Kini, mereka sedang mengisi perut dengan meminum kopi dan juga memakan nasi uduk yang ada di dekat rumah sakit. Waktu menunjukan pukul 3 dini hari. Ibunya sedang berada di ruang rawat. Dokter bilang biarkan istirahat dulu. Sehingga dia diminta untuk menunggu di luar kamar. Karena masih ada beberpaa penanganan yang harus dilakukan untuk memeriksa penyakit yang ada di dalam tubuh ibunya.
Karena lapar, dan juga ngantuk. Dia mengajak Angkasa untuk cari kopi. Ketika melihat pedangang nasi uduk, mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Karena harus punya banyak energi, malam ini dia harus bergadang.
"Sekali lagi, Gue berterima kasih sama Lo," ujarnya dengan sangat tulus.
Gagah tidak hentinya mengucapkan hal itu pada Angkasa. Dia tidak tahu lagi, bagaimana caranya mengungkapkan bahwa dirinya sangat beruntung mendapatkan pertolongan dari pria itu.
Bahkan Angkasa meminjamkan uangnya, untuk keperluan ibunya selama di rumah sakit ini. Pria itu tanpa berpikir ulang langsung mengiyakan tindakan yang harus dilakukan pada ibunya Gagah. Padahal, biayanya cukup besar.
"Gak lelah emang ngomong gitu terus. Gue juga bosen dengernya. Tenang aja, rezeki udah ada yang ngatur. Pusing amat pakai duit Gue dulu, lagian itu tabungan. Jadi aman gak perlu Lo ganti cepet-cepet."
"Secepatnya kalau udah ada langsung diganti."
Dia tidak pernah meminta kepada orang lain, apalagi meminjam uang adalah hal yang paling dihindari, karena ibunya bilang tidak akan bisa mengembalikan uangnya.
"Terserah deh, gengsi Lo terlalu besar. Padahal kita temenan."
Jujur saja, Angkasa kesal. Di saat dia hendak membantu Gagah. Dia harus berdebat terlebih dahulu karena temannya itu keras kepala tidak mau menerima bantunya, padahal dalam keadaan yang darurat.
Pemuda itu diam, dia memikirkan sesuatu tentang kejadian tadi siang.
"Gue mau cerita hal baru tentang ayah."
"Kenapa?" Tanya Angkasa setelahnya dia menyeruput kopi.
"Pelanggan ibu bilang ayah udah meninggal."
Prrrrrrttttt
"Aih, jorok banget sih Lo."
Gagah memutarkan bola matanya, dia kesal pada temannya yang sembarangan saja menyemburkan air padahal mereka sedang makan di tempat publik.
"Ya maaf, lagian Lo ngasih tahunya ngagetin."
"Tapi saat mau tanya langsung ke ibu. Dia lagi sakit jadi Gue tunda dan gak tahu sekarang harus ngapain. Mungkin gak akan pernah nanya sampai kapanpun. Ngeliat ibu terkulai lemah tak berdaya rasanya jadi gak mau nambah-nambah pikiran lagi."
"Lo harus pastiin sendirin."
"Gimana caranya? Semua udah dilakukan tetap aja gagal. Emang udah takdirnya begini."
"Gue gak percaya, bapak Lo udah gak ada."
"Kok bisa?"
"Kalau gak ada, buat apa ibu Lo susah payah nyembunyiin dia dan juga identitasnya. Terus di mana makamnya?"
Gagah memperhatikan gerak-gerik temannya itu. Terlihat sekali sangat menggebu-gebu seperti orang yang tidak terima. Padahal di sini posisinya yang seharunya dia yang bersikeras seperti itu.
"Gue gak tahu jawabannya."
Angkasa melihat perubahan ekpresi Gagah, dia merasa sudah lepas kendali karena emosi.
"Sorry. Gue cuma mengekpresikan perasaan Lo aja. Sebagai teman, rasanya Gue ngerti apa yang ada di pikiran Lo."
"Iya, meskipun kita gak sedarah. Kita satu frekuensi sepertinya."
"Terus gimana? Lo mau nyerah. Sumpah Gah, semisalnya Lo mau nyerah. Gue beneran nangis nih. Kita udah jauh banget padahal."
"Dari pada ibu kepikiran, dan dia sakit. Mungkin aja sebenernya dia sakit karena obrolan semalem sama Gue karena basah bokap. Gue nyerah, ampun pokoknya."
"Ya sudah. Kalau emang itu keputusan Lo. Kita sudahi aja Ini semua. Meskipun kecewa. Gue hargain keputusan Lo."
Setelah menggebu-gebu, kini pria itu berada di pihaknya lagi. Gagah merasa senang, dia tidak perlu susah payah memberikan pengertian pada Angkasa tentang dirinya yang sudah tidak mau disibukan dengan hal tersebut.
"Makasih ya, Lo teman terbaik Gue."
"Jangan langsung menilai orang sembarangan. Gak boleh lihat hanya karena lihat Gue yang baik, tapi harus dipikirkan baik-baik."
Angkasa memberikan wejangan pada temannya itu. Dia tidak mau sampai Gagah nanti kecewa atas pemikirannya sendiri.
"Emang Lo kenapa?"
"Ini bukan buat Gue, jangan terlalu percaya sama orang lain."
"Pastinya, bukan hanya Gue. Lo juga sama, terlalu baik nanti dimanfaatkan."
"Hmm."
"Habis dari sini, Lo mending balik aja ke rumah. Gue kan jagain Ibu di sini."
"Gue tidur di mobil aja."
"Jangan Angkasa. Gue gak apa-apa kok, nanti kalau ada apa-apa gue kabarin."
"Siapa juga yang khawatir. Gue kan emang kerja sambilan taksi online. Jadi, malam biasa tidur di mobil. Malam ini, Gue mangkal di daerah sini aja sekalian."
"Oh, sorry. Gue gak tahu,"
"Gak penting juga buat Lo tahu."
"Jadi, bisa ajak Gue ke tempat latihan yang bagus itu, karena udah kerja ya?"
"Habisin makanannya terus cepet balik ke atas. Kasian ibu takut kebangun terus nyariin Lo."
"Iya, ini juga sedikit lagi selesai makannya."
Mereka menyudahi obrolan dan serius makan. Setelah itu, Gagah pamit kembali ke kamar ibunya di rawat.
"Kalau ada biaya tambahan, langsung telepon Gue. Jangan sungkan-sungkan kalau kasian sama Ibu, jangan setengah-setengah. Singkirkan dulu gengsi Lo buat minta tolong sama Gue."
"Siap bos."
Gagah kemudian berjalan masuk ke gedung rumah sakit. Suasana rumah sakit cukup ramai meskipun malam hari, banyak orang yang keluar masuk. Beruntung ibunya mendapat pertolongan cepat.
"Mas Gagah ya?" Tanya seorang perawat yang baru saja keluar dari kamar rawat ibunya.
"Iya Mbak."
"Ibunya bisa ditunggu di dalam. Dan hasilnya tesnya akan disampaikan oleh dokter nanti pagi ya."
"Iya, terima kasih."
"Sama-sama. Kalau begitu Saya di meja jaga ya. Nanti kalau ada apa-apa, langsung panggil saja, atau pakai alat yang sudah ada di dalam."
"Iya, silahkan."
Gagah masuk ke dalam kamar. Ternyata ibunya sedang tidur. Dia merapihkan selimutnya karena bagian lengannya tadi terlihat, khawatir ibunya kedinginan. Dia juga menurunkan suhu ruangannya karena terasa terlalu dingin.
"Gah.. gagah."
"Iya Bu," jawabnya kemudian segera mendekat ke arah ibunya. Saat dia lihat, ternyata ibunya sedang mengigau.
Jantungnya terasa seperti orang naik permainan yang ekstrim. Kini perasaannya tidak karuan melihat ibunya memanggil namanya ketika sedang sakit. Artinya memang dalam pikirannya hanya ada dia saja.
Tak terasa, air mata pun menetes. Dia masih belum bisa jadi anak yang baik, masih tetap menuntut segalanya dari ibu. Dia selalu memojokan ibunya jika bertanya tentang ayahnya. Padahal ibunya sudah berkerja keras agar dia bisa hidup dengan nyaman dan layak sampai sakitpun tidak pernah dirasakannya.
Semisalnya sedang ketus, mungkin karena kelelahan bekerja seharian. Dia tidak seharusnya bersikap seperti anak kecil yang hanya mementingkan perasaannya saja. Berpikir macam-macam kepada ibunya sendiri.
"Gagah mau Ibu kembali sembuh, gak masalah jika sikap ibu ketus. Aku ikhlas Bu, asal ibu sembuh jangan sakit begini. Gagah takut sendirian Bu."
Dia memastikan suhu tubuh ibunya, kemudian mengecek infusannya jalan atau tidak. Barulah setelah itu dia duduk dekat ibunya dan mengelus tangannya dengan sayang.
Angkasa tidak main-main membantunya. Dia langsung memesankan kamar VIP untuk ibunya. Karena kamar kelas 1 dan seterusnya sudah penuh. Meski harus mengeluarkan uang lebih banyak Angkasa tidak masalah. Dia bilang jika uang bisa dicari.
"Maaf ya Bu, Gagah belum bisa jadi anak yang baik."