16

1122 Words

"Hahahaha. Astaga, San! Astaga!" Sanata yang baru saja selesai mendorong kursi, seketika memusatkan seluruh atensi ke sosok calon istrinya. Ditatap Agnia dalam sorot sedikit kesal. Tentu, dia bereaksi yang demikian karena kurang suka akan gelakan mengejek cukup kencang diloloskan oleh perempuan itu. Sanata yakin disengaja untuk menertawakannya. Dan, mengenai alasan, belum mampu untuk ditebaknya. Dan, meskipun tengah jengkel. Dia tak cepat memberikan balasan. Membiarkan Agnia sampai puas tertawa. Sanata hanya memilih untuk memandangi perempuan itu. Tidak bisa dia memungkiri bahwa kecantikan Agnia semakin bertambah saat seperti ini. Natural mengeluarkan tawa. Tak tampak berlebihan. "Ngapain lo lihat gue kayak gitu? Seram tahu nggak, San! Gue jadi bingung menghadapi." Sanata yang semula m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD