Tidak Dilayani

1040 Words
Bima mandi dengan cepat. Selesai mandi Bima langsung saja berpakaian kerja. Seharusnya semua yang menyiapkan ini adalah Meli. Biasanya yang menyiapkan pakaian kerja Bima itu Meli, tapi berhubung Bima dan Meli sedang bertengkar, Bima menyiapkan sendiri semua keperluannya. Bima menghela nafasnya "Huftt ... gini banget ya kalau punya istri yang ngambekan. Dikit dikit ngambei, dikit dikit ngambek. Padahal uda jadi emak emak tapi masih aja ngambek dan merajuk. Kalau begini siapa yang susah coba? aku kan? aku susah. Padahal aku tuh mau kerja, tapi gak disiapin semuanya sama dia. Padahal kalau dia jadi istri yang baik seharusnya dia tuh masih tetap ngelayani aku walaupun semarah apa dia sama ku. Ck, merugikan aku aja sih." Bima menggerutu sendiri. Dia benar benar kesal saat dia harus menyiapkan sendiri keperluannya. Padahal seharusnya yang menyiapkan itu istrinya. Bima melihat pantulan dirinya di cermin. "Uda lah, uda rapih. Meski bajunya rada kusut yaudah lah ya, uda malas lagi nyuruh bibi buat nyetrika nih baju." Bima merapihkan rambutnya dengan sisir. Bima berjalan ke arah meja kerja, dia langsung mengambil tas kerjanya. "Gak semangat kerja, tapi kalau gak kerja gimana." Bima menghela nafasnya kasar, lalu kemudian dia langsung berjalan ke luar kamar. Bima berjalan dengan santai menuju ruang makan yang bersebelahan dengan dapur. Dia merasa sangat lapar karena tadi malam dia tidak sarapan. Bima melirik ke arah dapur, di situ terlihat jelas kalau Meli sedang sibuk memasak. Bima langsung duduk di meja makan. Lalu pandangannya langsung melihat ke arah meja makan yang hanya terdapat buah-buahan, roti, dan s**u. "Sumpah aku lapar banget, gak mau makan roti. Mau makan yang dimasak dia. Apa lagi aroma masakannya, uemmmmm ... huhhh wangi banget." Bima menghirup oksigen dalam-dalam, merasakan betapa lezatnya aroma masakan Meli. "Sebentar lagi siap kali ya masakannya. Ditunggu aja deh, sambil minum s**u sama makan satu roti buat ganjel perut yang uda kriuk kriuk dari tadi malam." Bima langsung meneguk segelas s**u yang sudah tersedia di hadapannya. Lalu dia langsung mengoleskan selai cokelat ke atas roti dan langsung memakannya dengan lahap. Meli melirik ke arah Bima yang sedang fokus makan roti. Dia langsung tersenyum kecut. "Ck, santai banget ya hidupnya dia. Malah gak merasa bersalah lagi. Kayak merasa gak terjadi apa-apa." "Aku nggak bakalan mau ngomong sama dia sebelum dia ngebuang semua egois dia jauh-jauh. Aku bakalan mogok bicara dan mogok berinteraksi sama dia demi Umaya. Biar aja dia kau diemin, biar dia sadar sama kesalahannya. Lagi pula dia pikir dia bisa menjalani hidup tanpa aku? coba aja kalau bisa, coba siapkan semua keperluannya. Keperluannya mau kerja, baju mau kerja, makanan sebelum pergi kerja. Semuanya aja siapkan sendiri, aku gak bakalan nyiapin untuk dia. Sebelum dia merestui hubungan Umaya dan Raka, gak bakalan aku mau baikan sama dia. Dipikir dia aja apa yang hisab tegas? aku juga bisa kali. Aku bakalan tegas, aku bakalan gak bicara sama dia selama dia masih egois terus, liat aja." Meli bicara dalam hati. Tak ada tanda tanda Meli akan baikan dengan Bima. Yang ada Meli semakin kesal melihat Bima yang santai seperti tak ada masalah sama sekali. "Uda selesai, nih. Siapin nasi untuk Umaya dulu lah." Meli langsung berjalan mengambil piring, lalu dia langsung menaruh nasi di atas piring. Nasinya masih sangat panas, dan Umaya tak suka nasi panas. Meli menaruh nasinya sambil meniup supaya tidak terlalu panas lagi. Setelah selesai dengan nasi, Meli langsung mengambil mangkuk dan kembali ke depan kompor. Meli langsung memasukkan sup ayam, kentang, wortel ke dalam mangkok yang akan dia bawa ke kamar Umaya. Meli tidak memasukkan banyak sup, hanya sepenuh mangkok nya saja. Setelah itu sisa supnya yang banyak tak Meli pindahkan ke wadah. Meli biarkan begitu saja di atas panci. Meli tak mau menyajikannya di meja makan, karena di meja makan sedang ada Bima yang menunggu makanan. Meli tidak akan melayani Bima. Jika Bima mau, Bima bisa ambil sendiri, tanpa bantuan bibi juga. Karena Meli dengan sengaja sudah mengirim bibi belanja sayuran ke pasar. Meli sengaja melakukan itu agar bibi tak bisa disuruh-suruh Bima. Meli ingin membuat Bima mengerti susahnya hidup sendiri tanpa seorang istri, supaya Bima cepat mengalah dan merestui hubungan Raka dan Umaya. Meli meletakkan nasi, s**u, air putih, dan juga sup di atas nampan. Lalu dia langsung berjalan pelan membawa nampan menuju kamar Umaya. Saat Meli berjalan melewati Bima, dia tak melihat Bima saka sekali. Tapi tentu saja Bima melihat dia. Bima melihat Meli dengan ratapan yang tak dapat diartikan. "Kenapa dia malah bawa itu semua ke kamar Umaya? memangnya gak bisa apa dia menyajikan sarapan aku dulu? kan aku mau berangkat kerja. Gimana sih dia?" tanya Bima dalam hati. "Ck, apasih, dia sama sekali gak ngelayani aku. Gimana sih dia sebagai istri? seharusnya walaupun dia lagi marah sama aku, dia harus menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, gak boleh enggak. Gimana sih? terus ini dia gak ada nyajikan makanan untuk aku, aku harus ngambil sendiri gitu?" tanya Bima kesal. "Ck, apaan sih. Harusnya dia tuh dewasa, sebagai ibu dari anak yang uda gadis harusnya dia paham betapa pentingnya melayani suami di sebelum berangkat kerja." Bima masih mengomel, dia benar-benar merasa kesal dengan Meli. Bima menghela nafasnya kasar. "Biiii ... bibi!!" Bima berteriak memanggil bibi, dia akan menyuruh bibi untuk menyajikan sarapannya. "Biii!! bibi!!! bibi!!" Bima kembali berteriak memanggil bibi, tapi bibi sama sekali belum muncul. "Ck, bibi ke mana sih? kenapa tiba-tiba ngilang di telan bumi saat aku butuh? kalau aku gk butuh aja dia selalu berkeliaran di rumah ini." Kekesalan Bima bertambah saat bibi tak kunjung datang. "Biii!! bibi!!! bibi!!!!" Bima berteriak lebih kencang, tapi tetap saja bibi tak juga kelihatan. "Arghh!! jangan bilang kalau bibi lagi belanja ke pasar?" Bima bertanya pada dirinya sendiri. "Ck! emang benar-benar pagi yang buruk!!" Bima menggerutu kesal. Perutnya benar-benar sudah tak bisa diajak kompromi. Bima berdiri, dia langsung berjalan dan langsung mengambil piring yang diisinya dengan nasi. Lalu setelah itu Bima langsung berjalan menuju kompor, dia langsung mengakhiri sup yang masih ada di atas wajan, sama sekali belum dipindahkan di dalam wadah atau mangkok besar. "Kalau begini setiap hari bisa setres aku!" Bima menggerutu kesal. Setelah selesai mengambil makanannya, dia langsung berjalan menuju meja makan. Lalu Bima langsung memakan makanannya dengan lahap. Bima benar-benar sangat lapar, dia tadi malam tidak makan, terkahir dia makan itu makan siang. Jadi bayangkan, perut Bima benar-benar sangat keroncongan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD