Akhirnya Bergabung

1079 Words
"Lepaskan!" Teriaknya sangat kencang, berharap orang-orang itu mengerti dan seger melepaskannya. Tak lama, datanglah Angkasa dia langsung berlari ke arahnya dan membukakan ikatan pada badan temannya itu. "Lo gak apa-apa?" "Matamu!" Sentaknya kesal. Meski dalam hatinya terasa sangat lega, dia tetap saja kesal pada Angkasa. Karena lelaki itulah dia sampai begini. "Maaf, Gue telat." "Sudahlah, mending Gue pulang. Kalian lama-lama Gue laporkan polisi saja sekalian. Biar tahu rasa." Angkasa tampak biasa saja dengan gertakan pemuda itu, membuat Gagah sedikit kebingungan. Padahal seharusnya siapapun akan takut pada polisi. "Oh Gue tahu, kalian pasti sudah sogok mereka juga kan?" Gagah terkekeh, sembari menatap sinis ke arah temannya. "Ngomong apa sih. Yaudah, mending sekarang Lo pulang aja." Dia melihat ke sekeliling, sepertinya memang temannya ini sengaja ditinggal sendirian di sini, beruntung dia masih memiliki teman baik yang memberitahukan di mana Gagah berada. "Hmm." Gagah berjalan dengan santainya, tanpa memperdulikan temannya lagi. Dia juga tidak bilang terima kasih sama sekali.. Namun suara sepatu pantofel yang mengetuk lantai terdengar sangat nyaring. Membuat mereka berhenti bergerak. "Selamat datang Gagah. Jangan terburu-buru lah, silahkan duduk," ujarnya sembari menepuk bahu pemuda itu tanpa merasa bersalah sedikitpun. Pria berpakaian hitam itu melewatinya dengan santai, kemudian duduk di kursi yang tadi sempat diduduki Gagah. Tentu saja pemuda itu tidak tinggal diam, dia langsung belati sekeng mungkin agar segera keluar dari tempat ini. Meninggalkan Angkasa dan kawan-kawannya. "Nyalinya besar juga ya, kita tidak salah pilih." Dibandingkan menjawab, dia memilih untuk pergi begitu saja. Karena setelahnya pasti akan banyak drama. Saat kalinya melangkah, setengah dari bangunan ini, dia melihat Gagah yang sedang dipaksa masuk, dengan kedua tangan dicekal oleh dua orang berbadan kekar. Lelaki itu menatap Angkasa, seakan memohon untuk dilepaskan, tapi karena tidak punya pilihan lagi. Dia hanya bisa mengangguk saja, seakan ingin mengatakan semua akan baik-baik saja. "Gue akan bilangin ini semua ke Ibu." Ancama yang sangat lucu, tapi Angkasa tidak juga angkat bicara. Dia memilih melanjutkan langkahnya. Biarkan bosnya yang menyelesaikan semua ini. Tugasnya sudah selesai, kecuali nanti Gagah masih ingin dia temani. "Brengse!" Dia mengumpat sangat kencang, di kala melihat temannya itu dengan santai keluar dari gedung ini. "Lepas!" "Sudah, kalian pergi saja. Biarkan saya yang bicara pada anak ini." "Siap, laksanakan." Kedua orang gagah itupun langsung pergi. Menuruti ucapan pria berparah tegas. "Mau apa lagi? Saya sudah bilang tidak mau ya tidak. Kenapa selalu memaksa, banyak orang lain diluaran sana yang lebih hebat dan-" "Karena Saya butuhnya Kamu." "Tenang dulu, lebih baik duduk dengan rapi dan dengarkan segala penjelasannya. Karena Saya tidak akan membahasnya dua kali." Pemuda itu bersikeras dengan egonya, dia tidak mau duduk seperti yang sudah diperintahkan. "Kalau begitu, kita langsung saja pada inti pembicaraan. Karena Kamu juga sudah tahu apa tujuan ini semua." "Mari kita buat kesepakatan yang lebih baik daripada sebelumya. Dibandingkan uang yang kamu hilang haram itu, Saya rasa ayahmu jauh lebih penting bukan?" Mata Gagah semakin menajam, tapi dia masih tidak mau mengikuti perintah sebelumnya. "Saya akan bantu Kamu untuk bertemu dengan ayahmu tanpa harus repot-repot membujuk ibumu." Nantinya seketika berdebar tidak karuan, dia tidak suka jika harus membawa-bawa keluarga dalam urusan seperti ini. "Hanya itu?" "Saya rasa itu sudah lebih dari cukup, karena uang seberapa besarpun tidak akan bisa membeli seorang ayah dan kasih sayangnya pada anak. Apalagi untuk Kamu yang belum pernah merasakannya." "Sayang sekali, Saya tidak tertarik. Semua adalah kesalahan saya membiarkan orang baru masuk ke dalam hidup ini, yang jelas-jelas mereka hanya ingin memeperdaya saja. Mencari titik terlemah dalam diri kemudian menjadikannya sebuah senjata untuk menjatuhkan." Prok Prok Prok "Sungguh, Kamu sangat pintar sekali. Tapi tunggu sebentar, Saya masih memiliki penawaran terakhir untukmu." Pemuda itu masih merasa yakin dia bisa pergi dari tempat ini tanpa harus kenapa-kenapa. Kini dia berjalan perjalan, mendekat ke arah pria itu lalu mengambil map berwarna biru muda. Dengan santainya dia membaca isi map tersebut yang bertuliskan nama seseorang yang selama ini dia cari-cari. "Bagaimana? Sudah tertarik sekarang. Ingat satu hal, Saya tidak akan memberikan kesempatan lagi. Kamu pikir hebat sekali sampai merasa dibutuhkan?" Pria itu kemudian berdiri lalu berjalan dua langkah mendekat ke arahnya. Gagah berhasil mundur, dia masih mempunyai kesadaran untuk lengah. "Mungkin Kamu tidak akan percaya, itu bukan urusan Saya. Namun satu hal yang harus Kamu tahu. Ayahmu dalam bahaya dan dia butuh pertolonganmu anak muda." Pria itu berjalan meninggalkan Gagah yang sedang kebingungan ingin bertanya tapi dia terlalu gengsi. Pria itu menggenggam erat map tersebut, lalu dia mengejar komandan. Dia yakin belum jauh dan masih ada di gedung ini. Dia menuruni anak tangga satu persatu. Dia berlari sekencang mungkin, saat melihat pria itu dia langsung berteriak. "Tunggu!" Pria itu berhenti berjalan, kemudian dia membalikkan badan. "Saya mau." Dengan tegas dan tanpa paksaan Gagah mengatakan jika dia mau bergabung dan menjadi bagian dari mereka. "Katakan dengan jelas. Saya tidak mengerti apa yang kamu maksud." "Saya bersedia bergabung dengan kalian untuk memberantas penjahat." "Kamu yakin? Ini akan sangat berat. Lebih baik saya jelaskan dari sekarang. Kita mungkin tidak terikat kontrak, tapi Kamu akan terikat. Sebelum masalah ini selesai. Kamu tidak akan bisa kabur dengan celah apapun lagi." "Kita tidak boleh memihak siapapun di sini. Karena bekerja harus dengan propesional, terlepas itu ayah Kamu atau bukan. Keluarga juga bisa salah, karena hanya manusia biasa." "Maksudnya bagaimana? Coba jelaskan! Jangan bertele-tele." "Kita akan membongkar kejahatan besar, penjahat ini tidak sangat sulit ditemukan. Mungkin Kamu tidak tahu nama Ayah sendiri. Namun saya bisa pastikan. Dia ada di dalamnya ini semua." "Kenapa bisa? Buat apa ayah melakukan itu semua." "Kamu bisa tanyakan sendiri nanti. Asalkan ingat satu hal. Tidak akan bisa mundur. Deal?" Pria itu menyodorkan tangannya. "Apa yang Anda tahu tentang Ayah Saya?" Sebelum akhirnya dia mengiyakan, Gagah ingin tahu lebih jauh dulu. "Ayah Kamu jadi salah satu korban di sana. Nama itu lah yang bertanggung jawab besar pada hidupmu yang hancur berantakan seperti saat ini." "Kenapa Ayah bisa ikutan mereka?" "Entahlah, banyak faktor sebenarnya. Bisa saja karena ekonomi kalian lemah, itu sangat mungkin terjadi. Biasanya orang akan mencari kelemahan, seperti yang Kamu katakan tadi." "Apa jaminannya kalau Ayah Saya terlibat. Jangan-jangan ini hanya akal-akalan kalian." "Kamu pikir Saya nganggur memperkerjakan Angkasa untuk melatihmu? Jika tidak ada gunanya untuk apa?" "Saya setuju, dengan syarat. Jika Ayah bersalah, tolong bebaskan dia." "Kamu yang akan menentukan semuanya setelah benar-benar terbongkar nanti. Saya berikan keputusannya padamu." "Deal!" Akhirnya mereka berjabat tangan, setelah proses sangat alot dan banyak drama seperti yang dipikirkan oleh Angkasa. Kini, pria itu sedang bersembunyi di samping gedung untuk mengintai mereka berdua. "Kita harus segera siap-siap," ujar temannya yang ikut mengintip bersamanya. "Hmm."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD