Sosok Laki-laki Di Rumah Salya

1948 Words
Motor Aldi mengiringi motor Salya yang berjalan melalui jalan-jalan di perumahan yang tidak terlalu ramai dengan kendaraan yang lalu lalang. Di tanah lapang sebelah kiri jalan nampak anak-anak komplek sedang asyik membuat beberapa kelompok. Mereka ada yang sedang asyik berolahraga dengan bermain bulu tangkis, ada juga yang sedang asyik berkerumun dengan gadget masing-masing di tangan mereka. Aldi memberi kode ‘permisi’ dengan sebuah bunyi klakson saat melintas dekat mereka. Sayang tak ada satu pun yang hirau dengan apa yang dilakukannya, mereka nampaknya terlalu asyik dengan aktifitas yang sedang dilakukannya. Motor mereka pun berlalu menjauh dari tempat berkerumun itu, kembali menyusuri jalan komplek perumahan. Sesekali mereka berpapasan dengan pasangan muda yang naik motor dengan eratnya. Aldi belum pernah sekalipun ke rumah Salya, malam ini adalah malam pertamanya bisa mengetahui di mana kekasihnya itu tinggal. Sebuah deretan warung di sebelah kanan nampak ramai oleh pembeli. Aldi sekilas melihat nama-nama warung itu, ada yang menjual bakso, mie ayam, ayam goreng, nasi uduk bahkan konter ponsel pun ada.  Hati Aldi dag-dig-dug saat matanya tak sengaja melihat sesosok laki-laki yang ada di depan warung yang menjual bakso, jika dilihat dari belakang mirip sekali dengan ayahnya. Tetapi apa yang dilakukan oleh beliau di warung itu? Jauh sekali dari rumah jika hanya sekadar membeli bakso untuk  Bunda. Aldi mulai berdialog imajiner dengan batinnya. Bisa saja ‘kan orang itu hanya mirip saja dari belakang, tetapi ketika dilihat dari depan sama sekali tidak ada kemiripan. Pemuda itu menghalau pertanyaan-pertanyaan yang menghampiri benaknya. Dia berusaha kembali memfokuskan pandangannya mengikuti motor Salya.     “Ternyata rumah kamu jauh juga, Yeng. Tetapi mengapa malam ini kamu tiba-tiba bisa ada di warung tenda tadi? Siapa yang memberitahukan kamu?” batin Aldi. Setelah sekitar sepuluh menit kemudian Salya menghentikan motornya di sebuah rumah berlantai dua. Rerumputan hijau yang terkena sinar lampu nampak indah walaupun warna aslinya tenggelam. Sebuah pagar setinggi satu meter menjadi pembatas antara lokasi rumah dan jalan raya, nampaknya sang penghuni rumah sengaja menjauhkan sekat pembatas dengan tetangga-tetangga kompleknya dengan pagar yang minim itu. Motor Aldi diparkirkan di samping motor Salya, gadis itu melepaskan helm dan meletakkannya di atas jok motornya. “Alhamdulillah, kita sudah sampai, Yang,” kata Salya. “Masya Allah, rumah kamu besar sekali, Yeng.” Aldi berdecak kagum di ujung kalimatnya itu. “Bukan rumah aku ini, ini rumah orang tuaku. Aku hanya menumpang di rumah mereka.” Salya melengkapi kalimatnya dengan senyuman kecil di pinggir bibir.   “Sama aja, Yeng.” “Udah enggak usah dibahas yang kayak begitu, Yuk masuk,” ajak Salya sambil memberi kode dengan sebuah anggukan ke arah kekasihnya. Aldi mengayunkan langkahnya mengikuti langkah kaki Salya. Matanya melirik jam tangannya. “Baru setengah sembilan, masih ada waktu setengah jam untuk beramah tamah dengan keluarga Salya sebelum pulang,” batin Aldi. Mereka tiba di teras rumah, sebuah bangku berukir menyambut di sana dengan pernisan yang masih mengkilat. “Silahkan duduk, Yeng,” kata Salya. “Aku mau mengambil minum dulu ya, sekalian salin baju.” Tanpa menunggu jawaban iya dari Aldi, Salya sudah masuk meninggalkannya di teras. Sesaat pemuda itu memandangi punggung kekasihnya yang tak lama kemudian hilang di telan daun pintu. Dia memilih duduk di bangku yang membelakangi jalan raya. Aldi meraih ponselnya dari saku jaket sebelah kanannya dan membuka aplikasi w******p. Ada beberapa panggilan yang masuk tanpa dia ketahui, dengan penasaran dia menekan tab panggilan dan ditemukan nama Bunda di sana.  “Ada apa Bunda meneleponku, ya?” kata Aldi sambil menekan tombol panggilan. Pemuda itu menempelkan ponselnya di telinga kanan lalu dipindahkan ke telinga kirinya. Sebuah senyuman terukir di wajahnya ketika panggilan teleponnya tersambung. “Assalamualaikum, Bunda?” kata Aldi. “Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh, Iya Aldi?” ujar suara Bundanya di ujung sana. “Bunda tadi telepon aku, ya?” “Iya.” “Ada apa, Bun? Bunda baik-baik saja ‘kan?” “Enggak, Al. Enggak ada apa-apa. Bunda juga baik-baik saja, hanya saja tadi perasaan Bunda sehabis salat Magrib dan Isya gelisah tak menentu seperti ada yang akan terjadi. Bunda khawatir ada sesuatu yang terjadi, Al. Kamu baik-baik saja ‘kan?” “Aku baik-baik saja Bunda, jangan khawatir.” “Alhamdulillah, kamu sekarang di mana, Al?” “Aku sedang ... mengantar teman pulang, Bun.” Suara Aldi terdengar ragu di saat mengucapkan bagian ujung kalimatnya. “Teman atau teman ‘ni ?” goda Bunda Aldi di ujung sana dan terdengar sebuah tertawa setelahnya. “Ya sudah, kamu jaga diri baik-baik ya, Al. Assalamualaikum.” Sambungan telepon itu putus setelah Aldi menggenapkannya dengan mengucapkan salam, dia meletakkan ponselnya di atas meja setelahnya. Seorang gadis cantik berambut sebahu datang membawakan teh hangat dan biskuit, dia lalu meletakkan apa yang di bawanya di atas meja. Dia tersenyum lalu mempersilahkan Aldi menikmati suguhannya. “Silahkan, Kak Aldi,” katanya. “Terima kasih, Kak,” jawab Aldi canggung karena tatapan gadis cantik di depannya itu. Siapa gadis ini? Apakah Kakaknya Salya? Mengapa dia sudah tahu namaku? Wajahnya tak asing, tetapi di mana pernah melihatnya? Pertanyaan-pertanyaan itu datang silih berganti di benak Aldi. “Ya ampun, Kak Aldi. Kok aku dipanggil ‘Kak’, aku jadi merasa lebih dewasa beberapa tahun di atas kak Aldi ‘ni jadinya.” “Eh, Maaf.” “Ini pasti karena Kakak enggak ingat siapa aku? Pasti enggak tahu juga namaku,” kata gadis itu. Dia mengeluarkan ponsel dari celana pendeknya. “Coba Kak lihat, aku pernah DM Kakak lho.  Kita juga pernah berbalas pesan,” Gadis itu menyodorkan ponselnya ke arah Aldi dilengkapi sebuah senyuman. Lesung pipit di pipi kanan dan kirinya membuat Aldi tidak berani menatap gadis itu lama. “Lea Van Houten? Kamu Lea Van Houten?” kata Aldi dengan nada terkejutnya. “Benar ‘kan kataku, Kak Aldi enggak tahu namaku makanya cuek seperti baru bertemu. Aku ‘kan salah satu fans Kakak basis SMA Cipta Karya. Nama asliku Aulia.” “Tapi kita ‘kan baru bertemu juga di sini, Lea,” kata Aldi. Dia menggelengkan kepalanya perlahan saat gadis di depannya itu bilang dia salah satu penggemarnya.  ‘”Iya, sih, Kak.” “Kamu kakaknya Salya, Lea?” tanya Aldi. Sebuah anggukan kepala menjadi jawaban pertanyaaan Aldi, “Iya, benar, aku kakaknya Aya.” Salya bergabung di beranda, dia mengambil kursi berseberangan dengan posisi duduk Aldi. Gadis itu menggunakan kaus berlengan panjang warna pink, senada dengan jilbabnya yang berwarna namun agak muda. “Maaf ya kalau aku agak lama, Yang,” kata Salya, “betewe kamu sudah kenalan dengan kakakku, Aulia?” “Sebenarnya aku dan Lea sudah kenal lama, Yeng,”jawab Aldi setelah sebuah anggukan mendahului. “Oh, syukurlah kalau begitu. Kenal di mana, Yang?” “Dulu waktu lomba paskibra kebetulan tim kita sama -sama berjuang di kompetisi itu ya, Lea?” Lea menjawab kalimat dengan anggukan, “Sebentar deh, aku mau tanya dulu ‘ni. Aku dengar Aya memanggil Kak Aldi ‘Yang’. Sedangkan Kak Aldi memanggil Aya ‘Yeng’. Sebenarnya panggilan apa itu? Aku jadi kepo lho.” Kakak Salya itu memasang muka serius saat menanyakan kalimat itu. Nampak sekali rasa ingin tahunya tiba-tiba terbit saat mendengar sapaan ‘Yang dan Yeng’ itu. “Kamu mau jelaskan atau aku, Yeng?” tanya Aldi ke arah gadis di depannya. “Aku aja, Yang,” kata Salya dengan semangat sekali. “Silahkan.” “Jadi begini, Kak Aul,” Salya mulai bercerita.” Sebenarnya panggilan ini sederhana sekali saat mau dimulai. Bermula dari keinginan aku dan Kak Aldi supaya kita punya panggilan khusus saat bersama, kebetulan nama ‘Yayang’ muncul di otakku, sebuah sapaan manja dari kata ‘sayang’. Lalu untuk melengkapinya aku memberikan ide untuk ‘yayang’ supaya berpasangan dengan ‘yeyeng’. Entahlah apa arti dari kata itu, tapi itulah yang ada di benak kala itu. Akhirnya kata yayang dikhususkan untuk panggilan ke Kak Aldi, sedangkan aku dipanggil dengan kata yeyeng.” “Kalian romantis banget, iih. Aku jadi iri dengan kalian,” kata Lea sambil memegang kedua pipinya. “Kak Aldi punya saudara kembar enggak, Kak? Kalau punya mau dong aku dijodohkan dengannya.” “Sayangnya enggak, Lea. Aku enggak punya kembaran,” kata Aldi sambil tertawa kecil.    “Alhamdulillah,” kata Salya yang sontak membuat Aldi dan Lea menoleh ke arahnya, “maksud aku alhamdulillah Kak Aldi enggak punya kembaran jadi enggak ada saingan.” “Aku sih berharap Kak Aldi punya kembaran, Ya. Jadi kita bisa punya pasangan yang sama.” Alya tertawa kecil memamerkan lesung pipitnya.       “Jangan ngarep, Kak,” kata Salya sambil mengangkat telunjuk kanannya ke atas dan mengoyang-goyangkannya, “Betewe, Mama ke mana, Kak?”        “Ke luar sama Papa, katanya mau beli bakso di Mas Gimin,” jawab Lea.        “Kok tadi aku lewat enggak lihat ya? Apa mungkin karena ramai di sana? Emang ngantri sih tadi,” kata Salya sambil menggaruk-garuk pelipisnya dengan telunjuk.         Terdengar suara Motor berhenti di depan rumah. Tanpa melihat kebelakang Aldi menduga bahwa itu adalah suara kendaraan orang yang sedang dibahas oleh dua makhluk cantik di depannya, Papa dan Mama mereka.       “Panjang umur Papa dan Mama, Kak. Baru kita omongin sudah pulang,” kata Salya dengan nada gembira. “Iya, tahu aja aku sudah merindukan bakso mengisi lambungku,” timpal Lea.       Orang tua  perempuan dari kedua gadis itu berjalan sendirian, meninggalkan suaminya yang sedang memarkirkan motornya ke garasi, Mama Salya itu menghampiri mereka yang secara tak langsung sedang menunggunya.        “Assalamualaikum,” kata perempuan itu.         “Waalaikumsalam, Mama.” Salya berdiri menghampiri Mamanya dan mencium tangan perempuan itu. Nampak dari posisi duduk Aldi, Salya membisikkan sesuatu ke telinga Mamanya. Dugaan pemuda itu adalah dia sedang memberitahukan kehadirannya. Benar saja dugaannya karena setelah itu perempuan bergamis dengan jilbab lebar itu melihat ke arahnya.         Aldi mengangguk canggung saat perempuan anggun itu mengayunkan langkah kakinya menghampirinya. Dalam hati Aldi berbisik, pantas saja kedua anak gadisnya cantik-cantik karena diturunkan langsung dari ibunya.          “Assalamualaikum, Aldi,” kata Mama Salya sambil duduk di kursi panjang di mana tadi Salya duduk. Pemuda itu agak terkejut karena dia tidak menyangka kalimat salamlah yang menjadi pembuka pembicaraan mereka. Dia menelan ludah, berusaha mengendalikan rasa gugupnya.          “Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh, Tante,” jawab Aldi dengan mengangguk sopan ke arah perempuan itu.             “Terima kasih sudah mengantarkan Salya pulang ya, Al,” lanjut perempuan itu. “Iya, Tante. Maaf karena pulangnya agak malam.”           “Enggak apa-apa, Tante tahu dia berangkatnya saja tadi bakda Magrib. Sehabis menerima telepon dia langsung berangkat, enggak tahu mau ke mana. Izinnya mau keluar aja.”           “Enggak usah diceritakan juga yang itu, Ma,” kata Salya dengan wajah cemberut. Seorang lelaki berjalan menghampiri mereka, jantung Aldi rasanya berhenti berdegup saat mengenali sosok yang sangat dikenalnya itu.          “Nah, ini Papanya Salya,” kata perempuan itu mengenalkan Aldi. “Pa, ini Aldi teman Salya yang mengantarkan pulang.” Laki-laki yang baru saja duduk di samping istrinya itu tiba-tiba speechless saat mengenali sosok Aldi, mereka saling tatap. Papa Salya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, sedangkan wajah Aldi dipenuhi dengan tanda tanya.         “Sepertinya Papa dan Aldi sudah saling kenal ya.” Mama Salya berusaha masuk ke suasana canggung yang tercipta tiba-tiba itu.          “I-iya, Ma. Papa sudah kenal Aldi.”        “Iya, Tante. Saya pernah bertemu dengan Om Ahmad, beliau ini adalah orang yang paling berjasa dalam hidup saya. Om Ahmad ini sudah membantu membiayai sekolah saya.” “Om Ahmad?” Mama Salya mengerutkan dahinya.        “Iya, Ma. Nama Papa ‘kan Ahmad Wijaya.” Laki-laki itu memberikan penjelasan.          “Iya sih ... tapi biasanya Papa enggak suka dipanggil dengan nama Pak Ahmad. Lebih senang dengan nama Wijaya.”        “Sudah, enggak usah dibahas hal yang seperti itu. Ayo dibuka baksonya kita makan bareng-bareng Aldi.” Nampaknya laki-laki itu sudah bisa menguasai dirinya, bahkan sekarang sudah mulai berusaha mencairkan suasana canggung di antara dirinya dan Aldi.       “Tante, Om, maaf sepertinya saya enggak bisa bergabung lebih lama. Bunda minta jangan pulang malam-malam karena beliau sedang tidak enak badan. Saya pamit ya, Om, Tante, Salya, Lea.” Aldi berdiri setelah menyelesaikan kalimatnya.         Setelah mengucapkan salam dan mengangguk sopan ke arah orang tua Salya, Aldi melangkahkan kakinya menjauh dari teras menuju ke motornya yang terparkir di pinggir jalan.         “Kak ... Tunggu.” Terdengar suara Salya, Aldi menghentikan langkahnya. “Kakak baik-baik saja ‘kan?” Aldi mengangguk lalu menunduk, dia berusaha menyembunyikan air di sudut matanya, “ Aku baik-baik saja, Yeng. I’m fine, don’t worry.”          Suara Aldi terdengar agak bergetar, rupanya dia mulai kembali tidak bisa menguasai hatinya. “Kakak hati-hati ya, jangan lupa kabarin aku kalau sudah sampai rumah.”        Ada sorot mata heran di mata Salya dengan tingkah kekasihnya malam inu, sebelumnya Aldi belum pernah seperti ini. Ada apa dengan kamu, Yang? Batin Salya.        “Iya, aku pamit ya.”        Aldi membalikkan punggungnya meninggalkan Salya yang masih berdiri memandanginya menjauh. Banyak pertanyaan di benak Salya dengan apa yang terjadi dengan kekasihnya malam ini.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD