Menyesal

1086 Words
"Kamu kenapa sih? cerita sama aku, kenapa kamu ngebet banget mau aku ngerestuin hubungan Umay sama Raka? aku gak suka sama Raka. Kamu tau kan kalau Raka itu berasal dari keluarga yang gak bener?" Bima mengajak Meli untuk duduk di sofa, dia menghela nafasnya kasar saat Meli meminta restu untuk hubungan Umaya dan Raka. "Kamu kenapa egois sih? Raka itu anak yang baik. Memangnya kalau mamanya Raka gak baik, Raka uda pasti sama persis gak baiknya seperti mamanya? enggak kan? kamu itu uda jadi seorang papa dari anak gadis kita, harusnya kamu harus lebih dewasa. Jangan egois dong kamu, kamu harus bisa juga ngertiin apa maunya anak kita. Kan Umaya juga mau bahagia, kamu jangan jadi penghalang kebahagiaan dia dong." Meli mulai terbawa suasana, hatinya benar-benar sedang tidak baik saat ini. Bima mengerutkan dahinya bingung. "Lohh ... kenapa kamu jadi marah-marah ke aku? kan aku mau yang terbaik buat anak aku satu-satunya. Aku tau mana yang baik dan buruk untuk Umay, aku ini papanya, aku selalu ada untuk dia dari dia masih kecil sampai sekarang, jadi aku tau kana yang terbaik untuk dia." Bima juga ikut terbawa suasana. Bima yang lelah karena pulau kerja langsung merasa terbawa emosi karena sang istri menyalahkan nya. Meli tersenyum miring. "Apa kamu bilang? kamu tau yang terbatas buat anak kamu? kamu selalu ada di sampingmu dia?" "Ck, omong kosong apa ini?" tanya Meli dengan tawa remehnya. "Kamu kenapa sih? aku baru pulang kerja, kenapa kamu uda cari gara-gara? aku capek, aku lelah, aku mau istirahat, bukannya diajak ribut begini. Masalah sepele begini gak perlu diributin, aku gak akan pernah menyetujui hubungan Umay dengan Raka. Sampai kapan pun itu, aku bakalan cari calon suami yang terbaik untuk Umay." Bima menganggap tas keduanya, lalu dia melangkah pergi meninggal Meli. "Iya iya!!! iya!! iya, egois aja terus!! egois terus dan selalu merasa paling benar! merasa paling baik dalam membahagiakan anak, merasa paling selalu ada untuk anak!! padahal nyatanya apa? NOL BESAR! OMONG KOSONG!! ANAK KAMU DIANIAYA ORANG DI PINGGIR JALAN AJA KAMU GAK TAU!! DASAR ORANG TUA EGOIS!!!" Meli tak lagi bisa menahan amarah, emosinya benar-benar sudah memuncak saat Bima memilih meninggalkannya begitu saja. Bima yang berhak langsung berhenti seketika. Dia langsung membalikkan badan dan menatap Meli serius. "Maksud kamu apa?" tanya Bima bingung. "Ngapain kamu tanya? kamu peduli sama anak kamu? enggak kan? kamu ngaku peduli, ngaku sayang, ngaku selalu ada untuk dia. Tapi nyatanya apa? bahkan saat dia dijahatin sama seseorang aja kamu gak tau. Dia terluka parah aja kamu gak tau. Kamu ke mana? kamu sibuk kerja kan? kamu gak bisa jagain dia setiap waktu. Dan saat kamu pulang kerja pun kamu gak punya waktu untuk dia, kamu selalu masuk kamar dan tidur. Lalu dengan egoisnya kamu ngelarang dia menikah dengan orang yang dicintainya? dengan orang yang buat dia bahagia? dengan orang yang selalu mengutamakan keselamatan dia dan selalu ada untuk dia? apa kamu gak sadar kamu sejahat itu?!" Meli meluapkan semua emosinya, dia juga tak dapat menahan air mata yang terus mengalir dari matanya. Mendengar penjelasan dari Meli, Bima langsung berjalan cepat mendekati Meli. "Maksud kamu apa? Umaya kenapa? maksud kamu dijahatin itu apa? siapa yang uda berani jahatin dia? Umaya di mana? dia baik-baik aja kan?" Bima terus menghujani Meli dengan runtutan pertanyaan. Meli tersenyum sinis. "Kamu liat aja di kamarnya," jawab Meli singkat. Setelah mendengar jawaban Meli, Bima langsung berlari menaiki tangga untuk menuju kamar sang putri. Bima naik