Bicara Sendiri

1026 Words
Gagah diam saja sepanjang perjalanan. Dia marah pada Angkasa karena sudah berbuat semena-mena. Mempertemukannya dengan orang-orang berbahaya. Beruntung dia masih bisa jaga image dengan bertahan so keren, padahal hatinya sudah ketar ketir ingin kabur dari sana. Apalagi saat lelaki itu pergi meninggalkannya bersama dengan komandan, dia merasa seperti sedang diumpankan oleh sahabatnya sendiri.  "Lo bisa pikirin ini baik-baik kok, jangan diangg-"   Ucapan Angkasa terpotong oleh suara Gagah yang sudah tidak bersahabat.  "Ngomong lagi Gue gampar Lo. Sumpah ya di mana sih otaknya. Gak mikir apa ini tuh bahaya banget Angkasa. Mengancam keselamatan nyawa, kalau Gue sampe kenapa-kenapa amit-amit yang lebih parahnya meninggal, uang sebanyak apapun gak guna. Gimana Ibu? Siapa yang bakal jagain, dia malah tambah parah dan ujungnya sakit. Lo mau tanggung jawab?"  Gagah benar-benar marah, emosinya tidak dapat dia tahan lagi. Hanya bisa menahan agar tidak memukul temannya saja sudah bagus.  "Lo lihat Gue Gah, aman. Semua ketakutan itu hanya halusinasi aja. Lo gak perlu berpikiran terlalu jauh."  Angkasa masih berusaha untuk meyakinkan temannya bergabung bersamanya.  "Jadi ini alasan kenapa Gue harus langsung latihan tembak dan segala macem yang gak masuk akal itu hah? Lo selama ini cuma pura-pura baik, mempergunakan kelemahan Gue hanya untuk kepentingan sendiri. Dibayar berapa sama mereka, sampai harus mengorbankan teman sendiri!"  Lelaki itu berteriak di dalam mobil. Dia seharunya menang curiga dari awal, jika semuanya tidak ada yang gratis. Sulit menemukan orang yang benar-benar tulus, buktinya seperti saat ini. Gagah jadi harus berurusan dengan orang-orang berbahaya seperti mereka.  "Gue ngelakuin ini karena kasian sama Lo tanpa ada embel-embel apapun. Tanya sana sama orangnya, mumpung masih hidup."  "Jangan dipikir, karena alasan ini terus langsung percaya gitu aja? Mimpi! Lo udah ngehancurin semuanya Angkasa. Kepercayaan, dan juga pertemanan kita."  "Terserah Gah, Lo mau marah kayak gimanapun bebas. Tapi jangan pernah anggap pertemanan kita cuma bercanda. Gue tulus baik sama temen sendiri. kalau enggak mungkin Gak akan gue ajakin gabung. Biar kita jadi orang sukses bareng-bareng. Jangan munafik, Lo butuh uang dan juga banyak koneksi. Dengan cara itu, Ayah pasti cepet ketemu." "Bukan itu prioritasnya sekarang. Mau sebanyak apapun iming-imingnya. Takdir Gue memang begini, gak punya ayah. Biar Gue kerja keras dengan cara yang halal." Cittt  Gagah hampir terpental, andai saja dia tidak memakai sabuk pengaman, karena Angkasa mengerem dengan mendadak.  "Maksudnya yang halal gimana? Lo pikir selama ini kerjaan Gue haram. Kita itu menangkap penjahat Gah, bukan jadi penjahat. Jelasin di mana bagian haramnya? Lo gak ngerti konsep pahala apa gimana?"  Mungkin terdengar seperti lelucon, padahal aslinya dia sangat marah.  "Itu kan menurut Lo. Polisi kita juga udah maju sekarang, gak perlu orang-orang yang sok baik begini. Mereka jauh lebih profesional."  "Emangnya harus polisi aja? Kita orang biasa kalau bisa bantu kenapa gak mau. Ilmu itu harus diterapkan dan dipergunakan untuk hal baik."  "Setelah Lo tipu, mana mungkin Gue bisa percaya gitu aja sekarang. Mending ngaku sekarang, Lo sebenarnya mafia kan?"  "Ngaco."  Angkasa kembali menyalakan mobilnya, lalu dia melajukan dengan kecepatan sedang cenderung kencang.  Keduanya tidak ada yang mau mengalah bicara. Saling diam sampai di rumah Gagah.  Lelaki itu bersiap turun.  "Thanks."  "Lo harus inget, Gue gak seniat ini buat nyakitin orang, kalau emang itu yang dimau. Kenapa harus pusing-pusing nolongin Lo dari mereka semua."  Gagah hanya memberikan delikan saja, kemudian lelaki itu benar-benar turun dari mobil tanpa menjawab perkataan Angkasa sebelumnya.  Sampai dia masuk ke dalam rumahnya. Angkasa belum juga pergi. Sampai Gagah mengintip, kira-kira beberapa menit barulah lelaki itu menjalankan mobilnya kembali.  "Kenapa kok malah ngintipi. Angkasa? Bukannya temani dia tadi."  "Eh Ibu, kok belum tidur?" Tanyanya sembari bersalaman. "Nunggu Kamu pulang, perasaan sudah lama tidak pernah balik malam. Ada apa?"   Baru datang, dia sudah diintrogasi. Sepertinya ada trauma sendiri dalam dirinya terhadap sang anak.  "Ngobrol dulu sebentar sama Angkasa. Soalnya akhir-akhir ini kita sibuk jadi gak ada waktu buat bareng."  Alasan yang sangat logis dan dapat diterima dengan baik oleh ibunya yang sangat mudah berpikir positif. "Lain kali, ajakin ke rumah. Ibu mau ngobrol sama dia."  Permintaan sederhana yang belum bisa diwujudkannya.  "Buat apa?"  "Mau berterima kasih atas kebaikan dia selama ini buat keluarga kita. Jarang loh punya temen yang care sama keluarga temannya sendiri."  Gagah langsung diam, dia berada di fase yang sedang bingung. Jujur salah, bohong juga gak berguna. Ibunya pasti akan memaksanya untuk mengajak temannya itu datang ke rumah. Jika sampai tahu, pasti ibunya akan menalahkan dia.. "Iya Bu."  Tidak mau berbicara panjang lebar, dia langsung pamit ke kamarnya. Sejujurnya, dia sangat bingung. Bagaimana menjelaskan pada ibunya jika sebenernya Angkasa tidak sebaik yang mereka kira selama ini.  "Gah, Kamarmu belum pindah ke kamar mandi loh."  Peringatan dari ibunya membuat dia tersadar dan buru-buru berbelok ke arah kamar, karena berjalan sembari melamun sampai mau kesasar ke dapur.  "Iya Bu, hehe."  Dia segera menutup pintu, begitu sampai di dalam kamar. Ingatannya kembali keoada kejadian yang baru saja di alami.  Dia mencoba untuk mencerna baik-baik takutnya memanhbdia lah yang salah menyangka. Padahal sebenarnya niat Angkasa itu baik. Jika memang lelaki itu sangat niat untuk membuatnya terjerumus. Kenapa selama ini, dan harus mengeluarkan banyak biaya juga tenaga untuk melakukannya. Kini, dia benar-benar bimbang.  Ibunya tidak akan percaya, jika dia menceritakan semuanya. Namun yang dipikirkan adalah seandainya dia menolak apakah mereka akan membebaskan begitu saja? Jika dia menerima apa tidak akan jadi masalah. Hidupnya sudah sangat penuh dilema.  Dia mengambil handuk, kemudian membawa sabun cuci mukanya. Hal yang pertama kal dilakukan sebelum mandi adalah mencuci muka terlebih dahulu. Sembari mengaca ke cermin. Dia mencoba untuk menimbang-nimbang. Jika seandainya temannya itu kembali menanyakan keputusan. Mereka tidak menerima keputusan yang dia ucapkan dikala belum dipikirkan dengan baik-baik.  "Enggak, Gagah! Lo harus bisa tegas nolak. Mungkin iya Angkasa itu baik. Tapi kita gak akan tahu kedepannya kayak gimana. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Ayo, jangan merasa gak enakan. Kalau mereka maksa, artinya memang ada sesuatu yang disembunyikan. Lo harus waspada."  Dia mengatakannya dengan penuh keyakinan.  "Gagah Kamu baik-baik saja kan di dalam? Kok berbicara sendiri begitu."  Ibunya terus memperhatikan gerak-gerik sang anak yang terlihat mencurigakan. "Iya Bu, aman!" Teriaknya dari dalam. Baru sadar jika suaranya sampai terdengar sampai keluar.  "Syukurlah."  Ibunya mendengar suara sang anak seperti sedang mengobrol dengan orang lain. Sementara anaknya berada di kamar mandi dan tidak pernah sengaja-sengaja bawa handphone.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD