Crown Imperial

1471 Words
Raas membuka pintu ruang perundingan, ia melihat para Raja dan Ratu tengah terdiam menunggunya di kursi mereka masing-masing. Ia berjalan dengan tenang kedalam ruangan tersebut, meski sebenarnya ia merasa masih kebingungan dengan apa yang harus ia jelaskan dan bagaimana cara ia menjelaskan pada mereka semua yang kini menatapnya. Uhuk... saat berjalan menuju takhtanya, tiba-tiba Raas terjatuh dan memuntahkan darah dari mulutnya. Raja Adam yang melihatnya itu, segera berlari menghampiri pada Raas. “Baginda, apa anda baik-baik saja?” Adam bertanya seraya memegang bahu kanan Raas, Find dan Robert juga ikut menghampiri Raas secara bersamaan. “Apa anda baik-baik saja Paduka?” Raja Sagiso hanya berdiri dari kursinya, menatap khawatir pada Raja ini. Raas menganggukan kepalanya dan meyakinkan pada para Raja bawahan itu jika dirinya baik-baik saja. Namun di dalam hati, ia merasakan ada hal yang tidak baik yang ia rasakan. Dengan dibantu oleh Adam dan Find, Raas berdiri untuk kembali berjalan menuju takhtanya. Ia duduk di kursi miliknya dan menatap para Raja serta Ratu yang juga menatapnya dengan tatapan khawatir. “Kita lanjutkan saja perundingan kita!” Raas menghapus sudut bibir yang berdarah itu dengan ibu jari kanannya. Raja Steven yang melihat Raas merasa sedikit khawatir akan kesehatan sang Pemimpin, ia tahu Raas memang selalu memaksakan diri didepan para Raja serta Ratu yang di pimpinannya ini. “Apa Anda yakin Baginda?” Bodhi menatap Raas dengan seksama menunggu jawaban yang akan di utarakan sang pimpinan. Raas mengangguk mantap menjawab pertanyaan tersebut, membuat Bodhi akhirnya ikut mengangguk mengiyakan. “Panggilkan lima orang Prajurit Zinnia Scarlet untukku!” Raas berteriak pada dua orang Prajurit yang bertugas mengamankan perundingan tersebut di dalam ruangan itu. “Baik Baginda!” salah satu dari mereka menjawab dan bergegas keluar dari ruangan tersebut. Sementara Raas terdiam melihat kepergian Prajurit tadi, kemudian ia kembali menatap Para Pemimpin dihadapannya yang menunggu dirinya membuka kembali perundingan ini. “Aku akan mengadakan perang!” Keputusan yang terucap dari mulut Raas, sukses membuat seisi ruangan tersebut terkejut. Meski ini bukanlah hal baru, tetapi mereka tetap tidak menyangka dengan keputusan mendadak yang Raas buat setelah sang adik terserang. “Perang? Perang dengan Kerajaan mana, Paduka?” Guam yang penasaran, mencondongkan tubuhnya kedepan sehingga dadanya menyentuh pada meja besar itu, ia menatap pada Raas dengan sangat serius. “Kerajaan Teasel, Negeri Tamarisk! Aku akan mengirimkan ultimatum ku pada mereka.” Jawab dan jelas Raas dengan wajah yang dingin. Adam yang duduk di samping Raas bergumam didalam hatinya ketika ia melihat raut wajah Raas. ‘Jika sudah seperti ini... Sudah dapat di pastikan, perang benar-benar akan terjadi!’ “Permisi Baginda, Anda memanggil kami?” Lima orang Prajurit Zinnia Scarlet dari kerajaan datang menghadap Raas dengan pakaian lengkap yang mereka gunakan. “Pantau keadaan Bunda, dan Ea! Aku merasa ada yang tidak beres disini, dan temani mereka sampai perundingan selesai. Juga laporkan segera padaku!” Raas berbicara dengan suara yang lantang pada kelima prajurit di hadapannya, para prajurit tersebut mengangguk mengerti dengan perintah yang di berika Raas pada mereka, dan pergi secepat mungkin menuju tempat dimana Ratu Ziona dan Pangeran Ea berada. “Jika boleh saya ketahui, apa yang telah dilakukan Kerajaan Teasel sehingga anda ingin memerangi mereka, Baginda?” Haris yang cukup penasaran dengan alasan di balik hal itu berucap dengan badan yang tegap, dan tangan tersimpan rapi didepannya. Ia ingin memulai kembali perundingan yang sempat terhenti sejenak itu, juga ingin mengetahui hal yang bisa saja menjadi informasi tambahan untuknya. “Mereka telah melakukan keputusan yang salah, dan sangat fatal. Mereka telah menyerang Ea.” Raas menatap Raja dari Lobelia tersebut dengan serius. Ronce mengangguk paham dengan apa yang di rasakan Raas, membuatnya sangat mengerti dengan keputusan yang Raas ambil ini. Raas memang terkenal dengan sifat yang sangat ketat dalam melindungi Adik maupun Bundanya, ia terlihat seperti over protective mengingat Kerajaan Monitum hanya mempunyai seorang Raja, seorang Pangeran dan seorang Ibunda Ratu. Selebihnya, Monitum tidak mempunyai sanak saudara lagi yang dekat maupun yang jauh.   “Jadi... Paduka akan menyerang mereka?” Steven mencoba kembali meyakinkan Raas dengan  mengintrofeksinya, dan untuk kesekian kalinya Raas mengangguk. Hampir seluruh Raja dan Ratu terdiam, tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing, dan menerka-nerka apa yang akan terjadi kedepannya. Mengingat bagaimana kejadian saat Raas memutuskan untuk memerangi Kerajaan Elder beberapa bulan silam, yang juga membuat mereka semua terkejut. Raas yang merasakan keheningan di antara para Raja dan Ratu yang dipimpinnya, segera memberikan sebuah pernyataan untuk menenangkan mereka. “Sudahlah biarkan saja perang ini menjadi masalah Kerajaan Monitum, kalian tidak perlu campur tangan di dalamnya!” Itulah ucapan yang Raas katakana pada mereka, dan mendengar perintah tersebut maupun penjelasan tersebut, membuat mereka menatap Raas dengan wajah yang meragukan. Adam terdiam, tenggelam dalam pikirannya sendiri, bukan memikirkan tentang p*********n yang akan Raas lakukan, melainkan kekhawatiran akan kesehatan sang Pemimpin. ‘Apa Baginda sedang sakit? mengapa ia memuntahkan darah? Wajahnya terlihat sedikit pucat? Apakah ada seseorang yang berniat meracuninya?’ Itulah pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam pikiran Raja tampan ini. “Apa ada yang mengganggu pikirkanmu, Adam?” Raas bertanya ketika ia melihat sikap diam dari Raja yang sangat ia percayai, di sampingnya itu. Mendengar pertanyaan tersebut, Adam sempat tersentak ketika menyadari ternyata namanya terpanggil oleh Raas. “A-tidak Baginda.” Adam segera menatap Raas dengan cepat dan menjawabnya dengan cepat pula. Raas sedikit merasa aneh dengan tingkah Raja yang berada disampingnya ini, karena Adam tidak biasa bersikap seperti itu di hadapannya. ‘Ini pasti karena kejadian dikamar Ea tadi.’ Raas menyangka bahwa hal yang terjadi saat ini pasti akibat dari kejahilan sang adik sebelumnya. Raas menghela nafasnya dengan berat, kemudian mencoba untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di kamar Pangeran tersebut. “Dan... Perihal kejadian yang kalian lihat tadi, itu hanya...”, “Tidak apa-apa Baginda, kami mengerti!” Belum sempat ia menjelaskan apa yang terjadi, dengan lantangnya Find memotong ucapan Raas, dan membuat seluruh Raja serta Ratu menatap Raja muda tersebut dengan terkejut. Raas mengerenyitkan dahinya saat mendengar ucapan dari Find, ‘Mengerti?’ pikir Raas kebingungan dengan maksud dari Raja termuda itu. “Ya, saya juga mengerti Paduka.” Guam berucap setelah ia berpikir untuk membantu Find yang sepertinya salah berbicara tersebut, dan Raas melirik pada Raja tertua itu dengan mata yang menyipit. “Jadi sebaiknya, kita tidak perlu membahas hal tersebut!” Aruba yang bermaksud mencairkan suasana yang mulai terasa canggung ikut berucap menimpali hal tersebut yang tidak kunjung berhasil. Mereka berpikir itu akan membuat suasana kembali seperti semula, namun Raas terlihat tidak suka akan perkataan ketiganya, ia merasa semakin dicurigai jika sikap mereka begini terhadapnya. “Aku ingin menjelaskan hal ini, tapi mengapa kalian memotong penjelasanku?!” Raas menegur semua Raja yang ada di hadapannya itu dengan wajah kesal, ia menatap ketiganya dengan tatapan tajam dan ingin membunuh. Sehingga ketiganya menyadari bahwa perkataan mereka justru memperkeruh suasana. “Maafkan kami.” Aruba kembali mencoba menjauhkan suasana yang canggung tersebut dengan mengucapkan maafnya. Raas terlihat menggelengkan kepalanya pelan seraya memijat pelan pelipisnya, sementara Adam hanya tersenyum di tempatnya yang memang berada di samping Raas. Menyadari senyuman itu, membuat Raas memalingkan wajahnya menatap pada Adam, dan menegurnya. “Mengapa kau tersenyum Adam? Adakah hal yang lucu saat ini?!” tegurnya pada Adam, ia merasa tersindir akan senyuman yang terlukis diwajah Raja itu meski ia tahu itu bukan sebuah senyuman mengejek. “T-tidak Baginda, hanya saja... khkh.” Adam menahan tawanya dengan setengah mati, ia mengetahui maksud dari Aruba yang ingin mencairkan suasana. Namun seolah-olah yang terlihat, Aruba hanya mengikuti jejak kedua Raja yang sebelumnya salah berbicara. Itulah yang menjadi alasan Adam tertawa. Adam terdiam saat menyadari perubahan raut wajah Raas yang tiba-tiba menjadi jengkel karenanya, maka ketika ia mengetahui itu, ia segera menghela nafas untuk mengentikan paksa tawanya itu. “Maaf Baginda!” Sesalnya kemudian menunduk, Raas mengangguk pelan dan menatap seluruh Raja dan Ratu yang menundukkan wajah mereka karena takut akan kemarahannya.   “Apa ada masalah yang tidak bisa kalian atasi lagi selain masalah diperundingan awal tadi?” Tanya Raas yang mulai fokus kembali pada tujuan mereka berkumpul diruangan itu, melupakan segala hal yang terjadi sebelumnya. Ratu Rwanda berdiri dari kursinya, dan berkata dengan sangat malu sekaligus  “Saya Paduka!”, Raas mengangguk dan mempersilahkan pada wanita paruh baya itu untuk menjelaskan apa permasalahan yang ia hadapi. “Akhir-akhir ini beberapa rakyat Kerajaan Iris sering mengeluhkan perihal datangnya seorang sosok dengan jubah panjang yang sangat menakutkan, Paduka.” Rwanda yang tengah berdiri meremas sedikit kepalan tangan kanannya, dan seluruh Raja serta Ratu yang ada di dalam ruangan itu memperhatikannya dengan seksama. Terlihat raut ketakutan yang di tunjukkan Ratu itu saat ini. “Apa dia menganggu mu?” Raas menatap Ratu yang selalu memaksanya agar menikahi salah seorang anaknya itu dengan lembut, berusaha menenangkannya. Rwanda mengangguk pelan menjawab pertanyaan yang Raas berikan. “Untuk saya, itu tidak terlalu mengganggu pada awalnya. Tetapi ketika saya mendengar rakyat mengatakan bahwa ia selalu menanyakan dimana keberadaan Pangeran pemegang Crown Imperial, saya mulai merasakan ada sesuatu hal yang ganjil. Selain itu, jika rakyat mengaku bahwa mereka tidak tahu, ia akan melukai mereka.” Rwanda terdiam sejenak untuk mengambil nafasnya dan menenangkan emosinya, sebelum kembali melanjutkan penjelasannya pada Raas. “Paduka, Pada Kenyataannya Paduka tahu sendiri bukan? Di Kerajaan Iris tidak ada seorangpun Pangeran.” Rwanda selesai menjelaskan permasalah yang terjadi, dan Raas yang memang mengetahui kenyataan itu, menegakkan badannya terkejut mendengar kata Crown Imperial tadi.  To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD