“Saya tidak tahu siapa itu pemegang Crown Imperial Paduka, dan apa kedudukannya sehingga ia dicari oleh makhluk seperti itu?” Ratu Rwanda menatap pada Raas ketika menanyakan hal tersebut, seolah Raas mengetahui segala hal yang tidak ia ketahui meskipun umurnya jauh lebih muda dari dirinya.
Ketika mendapatkan pertanyaan tersebut, Raas hanya terdiam dengan sangat diam. Hingga Robert yang melihat sikap diam Raas, melirik pada Adam dan berbisik untuk memberi tahukan sesuatu yang ia sadari pada Adam.
“Adam, apakah Baginda Baik-baik saja? Sedari tadi kuperhatikan, sejak ia mendengar kata Crown Imperial… Raut wajahnya terlihat menjadi tegang. Ada apa ini, Adam?” Bisiknya, Adam hanya mengangguk pelan dan melirik pada Raas yang ada di sampingnya.
“Baginda, apa anda mengetahui sesuatu tentang Crown Imperial? Jika anda mengetahuinya dapatkah anda menjelaskan siapa dia dan apa artinya itu Baginda? Sebab tidak ada dari kami yang mengetahui apa itu Crown Imperial.” Adam sengaja menanyakan hal itu secara langsung, karena ia ingin mengetahui benarkah Raas akan terkejut saat mendengar istilah itu kembali.
“Suruh saja Rakyatmu menunjukkan jalan Kerajaan ini padanya!” Dan benar saja, Raas hanya mengatakan hal tersebut dan menjawab pada Rwanda. Ia tidak menjawab ataupun berpura-pura tidak mendengar pertanyaan yang Adam ucapkan dengan keras barusan, hal itu membuat Adam dan Robert semakin curiga dengan tingkah Raas yang dirasa mereka tidak biasa itu.
“Bagin...”,
“Jika sudah tidak ada permasalahan di Kerajaan kalian, aku sudahi perundingan ini!” Raas berdiri dari tempatnya, menghentikan perundingan secara sepihak dan membuat Adam menghentikan perkataan yang akan ia utarakan sebelumnya. Raas berjalan turun dari kursinya. Namun pergerakannya terhenti saat melihat Ea berdiri didepan pintu yang telah terbuka lebar tersebut.
“Ea? Apa yang sedang kau lakukan disini?” Raas bertanya dan menatap Ea dengan tatapan serius, ia tidak mengerti mengapa sang Adik berani masuk ke dalam ruang perundingan. Biasanya Ea selalu memperhatikan sopan santun dan tata krama, terutama saat ia mengadakan perundingan dengan para Raja dan Ratu. Seisi ruangan itu ikut menatap pada Ea yang terdiam dengan senyuman yang ia perlihatkan untuk mereka semua.
“Jujurlah Kak, anda tahu kan… Siapa Pangeran pemegang Crown Imperial itu?” Ea berucap tidak menjawab pertanyaan Raas, dengan senyum yang masih terukir diwajahnya. Tatapan Raas berubah menjadi tajam pada Ea saat ia mendengar ucapan tersebut, ia sadar bahwa ada hal yang janggal disini.
“Apa maksudmu?!” Raas kembali bertanya dengan sedikit berteriak kali ini, hal itu tentu saja membuat Raja Josh dan Raja Bodhi saling bertatapan dan mengangguk seolah ingin mengetahui siapa Pangeran yang di sebut-sebut sebagai pemegang Crown Imperial itu yang mampu membuat Raas terlihat marah pada Pangeran Ea, hal yang sangat tidak mungkin ia lakukan. Di saat mereka semua focus kepada Ea yang berdiri di ambang pintu, hanya satu mata yang tidak melihat Ea. Raja Find, ia terkejut ketika memperhatikan pergerakan tangan Raas yang perlahan menggenggam pedang miliknya yang bertengger di pinggang sang Pemimpin.
“Maksudku, mengapa kau...”
Crash! Raas melemparkan pedang dari pinggangnya dan dengan sangat cepat, pedang tersebut pun menyambar tepat mengenai leher Ea yang berdiri jauh di depan sana. Menyebabkan Pangeran tersebut jatuh dengan darah yang bersimbah di atas lantai.
“P-pangeran?” Dua Prajurit yang berdiri di ruangan itu terkejut melihat sang Pangeran terluka dengan sangat parah, mereka berniat membantu Ea yang ada tepat di hadapan mereka. Namun, saat mereka hendak mendekati Ea, Raas mengisyaratkan pada mereka untuk tetap diam ditempat dan tidak membantu sang Pangeran. Akhirnya dengan keterpaksaan kedua Prajurit itu lebih memilih untuk mengikuti perintah dari Sang Raja meskipun mereka sangat ingin menolong Pangeran mereka.
“Paduka! Apa yang telah anda lakukan?!” Steven berteriak dan berlari menghampiri tubuh Ea, ia tidak menghiraukan perintah Raas yang sebelumnya diberikan pada Dua Prajurit tadi, karena yang terlintas dalam pikirannya adalah ia harus menyelamatkan sang Pangeran. Sementara Raja dan Ratu yang lain hanya terdiam shock ditempatnya melihat kejadian tersebut.
“B-baginda?” Adam merasa tidak percaya atas apa yang baru saja ia lihat. Raas, seorang Pimpinan yang menurutnya sangat melindungi Ea ternyata melakukan hal sekejam itu terhadap Adiknya sendiri.
“Dimana Adikku?” Raas bertanya pada pangeran Ea dengan raut wajah dinginnya, yang membuat para Pemimpin tidak mengerti akan maksud dari Raas yang bertanya seperti itu pada adiknya sendiri. Find hanya terdiam ketika ia melihat raut wajah Raas yang dingin itu, kakinya bergetar kecil dan hatinya berkata denga penuh ketakutan ‘Inikah raut amarah dari seorang Nara Raas?’ itulah yang ada dalam hatinya.
“Katakan dimana Adikku, wahai Poltergeist?!” Pertanyaan Raas kali ini lebih jelas di telinga mereka semua, Guam terdiam mendengar kata Poltergeist yang Raas ucapkan. Karena selama ini yang ia ketahui, seorang Poltergeist tidak akan dengan mudahnya dikenali maupun disakiti. Tetapi mengapa Raas dapat mengetahui dan bahkan dengan mudahnya melukai sosok tersebut, sosok yang di takuti banyak orang. ‘Paduka Nara sungguh hebat!’ Guam berpikir dan tajub pada pimpinannya tersebut.
Sang Poltergeist hanya tertawa keras membalas pertanyaan tersebut, terdengar tawaan itu seperti tawa mengejek dan meremehkan. Mengetahui bahwa sosok itu adalah seorang Iblis, Steven segera menjauh dari sosok Ea yang ternyata adalah seorang Poltergeist.
(NOTE : Poltergeist adalah sosok roh jahat yang dapat merubah wujudnya menjadi manusia tanpa ada cacat sedikitpun, Poltergeist sangat kuat dan jahat. Makhluk ini merupakan musuh yang ditakuti oleh beberapa Kerajaan karena keberadaannya yang tidak dapat di sadari.)
“Hahaha... Tidak akan ku beri tahu dimana dia berada Raas!” Poltergeist itu tertawa dengan semakin kencang, membuat ruangan yang berfungsi sebagai ruang perundingan itu menggema. Raas melangkah cepat, berlari hanya dalam satu detik. Dan lengannya telah berhasil mencekik sosok paling ditakuti tersebut.
Dengan tatapan yang terbilang dingin Raas berkata pada sosok itu, “Dimana dia?! Beritahu padaku atau akan aku bunuh seluruh Poltergeist yang ada di muka bumi ini!” ancamnya. Sang Poltergeist tersenyum mendengar ancaman tersebut, tidak takut dengan apa yang didengarnya.
Sebastian, Bodhi dan Josh terkejut mendengar ancaman tersebut, sementara Haris terdiam dengan kedua mata yang melebar. ‘Alangkah besar niat Raas melindungi Adiknya. Sampai-sampai sosok iblis yang berjulukan Poltergeist ini pun ia tantang? Siapa Ea sebenarnya? Mengapa Raas sangat melindunginya?’ itulah yang ada di dalam pikiran Haris saat ini.
‘Benar-benar berat jika harus melawannya tanpa perencanaan yang matang!’ Sebastian bergumam dalam hatinya, harus ada rencana yang matang jika ingin melawan Raas ia tidak ingin mengulang apa yang telah di lakukan oleh seluruh Raja Valerian sebelumnya yang akhirnya jatuh begitu saja ke tangan Raas.
‘Memang tidak boleh main-main jika ingin perang dengannya!’ Kini Raja Bodhi mempunyai pikiran seperti itu, awalnya ia menganggap Raas hanyalah kerikil kecil tanpa mempertimbangkan apa yang dimilikinya. Namun setelah ia mengalami kegagalan bersama dengan Raja-raja bawahannya, kini ia menyadari bahwa Raas bukanlah sebuah kerikil. Raas adalah sebuah tembing tinggi yang dimana di bawahnya merupakan jurang tak berdasar.
‘Gawat! Baginda mulai marah!’ Berbeda dengan pikiran Raja-Raja lainnya, Adam justru merasa khawatir ketika melihat raut wajah Raas yang mengeras itu, ia takut jika akan ada suatu hal buruk yang terjadi.
“Jika kau membunuh kami, kau tidak akan pernah bertemu dengannya lagi, Raas!” Poltergeist tersebut menyunggingkan sebuah senyuman lebar pada Raas ketika ia mengatakan sebuah ancaman untuk membalas ancama Raas. Dengan perlahan, Raas menurunkan cekikannya sehingga Poltergeist itu dapat berdiri kembali. Raas mengikuti alur yang di buat oleh sang Poltergeist karena mendengar ancaman tersebut.
“Kakak!” Ea berlari dari arah lorong ruangan luar, menghampiri tempat dimana Raas tengah melihatnya dengan seksama sekaligus terkejut. Tentu saja Poltergeist itu tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, ia segera mengambil pedang yang tergeletak didekat kakinya dan menusuk Raas tepat dibagian perutnya. Darahnya berceceran, seketika Raas tumbang dihadapan para pemimpin kerajaan yang dipimpinnya, dari kejauhan Ea hanya terdiam tidak percaya melihat sang Kakak yang telah tumbang bersimbah darah.
“Baginda!” Adam segera mengeluarkan pedangnya dan berlari hendak menyerang Poltergeist yang telah melukai Raas tersebut. Namun sebelum ia berhasil mendekat, Poltergeist itu menatap padanya dengan tajam. Melihat tatapan tersebut membuat Adam tiba-tiba merasakan sebuah dorongan yang sangat kuat menghempaskan tubuhnya, hingga ia terlontar jauh dan terjatuh membanting lantai marmer dengan keras. Para Raja lain bersiap juga untuk menyerangnya, namun langkah mereka terhenti ketika Poltergeist itu mengatakan sebuah ancaman.
“Jangan ada yang mendekat, atau kalian semua mati!” Poltergeist itu mengancam dengan menunjuk satu persatu para Raja serta Ratu yang kini melihatnya.
“Jangan main-main denganku!” Poltergiest dan para Raja, menatap pada Raas yang berudaha sekuat tenaga berdiri dari posisinya dengan pedang yang masih menusuk di bagian perutnya. Dalam hitungan detik Raas berhasil berdiri dengan sangat cepat, bahakan sosok Poltergeist dan seluruh orang yang ada di sana terkejut ketika Raas mencengkram wajah sang Poltergeist.
“Guillotine!” Raas berbisik dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk semua orang yang mendengarnya merinding. Setelah Raas mengucapkan kata itu, tubuh Poltergeist tadi hancur seketika menjadi debu.
Para petinggi kerajaan menatap terkejut pada Raas terkecuali Adam yang berusaha bangkit dengan menahan sakit yang dia rasakan.
(NOTE : Guillotine adalah mantra penghukum. Ini adalah salah satu kekuatan dari Clairchanter yang tidak diketahui oleh siapapun.)
To be continued