Disogok Bakso

1080 Words
Hari ini Raka memilih pulang lebih awal dari biasanya, dia berniat menjenguk Umaya. Seharusnya Raka menjenguk Umaya tadi pagi, tapi berhubung Raka ada rapat penting di kantor, jadi Raka menjenguk Umaya sore ini. Sebelum menjenguk Umaya, Raka membeli makanan kesukaan Umaya dulu. Sebenarnya Raka membeli makanan ini karena Raka ingat sekali sebelum kejadian yang menimpa Umaya ini, Umaya sempat bilang ke Raka kalau dia ingin makan bakso, ya, makanan yang Umaya inginkan adalah bakso. Umaya ingin makan bakso bersama Raka, Umaya sangat suka bakso, tapi mamanya membatasi Umaya makan bakso, karena jika terlalu banyak makan bakso juga tidak sehat. Raka juga setuju dengan larangan itu. Mungkin jika tidak dilarang, Umaya bisa makan bakso setiap hari. Setelah selesai membeli bakso, Raka langsung menuju rumah Umaya. Dia sudah tak sabar untuk melihat keadaan kekasihnya itu. Sekitar setengah jam Raka menghabiskan waktunya di perjalanan, dan pada akhirnya Raka sampai di rumah Umaya dengan selamat. Setelah turun dari mobil, Raka langsung berjalan menuju teras rumah, dia langsung membunyikan bel rumah. Hanya dua kali memencet bel, pintu sudah dibuka oleh bibi, asisten rumah tangga Umaya. "Umaya ada di dalam kan, bi? saya mau jenguk Umaya." Raka bertanya pada bibi. Bibi langsung mengangguk cepat. "Oiya mas, ada di dalam kok. Lagi sama ibu juga di dalam, masuk aja mas, silahkan." Bibi langsung mempersilahkan Raka masuk ke dalam rumah. Raka langsung berjalan masuk ke dalam rumah Umaya, dia langsung berjalan menuju kamar Umaya yang ada di lantai atas. Raka berjalan dengan tangan yang dipenuhi dengan tentengan. Satu tangan Raka membawa parsel buah, satu tangan Raka yang lain membawa makanan yang diinginkan Umaya dari beberapa hari yang lalu. Bukan hanya bakso saja, tapi Raka membawakan makanan dan cemilan lainnya. Raka juga menyempatkan diri mampir ke minimarket untuk membelikan cemilan dan s**u kotak kesukaan Umaya. Tokk tokk tokk ... "Ada yang ngetok pintu, ma, siapa? papa?" tanya Umaya pada mamanya. Meli menggelengkan kepalanya. "Gak tau juga deh, siapa ya?" tanya Meli balik. "Siapa?" tanya Meli berteriak. "Raka, tante," jawab Raka dari luar kamar. Meli langsung membelalakkan mata terkejut saat yang menjawab pertanyaannya adalah Raka. "Ehh mas Raka datang tuhh," Meli menaik turunkan alisnya menggoda Umaya. Umaya langsung tersenyum malu. "Iih mama apaan sih, ya kalau datang emang mau diapain?" tanya Umaya pura-pura tidak peduli. "Idihh sok gak peduli kamu, padahal dalam hati mah dari semalam uda nyariin mas Raka terus, kenapa gak datang datang buat jenguk. Iya kan?" Meli bertanya pada Umaya. "Uda gak usah dijawab, mama juga tau jawabannya pasti iya. Iya kali enggak, ya pasti iya lah hahahha ...." Meli tertawa geli, menggoda Umaya memang aktivitas yang menyenangkan, apa lagi sampai membuat wajah Umaya memerah, benar benar menyenangkan. Meli langsung berdiri dan dia langsung berjalan untuk membukakan pintu Raka. Ceklekk ... Meli membuka pintu kamar Umaya. "Hallo, tante." Meli langsung disapa oleh Raka yang sudah berdiri di hadapannya. Tak lupa Raka menyalim tangan Meli. "Raka, ayo masuk. Kamu uda pulang ngantor? kok gak tadi pagi ke sininya? ada yang uda galau tuh nungguin kedatangan kamu." Meli melirik Umaya dengan lirikan mengejek. Tak lupa Meli langsung menyuruh Raka masuk dan langsung menutup kembali pintu kamar Umaya. "Ahh masa sih, tante? jadi uda ada yang nungguin kedatangan Raka nih dari semalam?" tanya Raka pada Meli, Raka juga ingin menggoda Umaya. Meli menganggukkan kepalanya cepat. "Iya nih, ada yang nungguin kamu. Nungguin banget malah, gelisah gitu hawanya, dalam hatinya pasti bertanya tanya kapan kamu datang, cuma dia gengsi aja buat ngungkapinnya." "Iih mama! apaan sih, ma? kan Umay gak ada bilang begitu. Umay juga gak nungguin kok, kan Umay santai santai aja juga dari semalam, mana ada tuh gelisah gelisah. Mama nihh suka ngarang cerita aja." Umaya protes, tak terima terus disindir mamanya. Meli menutup mulutnya yang sedang menganga dengan telapak tangan. "Woahhh ... kamu kok bisa aneh sih? kan mama gak ada bilangin kamu. Emang mama ada bilang orang itu kamu? enggak kan? kok kamu Kepedean banget sih? jangan kepedean dong, mama gak bilangin kamu tau." Wajah Umaya langsung memerah, dia diam, lalu melipat kedua tangannya di d**a. Umaya langsung buang muka, tidak ingin melihat ke arah Meli dan Raka. Meli dan Raka yang melihat Umaya seperti itu langsung saling lempar tatapan, lalu kemudian mereka berdua tertawa terbahak-bahak. "Kamu mah uda besar masih suka ambekan. Mama kan cuma bercanda, kenapa dibawa serius banget sih? kan cuma bercanda doang. Yaelahh, santai aja dong." Meli langsung mendekati Umay dan mencolek dagu Umay. Raka juga ikut tertawa melihat tingkah Umaya yang menggemaskan. "Kamu jangan suka ngambekan deh, uda besar juga. Kan kita cuma bercanda." Raka mendekati Umaya, lalu dia langsung menunjukkan apa yang dibawanya untuk Umaya. "Gak usah ngambek lagi, nihh aku bawain bakso, cemilan kesukaan kamu, buah-buahan, sama s**u kotak. Banyak nih varian s**u kotaknya. Uda gak usah ngambek lagi." Raka menunjukkan banyak makanan yang sudah dibelinya untuk Umaya. Mendengarkan kata 'bakso' membuat Umaya langsung exatid, Umaya langsung melihat ke plastik yang ada di tangan Raka. "Seriusan ada baksonya?" tanya Umaya kurang yakin. Raka langsung menganggukkan kepalanya. "Iya, ini aku beli 4 porsi," jawab Raka. Mendengar jawaban Raka, Umaya langsung tersenyum lebar. "Woahhh ... akhirnya bisa makan bakso setelah sekian lama. Emang kamu tau aja aku dari semalam uda ngences pengen bakso, tapi takut mau minta sama mama, hehehe ... makasih ya uda bawain bakso untuk aku." Umaya langsung berterimakasih pada Raka. Raka tersenyum gemas. "Iya, sama-sama," jawabnya. "Mama, ayo dong, ma, minta bibi ambilin mangkok, suruh awa ke sini, biar kita makan bakso bareng. Umay uda gak sabar mau makan bakso." Umaya merengek, meminta supaya mamanya menyuruh bibi membawakan mangkok untuk wadah bakso. "Yeee kamu mah, masa disogok bakso aja luluh. Duhh gimana sih? gengsi kamu seharga semangkok bakso ya?" tanya Meli pura-pura kesal. "Ya ampun, gak apa-apa deh ma, untuk kali ini aja. Jarang banget kan Umay makan bakso, Umay uda pengen banget makan bakso beberapa hari ini. Dan baru kali ini kesampean. Kali ini Umay gak marah, nanti kalau gak bawa bakso, gak nyogok pake bakso, baru Umay marah beneran." Umaya menjelaskan pada sang mama, betapa inginnya dia memakan bakso. Raka tertawa geli. "Enak banget ya, gak usah yang mahal mahal, disogok bakso aja uda luluh," ujar Raka sambil tertawa. "Heh, awas kamu kalau kasih anak tante makan bakso tiap hari. Tante blacklist kamu dari list calon mantu!" Meli memperingati Raka. Raka tertawa. "Hehehe ... iya tante, tenang aja deh. Raka juga tau kok bahaya tiap hari makan bakso untuk kesehatan, sipp tante, tenang aja." "Awas aja kalau ketauan," ucap Meli lagi. "Iya tante, santai," balas Raka cengengesan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD