Kebahagian dan kesedihan berbeda tipis, kebahagiaan bisa datang dari adanya kesedihan dan kepedihan. Cinta pun juga seperti itu, tumbuh tanpa tahu waktu dan tempat. Takdir cinta yang mempertemukan dari ketidaksengajaan. Sama-sama pernah merasakan yang namanya patah hati karena cinta. Hati yang sudah membeku tak mudah untuk mencair. Pengorbanan dan usaha untuk mencairkan hati yang telah membeku, menumbuhkan benih cinta dalam hati.
Serin sebelum pergi ke rumahnya Tuan Andre, dia pulang dulu ke apartemennya untuk mandi dan berganti baju. Serin tak terlalu ambil pusing soal pakaian yang dia pakai, seperti sekarang dia memakai Dress berwarna hitam dibawah lutut dipadukan hils berwarna senada. Rambut dicepol ke atas yang memperlihatkan leher jenjangnya, dan untuk menyempurnakan penampilannya, Serin memakai bolero panjang berwarna hitam dan memoles tipis wajahnya. Serin terlihat sangat cantik. Setelah selesai bersiap-siap, Serin turun dari apartemennya dan menuju mobil miliknya. Ia mengendarainya sendiri.
Satu jam perjalanan Serin baru sampai di kediaman keluarga Tuan Andre dengan menggunakan aplikasi lokasi, Serin tidak terlalu sulit menemukan kediaman keluarga Tuan Andre, rekan bisnis yang ingin menjalin kerja sama dengan perusahaannya. Serin sudah sampai di depan gerbang kediaman Tuan Andre. Gerbang tiba-tiba otomatis terbuka, Serin melajukan mobilnya menuju ke dalam pelataran rumah dengan halaman yang luas dan ditanami berbagai macam bunga. Sungguh indah dilihat. Suasana yang nyaman. Serin mengagumi suasana kediaman Tuan Andre, sangat terlihat hangat siapapun yang melihatnya. Serin memarkirkan mobilnya di parkiran rumah. Sebelum turun dari mobil, Serin mempersiapkan berkas-berkas yang akan dia bawa ke dalam. Setelah semuanya beres, Serin turun dari mobilnya dan menuju pintu utama Mansion Tuan Andre.
Ting....Tung....Ting...Tung....Serin memencet bel pintu Mansion Tuan Lessham. Tidak menunggu lama pintu pun dibuka dari dalam. Muncul seorang pelayan wanita dari belakang pintu.
“Maaf mencari siapa?” tanya pelayan itu dengan sopan. Sambil memperhatikan Serin.
“Saya datang ke sini karena ada janji bertemu dengan Tuan Andre,” ucap Serin dengan datar.
“Mari masuk Nona.” Pelayan yang tak lain bernama Bi Ija itu pun menyuruhnya masuk ke dalam dan mempersilahkan Serin duduk di ruang tamu. Bi Ija menuju ke dapur menyampaikan kepada Ibu suri kalau ada tamu yang mencari Tuan Andre yang sekarang sedang berada di ruang tamu.
“Nyonya, ada tamu yang mencari Tuan Besar, sekarang sedang berada di ruang tamu,” ucap Bi Ija dengan sopan.
“Siapa, Bi?” tanya Ibu suri dengan tetap menyiapkan bahan-bahan untuk dia masak.
“Tidak tau Nyonya, seorang wanita yang masih muda, cantik banget orangnya. Tapi sayang ekspresi mukanya datar banget, Nyonya,” ucap Bi Ija. Ibu suri menyunggingkan senyumnya dan berhenti dari pekerjaannya. Kemudian berjalan menuju ruang tamu keluarganya.
Ibu suri memasuki ruang tamu dengan berjalan secara elegant dengan menampilkan senyuman termanisnya. Serin berdiri dari duduknya saat melihat wanita paruh baya yang berjalan menuju ke arahnya.
“Maaf ada perlu apa Anda mencari suami saya?” tanya Ibu suri pada Serin.
“Maaf sebelumnya, saya datang ke sini untuk membicarakan kontrak kerja antara perusahaan saya dengan perusahaan Aditama Corporation. Beliau mengingginkan pertemuannya diadakan di kediamannya,” tutur Serin dengan sopan. Meskipun dengan tetap menampakkan mimik muka dingin dan datar.
“Emmm, masalah kontrak kerja sama? Mari ikut saya ke dalam terlebih dahulu sebelum bertemu dengan suami saya nantinya,” ucap ibu suri. Serin pun yang tidak tahu menahu mengikuti ibu suri dan dia berjalan di belakang Ibu suri menuju area dapur. Serin sempat bertanya-tanya dalam hatinya kenapa dia malahan di bawa ke dapur sama istri Tuan Andre. Di sisi lain, Ibu suri merasa bahagia bisa melihat wanita yang disukai putra bungsunya. Ibu suri ingin mencari tahu sendiri bagaimana sosok wanita yang disukai putranya dengan caranya sendiri.
“Siapa nama anda, Nona?” tanya Ibu suri sambil menghadap Serin.
“Serin, Nyonya...” ucap Serin dengan sopan.
“Jangan panggil saya Nyonya, panggil saya Ibu suri saja, supaya terlihat familiar seperti panggilan anak dan suami saya.” Ibu suri menyunggingkan senyum termanisnya. Entah kenapa Serin setelah mendengar perkataan Ibu suri, Serin tanpa sadar menyunggingkan senyuman manisnya yang sempat dilihat Ibu suri.
“Baik Ibu suri,” ucap Serin.
“Apa Serin bisa masak?” tanya Ibu suri dengan gayanya yang gemoy. Serin benar-benar sudah tidak bisa menahan tawanya. Melihat ekspresi dan tingkah Ibu suri. Suasana yang awal mulanya tegang sekarang mulai mencair berkat canda dan perkataan Ibu suri. Bi Ija yang melihat interaksi Ibu suri dan Serin, dia ikut menyunggingkan senyum.
“Bisa Ibu suri, mungkin masakan Ibu suri lebih enak dari masakan saya,” ucap Serin merendah sambil menyunggingkan senyum di wajah cantiknya.
“Apa Serin sudah menikah?” tanya Ibu suri. Meskipun Ibu suri sedikit banyak sudah tahu cerita Serin. Serin sedikit kaget mendengar perkataan Ibu suri. Raut muka Serin tiba-tiba berubah muram.
“Saya dulu pernah menikah selama dua tahun Ibu suri, tapi karena ada sesuatu hal akhirnya saya harus bercerai,” ucap Serin dengan getir. Teringat perceraiannya dengan Michel.
Ibu suri melihat perubahan wajah Serin menjadi suram. Dia sedikit mengerti apa yang Serin rasakan, mungkin tidak mudah buat Serin melupakan rasa sakitnya, sampai harus mengubah dirinya sendiri. Membuat tembok yang tidak kasat mata untuk dirinya. Supaya Serin tidak bisa tersentuh orang.
“Sebuah kegagalan itu, jadikanlah pelajaran yang berharga, jangan menutup hatimu, Sayang. Dudah cukup semuanya. Buka hatimu dengan cinta yang baru. Jangan sakiti lagi hatimu. Kamu pantas untuk merasakan kebahagiaan,” ucap Ibu suri lembut sambil merentangkan tanggannya kepada Serin. Ibu suri memeluk Serin dengan rasa sayang seorang ibu. Serin tak kuasa menahan tangisnya, tangisan Serin yang tak pernah ke luar lagi dari matanya semenjak rasa sakitnya lima tahun yang lalu. Sekarang air matanya ke luar lagi karena sentuhan kata-kata dari Ibu suri. Ibu suri mengusap punggung Serin untuk menenangkannya dengan rasa sayang.
“Maaf jadi terbawa suasana,”ucap Serin sopan.
“Anggap Mami, ibu kamu sendiri, Serin. Masih banyak yang menyayangi Serin,” ucap Ibu suri dengan tulus. Serin menganggukkan kepalanya sambil menyunggingkan senyumnya.
“Ayo kalo gitu kita mulai masak buat makan malam nanti,” ucap Ibu suri sambil memulai acara memasaknya.
“Perasaan masaknya banyak, Bu,” ucap Serin penasaran.
“Oh, iya nanti anak, menantu, dan cucu mami pada datang ke sini. Agenda wajib setiap akhir pekan,” ucap ibu suri.
“Kalo gitu Serin cepat menyelesaikan urusan dengan Tuan Andre saja, Bu. Supaya tidak mengganggu acara kumpul keluarga kalian,” ucap Serin sambil tetap memotong sayurannya.
“Oh...No...darling kamu harus ikut acara makan malam bersama keluarga mommy,” ucap Ibu suri tidak boleh dibantah.
“Apa Serin nanti tidak mengganggu,” ucap Serin dengan sopan.
“Tidak, Sayang! Anak-anak mami pasti senang bisa bertemu dengan kamu nanti, tambah lagi cucu-cucu mami yang cantik dan tampan,” ucap Ibu suri. Serin melanjutkan memasaknya dan menikmati proses memasaknya dengan membuat masakan dari resep restorannya yang di Swiss. Berkutat di dapur selama satu jam akhirnya masakan Serin selesai. Semua masakan Serin yang memasaknya. Ibu suri sangat kagum dengan cara kerja Serin memasak, seperti chef internasional.
“Hebat sekali Sayang, kamu memasaknya seperti chef internasional. Enak banget. Mami saja sampai kalah, perfecto,” ucap Ibu suri dengan rasa kagum, sambil mengunyah makanan yang dia coba.
“Ibu bisa saja memuji, ini semua resep masakan restoran Serin yang ada di Swiss, Bu. Dan semua resep ini Serin sendiri yang membuatnya,” ucap Serin sambil tersenyum hangat.
Satu persatu anak dan menantunya pada datang, Ibu suri menyambutnya dengan suka cita, saling berpelukan dan bertukar cerita.
“Oma...” teriak si kembar Cilvi dan Cecilia dengan heboh. Menghampiri Omanya. Ibu suri mencium kedua cucunya dengan penuh cinta.
Serin menatap haru melihat kebersamaan keluarga ini. Keluarga yang saling menyayangi dan penuh cinta. Tuan Andre turun dari tangga dan menuju ke ruang keluarga.
“Mami, Miss Carla sudah datang?” tanya Tuan Andre pada Ibu suri. Ibu suri menjawab dengan senyuman kepada suaminya.
“Sudah Pap dari jam empat tadi,” ucap Ibu suri tanpa rasa bersalah.
“Astaga Mami, kenapa mami tidak memanggil Papi. Di mana Miss Carla sekarang Mami?” tanya Tuan Andre pada Ibu suri.
“Sedang Mami suruh bantuin Mami masak, Pap,” ucap Ibu suri sambil kembali menuju dapur. Tuan Andre cuma bisa bengong mendengar ucapan istrinya. Tuan Andre menerka-nerka apa yang sudah istrinya rencanakan.
“Bi, tolong sajikan semua masakan ini di meja makan,” ucap Ibu suri pada Bi Ija.
“Baik, Nyonya,” ucap Bi Ija dengan sopan.
Serin berjalan menuju ruang keluarga menggikuti Ibu suri. Saat Serin memasuki ruang keluarga, semua mata pada terpesona akan kecantikan Serin.
“Miss. Carla,” ucap Tuan Andre.
“Selamat malam Tuan Andre, senang bertemu dengan anda,” ucap Serin dengan sopan sambil berjabat tangan.
“Sebuah kehormatan buat saya anda bisa berkenan hadir di kediaman saya,” ucap Tuan Andre.
“Anda terlalu berlebihan Tuan Andre,” ucap Serin dengan sopan.
“Bisa kita langsung berbicara tentang kontrak kerja sama kita Miss. Carla?”
“Bisa Tuan Andre,” ucap Serin
“Ok, mari ikut saya ke ruang kerja saya,” ucap Tuan Andre. Serin mengikuti Tuan Andre menuju ruang kerjanya yang tak jauh dari ruang keluarga.
***
“Bagaimana Tuan Andre, apa yang ingin anda tawarkan untuk perusahaan saya? Sampai perusahaan besar seperti anda ingin bekerjasama dengan perusahaan saya,” ucap Serin dengan tegas duduk berhadapan dengan Tuan Andre.
“ Hahahaha.. Anak muda yang mengesankan. Saya suka anda yang tidak suka bertele-tele dalam berbicara, langsung pada pointnya. Sama seperti dengan putra bungsu saya.” ucap Tuan Andre sambil tertawa.
“Anda terlalu memuji saya, Tuan.”
“Saya ingin Hotel dan Resort saya semuanya memakai produk dari Blink. Corporation,” ucap Tuan Andre.
“Sebuah kehormatan buat saya bisa bekerjasama dengan anda, Tuan. Terlebih lagi menguntungkan untuk perusahaan saya,” ucap Serin dengan sopan.
“Kita sama-sama saling menguntungkan Miss. Carla. Saya percaya dengan produk-produk yang dimiliki Blink. Corporation yang sangat berkualitas,” ucap Tuan Andre dengan rasa bangga dengan sosok wanita yang ada di depannya. Wanita muda yang mempunyai tekad yang kuat. Pasangan yang cocok untuk Adrian,” batin Tuan Andre.
“Ok Tuan Andre, saya menyetujui kerja sama kita kali ini untuk kontrak kerja sama langsung menghubungi sekertaris saya,” ucap Serin menutup pembicaraan kontrak kerja sama mereka.
“Mari kita makan malam terlebih dahulu Miss. Carla,” ucap Tuan Andre berdiri dari kursinya dan berjalan menuju pintu. Serin mengikuti dari belakang.
Saat Serin dan Tuan Andre memasuki ruang makan, semua mata menatap sosok Serin. Terlebih lagi para lelaki yang ada di meja makan. Ada satu sosok laki-laki yang begitu kaget melihat wanita yang memasuki ruang makan keluarganya.
****
Oh...Tuhan begitu indah rencanamu...
Aku bisa bertemu lagi dengannya...
Wanita yang mengisi hati dan pikiranku...
Jika ini memang takdir..
Tak akan ku sia-siakan mulai saat ini...
{ Adrian Aditama }