Ibunya Berani Keluar

1032 Words
Gagah sampai di rumahnya. Dia melihat ibunya yang sedang duduk santai di teras rumah. "Assalamualaikum," "Waalaikumsalam. Kamu bareng Angkasa? Hebat sekali mobilnya ganti lagi." "Eng- iya Bu." Awalnya dia ingin bilang enggak, tapi nanti ibunya pasti banyak bertanya mengenai teman barunya itu. "Kerja apa sih dia? Apa anak orang kaya?" "Sepertinya sih gitu. Aduh, kenapa jadi ngomongin dia sih. Ibu sudah siap." "Sudah siap dari tadi, kamu malah pulang terlambat." "Maaf Bu, tadi ada urusan sebentar. Kalau begitu tunggu sebentar ya. Gagah mau mandi dan ganti baju dulu." "Iya, Ibu tunggu di sini." Pemuda itu segera masuk ke dalam rumah, dia sebisa mungkin secepat kilat untuk mandi dan bersiap-siap pergi. Setelah semuanya beres dan dia kembali ke teras rumah. Sangat disayangkan. "Nanti besok lagi kan bisa, jangan cemberut gitu. Itu sama saja seperti Kamu murka dengan nikmat Allah. Harus bersyukur apalagi sebentar lagi hujan. Kebayang dong, mereka yang sedang kekeringan pasti langsung bahagia." Bukan ibunya yang marah, tapi pemuda itu yang kesal dan cemberut. Kala tahu cuaca sudah mendung, padahal hanya ditinggal mandi sebentar saja. "Iya Bu, Aku cuma sedih aja. Semisalnya kita punya mobil, pasti tidak akan pusing kalau mau pergi." "Lah, kan ada taksi online. Kamu aneh banget, biasanya juga naik taksi online. Sudah pesan sana, biar ibu cek rumah dulu takutnya ada yang belum dimatikan." Gagah hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, dia jadi malu sendiri karena sudah bersikap sangat aneh hari ini. "Sudah dipesan?" "Iya Bu, sebentar lagi sampai mobilnya. Mungkin sedang dalam perjalanan." "Kamu jangan terlalu banyak melamun ya Gah. Ibu perhatikan akhir-akhir ini Kamu kebanyakan melamun." "Banyak tugas sekolah Bu." "Jangan terlalu dipikirkan, jalani saja yang penting kamu sudah berusaha dengan gigih. Ibu kan tidak pernah memaksa nilaimu harus besar." "Makasih ya Bu." "Sama-sama, itu sepertinya mobilnya. Mari kita pergi, untuk menghilangkan penatmu karena banyak beban tugas sekolah." Dia hanya bisa tersenyum mendengar ucapan ibunya. Wanita paruh baya itu kini benar-benar berubah tidak seperti biasanya yang selalu ketus dan dingin. Di perjalanan mereka kembali bicara. "Seharunya dari dulu kita seperti ini ya. Maaf Ibu baru berani keluar sekarang." "Tidak masalah. Segini saja sudah sangat bersyukur. Makasih ya Bu selalu ada buatku. Padahal anakmu ini bandel parah, tidak pernah mau mendengar ucapan dan nasihat ibu padaku." "Kadang memang kesal, kalau ingat betapa ngeyelnya kamu. Tapi sakit kemarin menyadarkan Ibu bahwa Kamu itu sangat kekurangan kasih sayang dariku. Semoga kedepannya kita baik-baik saja ya." Deg Hati Gagah langsung lemah mendengar ibunya berkata seperti itu. Sebagai anak, dia akan sangat keras ketika dimarahi dan dibentak, tapi ketika dibicarakan baik-baik seperti ini mudah sekali tersentuh. "Iya Bu, semoga saja." Dalam dirinya dia berperang antara hati dan pikirannya. Jelas saja peperangan akan segera dimulai. Semuanya bahkan baru di mulai. "Kamu mau jajan apa?" "Aku ikut ibu saja," jawabnya sembari mencari-cari makanan enak. "Pesanlah, ibu yang bayar. Kamu belikan juga sekalian yang enak dan aman untuk lambung." "Siap." Gagah langsung menerobos kerumunan, dia mencari makanan untuk ibunya dan juga dirinya. Setelah menemukan makanan yang cocok, dia menunggu sampai jadi. Saat sedang memesan, dia melihat ibunya sedang berbincang dengan seseorang. Karena panik dia langsung berlari ke arah wanita paruh baya itu. Karena melihat gerak gerik orang itu mencurigakan. Benar saja, begitu Gagah mendekat pria itu langsung lari tanpa permisi terlebih dahulu. "Ibu gak apa-apa kan?" Tanyanya dengan nada tinggi karena khawatir, terlihat jelas dari raut wajah. "Enggak. Kamu kenapa?" "Kenapa orang itu harus lari ketika Aku datang. Kalian saling kenal?" "Tadi dia cuma tanya jalan saja. Katanya orang baru." "Enggak mungkin, kenapa harus lari? Itu sangat mencurigakan." "Kamu ini. Emang kita siapa harus ada orang jahat deketin kita, punya apa-apa juga enggak." Bukan begitu maksudnya Gagah. Dia jadi ingat dengan penjelasan komandannya bahwa mereka semua sedang dalam masalah dan incaran musuh. Sebisa mungkin harrus bisa menjaga diri. "Mas, ini sudah jadi pesananya." Dia melihat pedangan sate mendekat ke arah mereka sembari membawa grobak panggulnya. "Ya ampun. Kamu malah ngerjain orang bawa-bawa grobak ke sini." "Ya ampun. Maaf ya Bang, tadi saya panik makanya buru-buru ke sini. Ini Bang, makasih ya." "Hmmm." Sepertinya Abang penjual sate itu kesal, karen gagah sudah memesan dua porsi tapi malah pergi begitu saja, membuat orang salah sangka. Mengira jika lelaki itu kabur dari tanggung jawab. "Makan dulu ayo Bu." "Iya," ujarnya sembari membuka bungkusan tersebut. "Ternyata enak juga ya Gah, berbaur seperti ini." "Memangnya ibu kenapa selama ini selalu malas jika keluar rumah?" Hal yang selalu dia simpan dalam hati rapat-rapat. Karena takut menyinggung perasaan ibunya. Dulu kan jika dia salah bertanya urusannya akan sangat panjang. "Ibu tidak memiliki apapun untuk bisa bergaul dengan orang lain. Kuping ini hanya dua, tapi jika mendengar perkataan yang menyakiti hati, sakitnya bisa keseluruh tubuh, dan abadi dalam hati dan juga pikiran." Perlahan dia mencerna dengan baik ucapan ibunya sampai sadar maksudnya adalah wanita yang membesarkannya selama ini merasa insecure dengan dirinya. Memang tidak mudah, menjadi orang tua tunggal dengan pekerjaan sebagai seorang penjahit. Ibunya berpikir dia tidak layak berada di antara masyarakat bahagia lainnya padahal sebenarnya mereka yang berada di sini juga bukan orang bahagia semua. "Muali sekarang, ibu jangan pernah merasa tidak percaya diri lagi. Wanita kuat yang selama ini membesarkanku adalah orang yang patut dibanggakan karena sudah bekerja keras dan tetap tegar melewati segala cobaan hidup." "Kamu cepat sekali dewasa Gah, perasaan kemarin masih minta disuapin saat makan." "Ibu jangan buka kartu." Mereka tertawa bersama dengan guyonan kecil yang cukup lucu. Sehingga mengundang orang-orang sekitar melihatnya. Tak banyak dari mereka juga terlihat senang dengan keakraban ibu dan anak tersebut. Sementara seseorang yang tadi sempat mengobrol dengan ibunya Gagah. Kini dia memantau dari kejauhan sembari menatap dengan tajam. Sepertinya memang orang itu suruhan. Gagah juga sebisa mungkin tetap mengawasi sekitar, hingga dia sadar lelaki itu ternyata belum pergi juga. Tanpa ragu lagi, Dia langsung mengeluarkan handphonenya dan mengetik sesuatu pada Angkasa. Dia butuh bantuan, karena ada ibunya di sini. Meskipun mereka sedang dalam kondisi ramai, tapi kejatahan bisa datang dari mana saja jika ada kesempatan. "Ibu benar tidak tahu dengam pria yang duduk tadi?" "Enggak. Kamu kenapa sih? Ada masalah memangnya?" Gagah tidak bisa membiarkan hal ini, karena orang tersebut sudah mulai lancang dengan mengambil gambarnya tanpa ijin. Dia langsung bangun, dan berjalan menghampiri pria misterius itu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD