Setelah ibunya keluar dari rumah sakit. Dia selalu pulang tepat waktu. Karena takut jika sewaktu-waktu ibunya akan kembali kambuh. Dokter bilang, bahwa penyakit yang diderita ibunya adalah pembengkakan lambung akibat dari telat makan dan juga makanan yang dikonsumsi tidak teratur. Penyakit seperti ini meskipun terlihat sepele tetapi tidak bisa disepelekan.
Sebenarnya khawatir, tapi mau gimana lagi. Dia hanya seorang diri tidak ada keluarga yang bisa menemani ibunya saat dia pergi. Hanya bisa bertukar kabar lewat telepon seluler saja. Gagah 2 jam sekali menghubungi sang ibu untuk menanyakan kabarnya.
Hubungan pertemanan antara Gagah dan Angkasa juga tetap berjalan baik. Dia rutin latihan bersama lelaki itu. Mereka jadi seperti tim yang kompak. Tidak ada lagi kata mengeluh keluar dari mulutnya. Ini semua dia lakukan sebagai rasa terima kasih karena Angkasa sudah membantunya.
"Gue bangga sama Lo. Sekarang, Lo jadi lebih jago dari Gue."
Ungkapan dari hati yang paling dalam. Dia sama sekali tidak pernah merasa lelah untuk mengajarkan Gagah. Meskipun pemuda itu sesekali rewel seperti anak kecil setidaknya terbayar lunas kesabarannya selama ini.
"Oh ya? Harusnya Gue potong tumbeng nih atas keberhasilan ini."
Jangan lewatkan, ekpresi menyebalkan pria itu. Gagah sepertinya ingin mendapatkan sendal melayang di pipinya.
"Sombong," cibir Angkasa saat melihat wajah bangga Gagah.
"Bercanda lah. Gue sengaja belajar yang rajin, karena beberapa waktu lagi akan banyak tugas sekolah yang harus dikerjakan. Otomatis waktunya juga akan sedikit. Mungkin gak bisa latihan."
Gagah bukan merasa sudah jago sehingga dia tidak perlu latihan lagi, hanya saja beberapa kesibukan membuatnya tidak bisa berlatih. Setidaknya dia sudah pernah mencoba dan berusaha dan tidak mengecewakan temannya yang bersusah payah mengajarkan.
Kini rasa penasarannya pun terbayar sudah. Dia tidak akan takut bila ada musuh yang menyerangnya. Cukup percaya diri karena selama ini dia dilatih dengan begitu keras oleh Angkasa.
"Gak masalah, yang penting sekarang Lo udah bisa menjaga diri sendiri. Tapi inget, sewaktu-waktu harus tetep latihan. Ilmu kalau gak diasah juga akan tumpul. Lo gak mau kan, latihan berbulan-bulan hilang begitu saja."
Angkasa sudah memastikan sendiri bahwa Gagah bisa dilepas. Dia tidak perlu latihan rutin seperti sebelumnya.
"Siap. Gue udah merasa kayak pemeran aktor laga sekarang. Sekali lagi Gue mau ngucapin terima kasih banyak sama Lo."
Gagah sungguh merasa berhutang budi, dia kerap kali menyodorkan uang untuk membayar hutangnya. Namun, pria itu tidak pernah mau menerima. Katanya dia ikhlas membantu karena sudah menganggap bahwa dirinya adalah saudara.
"Lo mah kebanyakan gaya, bukan aktor laga. Iya sama-sama. Gue bangga sama Lo."
Setelah meledek, pria itu malah memujinya. Gagah tahu jika Angkasa tidak akan menyakitinya sekalipun lewat perkataan.
"Gue jadi ngerasa punya kakak," ujarnya sangat terharu. Dia baru merasakan dilindungi oleh orang lain.
Gagah tersenyum pahit. Selama ini dia memang tidak mempunyai kakak karena anak satu-satunya. Dia tidak punya tempat untuk berkeluh kesah selain ibunya atau dia pendam sendirian.
"Lo bisa berbagi apapun sama Gue. Anggap aja Gue keluarga Lo juga, jadi jangan pernah sungkan lagi oke?"
"Gue sebenernya ogah punya saudara kayak Lo. Tapi karena Lo maksa yaudah."
Angkasa langsung mengumpat, mendengar pemuda di sampingnya merasa dirinya paling dibutuhkan.
"Sumpah nyesel banget Gue."
