Bukti Transfer

1117 Words
Gagah melangkah keluar dari gedung tersebut, dia bukan anak kecil yang tidak tahu arah jalan pulang. Meskipun masih belum kepikiran untuk memesan ojek online ataupun taksi. Dia tetap berjalan dan mencoba mencerna apa yang baru saja dia lakukan. Sebagai manusia yang sangat mudah sekali kepikiran dan overthingking. Dia masih belum memulainya tapi sudah berpikir sangat jauh. Terutama ketakutan akan diperdaya itu sangat besar. Masalahnya, sebelumnya tidak pernah sekalipun dia berurusan dengan banyak orang seperti ini. Dibandingkan dengan khawatir terhadap diri sendiri, dia jauh lebih kepikiran bagaimana jika ibunya nanti mengetahui hal ini. Pasti akan sangat kaget, da bisa saja membuat penyakitnya kambuh. Dia merasa seperti orang bodoh, yang mau-maunya menerima semua itu dengan cuma-cuma. Meskipun tidak semuanya buruk, dia benar-benar penasaran dengan nama yang sama, dengan rekening biasa selalu mentransfer uang padanya. Terlebih ibunya tidak pernah mau memberitahukan siapa orang tersebut. Dia sudah bersusah payah memohon pada pihak bank, tapi mereka tidak mau memberikan informasi sedikitpun mengenai orang tersebut dengan alasan bahwa itu adalah data nasabah. Dia hanya bisa pasrah saja. Sembari memikirkan banyak hal dan apa yang harus dilakukan saat bertemu orang itu. Jika memang benar seperti dikatakan oleh komandan, bahwa dia adalah penjahat kelas atas yang sangat sulit ditembus. Sebelumnya, dia pikir masalah hidupnya sederhana. Ayahnya hanya kepincut wanita lain sehingga dia pergi meninggalkan keluarga, atau mungkin saja sudah tidak mau membiayai keluarga ini. Sepertinya hal itu masih bisa diterima. Dibandingkan dia harus mengetahui bahwa kepergian ayahnya karena masuk dalam lingkup kejahatan. Druuugg "Mau pulang bareng?" Siapa lagi jika bukan Angkasa, lelaki itu kini membawa motor. Gagah mengangguk, lalu naik ke atas motor. Dia butuh teman diskusi. "Kalau Lo mau penjelasan dari Gue, sorry Gah, Gue gak punya itu." "Gak perlu, Gue mau buktiin sendiri aja." Mereka berdua diam, lalu pergi rumah Gagah untuk pulang. "Gue balik dulu," "Ya." Pemuda itu tidak marah, dia hanya sedang bingung. Jantungnya masih bergetar hebat, takut dengan keputusan yang salah. "Kamu itu ke mini market yang di mana sih Gah? Di Mars? Pergi dari tadi baru pulang jam segini." Dia hanya tersenyum tipis. "Maaf Bu, tadi ada hal yang harus dikerjakan dulu." "Lain kali kan bisa mengabari. Jangan buat panik, kemana-mana bawa handphonenya." Ibunya sudah menghubungi lewat ponsel, tapi ternyata pemuda itu tinggal di kamarnya. "Iya Bu." Baru beberapa langkah Gagah berjalan. Ibunya sudah kembali bicara. "Kamu bohongin ibu?" "Apa?" "Mana makanan yang mau dibeli? Gak jadi ke minimarketnya?" Gagah jelas lupa, awalnya sempat kepikiran untuk membeli sesuatu agar tidak dicurigai. Namun tiba-tiba saja lupa dan sekarang ditanya. "Yang mau dibelinya, ternyata kosong di sananya. Jadi langsung pulang." Dia langsung buru-buru masuk ke dalam kamar. Menutup pintu dan menguncinya agar ibu tidak bisa sembarangan masuk ke dalam. Karena dia ingin mencari tahu sesuatu. Dengan terburu-buru, dia mencari buku mutasi rekening yang sengaja dia print 2 tahun lalu. Jadi, saat dia berumur 17 tahun. Dia baru memiliki kartu ATM yang ternyata di sana terdapat sejumlah uang seharusnya cukup untuk kehidupannya bahkan lebih. Namun, ibunya selalu berkata untuk tidak pernah mengambilnya sepeserpun dari sana. Semakin curiga dan mencari tahu. Ternyata kartu tersebut diisi oleh pria bernama Bram. Saat ditelusuri, tidak ada satupun yang bisa memberikan informasi lebih akurat. Bahkan dia sampai ngecek ke orang yang ahli teknologi, untuk mencarikan nama ini. Namun karena terhalang biaya, akhirnya dia menyerah. Kemungkinan besar, itu adalah uang dari ayahnya. Dia berpikir, tidak mungkin ini nama asli ayahnya. Dia membiarkan itu menjadi rahasia dan ditutup rapat-rapat. Tidak seorangpun selain ibunya tahu mengenai nama ini. Karena ibunya sendiri juga meminta agar dia tidak terlalu banyak bicara tentang hal tersebut. Mutasi rekening itu tidak lagi disimpan di dalam lemari, dia sengaja menaruhnya di tempat yang mudah untuk digapai, seandainya sewaktu-waktu dibutuhkan mudah untuk diambil. "Sabar Gah, Lo jangan panik. Tetap kuasai diri sendiri. Lo pasti bisa melewati ini semua. Semangat!" Teriaknya tanpa sadar, kemudian dia tersenyim tipis. Lalu bergegas untuk mandi. Meksipun malam, dia memaksakan diri untuk mandi, karena nanti akan sulit tidur. Sementara Angkasa kembali ke tempat semula. "Gitu saja lama sekali. Saya sudah yakin, dia pasti mau." Komandannya bersuara. Mereka sedang merencanakan sesuatu untuk esok hari. Karena mulai besok, Gagah resmi jadi bagian dari mereka untuk melaksanakan tugas. "Menurutmu seberapa lama dia mengetahui semuanya?" "Saya tidak tahu dan tidak bisa menjamin. Dia anaknya sulit ditebak, terlihat polos tapi otaknya berjalan dengan baik. Bahkan dia bisa memikirkan hal yang akan terjadi setelahnya." "Sayang sekali, nasibnya memang kurang baik." "Besok siapa yang akan bertugas intuk menjemputnya di kampus?" Tanya salah satu timya. "Saya juga tidak masalah." "Kamu saja, karena jika dengan Angkasa dia tidak akan merasa sungkan, sehingga perdebatan sering kali terjadi di antara keduanya, dengan itu untuk menghindari hal tersebut kita buat pormasi baru." "Siap laksanakan." "Kita harus segera menyelesaikan misi ini dan pulang ke rumah dengan tenang." "Siap laksanakan." Salah satu aturan ketika misi belum selesai, maka mereka pantang untuk pulang. Kecuali jika ada keperluan mendesak sekali. Gagah kesulitan untuk tidur, dia merasa ada yang salah dengan dirinya. "Tumben nonton tv. Biasanya juga ngurung diri di kamar. Ini sudah hampir setengah 2." "Ibu kenapa bangun?" "Mau ibadah. Kamu sudah salat isya belum?" "Sudah Bu." "Jangan bergadang. Lebih baik minum s**u gih sana, ada di atas kulkas yang kaleng." "Siap Bu." Gagah langsung menuruti ucapan ibunya. Dia membuka tutup minuman kaleng, lalu menegaknya sampai habis. "Kebiasaan, minum berdiri begitu." "Hehe, maaf Bu." "Kamu kenapa sebenarnya sih, susah banget cerita sama Ibu sendiri." "Aku juga gak tahu Bu, tapi susah banget tidur." "Ada yang dipikirkan berarti. Makanya bilang apa?" "Mau istirahat saja deh, sepertinya sudah mulai ngantuk. Bye Ibu." Gagah langsung berlari ke kamarnya. Hal sekecil ini justru membuat ibunya jadi semakin curiga dengan sang anak. Sayang sekali, pemuda itu memang paling cermat dalam menyimpan rahasia. Lima belas menit kemudian, ia baru selesai menunaikan ibadahanya, setelah mendoakan semuanya. Dia mengecek sang anak dengan masuk ke dalam kamar. Ternyata benar dugaannya. Gagah masih belum tidur, kini pemuda itu menatap kaget ke arahnya. Seakan tidak percaya, jika ibunya sedang berdiri di ambang pintu. Mau berpura-pura tidur, sudah terlanjut ketahuan. "Kenapa belum tidur?" "Belum ngantuk Bu, mungkin karena tadi sudah tidur." "Besok Kamu ada acara gak?" "Kenapa?" "Ibu pengen jalan-jalan ke alun-alun." Gagah langsung tersenyum merasa lucu dengan pernyataan ibunya. "Mau ngapain ke sana?" "Beli apa saja, sepertinya di sana banyak makanan enak." "Ibu serius, gak kesambet apapun kan?" Dia tahu, jika ibunya adalah orang yang sangat apik, sulit sekali untuk menerima makanan dari orang lain, berbeda dengan dirinya yang bisa makan di mana saja. "Sembarangan! Ya sudah, tidak jadi." "Jangan! Ayo besok kita ke alun-alun, biasanya jam 5 sore mulai ramai Bu." "Iya. Kalau begitu segera tidur, ibu juga sudah kembali mengantuk." "Siap." Begitu ibunya tutup pintu, dia baru sadar satu hal. Plok Sembari menepuk jidatnya dengan tangan, dia mengumpat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD