Sekitar pukul enam pagi, Franda sudah siap meninggalkan kosanku. Saat aku mencegahnya keluar dari kamar, dia kembali menampilkan raut wajah masamnya. Setiap didesak kenapa seperti itu, dia hanya mendecakkan lidahnya dan tersenyum sinis padaku. "Aku jadi penasaran," cetusku saat Franda dengan kesalnya duduk kembali di pinggiran ranjang, setelah aku menahan langkah Franda dengan mencekalnya. "Jangan-jangan satu setengah tahun nggak pernah ada kabar dari kamu ada hubungannya dengan Haikal? Iya? Aku yakin kalau kekesalan kamu sejak kemarin juga pasti ada hubungannya dengan Haikal, kan?" Franda tertawa tapi tatapannya tidak bisa bohong. Dia sedang marah. "Siapa dia sampai kamu menghubungkannya dengan perasaanku?" "Ya terus kalau nggak ada hubungannya dengan Haikal, kenapa kamu kayak yang k

