Bab 4

1659 Words
Setelah Deo berhasil menenangkan sesuatu yang mengusik tubuhnya, ia bergegas keluar kamar untuk mencari Aurel. Ia ingin mengingatkan kepada gadis itu untuk tak lagi memakai atau mengganti baju di dalam kamar karena efeknya sungguh luar biasa terhadap dirinya. Sungguh, Deo merasa aneh kali ini. Ia tak pernah terpancing dengan seorang perempuan sekalipun mereka telanjang bulat di hadapannya. Ia sudah pernah membuktikannya, tetapi entah kenapa, terasa berbeda saat melihat Aurel yang bahkan belum sepenuhnya telanjang. Atau... mungkin saja ia sudah berubah menjadi pria normal. Dengan cepat ia segera menggeleng-gelengkan kepalanya, menepis pikiran-pikiran aneh yang menghinggapi otaknya. Tidak mungkin secepat itu. Ia sangat mencintai kekasihnya dan ia sangat mencintai dirinya yang terlahir sebagai penyuka sesama jenis. Deo menjatuhkan tubuhnya di atas sofa tepat di samping Aurel yang tengah menonton kartun kesukaannya yang selalu tayang setiap sore. Deo menarik-narik rambut Aurel, membuat gadis itu menoleh malas ke arahnya. "Apa sih, Kak?" Deo menyengir lebar. "Aku hanya ingin memberitahumu saja, lain kali kalau kau ingin memakai baju atau mengganti bajumu, tolong lakukan di kamar mandi ya, Unyil." "Kenapa? Biasanya juga aku selalu memakai atau mengganti bajuku di kamar, bukan di kamar mandi. Lagi pula aku malas memakai atau mengganti baju di kamar mandi, Kak, yang ada celanaku nantinya akan basah." "Kau sudah besar. Kau bukan anak-anak dengan d**a rata dan b****g rata seperti dulu lagi. Lihat bentuk tubuhmu itu, walaupun tubuhmu mungil, d**a dan bokongmu itu berisi." Aurel mengernyit heran lantas menutupi dadanya dengan bantal sofa. "Kenapa jadi membicarakan d**a dan bokongku?" Deo memutar kedua bola matanya. "Bukan membicarakan d**a dan bokongmu. Itu hanya sebuah kalimat pengantar agar kau tak lagi memakai baju di dalam kamar." "Kak, please... jangan membicarakan sesuatu yang berkelit dengan gadis berusia tujuh belas tahun sepertiku. Otakku belum mampu mencernanya dengan baik." Deo menaikkan satu alisnya dan terkekeh pelan. "Yang jelas mulai detik ini, kau harus memakai pakaianmu di kamar mandi, mengerti?" "Okey." "Bagus," Deo mengacak rambut Aurel dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya. "Ambilkan minum sana, aku haus," suruh Deo dengan seenaknya. Aurel mengerucutkan bibirnya, tetapi ia tetap menuruti apa yang Deo suruh. Ia segera beranjak ke dapur untuk mengambilkan apa yang pria itu minta. "Kak! Kenapa diganti?" pekik Aurel tak senang ketika ia sudah kembali dari dapur dengan dua gelas minuman rasa jeruk dan mendapati acara kesukaannya yang sudah berpindah ke acara lain. Ia memberengut sebal seraya kembali duduk di tempatnya semula. "Kau sudah tujuh belas tahun dan masih saja menonton kartun yang ditunjukkan untuk anak berusia lima tahun," jawab Deo santai sambil mengambil gelas berisi minuman jeruk miliknya lantas meneguk isinya dengan santai pula. "Tetapi aku suka. Si kembar yang ada di kartun itu mengingatkanku pada Kakak dan Kak Dean," balasnya seraya mengambil remot tv dari tangan Deo dan segera mengembalikannya ke acara kartun kesukaannya. "Hey! Kami berdua memiliki rambut." "Yang penting mereka kembar. Sama seperti Kakak dan Kak Dean," ucap Aurel tak mau kalah. "Dasar anak kecil," cibir Deo. Aurel mendelik sebal ke arah Deo. "Biar saja. Yang penting aku sudah punya d**a dan bokong." "Percuma kalau punya d**a dan b****g, tetapi sampai sekarang masih tidak laku-laku." "Aku tidak menjual d**a dan bokongku." Deo mendesah lelah. "Dasar anak tujuh belas tahun yang isi otaknya hanya sedikit." "Menyebalkan!" Aurel membanting remot tv dengan kesal seraya beranjak pergi meninggalkan Deo. Deo mengelus dadanya, mencoba untuk bersabar menghadapi tingkah Aurel. "Sabar, Deo, dia masih labil," gumamnya seraya mematikan tv dan bergegas untuk menyusul Aurel. Deo membuka pintu kamarnya dan mendapati Aurel yang bersembunyi di balik selimutnya. Gadis itu selalu seperti itu jika sedang kesal ataupun marah. Deo menghampiri Aurel. Ia mengambil posisi berbaring di samping gadis itu. "Kiss on cheek or kiss on forehead?" ia menirukan gaya Aurel ketika gadis itu membujuknya, dan hal tersebut berhasil membuat Aurel membuka selimutnya sehingga menampakkan wajahnya. "Bagaimana kalau ciuman di bibir." Deo memutar kedua bola matanya lantas mencium pipi dan kening Aurel secara bergantian. Ia kembali menatap gadis itu. "Tidak ada ciuman di bibir." "Tetapi aku ingin merasakannya. Kata temanku ciuman di bibir itu begitu memabukkan." "Temanmu itu gadis bebas, jangan mengikuti apa yang dikatakannya." "Aku juga gadis bebas. Aku belum menikah." Deo menghela napas panjang. Susah sekali rasanya menjelaskan hal yang begitu mudah kepada gadis polos dengan rasa ingin tahu yang besar seperti Aurel. "Dia berbeda, Aurel. Dia liar." "Tapi..." Aurel segera menghentikan kalimatnya ketika mendengar Deo menggeram pelan. "Aku bilang jangan ikuti dia, Aurel. Kau harus menjaga bibirmu untuk suamimu kelak." "O... okey." jawab Aurel sedikit tergagap. Deo kembali menghela napas panjang. Ia mengelus rambut Aurel dengan penuh kelembutan. "Sudahlah, lain kali jangan mendebatku lagi. Kau bisa membuat wajahku terlihat beberapa tahun lebih tua." Aurel terkikik pelan. "Kau kan memang sudah tua, Kak." "Tetapi aku tetap tampan," sahut Deo. "Lebih tampan Kak Dean kalau menurutku," ejek Aurel sambil menjulurkan lidahnya. "Hey! Wajahnya itu tidak asli. Dia operasi plastik," sungut Deo tak suka yang hanya dibalas dengan kekehan kecil oleh Aurel. Keduanya terdiam begitu telinga mereka menangkap suara bel yang tengah berbunyi. Deo menatap Aurel dan menyuruh gadis itu untuk membukakan pintu apartemennya. Aurel mencebik kesal. "Aku sudah seperti seorang pembantu saja," gerutunya seraya beranjak dari kamar untuk melihat siapa gerangan yang memencet bel. Dan perkataannya barusan membuat Deo mengeluarkan tawanya. "Cari siapa?" tanya Aurel dengan enggan ketika pintu apartemennya sudah terbuka dan ia menemukan seorang pria di sana. "Tentu saja mencari kekasihku," jawab pria yang tak lain tak bukan adalah Jordan, kekasih Deo. Pria itu langsung menerobos masuk sebelum Aurel menyuruhnya. Dan ia tetap masuk ke dalam tanpa memedulikan teriakan Aurel. "Hey! Dasar tamu tidak sopan!" Aurel menutup pintu apartemennya dan segera menyusul Jordan yang dengan seenaknya masuk ke dalam kamarnya. Aurel memberengut sebal saat melihat dua orang pria dengan perawakan yang begitu macho, sedang berpelukan dengan mesranya. