Embusan angin dari jendela membawa aroma tanah basah yang khas setelah hujan semalam. Dari dapur terdengar bunyi sendok yang beradu pelan dengan panci logam. Abimanyu berdiri di depan tungku, wajahnya serius namun lembut. Ia sedang mengaduk bubur yang dimasaknya sendiri. Uap panas mengepul, bercampur dengan aroma kaldu ayam sederhana. Ia menambahkan sedikit garam, lalu mencicipinya pelan. "Hmm, kurang sedikit lagi," gumamnya sambil menambahkan bumbu. Bu Lastri yang duduk di kursi dapur memerhatikan anak laki-lakinya itu sambil tersenyum. "Wah, Mas, jarang-jarang kamu masak sepagi ini. Tumben?" Abimanyu menoleh sekilas. "Buat Winona, Bu. Badannya masih lemah. Dokter bilang harus makan makanan lembut dulu." Bu Lastri mengangguk pelan. "Alhamdulillah, kamu perhatian sekali. Mudah-mud

