Harus Dewasa

1010 Words
Bima masuk ke dalam kamarnya. Setelah melihat keadaan Umaya, dan berdiam diri cukup lama di kamar Umaya, saat ini Bima memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Bima duduk di tepi ranjang, dia menoleh ke arah Meli yang saat ini sedang berbaring memunggunginya. "Kenapa bisa begitu? kenapa bisa Umaya celaka? gimana ceritanya?" tanya meminta penjelasan. Meli diam, dia tak menjawab pertanyaan Bima. "Kenapa kamu diam? aku nanya bagus, tolong dijawab dengan bagus. Saat ini bukan waktunya untuk kita bertengkar dan saling menyalahkan diri. Kita harus introspeksi diri, kita uda gagal menjaga anak kita satu-satunya, kita harus bisa perbaiki diri. Jadi tolong ceritakan sama aku gimana kejadian sebenarnya supaya akun bisa tau mau mengambil langkah apa untuk melindungi Umaya." Bima mendesak Meli supaya mau menceritakan kejadian yang sebenarnya. Meli menghela nafasnya kasar. Benar apa yang dikatakan Bima, demi Umaya mereka tidak boleh egois. Mereka harus bersatu untuk keselamatan Umaya. Meli mengubah posisinya, dari berbaring menjadi duduk. "Aku juga gak tau kenapa Umaya bisa begitu. Kamu tau sendiri kan kalau Umaya pergi gitu aja tanpa pamit karena dia masih kecewa sama kamu. Umaya pergi sendiri tanpa pamit ke kita, untung aja Raka benar-benar baik dan dia langsung menelpon Umaya untuk diantar ke tempat tujuan. Tapi Raka bilang dia sudah menemukan Umaya dalam keadaan luka-luka karena Umaya dipaksa dan dianiaya sama dua orang jahat yang pakaiannya serba hitam. Aku gak tau siapa mereka, tapi aku percaya kalau mereka itu orang suruhan dari musuh kamu. Kamu itu banyak musuh dalam dunia bisnis, ini bukan yang pertama kalinya Umaya mau celaka karena musuh kamu kan? jadi kamu cukup tau seberapa bahayanya keselamatan Umaya saat ini." Meli menjelaskan semua yang dia tau. Bima menghela nafasnya kasar. Sebenarnya dia sudah menebak siapa yang membuat Umaya celaka seperti ini. Tidak bisa dipungkiri, Bima memang punya banyak musuh di dunia bisnis. Semakin tinggi pohon, maka semakin banyak angin yang mengguncang. Kira-kira seperti itu lah keadaan Bima saat ini. Banyak sekali orang yang tidak menyukainya di dunia bisnis, mereka berlomba-lomba menjatuhkan Bima dengan segala cara, termasuk mencelakai orang-orang terdekat yang Bima cintai. "Aku bakalan kasih banyak bodyguard untuk Umaya. Ke mana Umaya pergi harus diikuti sama bodyguard. Aku gak bakalan mau kecolongan lagi," ujar Bima penuh tekad. Meli menghela nafasnya kasar. "Kamu kenapa sih? kamu tau gak kalau Umaya pergi tanpa pamit gitu karena apa? karena kamu kan. Karena kamu gak kasih restu di hubungannya dengan Raka. Kamu pasti tau dan sadar kalau Raka memang sebaik dan setulus itu dengan Umaya. Kenapa sih kamu masih nutup mata dan keras kepala nolak hubungan Raka dan Umaya? kenapa sih kamu selalu aja egois dan mentingin gengsi kamu itu? apa kamu gak mikir kalau kamu terus ngelarang hubungan Umaya dengan Raka, Umaya bakalan ngelakuin hal yang lebih jauh dari yang sebelumnya? kita gak tau gimana mental Umaya, apakah baik-baik aja atau jangan-jangan saat ini dia benar-benar terguncang karena kamu yang ngelarang hubungan mereka. Jadi tolong kalau kamu sayang sama Umaya, tolong restuin hubungan Umaya dengan Raka. Kamu sendiri tau kalau Raka itu anak yang baik. Kamu gak bisa nyangkal itu, jangan karena citra mama Raka yang buruk di mata kamu, lalu kamu menyamaratan Raka dan mamanya." Meli habis-habisan membela Raka, berharap Bima bisa menerima Raka menjadi menantunya. Bima tersenyum kecut. "Kamu sendiri, kenapa kamu mati-matian bela anak itu? kenapa kamu selalu aja rela bertengkar dengan aku demi anak itu? kalau aku bilang dia gak baik untuk Umaya ya uda pasti gak baik, kenapa kamu masih ngeyel sih?" tanya Bima kesal. "Kamu yang aneh, kamu yang tutup mata sama kebaikan Raka. Kalau gak ada Raka yang nyelamatin Umaya tadi, kamu bisa ngebayangin gak Umaya jadi apa? mungkin hanya tinggal nama aja. Kenapa sih kamu alergi fakta tentang itu? kamu kan uda jadi papa dari anak gadis kita, harusnya kamu bisa lebih dewasa, jangan mau menang sendiri, jangan egois." Meli mulai emosi, ini yang Meli tak suka dari Bima, keras kepala. Bima benar-benar keras kepala, dia selalu menganggap apa pun yang dia lakukan itulah yang terbaik. Tapi nyatanya tidak begitu. "Uda ya, aku gak mau bertengkar sama kamu hanya karena hal sepele seperti ini. Belakangan ini kita selalu bertengkar karena hubungan Raka dan Umaya. Apa perlu kita masuk sejauh itu ke dalam hubungan mereka? enggak kan? jadi kalau aku gak setuju, jangan paksa aku lagi. Aku gak bakalan setuju sampai kapan pun." Bima kekeuh dengan keputusannya, dia tak akan memberikan restu pada hubungan Umaya dan Raka. Meli menghela nafasnya kasar. Bima benar-benar keterlaluan, mengapa dia sangat keras kepala? seharusnya dia gak perlu memaksakan kehidupan nya kepada orang lain. Meli berdiri, lalu dia langsung pergi meninggalkan Bima sendiri. "Egois, kamu pikir hidup Umaya itu sepenuhnya ada di tangan kamu sampai-sampai kamu yang ngatur semuanya? dia juga berhak atas hidupnya dan apa yang diinginkan dia." Brakkk!! Meli membanting pintu kamarnya kuat. Lalu dia langsung berjalan menuju kamar Umaya. Moodnya sedang jelek sekali hari ini, melihat Bima yang benar-benar kekeuh dengan keputusannya sendiri, dan egois atas hak Umaya, membuat Meli kesal dan marah. Maka dari itu Meli memutuskan untuk tidak sekamar atau melihat wajah Bima. Melihat wajah Bima sama saja semakin merusak moodnya. Meli juga tak bisa berbuat apa-apa. Sebanyak apa pun Meli menyuarakan pendapatnya, tetap saja kepala keluarga adalah Bima, tetap saja Bima yang berhak atas keputusannya. Jadi lebih baik Meli menghindari Bima supaya Bima sadar kalau apa yang dilakukannya sudah sangat salah. Sayang sama anak itu wajib, melarang anak atas sesuatu itu juga wajar. Tapi yang gak wajar adalah orang tua yang egois, orang tua yang selalu berpikir kalau hidup anak sepenuh nya hak orang tua. Anak juga manusia, dia butuh kebebasan atas dirinya, dia butuh memutuskan sendiri apa yang terbaik untuk dirinya. Jika yang diputuskan anak tidak baik, maka orang tua akan melarang. Tapi jika keputusan anak sudah baik, orang tua seharusnya juga bisa mengerti. Saling menghargai, dalam keluarga juga harus berlaku hak untuk menyampaikan suara. Tidak boleh menutup mata atas suara anak, atau istri. Karena dalam keluarga sudah ada posisi dan perannya Masing-masing, maka dari itu kita tidak boleh egois dan ingin berkuasa atas hidup anggota keluar. Umur sudah tua, sikap juga seharusnya harus lebih dewasa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD