Pocong Pink dan Meylan keluar dari ruang laboratorium komputer itu. Mereka tidak melalui tembok yang mereka lalui saat masuk sebelumnya, melainkan lewat pintu yang terkunci rapat dari luar dengan ditambah pengaman besi.
Susi masih menempel ditembok ruang lab komputer saat mereka tinggalkan, teriakan dan umpatan hantu itu sedikitpun tidak memantik iba Hantu Bungkus berwarna pink itu. Tentu saja suara yang disebabkan oleh hantu bermata sebelah itu hanya terdengar oleh bangsa astral dan makhluk yang mempunyai pendengaran supersonic.
Terlihat ada beberapa manusia yang sedang mengobrol di depan ruang panitia, mereka asyik berlomba mengepulkan asap nikotin dari hidung dan mulut mereka. Pocong yakin sekali mereka tidak akan tahu kehadirannya di depan lab komputer itu bersama dengan Meylan, kecuali memang mereka mempunyai indera keenam.
Sepasang kekasih itu melayang meninggalkan tempat itu. Pocong mengajak Meylan naik ke lantai dua gedung 1. Walaupun Hantu Bungkus itu sudah lumayan lama tinggal di komplek sekolah Yayasan Teladan Bangsa namun jarang sekali menyusuri daerah kekuasaannya.
Sesosok hantu perempuan berdiri di hadapan mereka saat tiba di akhir tangga, matanya hitam pekat tanpa bola mata. Hantu bungkus dan Meylan terkejut karena kehadiran makhluk itu sama sekali tak diduganya.
“Susi?” bisik Meylan ke Pocong Pink.
Hantu bungkus itu memandangi sosok di depannya penuh tanya karena tidak mungkin Susi bisa membebaskan diri dari hukumannya. Pocong menoleh ke arah kekasihnya.
“Sepertinya dia bukan Susi, Mey. Coba kamu perhatikan yang ada di depan kita, matanya ada dua sedangkan Susi hanya punya mata sebelah. Perhatikan juga rambutnya, dia mempunyai rambut lebih panjang,” jelas Pocong Pink.
“Tapi wajahnya mirip, Kak. Mungkin enggak dia ini kembarannya si Susi?”
“Aku Shasa, kembarannya Susi,” kata hantu itu sambil mengulurkan tangannya ke arah Meylan.
Suara makhluk itu terdengar merdu sekali saat memeprrkenalkan dirinya. Kuntilanak Merah menoleh ke Pocong Pink yang sepertinya dia juga tidak menduga hantu yang mengaku sebagai kembaran hantu bermata sebelah itu ramah, tidak seperti saudaranya.
Meylan meraih tangan Shasa dengan menyematkan sebuah senyuman, “Aku Meylan. Mungkin kalau yang disamping aku ini kamu sudah kenal jadi tidak usah dikenalkan lagi.”
“Iya, Kak Meylan. Siapa yang enggak kenal Bang Ocong? Pemegang komplek sekolah Yayasan Teladan Bangsa.”
Shasa mengangguk sopan ke arah Pocong Pink, disambut sebuah anggukan oleh kekasih Kuntilanak Merah itu.
“Aku menduga kehadiranmu di depan kami pasti ada maksud yang ingin disampaikan, Sha,” kata Meylan yang dijawab anggukan hantu itu.
“Jadi begini, Kak Meylan. Aku sebagai saudaranya Susi meminta maaf atas kelakuan bodohnya yang tidak mau mengikuti aturan di sini, “ kata Shasa dengan wajah memelas. “Jadi aku juga meminta tolong Susi untuk dibebaskan oleh Bang Ocong dari hukumannya, kasihan dia teriak-teriak seperti itu.”
“Untuk urusan seperti itu aku enggak bisa bantu, Sha. Sudah bukan ranah aku lagi, mungkin kamu bisa bicara langsung dengan yang memegang kendali di sini.” Kuntilanak merah itu menoleh sedikit ke arah kekasihnya.
“Maaf, Bang Ocong.” Shasa mengangguk takzim ke arah Hantu Bungkus. “Mungkin ini adalah permintaan bodoh sekali jika mengingat kelakuan Susi yang telah membangkang peraturan, Bang. Tetapi bisakah Abang memaafkan kesalahan Susi dan membebaskannya?”
“Begini, Sha ... sepertinya itu adalah sebuah permintaan yang susah sekali untuk diluluskan karena Susi sama sekali tidak mau kooperatif,” ujar Pocong menjelaskan.
“Susi itu sejak masih kecil selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, tidak pernah sekalipun ada sesutu yang tak didapatkannya.” Shasa mulai merajuk ke Pocong Pink.
“Mungkin itu adalah sebabnya dia keras kepala sampai sekarang,” ujar Pocong menyimpulkan. “Dia tetap akan dihukum sampai waktu yang sudah ditentukan, biarkan saja dia menyadari kesalahannya dulu.”
“Tapi, Bang ....”
“Sudahlah, Sha. Cuma tinggal tunggu beberapa hari aja,” kata Meylan sambil menepuk-nepuk bahu hantu di depannya dengan menyematkan sebuah senyum kecil di ujung bibirnya.
Shasa tertunduk sedih, nampaknya dia harus merelakan kesendiriannya di gedung 1 tanpa hadir saudara kembarnya sementara ini.
“Jika merasa kesepian, kamu bisa ke gedung 3 di belakang untuk mecari teman. Di sana ada Pocong Neneng, Omes, Anya, Unyu dan Norma,” ujar Meylan berusaha menghibur. “Si Anya dan Unyu juga kembar loh seperti kamu dan Susi. Cuma ya begitu namanya anak kecil suka rame enggak jelas.”
Shasa diam, mungkin dia membayangkan kesendirian yang akan menderanya tanpa kehadiran sosok kembarannya. Pocong Pink memberikan kode kepada Meylan untuk meninggalkan Shasa, dijawab sebuah anggukan oleh Kuntilanak Merah itu.
“Maaf, kita tinggal dulu ya, Sha.”
Kuntilanak itu mengikuti Pocong Pink yang sudah beranjak duluan ke arah kelas paling pojok yang berada tepat dipinggir jalan raya.
“Kalian mau ke mana?” tanya Shasa setelah kedua makhluk itu hanya terlihat punggungnya.
Meylan menoleh ke arah kembarannya Susi itu, namun dia tidak menjawab hanya sebuah senyuman dan lambaian tangan yang diberikan.
“Kita mau ke mana, Kak?” tanya Meylan saat tubuh mereka terus melayang melewati ruang kelas.
“Tiba-tiba aku kepikiran dengan Senja malam ini, Mey. Bagaimana jika kita jenguk dia di tempatnya Koh A Tong?”
“Koh A Tong? Oh, Vampire itu yak, Kak?”
“Iya, Mey. Sebenarnya sih bukan di tempat dia Senja dirawatnya, tapi di rumah cicitnya, John.”
“Ayo, Kak. Aku ikut aja ke manapun Kakak pergi. Tetapi mengapa kita lewat kelas ini?” tanya Meylan heran karena sekarang mereka sudah sampai di kelas ujung yang diberikan pembatas pagar.
“Ayo sini masuk,” ajak Pocong Pink sambil melayang masuk ke dalam kelas yang tidak terkunci pintunya.
Kuntilanak Merah itu tanpa banyak tanya mengikuti saja arah kekasihnya melaju, mereka sampai di bagian pojok kelas yang berjendela terbuka. Pocong menatap ke luar, memandangi pohon di depannya.
“Kamu lihat di seberang jalan itu ada pohon waru doyong, Mey. Dari sini kita menyeberang ke sana, melalui pepohonan yang ada di sebelah kiri. Supaya aman untuk sampai ke tempat Koh A Tong yang ada di sebelah kanan jalan, tanpa khawatir ada manusia yang eungeuh dengan kehadiran kita di antara mereka,” jelas Pocong Pink kepada Meylan.
Meylan mengangguk menandakan dia paham dengan apa yang dipaparkan oleh kekasihnya sambil memandangi pohin waru doyong yang berada tepat dipinggir jalan gang yang dipisahkan oleh tembok pembatas sekolah setinggi dua meter lebih.
“Tempatnya John dekat dari sini ya, Kak?” tanya Meylan.
“Dekat, sebenarnya dari sini juga kelihatan jika enggak ada pohon waru doyong itu, Mey,” kata Pocong Pink yang disambut dengan anggukan kecil Meylan. “Yuk kita ke sana.”
“Ayo, Kak.”
Kuntilanak berwajah oriental itu memeluk pinggang Pocong Pink dengan tangan kanannya. Pocong mengarahkan hidungnya ke arah kiri, depan dan kanan. Hantu Bungkus itu memastikan tidak ada manusia yang akan melewati jalan gang yang akan dilaluinya.
“Aman,” kata Pocong Pink setelah tidak tercium bau manusia dalam radius dua puluh meter. “Pegangan, Mey.”
Tubuh kedua makhluk itu melayang di atas WC siswa yang wanginya sangat menggoda bangsa astral untuk berlama-lama di sana. Kini mereka melewati jalan gang yang beraspal hitam lalu berdiri di atas dahan atas pohon waru doyong. Beruntung walaupun pohon itu tidak berdiri tegak masih ada dahan di atasnya yang bisa dijadikan tempat singgah sementara.
Mereka melanjutkan perjalanan dari pohon satu ke pohon lainnya hingga sampai di bagian yang sudah tidak ada lagi pohon besar. Mereka berdiri di pohon rambutan besar yang ada di depan rumah dua lantai bercat biru itu.
“Seingatku dulu disini ada pohon gowok besar, Mey.”
“Mungkin tumbang atau di tebang, Kak.” Kuntilanak itu menduga-duga. “Tunggu deh Kak, Pohon apa tadi Kakak bilang?”
“Pohon gowok. Mengapa, Mey? Pasti baru dengar ya nama pohon itu?”
“Iya, Kak. Aku kurang gaul kayaknya ‘ni dulu waktu masih hidup.”
“Gowok itu kadang dibilang sebagai anggur kampung karena memang warna kulitnya seperti anggur hitam sama dengan buah gowok, cuma rasanya sama sekali enggak mirip. Buah gowok itu cenderung asam rasanya.”
Kuntilanak merah itu mengangguk sambil membayangkan apa yang diceritakan oleh Pocong Pink. Mungkin karena dia dulu terlalu sibuk dengan sekolah dan membantu usaha Papanya jadi kurang update akan nama-nama buah, Meylan berdialog imajiner dengan dirinya sendiri.
“Mungkin pohon gowok itu ditebang oleh pemiliknya, lihat masih ada bekasnya.”
Pocong menunjukkan tunggul pohon anggur kampung itu dengan matanya, Meylan mengikuti arah mata kekasihnya itu menuju. Di sana ada serbuk-serbuk sisa potongan gergaji mesin yang masih berwarna cerah, mungkin pohon itu ditebang satu atau dua hari lalu.
Dari posisi mereka berada terlihat jelas sorot-sorot lampu kendaraan yang masih lalu lalang membelah gulita malam.
“Kamu lihat posisi makam yang ada di tikungan itu, Mey?” kata Pocong sambil melihat lokasi yang ingin ditunjukkan kepada kekasihnya.
“Iya, Kak. Kalau dilihat dari sini aku menyimpulkan makam itu adalah tempatnya Koh A Tong.”
“Benar sekali, Kok kamu tahu?”
“Jangan lupa aku ‘kan satu suku dengan Koh A Tong, Kak,” kata Meylan mengingatkan.
“Oh iya, mengapa aku lupa ya, Mey.”
“Jangan-jangan Kakak mulai pikun ‘ni, Kak.” Meylan meledek Pocong Pink.
“Jangan-jangan iya, Mey. Entah mengapa otak aku hanya diisi oleh nama dan cinta kamu saja, jadi hal-hal lain aku lepaskan dalam ingatan. Hal-hal yang berhubungan dengan kamu aku masih ingat dengan jelas, Mey.”
“Bucin, Kak.” Wajah Meylan memerah karena gombalan Pocong Pink.
“Bahasa kamu sudah seperti anak sekarang, Mey.”
“Maksudnya, Kak?”
“Dulu itu kalau dirayu dengan kata-kata romantis kamu pasti bilang ‘gombal’ sekarang kamu bilang ‘bucin’. Kata itu ‘kan khas anak milenial, Mey.”
“Aku mengikuti arus, Kak. Supaya jangan ketinggalan zaman,” kata Meylan sambil tertawa, mata sipitnya tersisa segaris saja, “Aku penasaran dengan hal apa saja yang Kakak masih ingat tentang aku, Kak. Coba sebutkan, aku kepo ‘ni.”
“Banyak, Mey. Aku ingat kamu suka makan rumput, tidur suka ngorok dan kentut juga, ngiler di bantal, suka ngupil kalau sedang makan.”
Meylan mengerutkan dahinya mendengar kalimat Pocong Pink lalu dia tergelak tertawa dengan melengking tinggi.
“Ssst, jangan keras-keras tertawanya, Mey. Nanti rumah yang bawah mendengar tertawamu.” Pocong Pink melirik ke rumah yang ada di sebelah kirinya.
“Oops, aku kelepasan, Kak. Habisnya Kakak bilang hal-hal yang enggak-enggak tentang aku. Masa aku kalau tidur suka ngorok, kentut juga ngiler di bantal, suka ngupil kalau sedang makan. Itu ‘kan Kakak banget, bukan aku.” Meylan berusaha menahan tertawanya supaya tidak terlalu keras.
“Iya, sih. Tapi kamu suka makan rumput ‘kan, Mey.”
“Bukan makan rumput, Kak. Emangnya aku kambing? Yang benar adalah aku suka gigit-gigit rumput, bukan makan.”
“Mirip, ‘kan. Rumputnya tetap masuk ke dalam mulut ‘kan, Mey.”
“Iya, emang. Udah ah, jangan bahas makan rumput lagi.” Meylan berusaha menahan laju tertawanya. “Jadi gimana ‘ni cara kita ke tempat Koh A Tong, Kak?”
“Enggak usah repot sebenarnya, Mey. Kita bisa menggunakan teleportasi.”
“Nah, mengapa Kakak enggak menggunakan kekuatan teleportasi itu sejak dari awal tadi, sejak dari sekolah?”
“Sengaja, Mey. Kalau menggunakan kekuatan itu kita langsung sampai ke tempat Vampire Tonggos itu, aku ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu. Aku ingin menebus semua waktu yang lekang saat kita tak bersama puluhan tahun lalu. Wo ai ni, Mey.” Pocong menatap wajah kekasih di depannya, ingin rasanya dia membelai pipi Meylan seperti yang selalu dilakukannya dulu saat masih menjadi manusia. Apa daya tangannya sekarang ada di dalam kain kafan.
“Wo ye ai ni, Kak.”
Kuntilanak merah itu memeluk tubuh berbungkus kafan berwarna Pink itu dengan erat, dia mengulang kalimat yang diucapaknnya itu di telinga kekasihnya.
Tiba-tiba tubuh kedua makhluk itu hilang keseimbangan, nampaknya mereka lupa sedang berada di atas pohon rambutan. Sosok berwarna Pink Polkadot dan gaun merah itu meluncur ke bawah dan menghantam tanah, beruntung tidak menimpa akar pohon yang berada setengah meter dari mereka.
Meylan menyeringai sakit, Pocong Pink susah payah bangun dari posisinya terjatuh, tubuhnya pun terasa hancur jatuh dari ketinggian sepuluh meter. Suara tubuh mereka yang menghantam tanah terdengar seperti suara benda jatuh, sang empunya pohon rambutan mengintip dari balik tirai jendela untuk melihat apa yang terjadi. Beberapa detik kemudian terdengar teriakan histeris dari dalam rumah itu, rupaya penghuni rumah itu melihat wujud Pocong dan Kuntilanak merah yang terjatuh dari pohon itu. Besok pasti akan ramai di media sosial tentang kejadian Pocong Pink Polkadot dan Kuntilanak Merah jatuh dari pohon.