dengan tergesa-gesa, dia benar-benar khawatir dengan keadaan Umaya saat ini. Ceklekk ... Bima membuka pintu kamarnya. Lalu dia berhenti di depan pintu saat melihat sang anak terbaring lemah di tempat tidur. Mata Bima berkaca-kaca saat melihat Umaya diinfus dan tubuhnya penuh dengan perban luka. Dadanya sakit, seperti ada ribuan anak panah yang menusuk hatinya. Bima berjalan perlahan menuju ranjang Umaya. Lalu dengan sangat pelan dia duduk di samping Umaya yang sedang tertidur pulas. Bima menatap wajah menyedihkan sang putri, ada rasa sesak yang begitu hebat di dadanya saat ini. "A-apa aku sebodoh itu, sampai-sampai anak ku satu-satunya bisa terluka begini?" tanya Bima lirih. "Apa aku seceroboh itu, tidak bisa menjaga hartaku yang paling berharga?" tanya nya lagi. Bima tak kuasa menahan tangisnya. Rasanya dunia nya benar-benar hancur saat melihat anaknya terluka. Bima merasa kalau saat ini dirinya adalah orang tua yang tak berguna, orang tua yang tak bisa menjaga anaknya dengan baik. "Tuhan titipkan aku satu anak, anak gadis yang sangat cantik dan pintar, tapi aku lalai menjaganya, aku cerobong sampai-sampai dia terluka seperti ini." Bima menundukkan kepalanya, dia mengelus punggung tangan Umaya dengan lembut. "Tuhan tau aku buruk dalam menjaga titipan terindahnya, itu sebabnya aku hanya diberikan satu malaikat saja." "Ck, aku benar-benar bodoh dan egois." Bima menangis, entah mengapa rasanya benar-benar sangat sakit saat melihat orang yang benar-benar dicintainya terluka. Selama ini Bima merasa bahwa dirinya lah yang paling hebat dalam hal menjaga Umaya, Bima merasa hidup Umaya akan baik jika menurut padanya. Bima merasa dia sudah memberikan yang terbaik untuk Umaya. Tapi melihat kejadian ini, Bima benar-benar merasa gagal. Dia benar-benar merasa menjadi orang tua yang paling egois dan jahat sedunia. Dia tak tau bagaimana perasaan anaknya, dia hanya ingin kehendaknya saja yang dipatuhi, tanpa memikirkan bagaimana kebahagiaan anaknya, tapi pada faktanya, dia benar-benar buruk dalam menjaga anaknya. Semua yang dilakukannya seperti hanya sebuah formalitas seorang ayah yang baik, bukan mencerminkan ayah yang benar-benar baik. Bima menundukkan kepalanya. Dia memegang tangan Umaya dengan lembut. "Maafin papa ya, maafin papa uda egois ke kamu. Maafin papa yang selalu merasa perfect father, padahal papa ini benar-benar ayah yang buruk. Menjaga kamu yang satu aja papa gak bisa. Maafin papa ya." Bima benar-benar merasa sangat bersalah. "Seandainya tadi pagi kamu gak marah ke papa karena hal kemar, seandainya tadi pagi papa gak lalai dan langsung ngikutin kamu yang lagi dalam suasana hati buruk, pasti kamu gak akan celaka begini. Pasti papa bakalan ngelindungin kamu dari orang jahat itu." Bima menyeka air matanya. "Tapi nyatanya, papa benar-benar papa yang egois dan bodoh. Kamu benar-benar gak beruntung punya papa seperti papa. Bisa-bisanya papa gak bisa jagain kamu," Bima memperhatikan wajah Umaya yang sedang tertidur pulas. "Papa benar-benar merasa bersalah, gak seharian papa lalai begini." Setelah itu Bima langsung menundukkan kepalanya lagi. Ini benar-benar seperti suatu kegagalan besar bagi Bima. Bagi seorang ayah, anak adalah harta yang sangat berharga. Apa lagi anak perempuan satu-satunya, biasanya seorang anak perempuan selalu menganggap ayah sebagai cinta pertamanya. Tapi bagaian bisa Bima sangat ceroboh dan lalai tentang masalah keselamatan putrinya sendiri? dia benar-benar merasa gagal menjadi cinta pertama yang baik untuk anak perempuan satu-satunya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD