3 Minggu setelahnya Haidar benar-benar jarang latihan, bahkan tidak pernah. Dia sibuk dengan tugas kuliahnya. Beruntung orang-orang yang ada di kelas tersebut perlahan sudah mulai kembali baik padanya. Meskipun diantahu bahwa mereka hanya ingin memanfaatkan saja, seperti bertanya mengenai tugas.
Sekarang dia lebih sering pulang sore dibandingkan beberapa waktu lalu. Ibunya juga sudah lebih baik keadaannya. Kehidupannya berangsur normal. Di organisasi masih jadi tantangan untuknya karena setiap ada sesuatu pasti dia akan kena sindir terus.
"Woy! Haidar!"
Teriak Angkasa dari kejauhan. Pemuda itu berlari ke arahnya.
"Apa kabar Bro?" tanyanya saat mereka berhadapan.
"Baik, Lo gimana? Ibu juga gimana?"
"Baik semua. Lo gimana?"
"Aman."
"Mau pulang?" Tanya Gagah pada lelaki itu.
"Eum enggak. Gue nyariin Lo tahu."
"Oh iya, Lo kemana aja. Kok gak pernah keliatan lagi, sibuk ya?"
"Lumayan. Ada waktu gak? Ngobrol bentar yuk."
"Boleh."
Mereka pun pergi mencari tempat yang asik untuk mengobrol.
"Yakin ke sini?"
"Kenapa?"
"Mending cari tempat lain aja deh."
"Takut?"
"Gue gak biasa minum."
"Aman Gah, Lo gak perlu minum yang aneh-aneh di sini ada air putih kok."
"Kebanyakan duit apa gimana sih, segala pergi ke tempat ini. Tahu gitu tadi kita ke warkop aja."
Sumpah, Gagah menyesal mengiyakan ajakan Angkasa. Anak lelaki itu memang mainnya sudah jauh. Tapi, tidak ramah untuk orang seperti dirinya.
"Gue kan kerja sekarang."
"Kerja apaan? Gue tahu ya soalnya sering baca. Di sini tuh minumannya mahal-mahal."
"Gue bayarin ya ampun. Nih liat sendiri kalau gak percaya."
Lelaki itu mengeluarkan uang satu gepok yang diyakini ada 10 juta.
"Oke Gue percaya. Jadi, Lo mau paket atau gimana ini?"
"Lo waktu itu kan bilang pengen kerja ya? Gue ada lowongan nih."
"Kerja apa?"
Gagah sulit untuk berpikir positif, karena sebelumnya setahu dia Angkasa tidak sekaya sekarang. Kadang makan saja minta dibayarin olehnya.
"Nanti ada Bos Gue yang jelasin."
"Bos? Kenapa gak dijelasin sekarang aja."
"Nanti takutnya Lo gak paham. Sabar ya, bentar lagi orangnya datang."
Gagah langsung berdiri, dia memastikan ke kanan dan kiri. Mencari bos yang dikatakan oleh Angkasa.
"Sumpah. Gue emang butuh duit, tapi selagi masih ada yang halal, kenapa harus cari yang begitu, buat apa uang banyak juga gak berkah."
Angkasa langsung menahan lelaki itu agar tidak pergi.
"Ini halal kok, Lo jangan negatif thinking dulu makanya."
"Ogah, Gue mau pulang. Godaan setan emang paling mantep."
"Malah drama nih bocah. Gue kapan sih jerumusin Lo. Tenang aja, kalem."
"Sekali enggak tetap enggak. Kasian Ibu Gue doain tiap salatnya. Kalau Gue maksiat begini."
Angkasa sudah kehabisan kesabaran. Lelaki itu menggeret temannya itu. Memaksa Haidar untuk ikut. Mereka naik tangga, dan sampailah di sebuah atap dengan dekorasi serba hitam. Awan yang mulai menggelap sempurna seperti sebuah penutup dari atap terbuka ini.
Di sana ada satu laki-laki berperawakan tinggi besar memakai kaca mata hitam. Semakin membuatnya sulit menjelaskan bagaimana bentuk wajahnya. Berbeda dengan dua pengawal yang berpakaian lebih santai. Hanya saja mereka memakai masker, sehingga sulit untuk dikenali..
"Duduk."
Gagah sebisa mungkin berusaha untuk kabur, tapi Angkasa menahan tangannya dengan sangat kuat. Jelas, tenaganya akan kalah dengan tenaga temannya yang kuat mengangkat beban puluhan kilo.
"Tolong lah, Gue masih pengen hidup normal."
"Duduk!"
Lelaki itu memerintahkan mereka untuk duduk. Lebih tepatnya pada Gagah.
"Aduh, maaf Om. Saya tidak cari kerja. Saya gak punya pengalaman, terus orangnya gak bisa konsisten. Pokonya Om rugi kalau rekrut Saya jadi anggota."
"Tidak sopan. Kalau masuk tempat orang itu ucap salam."
"Assalamualaikum, Om. Maaf ya, sekali lagi Saya tegaskan. Angkasa yang memaksa untuk datang ke sini. Mungkin maksud dia memang baik. Karena ingin mengajak berkerja. Namun Saya rasa belum mampu untuk itu."
Pria itu mengambil sesuatu dari dalam mejanya. Ternyata satu koper berukurang sedang. Lelaki itu membuka koper tersebut.
"Kamu tidak perlu takut keselamatanmu akan terganggu, Kami yang akan memastikannya. Dan ini bukan pekerjaan haram seperti yang ada dipikiranmu anak muda. Perkenalkan Saya Bagaskara, pekerjaan ini bertujuan sangat baik, karena dengan ini kita bisa memperkecil jaringan kejahatan yang ada di muka bumi."
Bukannya merasa bangga, Gagah malah merinding, dia semakin takut.
"Dengerin dulu penjelasannya."
Gagah di dorong temannya agar duduk. Setelah dia bisa mendarat dengan sempurna di kursi itu, barulan beberapa orang mulai meninggalkan mereka.
"Woy! Tunggu! Gue gak mau ditinggalin sendirian di sini."
"Gue jemput kalau udah selesai."
Angkasa seolah menganggap ini hal yang sepele. Lelaki itu dengan santainya turun tangga tanpa menolah ke arahnya lagi.
"Tenang Gagah. Saya ingin menjelaskan sesuatu dulu padamu."
"Apa apa Pak?"
Dia mengganti sebutannya. Karena merasa tidak sopan jika memanggil Om pada bos. Tadi dia merasa panik, jadi sembarangan berbicara.
"Selama ini Kamu mengalami banyak hal buruk bukan? Dalam hidup ini memang semuanya tidak ada yang kebetulan. Kamu pasti percaya hal itu. Keputusan besar ini Saya ambil karena merasa yakin Kamu adalah orang yang tepat."
"Memangnya pekerjaan seperti apa?"
"Kamu bebas menamainya. Namun yang pasti tugas kita adalah menangkap penjahat."
Deg
Siapa yang tidak kaget jika ditawari pekerjaan seperti itu. Dia memang tertarik namun sadar diri belum mempunyai banyak ilmu untuk bisa melakukan pekerjaan tersebut.
"Jangankan menangkap penjahat, berkelahi dengan teman kuliah saja Saya kalah."
Di akhir kalimat Dia sedikit terkekeh.
Dia sengaja mengatakan hal tersebut karena merasa yakin orang itu akan mundur jika tahu dia tidak bisa beladiri.
"Kamu yakin akan malah ini," ujar pria tersebut sembari membuka koper hitam itu.
Sesuai dugaan, Kita koper ersebut berisikan uang. Namun dia tidak menyangka ternyata uang tersebut benar-benar satu koper
Jelas saja, sebagai manusia yang terkadang kesulitan ekonomi, gagah langsung terperangah melihat uang sebanyak itu.
"Sudah tertarik?"
Mendapat pertanyaan tersebut dia masih tetap diam dan memperhatikan, lalu menghitung uang dalam hatinya.
"Polisi di negara ini sudah maju. Mereka pasti lebih berpotensi dibandingkan dengan Saya, sebaiknya ini untuk bayar mereka saja."
"Selain uang ini kamu mah kamu juga akan kami tanggung biaya kuliahnya sampai selesai tidak hanya itu, pengobatan ibu kamu kalau dia sakit dan juga kamu Kami yang bayarkan. Tiket liburan, hotel dan juga banyak akses lainnya. Kami yang akan menanggung hidupmu sampai akhir hayat."
Gagah memang mulai tergoda, tapi dia ingat sesuatu. Jika seseorang terlalu banyak mengiming-imingi, maka ujungnya pasti tidak akan enak.
"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Aja. Saya beri waktu kurang dari 1 Minggu ini untuk memikirkan tawaran ini sebaik-baiknya."
"Saya sudah punya jawabannya yaitu tidak. Tolong jangan berharap."
"Kita lihat nanti."