“Yas, aku sangat merindukanmu.” kata Alarick dengan tersenyum. Bukan tersenyum lebih tepatnya menyeringai. Dengan jetikan jarinya waktu berhenti. “Huh, kau terbakar apiku?” tanya Alarick mengejek ke Blaze. “Tangan itu tidak akan berlangsung lama, manusia.” kata Alarick kepada Blaze. “Sungguh menyedihkan.” ejeknya. “Alarick,” panggil Alegria. “Nona, baumu semakin mirip dengan Alarick.” kata Yas ke Alegria. “Tentu saja, aku harus melakukannya agar kau terbakar ketika menyentuhnya.” balas Alarick dengan senyum. Alarick menjetikan jarinya dan emas mulai berjatuhan turun. “Urusan kita sudah selesai. Ayo pergi.” kata Alarick yang kemudian memeluk Alegria dan menghilang. “Alarick, aku bahkan belum selesai berbicara dengannya.” kata Alegria sesampainya di kamarnya. “Jangan beru

