Cepat Sembuh

1073 Words
Meli masuk ke dalam kamar Umaya dengan nampan yang berisi makanan yang dibawanya. "Loh, ma, kenapa mama yang antar? bibi ke mana? kok gak bibi aja? mama pasti capek banget abis masak." Umaya bertanya pada mamanya. Meli tersenyum manis. "Lahh emangnya kenapa kalau mama yang anterin? kan mama mau ngurus kamu, kan mama mau ngurus anak kesayangannya yang sakit. Lagi pula kan bibi uda mama suruh belanja ke pasar." Meli menjawab sambil meletakkan nampan di atas nakas. "Ya tapi kan ini masih pagi, ma. Papa pasti mau berangkat kerja. Papa kan lebih butuh mama, kalau papa nanti gak makan karena gak mama siapin gimana? kan papa mau kerja, ma." Umaya memikirkan papanya yang sedang makan sendiri atau bahkan belum dilayani oleh sang mama. "Uda, kok, papa uda mama sediakan sarapan. Uda beres kalau papa, itu papa lagi sarapan di bawah. Lagi pula papa juga setuju kalau mama ngurusin kamu kok. Masa iya mama diem aja gak ngurusin kamu yang lagi sakit. Kan papa sehat walafiat, bisa makan sendiri, lagi pula uda mama siapin semua, papa cuma lagi makan aja di meja makan, nanti selesai makan papa juga langsung pergi. Kamu tenang aja, pokoknya semuanya uda selesai." Meli membuat alasan bohong pada Umaya, Meli tak mau kalau Umaya tau dia dan Bima bertengkar, jika Umaya tau, Meli yakin Umaya pasti akan kepikiran dan semakin drop. Meli mengambil piring berisi nasi, lalu dia menuangkan kuah sup ke dalam piring itu. Meli juga mengambil isi supnya dan meletakkannya di dalam piring. "Yukk sarapan, biar langsung minum obat. Nanti kalau minum obatnya kelamaan kamu malah jadi lupa." Meli menyuapkan makanan ke mulut Umaya. "Ma, Umay bisa kok makan sendiri, gak papa Umay makan sendiri aja." Umay menolak disuapi oleh Meli. "Lohh kenapa nolak disuapin mama? kan mama mau suapin anak mama tersayang. Masa kamu gak mau sih mama suapin? ayo makan. Buka mulutnya, Aaaaaakkk ....." Meli menyuruh Umay membuka mulutnya. Umay melihat Meli dengan seksama. Lalu dia langsung tersenyum tulus. "Iya iya," Umaya langsung membuka mulutnya, dan Meli langsung menyuapkan sesuap nasi ke dalam mulut Umaya. "Mama uda makan belum?" tanya Umaya pada Meli. Meli menggelengkan kepalanya. "Belum," jawab Meli. "Yaudah mama makan juga dong, kita makannya bareng aja, mama juga makan dong." Umaya menyuruh mamanya juga ikut makan. "Tapi ini kan makanan untuk kamu, mama nanti makan sendiri aja. Kalau makanan kamu mama ikut makan juga nanti kamu gak kenyang," Meli menolak untuk makan bersama dengan Umaya. Umaya memajukan bibirnya beberapa centi. "Iih mama ... mama kok gitu sih? kan Umaya gak rakus, itu nasinya banyak banget. Mana abis Umay nasi sebegitunya banyaknya. Lagi pula kan mama juga pasti laper, mama kan mama Umaya. Umay tuh pengen tau makan barengan mama, satu piring sama mama. Uda lama banget kan kita gak makan barengan, uda lama banget kan kita gak makan satu piring, mama juga uda lama gak suapin Umay, masa Umay minta begitu aja mama gak mau sih?" Umaya merengek pada sang mama. Umaya memang begini jika sakit, dia selalu manja dan minta diperhatikan lebih di saat saat tertentu. Meli tersenyum geli. "Ya udah sih, gak usah ngerengek juga. Kan kamu uda besar, masa masih ngerengek kayak anak bayi sih? iya iya, mama juga ikut makan. Demi kamu apa sih yang enggak? makan dong mah mama seneng, asal jangan disuruh yang aneh aneh sama kamu." Meli mengambil sesuap nasi dan lauk, lalu dia menyuapkan pada Umaya, setelah menyuapkan Umaya, Meli juga langsung menyuap untuk dirinya sendiri. "Nahh gitu dong. Umay tau kok kalau mama juga pasti laper banget kan? mama belum makan dari tadi malam kan?" tanya Umay pada Meli. "Sok tau ya kamu ya, kamu emang dukun?" tanya Meli meremehkan Umaya. "Ya gimana ya, kan emang kenyataannya begitu juga sih. Iya kan? mama tadi malam gak makan kan? makanya perut mama bunyi bunyi sekarang?" tanya Umaya menggoda sang mama. Meli membelalakkan matanya tak percaya. "Hah? perut mama bunyi? serius kamu? kamu denger perut mama bunyi bunyi? bohong ya kamu?" tanya Meli penasaran. "Iihh siapa yang bohong sih, ma? Umay gak bohong, Umay emang dengar tadi suara perut mama bunyi, perut mama Keroncong kan? iya kan? mama lapar kan?" Umay terus menggoda sang mama. "Masa sih kedengeran suara perutnya? duhh ini perut gak bisa diajak kompromi banget. Malu-maluin. Untung yang dengar kamu bukan orang lain, kalau yang dengar orang lain bisa malu mama." Meli menggeleng kepalanya tak percaya. "Ya makanya itu, ma, mama harusnya makan dulu kalau lapar. Selain biar mama gak malu, itu juga biar mama gak sakit." Umaya menasehati mamanya. Mamanya memang sering makan terlambat, Umaya tak suka itu. Makan terlambat itu bisa menimbulkan penyakit. "Iya iya, kamu mah vibesnya uda kayak emak emak yang nasehatin anaknya. Kan kebalik, kan kamu anaknya, mama kan mamanya." Meli tetap menyuapkan nasi ke dalam mulut Umaya dan menyuapi untuknya sendiri. Walaupun mereka sedang asik mengobrol, tapi mulut mereka juga tetap terisi dan tetap mengunyah makanan. "Kamu cepat sembuh ya, mama gak bisa liat kamu sakit." Meli tersenyum tulus pada Umaya. "Umaya juga gak suka sakit, kalau sakit gak bisa ke mana mana, kalau sakit Umaya gak bisa main atau jalan. Umay tuh capek tau tiduran aja di atas tempat tidur, Umay tuh bosen ngurung diri di kamat aja. Untung aja ini di rawat nya di rumah, kalau misalnya di rumah sakit pasti Umaya tuh makin setres banget tau gak. Makanya Umay juga mau cepat sembuh, ma." Umaya mengungkapkan keinginannya untuk cepat sembuh. Umaya itu termasuk salah satu orang yang anti dengan sakit, dia tak suka sakit dan tak suka dengan rumah sakit. Mencium bau obat itu seperti siksaan baginya. "Nahh itu makanya, jangan malas makan dan minum obat kamu. Kamu harus rutin makan sama minum obat, jangan kayak dulu kecil lagi, kalau minum obat malah pas mama gak liat obatnya dibuang. Selain kamu berdosa, kamu juga nanti sakitnya gak sembuh sembuh." Meli mengingatkan Umaya supaya rajin makan dan minum obat. Umaya terkekeh geli. "Hehehe ... mama masih ingat aja sih. Uda ma, lupain. Itu kan dulu, sekarang kan engga." "Iya, seharusnya. Pokoknya kamu jangan malas minum obat biar cepat sembuh ya." Meli kembali mengingatkan Umaya. Umaya menganggukkan kepalanya setuju. "Siapp mamaa," jawab Umaya dengan senyum lebarnya. "Semangat ya, sayang. Seberat apa pun masalah kamu, mama tetap ada untuk kamu." Meli mengelus puncak kepala Umaya. Umaya menganggukkan kepalanya cepat. "Iya, ma, makasih mama uda jadi mama yang terbaik buat Umaya." Umaya tau ucapan mamanya mengarah ke mana. Dan Umaya sangat bersyukur mamanya selalu mendukung dalam keadaan apa pun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD