Kemelut Kemarin Malam

1860 Words
Ujian nasional berbasis komputer atau sering disingkat dengan UNBK adalah sebuah momen yang menguras tenaga, otak dan materi untuk sekolah penyelenggara. Tahun ini adalah pertama kali SMA Teladan Bangsa mengikuti kebijakan ini, sehingga banyak sekali yang harus dipersiapkan seperti jaringan internet, PC dan yang lainnya. Bukan hanya SMA Teladan Bangsa yang merasakan kekalutan karena peraturan baru ini, banyak sekolah yang akhirnya terseok mengikuti UNBK dengan minimnya sarana dan prasarana. Entah dasar kebijakan apa pemerintah mengganti ujian nasional yang sebelumnya berbasis kertas dan pensil menjadi berbasis komputer. Apakah mereka tidak mengkaji kebijakan ini seharga berapa puluh atau ratus juta di sekolah? Apakah mereka yakin UNBK ini akan tetap mereka laksanakan sebagai pengganti kertas pensil di tahun-tahun yang akan datang. H-1 persiapan UNBK berfokus kepada penggunaan perangkat dan jaringan internet di dua lab yang akan digunakan di gedung 1. Besok adalah pelaksanaaan kegiatan ini, jadi harus benar-benar dipersiapkan dengan maksimal. Ada tiga orang yang dipercayakan untuk persiapan ini, Pak Amin, Pak Maulana dan Pak Aep. Mereka ini adalah orang-orang yang dipercaya untuk mensukseskan UNBK di SMA TB. Pak Amin dipercaya sebagai proktor utama di UNBK SMA TB, beliau juga adalah seorang operator sekolah yang biasa mengurus data-data siswa di sekolah. Laki-laki itu dibantu oleh seorang proktor madya yang membantu mensukseskan hajatan sekolah ini, Maulana Rahman. Sebagai pelengkap tim ini dilengkapi oleh tekhnisi handal yaitu Pak Aep. Terlihat Aldi, Rifal dan Lukman memasuki gerbang sekolah yang terbuka hanya gerbang kecilnya saja. Kedua motor yang mereka kendarai berhenti di bawah pohon mangga di dekat pos satpam yang nampak lengang. Di belakang pos jaga itu nampak gulita menyandera, nampaknya lampu di neon yang ada di langit-langit mati. Ketiga pemuda itu melangkah mendekati ruangan yang difungsikan sebagai ruang panitia UNBK, di sana ada panitia yang bertugas ronda yaitu Kak Adi dan Kak Noval. Mereka dipanggil dengan nama ‘Kak’ di depannya karena memang usia yang masih muda, sehari-harinya di SMA TB mereka bertugas sebagai tenaga kependidikan. “Assalamualaikum,” kata Lukman. Kalimat salam itu mengejutkan Noval dan Adi yang sedang asyik main Play Station. Ketiga siswa SMA TB itu berdiri di ambang pintu. “Waalaikumsalam,” jawab Noval dan Adi hampir bersamaan. “Sini masuk,” ajak Adi dengan mata masih terpaku di layar monitor di depannya. “Iya, Kak. Terima kasih. Kita cuma mau melihat-lihat untuk besok aja, supaya enggak terlalu tegang saat mulai besok,” seloroh Rifal. “Ini, Kak. Kita bawakan gorengan yang masih hangat,” kata Aldi sambil memberikan bungkusan plastik berwarna hitam ke Noval. Pemuda berbadan jangkung itu mem-pause game PS-nya, lalu menoleh ke arah Aldi dan menerima pemberiannya. “Masya Allah. Peka banget, Al. Tahu aja kita lagi kurang amunisi untuk bertahan hidup,” kata Noval dengan disertai sebuah tertawa kecil. “Ayo atuh gabung di sini,” kata Adi sambil meraih plastik itu dari tangan Noval lalu membukanya. “Iya, Kak. Kita mau ngobrol-ngobrol di depan,” kata Rifal mendahului Aldi yang ingin menjawab. “Kebetulan kita juga beli dua bungkus ‘ni.” “Oh, baguslah. Nanti kalau mau ngopi ke sini aja ya. Banyak tuh, cuma tinggal kocorin air panas doang,” kata Noval sambil menunjukan bungkusan plastik bening di samping dispenser. “Siap, Kak,” kata mereka hampir bersamaan. “Kita ke depan dulu ya, Kak,” pamit Rifal yang di berikan anggukan oleh kedua rekan yang bersamanya itu. “Oke, sip.” Noval memberikan jempol tangan kanannya setelah kalimatnya selesai. Ketiga pemuda itu melangkah menjauhi ruang panitia itu, mereka menuju sebuah tempat di bawah pohon mangga di pojok lapangan yang juga difungsikan sebagai lapangan parkir saat ada kegiatan belajar mengajar. Aldi melangkah berjalan ke arah motornya yang tak jauh dari sana untuk mengambil tiga bungkusan plastik.     Pemuda itu menggelar isi plastik yang dibawanya di atas lantai. Satu bungkus berisi aneka gorengan dan satu bungkus lagi berisi martabak dan satu bungkus lagi berisi sebuah minuman botol ekstrak jeruk berwarna orange. Dia lalu meletakkan ponselnya di samping plastik itu, diikuti oleh Lukman dan Rifal, mereka bersepakat saat bersama tidak boleh ada ponsel yang ada di tangan. “Kayaknya lu niat banget untuk ngundang kita, Al,” kata Rifal sambil meraih botol yang disodorkan oleh adik kelasnya itu. “Jujur, gue enggak keberatan kalau diundang setiap malam, Al,” timpal Lukman.         “Ayo aja gue sih, Kak. Besok malam kita kumpul lagi, tapi di rumah gue,” ujar Aldi sambil menyuap santai martabak yang masih hangat itu.       “Ashiap!” kata Rifal.       “Kalau gue perhatikan, lu kayaknya lagi dirundung masalah ya, Al.” Lukman ikut menyuap sajian yang ada di depannya.      “Iya, benar, Kak Lukman. Gue lagi galau banget ‘ni malam ini.”        “Cerita aja ke kita, mungkin kita bisa memberikan solusi atau setidaknya bisa mengurangi beban yang ada dalam d**a. Iya enggak, Man?” kata Rifal.        Lukman yang asyik mengunyah mengangguk dengan mulut penuh, “Benar apa yang dibilang Rifal, Al. Mungkin kita bisa mengurangi beban yang membuat galau lu, apalagi bisa memberikan solusi.” “Pasti ini tentang Salya ya, Al.” Rifal menebak.         “Ini bukan hanya tentang Salya, Kak. Gue mau cerita, tetapi tolong pembicaraan ini off the record ya, tolong jangan diceritakan juga walaupun ke masa depan Kak Rifal atau masa depan Kak Lukman,” kata Aldi dengan muka serius.         “Lagi serius aja sempat-sempatnya ngeledekin kita, Bro,” kata Lukman ke arah Rifal.       “Emang ngeselin ini bocah,” kata Rifal dengan tersungut.       “Bejanda, Kak Lukman, Kak Rifal. Begitu aja sewot.” Aldi tertawa kecil.        “Ya udah kalau mau didengerin jangan beduda,” timpal Lukman.          “Mengapa jadi bejanda dan beduda sih, Ayo, Al, Kita siap mendengarkan.” Aldi memotong supaya suasana berubah serius kembali.           “Janji ya, Kak. Ini off the record, tolong jangan ceritakan lagi ke siapapun. Aku khawatir nanti ini di dengar oleh Salya atau Bunda. Ini adalah sebuah rahasia besar dalam hidupku, aku mau mereka mendengar cerita ini sampai saatnya siap, walaupun aku enggak tahu kapan cerita ini akan siap di dengar oleh mereka.” Lukman dan Rifal menatap Aldi dengan tatapan serius, mereka mengangguk setuju dengan permintaan Aldi. Walaupun mereka enggak tahu keterkaitan cerita antara Aldi, Salya dan Bundanya. Pasti ini adalah sebuah cerita yang lumayan berat untuk Aldi sehingga dia berpesan seperti itu.          Aldi menghela napas panjang, lalu meraih botol minum miliknya, dia meneguk beberapa kali minuman botol itu.            “Begini ... “ Aldi memulai cerita, ada sebuah perubahan di intonasi suaranya.” Kemarin aku mengantar Salya pulang, itupun sebelumnya dia memergoki aku sedang makan berdua dengan Ayu di warung tenda di mana aku dan Salya sering makan di sana. Kak Rifal dan Kak Lukman ingatkan saat Ayu datang ke sekolah kemarin itu?” “Iya, kemarin siang itu ‘kan?” kata Rifal. “Iya, Kak. Aku dan Ayu kemarin di sekolah sampai Magrib, setelah salat aku mengajaknya pulang dan ternyata dia tidak bawa kendaraan ke sekolah. Akhirnya aku dan dia makan bareng setelahnya karena memang sama-sama lapar. Saat sedang asyik mendengar cerita Ayu tentang rumah tangganya, Salya tiba-tiba datang ke warung tenda. Beruntung dia waktu itu bisa mengendalikan dirinya sehingga tidak dikuasai bara cemburu. Setelah Ayu pulang aku mengantarnya pulang ke rumahnya, aku sempat bertemu dengan Kakaknya dan sedikit mengobrol. Ada satu hal yang sangat mengejutkan saat aku bertemu dengan Papanya Salya,” Pemuda itu menghela napas panjang lagi dan meraih botol minumnya lalu meneguk isinya sampai tandas, “Ternyata Papanya Salya adalah Pak Ahmad Wijaya.” “Pak Ahmad Wijaya? Itu bukannya nama bokap lu, Al?” kata Rifal sambil mengingat-ingat khawatir ingatannya salah. “Itulah masalahnya, Kak. Ahmad Wijaya itu adalah ayahnya Salya yang juga ayahku. Artinya aku dan Salya adalah kakak beradik.” Aldi menjeda kalimatnya, ada sorot bingung di matanya saat menyelesaikan kalimatnya. “Serem banget cerita lu, Al,” kata Rifal. “Novelet banget, Al. Terus Bunda lu udah tahu cerita ini?” timpal Lukman. “Belum, Kak. Makanya tadi gue pesan kalian jangan ceritakan lagi cerita ini, gue masih memendam cerita ini dalam. Aku belum cerita ke Salya tentang apa yang terjadi di rumahnya malam itu. Aku juga belum membalas chat-nya sama sekali.” “Terus ayah lu gimana setelah kejadian malam itu? Maksud gue apa yang dia lakukan setelahnya?” tanya Rifal. “Ayah sempat menelepon pas gue baru sampai rumah, tapi gue sama sekali enggak ada keinginan untuk mengangkat teleponnya. Hati gue hancur malam itu, bukan hanya kebohongannya karena bermain di belakang Bunda. Ayah juga telah menghancurkan hubungan gue dengan Salya karena walau bagaimanapun hubungan gue dengan Salya akan berakhir otomatis setelah dia tahu gue adalah kakaknya dari Ibu berbeda.” Mata Aldi nanar berkelana menatap ruang-ruang kelas di lantai dua yang gelap. Dia terhenyak saat tak sengaja matanya melihat sesosok putih di lantai atas, makhluk itu melambaikan tangan ke arahnya. Aldi menghela napas panjang, berusaha menetralisir keterkejutannya. Pemuda itu membuang pandangannya ke arah lain. “Gue jadi membayangkan jika posisi gue ada di tempat lu, Al. Pasti bete, galau tingkat dewa. Tapi, naudzubillahmindzalik kalau punya cerita kayak gini,” Lukman memasang wajah serius saat mengucapkan kalimat itu. “Gimana kalau Bunda lu tahu ya. Al?” Rifal pun tak kalah serius dengan Lukman. “Enggak tahu deh, Kak. Gue enggak berani membayangkan akan kayak gimana nanti perasaan Bunda, perasaan gue aja hancur kayak gini.”       Mereka bertiga diam, masing-masing berkutat dengan imajinasinya. Aldi bergumul dengan perasaan Bundanya jika tahu dengan cerita ini, juga berusaha memikirkan bagaimana dia akan menyampaikan ke Salya bahwa sebenarnya dia bersaudara jadi tidak bisa melanjutkan ke mana-mana. Sedangkan Lukman melihat sebuah harapan di cerita Aldi, keinginannya untuk bisa dekat dengan Salya mungkin saja bisa terlaksana setelah Aldi dan gadis itu akhirnya putus karena ikatan darah. Sedangkan Rifal berusaha mencari cara bagaimana dia bisa memberikan masukan atas kisah tragis yang menimpa adik kelasnya ini.               Ponsel Aldi yang diletakan di atas lantai berdering, ketiga pemuda melirik siapa yang menelepon Aldi malam-malam. Tertulis nama ‘Ayah’ di layar itu.     Danton Paskibra itu memandangi kedua kakak kelasnya, nampaknya dia meminta pendapat apa yang harus dilakukannya dengan panggilan telepon itu.      “Gue saranin lu angkat teleponnya, Al,” kata Rifal.          “Iya. Angkat, Al.” Lukman menguatkan saran itu.        “Tapi, Kak.” Aldi ragu dengan saran kedua orang yang satu pasukannya dengannya di paskibra.  “Angkat aja, gue yakin banget Ayah lu berusaha menyelesaikan masalah yang sudah terjadi,” kata Rifal. “Okey, Kak,” ujar Aldi sambil meraih ponsel itu dengan ragu. “Loud speaker, Al,” Suara Lukman terdengar seperti sebuah bisik. Aldi menekan tombol hijau untuk menjawab telepon itu, “Assalamualaikum, Yah.” “Wa-waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh.” Terdengar suara berat di ujung sana agak tergagap. “Alhamdulillah, kamu mau jawab telepon Ayah akhirnya, Al.” “Langsung aja, Yah. Enggak usah basa-basi,” ujar Aldi dengan nada suara yang terdengar parau. “Besok malam kamu ada acara, Al? Ayah mau ajak kamu makan?” “Makan? Tumben banget, Yah.” Terdengar suara di ujung sana menghela napas panjang, “Iya, Ayah ada yang ingin dibicarakan denganmu. Bisa, Al?”  “Belum tahu, Yah.” “Jika kamu bisa besok kita makan di cafe Benazir ya, Al. Jam delapan.” “Cafe Benazir?” “Iya, yang depan kecamatan itu.” Aldi diam, dia ragu antara menerima undangan makan dari Ayah kandungnya itu atau menolaknya. Pemuda itu sudah tahu apa yang akan dibicarakan di sana, pasti tentang kejadian kemarin malam. “Ya udah, Yah. Mudah-mudahan bisa besok. Assalamualaikum.” Aldi menutup telepon itu sebelum Ayahnya di ujung sana belum menyelesaikan menjawab salam. Dia menghela napas panjang, kedua sahabat di depannya memberikan jempol ke arahnya. “Gue sebenarnya enggak yakin akan datang ke Cafe Benazir besok,” ujar Aldi sambil meletakkan kembali ponselnya ke atas lantai.       “Gue sarankan datang, gue yakin sekali akan ada titik terang besok tentang kemelut ini. Jika besok lu menghindar, kapan akan selesai kegundahan ini, setidaknya besok adalah sebuah langkah.” Rifal memberikan saran.        “Setuju, Al. Setelah urusan dengan Ayah lu selesai nanti baru urusan dengan Salya perlahan selesaikan.” Lukman kembali menguatkan saran Rifal.           
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD