Hantu Bermata Sebelah

1988 Words
Kumandang azan Isya sudah lama sekali terdengar, mungkin sekitar empat jam lalu. Suasana di gedung 1 masih ramai oleh tertawa beberapa orang yang masih menemani panitia menginap untuk persiapan UNBK. Adi dan Noval kini sudah ditemani beberapa orang staf SMA Teladan Bangsa yang sekadar menemani ronda. Kabar pembobolan sebuah laboratorium komputer sekolah yang sengaja di-share ke grup kepala sekolah membuat pemegang kebijakan di SMA TB memperketat pengamanan di saat malam. Jangan sampai kejadian di sekolah lain itu menimpa juga ke sekolah ini. Untuk memaksimalkan keamanan, petugas ronda dibuat menjadi dua lapis. Biasanya pada malam-malam normal hanya centeng sekolah yang berjaga, kali ini dilapisi oleh panitia ujian nasional. Tetapi tidak semua panitia mendapat tugas, hanya tim teknis saja. Proktor utama, proktor madya dan tekhnisi tidak mendapatkan jatah ronda. Mereka tadi datang hanya sebentar mempersiapkan kebutuhan untuk esok, setelah itu pamit. Keriuhan di gedung 1 berbanding terbalik dengan keadaan yang ada di gedung 3, di sana hanya ada suara jangkrik bernyanyi bergantian dengan suara kodok yang sesekali berbunyi. Lapangan gedung belakang nampak dipenuhi oleh dedaunan kering pohon ketapang yang ditiup angin jelang Magrib tadi. Di sana agak samar karena lampu-lampu yang di langit-langit selasar kelas tidak kuasa menjangkau lokasi yang biasa dijadikan tempat berkumpul anak-anak SMP Teladan Bangsa saat pagi. Di lantai dua depan ruang kelas nampak dua sosok makhluk astral yang sedang asyik bercengkerama menikmati langit yang dipenuhi bintang. Sosok itu adalah Jeffry, Si Pocong Pink Polkadot dan Kuntilanak Merah, Meylan. Tiga sosok makhluk kecil berlarian di tengah lapangan, Anya, Unyu dan Norma. Pocong Pink menduga mereka akan naik ke lantai 2 dan berlari-lari dari kelas ujung ke ujung lainnya. Itu berarti kehadiran mereka otomatis akan menganggu kesyahduan antara dirinya dan Meylan yang sedang melepas rindu. Kedua tuyul kembar dan hantu anak TK itu ternyata tidak berlari dari ujung ke ujung kelas seperti yang biasa mereka lakukan. Mereka langsung menghampiri Pocong Pink dan Meylan melalui anak tangga yang ada di belakang kedua makhluk itu. “Selamat malam, Om Ocong, Tante Mey. Maaf, boleh ganggu enggak?” kata Norma sopan memulai pembicaraan. Hantu bungkus berwarna pink itu menoleh hampir berbarengan dengan Meylan. Dia agak heran karena biasanya yang paling vokal dalam menyampaikan sesuatu itu adalah Unyu dan biasanya Norma jarang sekali berbicara kepada makhluk lain selain kepada Pocong Neneng. “Kalian mau apa ke sini?” Suara Ocong terdengar ketus. Meylan menoleh ke arah Pocong Pink, “Kamu mengapa seperti itu suaranya? Mereka ini hanya anak kecil.” Kuntilanak merah itu menatap kekasihnya dengan tajam, ada tanda tanya besar di benaknya akan alasan hantu bungkus itu yang mengucapkan kalimat dengan intonasi yang tidak enak. Padahal sebelum Ocong biasa saja bercakap-cakap dengan Meylan. “Maaf, Mey. Aku agak bete dengan mereka, bete dengan kelakuan mereka sebelumnya. Jadi selalu terbawa-bawa setelah sekian lama.” “Oh begitu,” kata Meylan sambil memperbaiki posisi duduknya. “Sudah aku saja yang ngomong, Kakak diam aja.” Hantu bungkus itu mengangguk pelan, dia setuju dengan usulan kekasihnya. Meylan melambaikan tangannya meminta ketiga makhluk kecil itu mendekat. Dengan ragu mereka maju beberapa langkah. “Maafkan, Om Ocong ya, Anya, Unyu, Norma. Kalian bisa dengan Tante aja ceritanya.” Kuntilanak merah itu menyibak rambut yang menutupi wajahnya ke belakang, wajahnya yang khas negeri tirai bambu membuat ketiga makhluk kecil itu terpukau. Nampaknya mereka baru melihat kecantikan Meylan yang selalu ditutupi rambutnya yang menjuntai menutupi wajah. “Tante Meylan cantik banget,” kata Anya. “Iya, Bang. Enggak disangka Tante Meylan cantiknya kayak Nyai Dasimah,” timpal Unyu. Norma menoleh ke arah Unyu yang ada di sampingnya, “ Nyai Dasimah itu siapa, Nyu?” “Nyai Dasimah itu manusia yang cantik,” jawab Unyu dengan polos sambil menoleh sebentar ke arah Norma. Pocong dan Kuntilanak merah tertawa akan kepolosan Unyu saat mengucapkan kalimat itu, tentu saja Norma tidak tahu siapa Nyai Dasimah karena hantu anak taman kanak-kanak itu anak milenal, mana tahu dia dengan cerita yang berbau sejarah. “Norma enggak tahu siapa Nyai Dasimah itu siapa, Nyu. Umur kalian nampaknya jauh sekali berbeda. Kalian beda umur. Bahkan Anya dan Unyu usianya jauh dari Tante dan Om Ocong.” “Masa sih, Tante?” kata Anya. “Iya, Nya. Tante rasa kalian mulai menjadi hantu saat masih zaman Belanda, entah tahun berapanya Tante enggak tahu pasti. Nyai Dasimah itu katanya memang cantik, dia itu orang dari kampung Kuripan, Bogor. Dia  dijadikan sebagai perempuan peliharaan orang Inggris yang namanya Edward, lalu dibawa ke Betawi,” jelas Meylan. “Betawi itu apa, Tante?” tanya Norma polos. Meylan tersenyum, sepertinya anak-anak bangsa astral ini memang perlu sekali belajar sejarah. Banyak sekali cerita di zaman mereka tetapi mereka tidak tahu. “Betawi itu nama Jakarta pada zaman dulu waktu zaman Belanda,” kata Kuntilanak Merah itu. Ketiga hantu mungil itu mengangguk-angguk. Nampaknya mereka tertarik dengan kisah-kisah sejarah, walaupun sebenarnya mereka juga adalah bagian dari sejarah. “Jangan tanya Jakarta itu di mana ya?” Pocong Pink yang tadi diam ikut nimbrung juga. “Sekarang ceritakan kalian mau apa sehingga datang ke sini?” Norma menyenggol Unyu yang ada di samping kanannya dengan siku, adiknya Anya itu menoleh dan tidak mengerti arti kode yang diberikan hantu berusia TK itu. “Apa, Ma?” Unyu mengerutkan dahinya tidak mengerti. “Gue tadi udah ngomong, sekarang giliran lu, Nyu.” Norma mengucapkan kalimat itu dengan agak berbisik, Unyu mengangguk, dia mengerti apa yang dimaksudkan sosok yang ada di sebelah kanannya itu. Dia mencolek pinggang abangnya dengan telunjuk. “Bang, Abang yang ngomong. Gue enggak berani ngomongnya,” kata Unyu meminta abangnya yang ada di sebelah kanan. “Tadi kita udah sepakat ‘kan. Yang ngomong giliran lu, Nyu.” “Tapi, Bang ....” “Udah, ngomong aja. Enggak usah takut, belajar berani, Nyu.” Kalimat abangnya membuat unyu menelan ludah, kali ini sepertinya tidak bisa ditawar-tawar lagi giliran untuknya bicara. Padahal sebelumnya dia selalu menghindar jika menyampaikan sesuatu ke makhluk lain. Unyu adalah sosok hantu yang Introvert. Tetapi demi nama baiknya di depan Norma, Unyu memaksakan diri melakukan tugasnya berdasarkan kesepakatan. Pocong Pink hampir saja kehilangan kesabarannya karena Unyu belum juga menyampaikan maksud kedatangan mereka. Meylan memegang bahu Hantu Bungkus itu supaya bersabar. “Begini, Om Ocong, Tante,” kata Unyu dengan suara agak bergetar.” Di depan ‘kan lagi rame tuh, tadi kita lihat hantu Susi kayaknya mau jahilin manusia.” “Depan mana, Nyu?” kata Pocong dengan mengerutkan dahinya. “Depan, Om. Di gedung 1, kayaknya lagi persiapan apa gitu,” kata Norma membantu menjawab. “Si Susi emang susah banget diatur deh,” kata Pocong dengan tersungut. “Ya udah terima kasih laporannya, entar gue ke depan ngeliat hantu bandel itu.” “Ya udah, Om Pocong. Kita main lagi ya.” Tanpa menunggu kata ‘iya’, Unyu membalikkan badannya lalu berlari meninggalkan Hantu Bungkus dan Kuntilanak bergaun merah itu. Kepergiannya diikuti oleh Anya dan Norma yang ikut berlari menelusuri selasar keras sambil tertawa riuh. “Susi itu siapa, Kak?” tanya Meylan setelah ketiga sosok mungil itu sudah jauh. “Dia itu penunggu gedung 1, kurang jelas informasi tentang dia kayak gimana. Belum ada yang berhasil mendekatinya. Bahkan dulu waktu sekolah ini masih dipegang oleh Omes, sempat terjadi gesekan diantara mereka. Susi tidak mau tunduk aturan yang dibuat oleh pimpinan kelompok.” “Aku jadi kepo ‘ni dengan yang namanya Susi ni, Kak.” “Gimana kalau kita ke sana, Mey? Aku juga harus memberikannya peringatan juga karena bisa saja kejahilannya akan mengusik keberadaan kita di sini?” “Ayo, Kak. Mumpung belum banyak yang dilakukan oleh makhluk itu. Kalau besok-besok mungkin sudah ada yang diganggu.” “Ayo, Mey.” Hantu Bungkus itu berdiri dari duduknya, diikuti oleh Kuntilanak bergaun merah itu. “Aku siap, Kak,” kata Meylan sambil memegang kain kafan Pocong itu. “Pegangan yang kuat, Mey.” Pocong Pink menggunakan kekuatan teleportasinya untuk berpindah tempat ke gedung 1. Belum sedetik mereka sudah tiba di bagian belakang bangunan laboratorium komputer. Semerbak bau pesing menyapa hidung-hidung mereka begitu baru saja tiba. Pocong mengarahkan hidungnya ke asal semerbak itu, terlihat pintu-pintu WC siswa yang ada di belakang sekolah terbuka lebar. Pantas saja aromanya yang bercampur begitu indah menyapa hidung kedua makhluk astral ini. “Wangi ya, Mey,” ujar Pocong setengah berbisik. “Iya, Kak. Wangi sekali,” kata Meylan sambil terus menghirup aroma pesing itu. “Walaupun ini berarti kejorokan manusia tetapi ini adalah sebuah kenikmatan untuk kaum kita. Bau pesing mereka ibarat wangi kesturi untuk kita ya, Kak.” “Tempat ini bisa jadi tempat rekreasi baru untuk kita kunjungi setelah ini.” “Nice idea, Kak.” “Sekarang kita fokus ke Si Susi dulu ya. Bagaimana kita masuk ke ruangan laboratorium tanpa memutar ke depan dan melewati manusia, Mey?” “Bagaimana jika kita menembus tembok, Kak?”     “Aku belum bisa menembus tembok, Mey.”     “Aku bisa, Kak. Kakak bisa pegangan ke tanganku.”     “Yakin?”        “Udah enggak usah banyak tanya, Kak. Pegang saja tanganku,” kata Meylan sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Hantu Bungkus itu. “Astaga, Mey. Gimana aku mau pegang tangan kamu? Tangan aku ‘kan ada di dalam kafan.”          Kuntilanak merah itu menutup mulutnya karena terkejut dengan ketidak sengajaan yang diucapkannya. “Maaf, Kak. Aku sudah terbiasa meminta Kakak memegang tanganku.”        “Iya. Tetapi itu dulu waktu kita masih menjadi manusia. Tanpa kamu mintapun aku pasti memegang tangan kamu, Mey.” Meylan mendekatkan tubuhnya, lalu memeluk pinggang kekasihnya itu, “Siap ya, Kak?”       Tubuh mereka menembus tembok bangunan laboratorium itu. Dingin langsung menyergap tubuh mereka ketika mereka sudah di dalam sana. Lampu ruangan itu mati tetapi entah mengapa AC-nya dibiarkan hidup.     Monitor komputer yang menyala langsung membuat mata kedua makhluk itu menuju ke sana. Ada sesosok hantu perempuan duduk membelakangi mereka dengan headset menutupi telinganya. Dia menoleh ke kiri dan kanan karena merasakan kehadiran makhluk astral lain di dekatnya.        “Kami di belakang ‘ni, Sus,” kata Hantu Bungkus itu.           Susi melepaskan headset berwarna biru muda di kepalanya itu, lalu mendekati Pocong Pink dan Kuntilanak Merah. Sorot matanya terlihat kesal, jelas sekali dia merasa terganggu dengan kedatangan duo sejoli ini.       “Kalian mau apa ke sini?” kata Susi ketus.          “Kami mau berkunjung saja, memastikan aktifitas manusia-manusia di sini tidak terganggu dengan kehadiran makhluk astral,” kata Pocong Pink itu dengan suara berwibawa.           “Gue enggak ganggu mereka, Cong. Lu lihat ‘kan di sini enggak ada manusia, jadi walaupun gue main-main di sini enggak ada yang terganggu. Ruangan ini dikunci juga dari luar.” Susi menunjuk pintu lab yang terkunci.       “Syukurlah jika semua baik-baik saja. Maaf, gue cuma memastikan lu enggak ganggu manusia-manusia di sini selama mereka ada kegiatan.”       “Begini ya, Cong. Lu dengar dan lu ingat baik-baik, apapun yang gue lakukan di sini enggak ada kaitannya dengan lu. Walaupun gue tinggal di daerah kekuasaan lu, gue enggak mau tunduk dengan aturan yang lu buat.” Mata Susi menyala saat mengucapkan kalimat itu, jelas sekali dia serius dengan yang diucapkannya.      “Kalau lu enggak mau ikut aturan di sini, silahkan cabut, Sus.”        Kalimat Hantu Bungkus itu terdengar lebih berwibawa dari sebelumnya. Nampaknya Pocong Pink itu ingin menunjukkan bahwa dia adalah pimpinan di tempat Susi tinggal.       “Mendingan lu yang cabut dari sini, Cong!”       Tanpa diduga oleh Pocong Pink, Susi dengan cepat melesat ke arahnya dan mencekiknya. Sebuah sedikit goyangan tubuh Hantu Bungkus itu membuat cengkeraman tangan hantu bermata sebelah itu terpental satu meter. “b*****t!”       Susi terjerambab dengan umpatan di mulutnya, dia bersiap melakukan serangan berikutnya. Tetapi apa daya ternyata tangannya dikunci oleh hantu bungkus itu sehingga tetap menempel di lantai keramik.        Pocong Pink melesat mendekati Susi, sambil tetap berwaspada akan kemungkinan hantu bermata sebelah itu bisa melepaskan tangannya dari lantai.           “Lu ikut aturan di sini atau cabut, silahkan tinggal pilih,” ujar Pocong dengan nada santai.       “Gue tetap tinggal di sini dan enggak akan ikut aturan lu, Cong.” Susi belum menyerah, dia tetap dengan keras kepalanya.        “Terserah lu, Sus. Pikirkan lagi omongan gue, tinggal di sini dan ikut aturan gue atau cabut,” ujar Pocong. “Gue akan tetap tinggal di sini dan enggak akan ikut aturan lu, Pocong Banci,” kata Susi.              Kalimat Susi memantik amarah Hantu Bungkus itu, frase ‘Pocong Banci’ sangat menyebalkan ketika terdengar di telinganya. Ini adalah kedua kalinya dia disebut begitu hanya karena warna kafannya anti mainstream karena tidak seperti makhluk sebangsanya yang lain.         “Terserah lu, Sus.”        Pocong Pink menggerakkan bahunya ke depan, dalam sekejap tubuh Susi terpental menempel ke tembok yang ada di belakangnya. Makhluk bermata sebelah itu nampak memberontak sekuat tenaganya, sayang sekali apa yang dilakukannya hanyalah sia-sia.        “Lu pikirkan kalimat gue tadi sambil menempel di tembok selama seminggu. Kalau jawaban lu masih kayak tadi lu akan menempel di situ lebih lama.”         “b*****t lu, Cong!” umpat Susi.                      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD