Gagah sudah selesai kelas, dia melewati lorong kampus untuk keluar. Beberapa mahasiswa juga sudah pulang, kebetulan hari ini ada dosen yang ingin dimajukan. Harusnya pulang lebih awal jadi diindur ke jam 3 sore. Sesampainya di luar gedung, dia celingak celinguk. Melihat ke sekitar, karena tidak ada Angkasa yang bersiap menjemputnya. Biasanya lelaki itu sudah menunggunya di sini.
"Gagah sini!" Teriak seseorang yang membuka kaca mobilnya.dengan percaya dirinya seperti orang yang sudah lama kenal.
Pemuda itu memincingkan matanya, mencoba mengamati dengan jelas. Dia merasa kenal dengan orang itu, tapi lupa pernah melihatnya di mana.
Karena ragu, Gagah memilih berpura-pura tidak mendengar saja. Dia duduk di kursi tunggu driver ojol. Namun lelaki itu tidak menyerah, dia turun dari mobil dan mendekat ke arahnya. Sembari berpura-pura main ponsel, dia tetap cuek.
"Gagah, ini Saya Kevan," ujarnya memperkenalkan diri.
"Maaf, Anda salah orang."
"Angkasa, Saya temannya dia. Hari ini, Saya ditugaskan untuk menjemput kamu di sini."
Setelah itu, barulah Gagahsadar, jika dia memang pernah bertemu orang ini. Karena lelaki itu lah yang menyeretnya kemarin.
"Baiklah."
Pemuda itu berdiri lalu berjalan lebih dulu dibandingkan Kevan. Lelaki itu memandangnya dengan kesal. Bisa-bisanya pemuda itu berprilaku tidak sopan padanya.
"Kita mau kemana sekarang?" Tanya pemuda itu.
"Lihat saja nanti."
"Saya hanya bisa latihan sampai setengah lima sore."
Gagah sengaja memberitahukan agar dia tidak dibilang ingkar janji oleh ibunya karena pulang telat dan merusak acara mereka.
"Bukan urusanku. Saya hanya bertugas untuk mengantar Anda sampai ke tujuan."
"Kamu juga latihan?"
Dia tidak suka dengan suasana yang hening dan canggung, berusaha bagaimana caranya agar Susana menjadi cair. Dilihat-lihat Kevan tidak terlalu terlihat tua.
"Tidak, Saya hanya memantau saja."
"Kamu bawahannya Angkasa ya?"
"Sopankah bertanya begitu? Seperti bukan orang berpendidikan saja."
"Kenapa Kamu tidak suka? Keluarkan saja Saya dari sana."
Lelaki itu kini paham dengan tabiat pemuda yang duduk di sampingnya.
"Diamlah. Saya sedang konsentrasi berkendara, tidak baik jika mengobrol seperti itu."
"Banyak sekali aturan."
Gagah langsung diam, karena merasa mobil ini melaju dengan kecepatan yang lebih dari biasanya.
Sesampainya di tempat tujuan. Di sana dia sudah disambut oleh beberapa orang yang sudah siap untuk melatihnya.
"Selamat datang latihan Gagah, sudah siap?"
Tanya komandannya. Baru kali ini, dia bisa melihat dengan jelas pria paruh baya itu. Wajahnya yang tegas, cukup membuat nyalinya sedikit menciut.
"Siap sudah."
"Tapi sebelum itu, Saya akan menjelaskan terlebih dahulu apa yang akan kita rencanakan sebelumnya."
"Apa itu?"
"Sejauh apa Kamu tahu tentang Ayahmu?"
"0,000000."
"Saya serius!" Bentak komandannya. Gagah hanya mendelik, menatap malas ke arah pria tersebut.
"Apa untungnya jika saya berbohong? Memangnya akan membuatnya datang, kan tidak. Tanyakan saja pada Angkasa, dia sedikit banyak tahu tentang Saya."
Kemudian pria itu menengok ke arah Angkasa, lalu melihat lelaki tersebut mengangguk barulah dia percaya. Gagah hanya bisa mengedikkan bahunya.
"Jika saya ceritakan dengan jelas, Kamu tidak akan berkhianat kan? Mungkin ini terlihat sepele dan main-main. Pilihanmu juga hanyabsatu, yaitu maju."
"Terus kenapa sangat bertele-tele sekali, daya tidak suka hal seperti ini."
"Saya akan buka kasus ini dan kamu harus dengarkan dengan baik-baik."
"Silahkan."
Gagah siap mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh pria itu.
"Kalian semua harus sepakat untuk tidak akan pernah menceritakan hal ini pada siapapun, ingat siapapun."
"Siap laksanakan!"
Gagah kaget sendirian, karena dia saja yang tidak sadar harus melakukan hal tersebut.
"Bagaimana Gagah?"
"Siap laksanakan."
Kemudian komenadan itu berdiri dan menurunkan sebuah layar yang sudah berisikan garis berpola dengan beberapa tanda yang dia tidak pahami.
"Kita di sini bukan untuk main-main, melainkan untuk tugas kemanusiaan. Banyak orang yang sudah menjadi korban atas kejahatan sekelompok orang tidak bertanggung-jawab ini."
"Tolong pada intinya."
Semuanya terpana, melihat keberanian lelaki itu untuk menyetop cerita yang baru saja dimulai.
"Kita semuanya harus kompak untuk menangkap orang tersebut dengan cara yang sudah saya buat skemanya."
"Ayah Saya di mana posisinya?" tanya Gagah, setelah mendengarkan panjang lebar skema yang sudah jabarkan itu. Tidak ada satu kalimat pun yang menunjukan jika ada keberadaan ayahnya di sana.
"Ayahmu menjadi kambing hitamnya orang tersebut. Dia berlindung dibelakang agar orang berfokus pada Ayahmu. Sementara kita akan langsung menangkapnya dan membebaskan ayahmu dari jeratannya."
"Kenapa dia juga tidak muncul, di aman posisinya!"
"Mereka ada dua, dalam satu posisi yang sama sebagai raja."
"Kalau ternyata kita salah tangkap gimana?"
"Kamu pikir saya bercanda, sampai tidak melakukan riset terlebih dahulu?"
"Saya hanya ingin cari aman saja. Jika pada akhirnya Saya tidak mendapatkan tujuannya untuk apa sudah berusah payah hanya untuk omong kosong. Jika memang kalian sudah mencari tahu, sebutkan nama Ayah."
"Kami bukan tidak mau memberitahukan, tapi identitas ayahmu tertutupi. Jelas tidak bisa memastikan hasilnya sekarang. Namun kita tidak mungkin tertukar. Karena targetnya sudah jelas. Kamu tidak perlu khawatir. Saya kan sudah bilang bahwa semua keputusan ada ditanganmu."
"Kita mulai dari mana dan kapan?"
"Minggu depan, latihanlah rutin selama satu Minggu ini, Saya yang akan langsung melatihmu sebelum benar-benar terjun langsung."
"Jika Saya kalah dalam medan perang ini, bagaimana dengan ibu?"
Meskipun mencoba untuk tetap percaya, rasanya masih sangat kuat.
"Saya akan menukar diri Saya sendiri sebagai jaminannya, apakah belum cukup untukmu percaya itu?"
"Bos."
"Pak."
Pria itu hanya mengangkat satu tangannya saja agar yang lain diam saja.
"Saya tidak percaya. Namun akan Saya dipegang ucapannya."
Komandan hanya menganggukan kepala saja, sangat pr sekali membujuk anak muda yang masih tinggi dengan egonya.
"Ya sudah, kalau begitu Saya pulang."
"Kenapa terburu-buru? Kita harus segera latihan. Waktu tidak banyak untuk memantapkan Kamu supaya lebih mahir lagi."
"Saya ingin memiliki kenangan yang indah, sebelum benar-benar meninggalkan ibu. Tidak ada yang bisa benar-benar menanggung resiko ini, Bos."
"Silahkan, Kevan tolong antarkan."
"Siap laksanakan!"
"Permisi semuanya."
Gagah diiringi oleh Kevan keluar dari gedung tersebut.
"Bos, apa kita tidak terlalu jahat?" Tanya seorang bahawannya setelah pemuda itu benar-benar pergi.
"Kamu pikir ini kemauan Saya?"
Bukan menjawab pertanyaan, dia memilih untuk baik bertanya.
"Kalian tetap harus memantau perkembangannya, ajudan mereka yang telah tertangkap sudah saya amankan. Kita akan mendapat banyak informasi dari sana."
Dia langsung memberikan perintah, sudah berpuluh-puluh tahun memimpin hal seperti ini, baru kali ini dia benar-benar serba salah.
"Saya akan mengurusnya Bos," ujarnya dengan semangat.
"Tidak perlu. Biar dia menjadi urusan Saya saja. Kamu fokus dengan tugasmu di sini."
Terlihat raut kecewa, tapi lelaki itu langsung mengubahnya agar tidak terlihat.
"Baik, Kami mengerti."
Pria paruh baya itu berjalan meninggalkan tempat ini, karena masih ada banyak hal yang harus dia urus.