"Kamu kenapa sih, aneh banget Ibu perhatikan?"
"Aku? Enggak kok biasa aja. Mana mungkin aneh Bu, makanku teratur. Kuliah juga rajin, gak suka bergadang."
"Ini nih, Ibu nanya apa jawabnya apa. Kenapa sih, ada apa bilang. Jangan dipendam seperti itu tidak baik Nak."
"Enggak apa-apa Bu, Aku hanya sedang lelah saja, banyak kerjaan yang harus dikerjakan."
"Jangan bohong. Kamu itu anak yang rajin. Sibuk adalah hal menyenangkan. Cerita saja, Ibu dengarkan."
Satu hal yang mulai berubah dari keluarganya ini. Ibunya sudah tidak sedingin dulu. Dia lebih dekat pada Gagah. Terkadang pemuda itu dibuat bingung. Kenapa baru sekarang dia diperlakukan seperti sekarang ini. Selama ini kemana saja? Namun pertanyaan itu hanya mampu sampai ke hati saja, tanpa pernah benar-benar dikatakan langsung pada orangnya.
"Menurut Ibu, kalau Aku kerja boleh gak?"
"Kamu itu ada-ada saja kelakuannya. Ibu masih bisa biayain Kamu, lagi lupa memangnya kita kekurangan apa?"
"Enggak sih Bu, tapi kan Aku butuh pengalaman. Bagaimana jika nanti melamar ke perusahaan, teru mereka menanyakan pengalaman Aku tidak punya Bu."
"Coba dipikirkan lagi. Jika mengganggu proses belajar ya jangan. Ibu gak mau sampai konsentrasimh terganggu Nak."
"Iya Bu," jawabnya tidak melanjutkan obrolan dengan topik tersebut. Dia bingung harus menjawab bagaimana lagi. Tidak mungkin juga jujur.
"Memangnya mau kerja apa?"
Glek
Sudah diduga, ibunya pasti akan penasaran padanya.
"Belum tahu, nanti dipikirkan lagi yang memiliki banyak waktu luang jika bisa."
"Ya sudah, kalau begitu ibu masuk dulu. Loh, itu kan Angkasa ya? Kamu ada berkabar sama dia?"
Gagah menggelengkan kepalanya. Dia tidak ada janji bertemu dengan temannya yang sudah dijauhinya dari beberapa hari lalu.
"Ayo Bu, masuk!"
Gagah langsung buru-buru mengajak ibunya maksud, dengan tujuan agar temannya itu tidak jadi turun dari mobil dan langsung pulang lagi.
"Kenapa? Tunggu dulu. Itu Angkasa turun dari mobil. Hebat ya dia, masih muda sudah bisa bawa kendaraan roda empat. Kata Kamu itu miliknya sendiri ya? Dia kerja apa sih?"
Respon ibunya sangat diluar dugaan, bukan karena dia cemburu. Hanya saja Gagah ingin ibunya tahu bahwa temannya bukan orang yang sebaik mereka pikir. Sulit untuk dideskripsikan lewat kata-kata, apalagi beliau bilang Angkasa sudah dianggapnya seperti anak sendiri.
"Assalamualaikum," ujar lelaki itu begitu mendekat ke arah mereka.
Gagah menjawab, tapi dalam hati. Ekpresinya sudah jelas sekali bahwa dia tidak sudah dengan kedatangannya ke rumah ini.
"Waalaikumsalam, ayo duduk Nak Angkasa. Tumben sore-sore main ke sini. Sebentar ya Ibu ambilkan minum."
"Enggak usah Bu, ini hanya mau kasih kue saja buatan Bunda."
"Ya ampun, repot-repot sekali. Bilangin makasih untuk Bundamu."
"Iya siap."
"Silahkan duduk. Gagah jangan diam saja dong, itu temannya jauh-jauh datang dicuekin."
"Iya Bu, duduk Bro."
Suaranya masih terdengar dingin, tapi Angkasa tidak menyerah. Dia duduk di sebelah temannya.
Saat wanita paruh baya itu masuk ke dalam, barulah dia berani menyinggung temannya yang sudah lama ini sengaja menghindari.
"Masalah kerjaan itu gak seharusnya membuat persahabatan kita jadi renggang."
"Gue pusing, Lo menganggap ini hal sepele. Sementara bagi Gue ini sangat kompleks sekali."
"Gue gak akan maksa kok," ujarnya tanpa beban. Seolah benar-benar berjiwa baik. Gagah sampai membenarkan posisi duduknya menjadi tegap, dia mengintip ke arah dalam rumah, ternyata ibunya sedang menguping dibalik pintu.
"Lo gak perlu deket-deket, Gue denger Kok."
"Jangan geer. Ibu Gue merhatiin dari balik pintu."
"Jangan ditengok bego!"
"Sorry. Namanya juga refleks."
"Gue gak bisa Angkasa. Jadi tolong jangan pernah bicarain ini lagi. Cukup beberapa hari ini kepikiran terus dan mengganggu aktivitas."
"Ya sudah. Lagi pula, Gue kesini mau kasih kue bukan ngajak ribut. Lonya aja yang udah terlalu overthingking. Jangan dibawa jadi beban, namanya juga baru sebuah tawaran. Lo yang punya pilihan untuk lanjut apa menolaknya."
"Sejak kapan Lo sama mereka?"
"Cukup lama."
"Berapa tahun?"
"Kurang lebih 5 tahun."
"Serius? Artinya dari lulus SMA dong?"
Angkasa sepertinya melupakan sesuatu, dia salah berhitung.
"Ha, iyaa."
"Pantesan Lo jago banget bela dirinya. Tapi gak asik ya, jadinya susah dapet temen. Mana kemana-mana diikutin terus."
"Maksudnya?"
"Jangan berlaga lupa, Lo kan tahu beberapa waktu lalu Gue sempet diikutin orang-orang aneh pakai baju hitam. Darimana asal mereka kalau bukan komplotan itu?"
Angkasa sepertinya tidak terima, tapi dia tidak punya pilihan lain, sebab tidak memiliki bukti yang kuat untuk membuktikannya.
"Ya, benar. Sorry udah buat Lo gak nyaman."
"Banget. Asal Lo tahu, Gue hampir mikir jadi anak orang kaya yang dikawal kemana-mana."
"Terus sekarang masih suka ada?"
"Jarang, tapi gak tahu deh. Mungkin Gue kurang peka."
"Abaikan saja. Biar nanti Gue yang urus dan bilang sama mereka. Lo gak akan kuat jalani misi begitu."
Akhirnya Gagah bisa mengucap syukur atas doanya selama ini yang menginginkan agar Angkasa mengerti bahwa dia tidak akan mampu melakukannya sehingga dia tidak perlu lelah menjelaskan.
"Iya, makasih," jawabnya mencoba untuk menahan suara tetap stabil.
"Santai Bro."
Meskipun kecewa, lelaki itu tidak menunjukannya secara langsung dia hanya bisa tersenyum tipis saja.
"Ini diminum dulu Nak,"
"Makasih Bu, maaf ya ngerepotin."
"Enggak dong, gimana kuliah Kamu?"
"Aman Bu,"
"Kamu katanya sudah kerja ya? Kerja apa?"
"Iya, kerja di orang."
"Noh Gagah katanya lagi bingung buat cari ker-"
"Bu, jahitannya jangan lupa dikasih alamat."
"Apa sih Gah. Ibu kan hanya ingin bicara dengan Angkasa. Tenang saja, dia gak akan ngetawain Kamu yang lagi pusing cari kerja kok. Mungkin saja malah bisa bantu. Bener gak Nak?"
"Iya Bu, bisa banget malah. Asalkan Gagahnya mau."
"Tuh dengerin, kalau kerjanya bareng Kamu sih Ibu percaya."
Mendengar wanita paruh baya yang sangat tulus itu, membuta hati Angkasa sedikit menciut. Dia takut suatu saat nanti akan membuat mereka berdua terluka. Namun tidak ada cara lain, semua sudah diatur sedemikian rupa.
"Aman Bu, jika Gagah bersama Saya."
"Ibu juga berpikir begitu. Jadi gimana? Kamu gak akan nolak kan Nak?"
"Enggak. Gagah mau cari kerjaan sendiri saja."
Pemuda itu langsung bangkit dan meninggalkan mereka berdua. Dia muak dengan drama yang terjadi. Harusnya temannya itu tidak perlu mengatakan akan memberikan pekerjaan, padahal kerjaan yang dimaksud adalah menangkap penjahat. Bagaimana jika keselamatan ibunya akan terancam karena hal ini. Dia yakin, mereka tidak akan mau tanggung jawab.
Meskipun sudah diteriaki dengan suara yang kencang. Gagah tetap masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya.
"Maaf ya Nak Angkasa. Gagah memang begitu anaknya, padahal ibu tidak pernah memanjakannya."
"Tidak apa-apa. Mungkin dia sedang banyak pikiran."
"Hmm iya, kasihan sebenarnya. Kamu harus tahu, Gagah bahkan pernah bicara sendiri di dalam kamar mandi. Terkadang teriak padahal sedang hening, banyak deh kejanggalannya. Ibu sampai bingung menghadapinya. Sudah mencoba menjadi lebih bawel dari sebelumnya. Namun tetap saja tidak banyak berpengaruh."