Kemudian mereka berdua tertawa bersama dan berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing. Lebih tepatnya Gagah yang ijin pulang lebih dulu.
"Kalau gitu Gue balik dulu ya. Nanti kalau ada waktu kita kumpul."
"Oke. Hati-hati di jalan."
Gagah pun mengangguk, lalu dia pergi menenteng tasnya. Rasanya lega sudah bicara langsung pada Angkasa. Awalnya dia pikir lelaki itu akan menahannya seperti waktu itu tapi ternyata dia salah. Angkasa sudah percaya bahwa dia bisa, sehingga tidak perlu latihan yang rutin lagi. Dia pulang dengan wajah yang berseri, karena esok dia bisa istirahat.
Sementara Angkasa tidak langsung pulang, pemuda itu tampak sedang memikirkan sesuatu. Kemudian merogoh saku mengambil handphone, jarinya menari di atas layar tersebut.
"Selamat sore, laporan selesai."
Hanya empat kata itu yang keluar dari mulutnya. Kemudian dia memutuskan sambungan telepon tersebut. Wajahnya terlihat bimbang, tapi dia mencoba tetap tenang.
"Sorry Gah," ujarnya lirih. Kemudian dia pun pergi meninggalkan tempat tersebut.
Gagah sudah sampai di rumah.
"Ibu sudah, ini lewat magrib loh. Kok masih kerja. Janjinya paling lambat pukul setengah enam pasti selesai kerjanya."
Gagah berubah menjadi lebih protektif pada ibunya. Dia tidak akan membiarkan wanita itu bekerja hingga larut malam lagi seperti waktu-waktu sebelumnya.
"Iya, ini juga sudah selesai."
Dia pun merapihkan bekas benang-benang dipotong yang berserakan di lantai juga meja jahit. Sementara Gagah seperti biasa mengumpulka bahan-bahan sisa.
"Minggu depan, tidak perlu ke dokter lagi ya. Ibu sudah sembuh."
Rengekan yang sama setiap minggunya ketika sudah mendekati waktu kontrol ke dokter.
"Bu, kan kita sudah pernah bahas ini. Ibu tidak bisa melewatkan waktu berobat."
"Kamu juga dengar sendiri kan dokter bilang gak masalah gak kontrol. Jika ibu sudah merasa tidak sakit lagi. Pola makannya kan sudah teratur, asupan nutrisinya juga tepat. Ibu sudah sembuh, kamu jangan berlebihan."
"Kita kan tetep harus tahu gimana kondisi lambung ibu."
"Sayang uangnya Nak. Lebih baik untuk keperluan yang lain. Kita ganti saja jadi sebulan sekali ya."
"Nanti kita konsultasikan pada dokter lagi Minggu depan."
"Ya sudah. Ibu mau menyiapkan makan."
"Aku bantu."
Mereka berdua pergi ke dapur. Ibunya sudah masak ketika sore. Jadi, malam tinggal di makan saja.
"Rumah ini sepi ya Bu."
"Nanti kalau Kamu sudah nikah, ajak wanitamu tinggal di sini. Nanti kan juga ada anak-anak kalian. Jadi ramai rumah ini."
"Masih lama Bu, Aku ingin kerja dulu. Bahagiakan ibu pokonya adalah nomor satu dibanding apapun."
Gagah tidak membual,. dia memang benar-benar akan mengabdikan hidupnya hanya untuk ibunya.
"Ibu bahagia kalau kamu juga bahagia. Jangan pernah merasa harus membahagiakan ibu."
"Baik Bu. Kita harus hidup lebih baik dari hari ini."
"Iya Nak. Kamu hebat, pasti kita bisa. Jangan pernah merasa kita hanya berdua saja di dunia ini."
"Meskipun kenyataannya begitu. Tapi sekarang ada Angkasa Bu. Dia orang yang benar-benar tulus."
"Iya, apa kabar dia? Lain kali ajak ke rumah. Nanti ibu masak makanan yang enak."
"Siap. Nanti Gagah undang dia ke sini. Pasti akan senang sekali."
"Kamu kenal dia di mana? Kok kalian sangat dekat. Seperti orang yang sudah kenal lama satu sama lain."
"Dia teman Gagah, saat semua orang menjauhiku Bu."
"Kita sangat berhutang budi padanya."
"Iya Bu, Aku gak akan pernah ninggalin dia dalam keadaan apapun. Kita sudah seperti keluarga. Akan saling membantu di kala suka dan duka."