Part 05

1469 Words
Cinta membuatku tak berdaya, setiap Serin ingin melupakan cinta dan masa lalunya, kenangan demi kenangan tampak di depan matanya. Rasa sakit yang belum bisa Serin lupakan sama sekali. Meskipun sudah berjalanbertahun-tahun, Serin berpisah dengan Michel, laki-laki yang pernah menjadi belahan jiwanya. Tempat bersandar untuknya. Namun semua itu sekarang hanyalah sebuah kenangan masa lalu. Terlalu banyak kenangan yang dia lalui bersama, meskipun itu cuma kepura-puraan semata. Serin memegangi dadanya yang begitu sesak karena rasa sakit yang mengingatkannya tentang kenangan bersama Michel dalam hidupnya. Dia hanya bisa berharap semoga urusannya di sini cepat selesai. Dan dia bisa kembali lagi ke Swiss menjalani rutinitasnya seperti biasa tanpa ada bayangan masa lalu di sana. Entah sampai kapan dia harus menjalani hari-harinya seperti ini. Hidup tapi seperti orang yang mati. Mungkin orang melihat sosok Serin adalah wanita yang tegar. Andai mereka tahu kalau itu cuma sebuah topeng semata. Menutupi luka yang masih belum mengering. Hanya karena alasan tidak ingin orang melihatnya rapuh, Serin menutupinya dengan rapat. Karena Serin tidak ingin orang-orang disekitarnya tahu akan kesedihan yang selama ini dia rasakan. “Nona, silahkan,” ucap sopir pribadi Serin yang sudah menjemputnya di Bandara. “Owh iya Pak.” Dengan langkah gontai Serin turun dari mobil dan menuju ke dalam kantornya. Tiba saatnya Serin menginjakkan kakinya di perusahaan. Para pegawai menyambut kedatangan Serin. Semua mata terkagum-kagum akan kecantikan yang dimiliki Serin. Sosok pemilik perusahaan yang tidak pernah memperlihatkan wajahnya sama sekali semenjak di dirikannya perusahaan milik Serin. *** Flashback “Apa jadwalku hari ini di perusahaan?” tanya Serin pada Sekertarisnya. Serin baru saja menginjakkan kaki di Bandara Soekarno Hatta pagi ini dengan ponsel yang masih menempel di telinganya setelah perjalanan panjang Swiss-Jakarta. “Tidak ada jadwal pertemuan, semua bisa dihandel. Cabang restoran dan hotel yang di Bali sekarang juga sudah hampir selesai tinggal menunggu grand openingnya saja. Dan untuk acaranya, satu minggu lagi acaranya digelar. Tapi besok jadwal Anda padat karena ada meeting untuk semua staf divisi. Memantau perkembangan proyek yang sedang dalam penanganan perusahaan,” jawab Intan sekertaris pribadinya. Serin mengangguk mendengarnya dan masuk ke dalam lift menuju ruangan. “Ok...kalau begitu aku ingin mengunjungi panti asuhan hari ini dan jangan ganggu aku,” ucap Serin. “Yes, Miss. Bagaimana perjalanan Anda? Menyenangkan?” tanya sekertarisnya. Serin menghela nafas. “Sama sekali tidak, kalau begitu aku tutup dulu.” “Ok...Miss...” Tut...bunyi sambungan terputus. **** “Bagaimana perjalanan Anda tadi Miss Serin. Perkenalkan Saya Karena. Staf dari Devisi Keuangan perusahaan?” suara yang dia kenal itu membuatnya mendongkakkan kepalanya yang tadinya fokus dengan MacBooknya. Seolah-olah yang diucapkan barusan adalah sebuah sindiran. Sindiran dari sahabat terbaiknya. “Owh...Baik,” ucap Serin datar, kembali fokus dengan MacBooknya. Andra yang merasa dicuekin oleh Serin, dia menjadi jengkel. ”Apa-apaan dia ini, aku dicuekin seperti aku tidak ada di depannya saja,” gumam Andra dalam hatinya. “Owner terbesar dari perusahaan akhirnya pulang juga setelah sekian lama tidak ada kabar sama sekali,” ucap Andra pedas pada Serin. Serin menahan senyumnya dalam hati, melihat sahabatnya menampakkan tampang yang menahan marah padanya. “Hmm...Wajah Anda datar sekali, Bu, kayak triplek,” desis Andra dengan cuek. Dan kembali ke meja kerjanya meninggalkan Serin yang masih berdiri di hadapannya. Serin menarik nafas dan menghembuskannya, berusaha menahan tawa karena ulah sahabatnya itu. *** Serin masih memandang ke luar jendela, saat ketukan di pintu ruangannya terdengar, Serin mempersilahkan masuk. Serinl masih tetap berdiri dan melipat lengannya di d**a sambil tetap mengfokuskan pandangannya ke depan.” Senang bertemu denganmu lagi Orlando, informasi apa yang kau bawa sekarang?” Pintu terbuka memunculkan seorang lelaki yang berpawakan tinggi yang mempunyai body idaman seluruh wanita, yang tak lain adalah Carlos. Kaki tangan Serin. Seorang mantan anggota FBI yang sekarang mengabdikan hidupnya untuk Serin, yang berani untuk mati melindungi Serin. “Penggusuran panti asuhan itu memang disengaja Miss dan yang merencanakannya adalah orang tua dari mantan suami Anda dan perusahaannya ada andil untuk kejadian ini.” “Kenapa harus berurusan dengan keluarga itu lagi, Carlos?” Serin menghela nafas mendengar informasi yang diberikan . Ia benar-benar tidak ingin lagi berurusan dengan mantan suami dan keluarganya. Semakin dia berurusan dengannya, semakin sakit hatinya. “Motif apa yang mendasari mereka melakukan semua ini?” “Balas dendam Miss.” Serin berpikir sejenak solusi yang terbaik untuk mengatasi masalahnya kali ini. Ia tidak ingin berlarut-larut dengan masalah ini. Masalah yang membuatnya muak harus berurusan dengan keluarga mantan suaminya itu. “Tolong bereskan masalah ini secepatnya. Jika memang mereka tidak menjual tanahnya tidak masalah. Carikan saja rumah yang luas untuk pemindahan Panti Asuhan yang mempunyai halaman dan bisa dibangun area bermain untuk anak-anak panti,” ucap Serin dengan tegas, dengan intonasi suara yang memerintah. “Baik Miss...” “Ya sudah pergilah Carlos, tetap awasi pergerakan mereka.” “Siap Miss.” Carlos pergi meninggalkan ruangan Serin. Setelah selesai berbicara dengan Carlos. Serin bergegas pergi meninggalkan perusahaannya. Dan turun menuju parkiran menuju mobil yang sudah disiapkan. Serin memasuki mobil dan mobil melaju ke luar dari parkiran perusahaan melaju menembus padatnya jalanan kota Jakarta. **** Chiiiiiiittttt... Mobil ngerem mendadak, ada mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya. “Apa-apaan orang ini, pingin mati apa.?” desis Serin sambil ngomel keluar dari mobil dan menghampiri mobil yang ada didepan mobilnya. Toookkk...Tokk...Tokkk... Serin mengetuk kaca mobil yang ada didepannya. Serin sedikit kaget saat seorang pria keluar dari mobil itu adalah orang yang pernah ia tabrak saat di bandara. “Kamu...” Serin menunjukkan telunjuk ke arah pria itu dengan tatapan yang terkejut.” Oh My God mimpi apa aku semalam harus bertemu dengan orang gila ini lagi,” ucap Serin sambil menepuk kepalanya tidak percaya. Dia tidak menyangka kalo bertemu lagi dengan pria menyebalkan yang ada di depannya saat ini. Sepertinya takdir mempermainkan Serin. “Dasar wanita aneh...” desis Adrian kepada Serin yang masih menampangkan wajah menyebalkannya. Di dalam hati sebenarnya Adrian sangat bersyukur karena dipertemukan lagi dengan Serin. Wanita yang mencuri perhatiannya. Dia terlalu tinggi egonya, sehingga Adrian cuma bisa menampilkan dirinya yang sangat menyebalkan kepada Serin untuk menutupi ketertarikannya pada wanita yang ada di depannya saat ini. “Kamu yang aneh berhentiin mobil di tengah jalan, kalau kau ingin cepat-cepat mati jangan bikin susah orang,” ucap Serin dengan ketus. Sambil berjalan menuju mobilnya. Serin membunyikan klakson mobil terus menerus sampai akhirnya pria itu masuk ke mobilnya dan menepikan mobil di pinggiran jalan. Serin melajukan kembali mobilnya menuju ke Panti Asuhan. Tempat di mana ia dibesarkan dan tumbuh tanpa orang tua. Menyisakan perih di relung hati Serin. Menjadi anak yang tidak diinginkan oleh orang tuanya. Entah apa alasan kedua orang tuanya sampai tega membuangnya ke panti asuhan. Memakan waktu satu jam Serin sampai ke Panti Asuhan, mobil memasuki halaman panti, tidak ada sedikitpun yang berubah sama sekali. Semenjak terakhir ia tinggalkan beberapa tahun yang lalu untuk menetap di Swiss. Serin tidak segera turun dari mobil, ia duduk termenung sambil menyandarkan kepalanya di jok mobil. Dengan tatapan nanar memandangi panti asuhannya, bergelut dengan fikiran dan perasaannya. Serin cuma bisa berharap yang terbaik untuk panti asuhannya. Memberikan kenyamanan dan kebahagiaan untuk ibu dan adik-adik pantinya, karena bukan salah mereka, mereka harus menanggung semua ini.” Semoga saja Carlos bisa berbicara baik-baik dengan pihak keluarga mantan suaminya dan mendapatkan hak milik panti asuhan, meskipun harus membayar dengan harga mahal," batin Serin. Serin menghela nafas panjang dan menghembuskannya. Sebelum ia beranjak turun dari mobil, menemui wanita paruh baya yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri. **** Tokkk....Tokkkkk...Tokkkk... “Sebentar...” Serin mendengar suara sahutan perempuan paruh baya yang sangat dia rindukan, Bu Ami sangat kaget saat membuka pintu, siapa yang ia lihat. Anak yang sangat dia rindukan selama ini. Bu Ami berkaca-kaca sambil merentangkan tanggannya untuk memeluk Serin. “Ibu...” Serin memeluk Bu Ami dengan erat, tak kuasa menahan tangis yang dia tahan dari tadi. “Serin sehat...kamu Sayang?” ucap Bu Ami dengan menatap lekat wajah Serin. Dan mengajaknya masuk kedalam panti. Sambil tetap memegang erat tangan Serin. “Naraya sehat Bu, Ibu sendiri bagaimana kabarnya? dan adik-adik panti ke mana Bu, panti sepi sekali?” tanya Serin sambil melihat situasi panti yang sepi. “Mereka semua belum pada pulang sekolah. Dito dan Rina juga ada kuliah pagi belum pulang.” Tutur Bu Ami dengan tetap memandang gadis kecil kesayangannya, yang sekarang menjadi wanita dewasa dan sukses. Panutan bagi anak-anak panti. Terutama Dito dan Rina yang sudah remaja. Karena motivasi yang diberikan Serin, membuat mereka semangat untuk melanjutkan kuliah. Dito yang mengambil jurusan Arsitektur dan Rina mengambil jurusan Kedokteran. Meskipun awal mulanya mereka takut akan biaya kuliahnya. Berkat Serin, rasa takut yang mereka rasakan sirna karena Serin tidak ingin Dito dan Rina terbebani memikirkan biaya kuliahnya. Karena semua Biaya Serin yang menanggungnya. Cukup Dito dan Rina konsentrasi untuk menggapai Cita-citanya. Karena buat Serin, mereka adalah keluarganya. “Ibu masalah panti yang mau digusur, jangan khawatir. Jika memang pemilik lahannya yang sekarang tetap ingin menggusur panti ini, Ibu dan adik-adik tidak usah khawatir, Naraya sudah menyiapkan tempat untuk panti asuhan kita. Itu solusi kedua Bu. Syukur-syukur pemilik lahan yang baru mau menjualnya pada Serin. Ibu dan adik-adik bisa tetap menempati panti ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD