Bab 3

1685 Words
Aurel membawa Jevin ke dalam gendongannya. "Jangan nakal, oke?" ucapnya seraya mencubit gemas hidung Jevin yang langsung dibalas dengan anggukkan kepala oleh bocah kecil itu serta membalas cubitan Aurel dengan mencium pipinya. "Ah, kau manis sekali," kikik Aurel yang membuat Jevin tersenyum menggemaskan. Deo memutar malas kedua bola matanya saat melihat interaksi yang terjadi diantara Aurel dan Gavin. Gadis itu selalu berlebihan jika Jevin memperlihatkan hal-hal yang sebenarnya biasa saja, namun menurut gadis itu sangat luar biasa. "Jadi pergi tidak?" tanya Deo sambil berdecak kesal. Pasalnya sudah sejak setengah jam yang lalu kedua orang tersebut sibuk dengan dunianya yang tidak jelas itu. Aurel dan Jevin mengangguk kompak. Aurel segera berjalan mengekori Deo yang sudah terlebih dahulu berjalan menuju ke mobilnya yang berada di lantai terbawah apartemennya. Sesampainya mereka di dalam mobil Deo, ketiganya langsung mengambil tempatnya masing-masing. Deo duduk di belakang kemudi dan Aurel duduk di sebelahnya dengan Jevin yang berada di pangkuannya. Deo menatap Jevin yang masih sibuk dengan celotehan anehnya di atas pangkuan Aurel. Tangannya dengan perlahan mengelus lembut rambut bocah kecil itu. "Jevin, kau duduk di belakang saja, ya?" bujuknya kemudian. "No! Jevin mau sama aunty," tolak Jevin sembari mengalungkan kedua tangan mungilnya di leher Aurel dan menenggelamkan kepalanya diantara leher dan bahu gadis itu. Aurel menoleh ke arah Deo seraya mengelus punggung Jevin. "Tidak apa-apa, Kak." Deo menghela napas panjang dan menatap Aurel yang masih sibuk menenangkan Jevin. "Kau jangan terlalu memanjakannya, Aurel." "Aku tidak memanjakannya, Kak. Aku hanya bersikap sebagai seorang aunty yang baik untuk keponakanku." "Tetapi karena sikapmu itulah Jevin jadi kelewat manja. Dia sudah besar dan dia akan menjadi seorang pria nantinya," ucap Deo yang terdengar seperti sedang menyalahkan Aurel. Aurel menyipitkan matanya tak suka. Ia membuka pintu mobil Deo dan beranjak keluar dari sana, meninggalkan Deo yang tenganga di tempatnya. "Memangnya aku salah kalau aku memanjakan keponakanku sendiri. Ck! Dasar aneh," gerutu Aurel sambil membawa Jevin keluar dari parkiran apartemen untuk mencari taksi. Pergi sendiri lebih baik. Tidak ada perdebatan dan pertengkaran, pikirnya seperti itu. "Uncle mana aunty?" tanya Jevin sambil mengangkat kepalanya untuk menatap Aurel. "Kita pergi sendiri saja, Jev. Uncle-mu menyebalkan," ucapnya seraya mencium pipi Jevin. "Tapi Jevin ingin pergi dengan uncle juga," rengek Jevin. Aurel menghentikan langkahnya sejenak dan menatap Jevin dengan lekat. "Aunty atau uncle?" tanyanya memberi pilihan. "Uncleeeeeeee!!!" teriak Jevin dengan wajah sumringahnya yang langsung membuat Aurel bersungut tak suka dan menekuk wajahnya kesal karena Jevin lebih memilih Deo ketimbang dirinya. "Ayo, pergi!" Aurel menoleh ke samping kirinya dan mendapati Deo yang tengah merangkul pundaknya dengan santai sambil membawanya berjalan bersamanya. Dan ia tahu kalau seruan Jevin tadi bukan untuk menjawab pertanyaannya, melainkan karena bocah kecil itu melihat kehadiran Deo. "Kak, mau ke mana?" tanya Aurel sambil mendongak untuk menatap Deo. "Mencari taksi. Bukannya kau ingin pergi dengan taksi?" Aurel mengalihkan pandangannya dari Deo dan mendengus kesal. Tidak bisakah Deo bersikap layaknya pria-pria kebanyakan? Menahannya dan membujuknya untuk ikut satu mobil dengannya? Benar-benar menyebalkan. Deo menghentikan taksi yang lewat lantas menyuruh Aurel untuk segera masuk ke dalam. Sambil menahan rasa kesalnya, Aurel membawa dirinya dan Jevin masuk ke dalam taksi tersebut. Saat ia menoleh ke samping, betapa terkejutnya ia ketika melihat Deo yang ternyata duduk di dalam taksi tersebut bersamanya. "Lho, Kakak ngapain di sini?" Deo berniat untuk mengambil Jevin dari pangkuan Aurel, tetapi bocah kecil itu tak mau, membuat Deo mencibir kesal ke arahnya. "Ikut kalian lah. Kau dan si kecil ini kan tak mau menggunakan mobilku, ya sudah naik taksi saja," balasnya santai. Aurel menganga lebar. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat tingkah Deo yang terbilang tak masuk akal. Sesampainya mereka di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar, ketiganya bergegas untuk mencari toko mainan. Sebelumnya, Deo memang sudah berjanji kepada Jevin untuk membelikannya mobil-mobilan. Maka dari itu, tujuan mereka pergi ke pusat perbelanjaan ini yaitu, untuk membelikan Jevin mobil-mobilan sekaligus berbelanja keperluan dapur. Jevin yang tadinya berada di dalam gendongan Deo, langsung melompat turun begitu mata kecilnya melihat banyaknya mobil-mobilan yang berjejer rapi di sana. Aurel hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja lantas mengikuti langkah kecil Jevin yang berlari-lari menuju ke area lintasan mini yang di buat untuk sirkuit balap mobil-mobilan tersebut. Aurel berjongkok di samping Jevin untuk menyesuaikan tinggi badannya dengan bocah kecil itu. Ia lantas memeluk Jevin dari samping. "Kau mau mobil yang mana, sayang?" tanyanya. Jevin berteriak antusias saat melihat mobil-mobilan tersebut mulai melaju dengan kencang mengelilingi sirkuit mini tersebut. "Aunty, Jevin mau semuanya," pintanya. "Pilih salah satunya," ucap Aurel. Ia maupun Deo tak mungkin membelikan satu paket mobil-mobilan tersebut untuk Jevin. Sudah bisa dipastikan jika harganya mencapai jutaan. "Jevin mau semuanya, aunty. Mau sama jalannya juga." "Jev, aunty bilang pi..." ucapan Aurel terhenti begitu saja saat Deo menarik tangan Jevin dan mengajaknya pergi dengan tiba-tiba tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Ia segera bangkit berdiri lantas mengikuti kedua lelaki itu yang entah akan pergi ke mana. Aurel terkejut saat ia melihat Deo mengajak Jevin ke tempat di mana sirkuit mini dan mobilnya itu diletakkan dan ia tahu jika pria itu berniat untuk memenuhi permintaan Jevin dengan membelikannya sepaket mobil-mobilan tersebut. "Kau serius, Kak?" Deo tak membalas pertanyaan Aurel. Ia mengambil kotak besar tersebut lantas memberikannya kepada Jevin, membuat bocah kecil itu berteriak kesenangan. Jujur saja, ia bersikap seperti itu hanya karena ingin membalas perbuatan Aurel yang dengan seenaknya meninggalkannya begitu saja saat mereka ingin pergi tadi. Deo menggandeng tangan kecil Jevin dan membawanya menuju ke meja kasir. "Ayo, kita bayar." Aurel menghela napas panjang dan kembali mengekori kedua lelaki itu. Ia sangat kesal saat dirinya diabaikan oleh Deo. Dengan perasaan kesal yang membuatnya dongkol setengah mati, Aurel berhenti mengikuti Deo dan berjalan menuju pintu keluar toko mainan tersebut lantas pergi ke toko yang menyediakan keperluan dapur. Biar saja dia pergi sendiri. Toh, keberadaannya juga tak dianggap saat bersama Deo. Sesampainya Aurel di toko yang menyediakan keperluan dapur, ia langsung mengambil keranjang belanja dan mulai memilih-milih keperluan dapur yang akan dibelinya. Selang beberapa saat, telinganya mulai menangkap beberapa suara percakapan yang terdengar pelan. Namun, ia tak peduli dan tetap melanjutkan kegiatannya. "Aunty marah uncle." "Biar saja. Biar badannya semakin kecil." Aurel menghentikan langkahnya ketika ia mulai terganggu dengan suara-suara tersebut. Ia segera memutar tubuhnya ke belakang dan pandangannya langsung bertemu dengan Deo yang sedang menggenggam kantung plastik besar di tangannya dengan Jevin yang berada di gendongannya seraya memamerkan senyum tanpa dosanya yang membuat Aurel semakin kesal melihatnya. Tanpa memedulikan kedua lelaki itu, Aurel kembali melanjutkan langkahnya. "Beli ini supaya tubuhmu sedikit berisi," Deo memasukkan sekaleng s**u ke dalam keranjang belanja yang dibawa Aurel dengan seenaknya. Aurel menatap sengit ke arah Deo. "Memangnya aku kurus?" ketusnya. "Kurus seperti lidi," jawab Deo santai. Aurel melotot tajam ke arah Deo yang hanya dibalas dengan cengiran lebar oleh pria itu. Ia mendengus kesal lantas kembali melanjutkan kegiatannya memilih bahan-bahan dapur yang telah habis tanpa berniat untuk meladeni tingkah Deo lebih lanjut. Setelah berada di pusat perbelanjaan selama berjam-jam lamanya, Deo dan Aurel akhirnya sudah kembali berada di apartemennya setelah mereka mengantar Jevin ke rumah ibu Aurel terlebih dahulu yang berujung dengan omelan wanita paruh baya itu karena Deo membelikan bocah kecil itu mainan dengan harga yang cukup fantastis. Apalagi Gavin, adik Jevin yang baru berumur dua tahun itu menangis minta dibelikan mainan seperti kakaknya. Semakin ribut saja jadinya. Aurel yang melihat Deo diomeli oleh ibunya hanya terkikik geli dan tak henti-hentinya memberikan tatapan mengejeknya ke arah pria itu. "Kau masih marah denganku?" tanya Deo seraya mengambil duduk di kursi yang terdapat di ruang makan sembari melepas kausnya. Aurel tak memedulikannya dan tetap sibuk menyusun bahan-bahan dapur yang baru saja dibelinya. Deo memerhatikan gerakan Aurel yang sibuk dengan dapurnya. Untungnya antara dapur dan ruang makan tak ada sekat yang memisahkan, sehingga mudah baginya untuk melihat apa yang sedang dilakukan gadis itu. Deo membawa kausnya lantas berjalan mendekat ke arah Aurel. Dengan gerakan pelan, ia menutup kepala Aurel dengan kausnya dan menahannya dengan kedua tangannya agar tak terlepas. Aurel meronta-ronta tak jelas karena wajahnya tertutup oleh kaus Deo yang mengakibatkan matanya tak bisa melihat yang malah menimbulkan tawa keras yang keluar dari bibir Deo. Deo menarik kausnya dari kepala Aurel lantas membawa gadis itu ke dalam pelukannya. "Makanya jangan terus mendiamkanku," kekehnya. Aurel mendengus kesal lantas memukul kuat pundak Deo. "Dasar jahil!" Deo kembali terkekeh seraya melepas pelukannya. "Kalau sudah sore, bangunkan aku ya, Unyil," ia mengacak rambut Aurel lantas berlalu ke kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang memang sangat memerlukan istirahat setelah hampir seminggu ini ia disibukkan dengan pekerjaan Dean yang dilimpahkan kepadanya. Masih ada waktu beberapa jam lagi sebelum hari libur yang singkat ini habis. ***** Deo menguap lebar seraya mencoba untuk membuka matanya yang terasa berat karena rasa kantuk yang masih setia menemaninya. Ia ingin mengubah posisi tidurnya, tetapi tatapannya malah berhenti pada satu objek yang tengah berdiri di depan lemari baju besar yang ada di kamarnya. Mata Deo sontak membulat dan rasa kantuknya hilang begitu saja ketika ia melihat tubuh Aurel yang hanya dibalut dengan celana dalam dengan posisi membelakanginya. Sialnya, matanya seolah terpaku pada gadis itu sehingga membuatnya enggan untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain. Matanya semakin terpaku lekat ke arah gadis itu ketika ia tak berhasil mengaitkan branya dan terus mengulanginya beberapa kali, tetapi masih saja gagal. Yang paling membuat Deo geram, sesuatu dalam dirinya ikut merespon atas apa yang ia lihat saat ini. Sebelum sesuatu itu semakin berontak di dalam tubuhnya, ia segera turun dari ranjangnya lantas mendekat ke arah Aurel untuk mengaitkan bra milik gadis itu tanpa mengatakan apa pun. Setelah itu, ia bergegas pergi ke kamar mandi untuk menenangkan sesuatu dalam dirinya. Aurel menatap heran ke arah Deo yang langsung masuk ke kamar mandi setelah membantunya mengaitkan branya. Padahal ia belum sempat mengucapkan terima kasih karena pria itu telah membantunya yang tengah kesusahan. Aurel kemudian melanjutkan kegiatan memakai bajunya dengan cuek. Jujur saja, ia tak pernah takut jika Deo melihatnya dalam keadaan telanjang sekalipun. Ia sangat tahu seperti apa pria itu. Maka dari itu, ia santai saja saat memakai baju di dalam kamar, bukan di kamar mandi. Tetapi, Aurel tak pernah tahu jika ada yang berbeda dengan Deo semenjak ia mengalami perubahan bentuk tubuh yang entah bagaimana bisa selalu berhasil membuat sesuatu dalam diri Deo bereaksi dengan sendirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD