kecewa."
Gagah terlihat terkejut.
"Tapi saya tidak salah."
"Apa kata maaf, hanya berlaku untuk kesalahan?"
Gagah diam, dia mencerna dengan baik. Akhirnya dia mengerti, dan membuat pernyataan permintaan maaf.
Dia pergi ke pusat informasi, dengan satu tarikan nafas, lalu dia hembuskan kembali. Dia mulai berbicara.
"Selamat siang semuanya, Saya atas nama Gagah dengan jabatan ketua BEM. Bermaksud untuk meminta maaf, kerana sudah membuat kegaduhan di kampus ini. Kedepannya Saya akan memperbaiki perilaku Saya. Terima kasih."
Dia berharap, semoga setelah ini. Masih ada orang yang bisa percaya dengannya. Karena dengan melakukan hal ini. Dia menggiring opini publik, bahwa sebenarnya dia yang bersalah di sini. Jika saja tidak memikirkan ucapan rektor. Dia memilih untuk bungkam.
"Saya bisa melindungi Kamu dari Dino. Tapi tidak dari seorang ayah yang sangat memanjakan putranya."
Lagi, dia ingin Ayahnya ada di sisinya. Dia berpikir, jika Ayahnya ada. Mungkin, bisa melindunginya juga. Namun, sayang sekali ini hanya impian.
Gagah menjadi perbincangan hangat di kampus tersebut, banyak yang bilang menyesal telah memilihnya. Bahkan anak perempuan yang selalu memujinya sekarang sudah tidak lagi.
Setelah kejadian ini, semuanya jadi berubah. Mereka yang awalnya sangat mendukung Gagah, kini berubah menjadi memusuhinya. Menatap sinis ke arahnya dan berucap yang tidak sopan.
Hal ini pun terjadi dengan teman sekelasnya, dan juga organisasi. Perlahan, dia dijahui, ucapannya tidak didengar. Bahkan ketika memimpin rapat, dia diacuhkan.
Sesak. Itulah yang dirasakan Gagah. Dia benci seperti ini, tapi dia tidak mungkin memohon kepada orang lain.
Dia memilih menyendiri, ketika ada waktu luang, dia mencari tempat yang sepi.
"Menyendiri tidak baik untuk orang yang frustasi, karena mudah digoda iblis."
"Ada yang bisa dibantu?"
Gagah tetap ramah. Dulu, jika ada orang yang tiba-tiba datang padanya. Biasanya untukeminta bantuan, atau sekedar bertanya mengenai kampus. Dia tetap berpikir positif, tidak menilai semua orang jahat.
"Saya Angkasa, mahasiswa pindahan dari kampus negeri. Apakah Anda bersedia menjadi teman pertama saya di kampus ini Pak ketua?"
Gagah memang tidak hafal satu persatu mahasiswa di kampus ini, tapi dia yakin lelaki ini tidak berbohong.
"Senang bisa berteman. Saya Gagah."
Mereka berjabat tangan, Angkasa terlihat akrab dengannya. Mungkin, karena anaknya cukup ceria dan receh. Namun, ada satu hal yang membuat gagah gagal fokus. Angkasa terlihat sangat tegap, dengan badan yang proporsional seperti seseorang yang sering berlatih kebugaran tubuh.
Dia sedikit minder, bagaimana bisa tinggi mereka sama, tapi bentuk tubuhnya terbanting jauh. Gagah terlihat lebih kurus dan kerempeng jika berada di dekat Lelaki itu.
"Kalau Gue jadi Lo. Asli, Gue gak akan kasih ampun tuh si Dino."
Lelaki itu, merubah panggilannya dari saya ke gue.
"Hukum, uang dan segala misterinya tidak bisa dipecahkan. Hanya karena kita berada di pihak yang benar."
"Jadi, Lo gak percaya. Bahwa orang benar bisa dibela?"
"Sedikit. Karena kejahatan lebih butuh bantuan sepertinya. Berapa banyak orang yang menyembunyikan kejahatan seseorang, dan menutupi kebenaran."
"Lo merasa di pihak korban?"
Gagah diam. Dia memang korban, tapi orang lain tidak ada yang mengakui dirinya korban.
"Kalau kejadian ini terulang lagi, Lo mau apa?"
"Kenapa?"
"Lo harus kuat Gagah. Jangan biarkan orang lain menginjak-injak harga diri Lo. Masih ada keluarga yang mendukung Lo."
Awalnya, dia optimis mendengarkan ucapan Angkasa menyebut keluarga dia kembali down.
"Kita baru kenal, jangan terlalu jauh bertindak."
Dia memperingati teman barunya itu, sejujurnya dia sangat tersinggung.
"Kenapa? Lo gak punya keluarga?"
"Ada."
"Lalu?"
"Hanya Ibu."
Angkasa sangat pandai memancing agar Gagah mau memberikan informasi.
"Lalu, bokap Lo?"
"Pergi."
Gagah benar-benar lemah.
"Dan Lo lemah? Hanya karena itu Lo gak bisa lawan mereka? Yang benar aja."
"Mereka punya Ayah."
"Gue gak ada. Tapi, Gue bisa lawan mereka."
"Kekerasan tidak perlu dilawan dengan kekerasan."
"Jangan naif, dia hanya menang karena banyakan, satu lawan satu yakin gak akan menang."
Glek
Dia menelan ludahnya sendiri. Kenapa Angkasa menjadi orang yang menyeramkan. Padahal, beberapa waktu lalu lucu sekali.
"Sorry, kalau Gue buat Lo takut. Tapi, Gue bisa bantu ajarin Lo bela diri. Seandainya Lo mau."
"Enggak."
"Kenapa?"
"Sebentar lagi dosen masuk kelas. Saya duluan."
Gagah memilih pergi, dia merasa tidak beres jika dekat dengan Angkasa. Hampir saja dia termakan ucapan lelaki itu untuk latihan bela diri.
Saat berjalan menuju kelas, dia melihat Dino yang sedang tersenyum puas padanya. Mungkin, ini yang diinginkan lelaki itu. Dia sekarang merasa menang. Gagah hanya bisa mengepalkan tangannya dengan kuat, menahan emosi yang sudah meluap-luap.
Saat di kelaspun dia merasa tidak nyaman. Pikirannya terus melayang, perlahan dia merasa tidak terima dengan semua perlakuan yang dia dapatkan selama ini. Semua tidak adil, dia tidak bisa berdiam diri.
Selesai belajar, dia langsung pulang ke rumah. Dia butuh ketenangan. Beruntung, hari ini tidak ada rapat organisasi.
Tidak lupa, sesampainya di rumah, dia memberi salah dan menyalami tangan ibunya.
"Seminggu yang lalu, luka itu masih basah, tapi Kamu masih bisa ceria. Sekarang, luka itu sudah kering. Kenapa masih murung? Memangnya, sepenting apa jabatanmu? kepopuleran itu tidak bisa membuatmu hidup tenang. Mundur saja!"
Ibunya memang selalu tegas dalam berbicara, sampai lupa anaknya tidak memiliki hati sekuat baja. Meskipun berada di titik ini bukan keinginannya. Namun, dia merasa mempunyai tanggung jawab yang sama penuhnya dengan yang menginginkan posisinya. Ketika kepercayaan itu sudah ada, dia tidak akan mundur begitu saja.
"Bu, Aku ke kamar dulu ya. Setelah istirahat. Nanti Aku bantu ibu."
Tidak ada bantahan, ataupun kata mengiyakan. Selama ini, dia selalu menghindar ketika ibunya meminta hal yang sama. Tinggal setengah jalan lagi, dalam hitungan bulan, dia akan lengser dengan sendirinya.
"Dasar batu, ya sudah istirahat sana. Baju kesayanganmu, sudah ibu letakan di atas kasur. Ibu masih tidak rela, jika Kamu membuat berantakan baju di lemari."
Seorang ibu, dengan kasih sayang yang tidak pernah terputus. Semarang apapun, kebutuhan anak pasti tetap dipenuhi.
"Terima kasih."
Ibunya mengangguk, lalu dia benar-benar pergi ke kamar. Butuh berendam di air hangat untuk merileksasi otot tubuh yang terasa sangat tegang.
Tak terasa, dia malah ketiduran di tempat itu.
Banyak masalah yang tidak perlu diselesaikan menggunakan otot, tapi orang lebih banyak melakukan itu. Karena merasa bahwa dengan seperti itu masalah akan menjadi mudah terselesaikan. Padahal, ini salah besar. Nyatanya, hal ini justru akan memberikan bekas yang cukup sulit dihilangkan. Sehingga, kelak akan menjadi dendam yang tidak ada ujungnya.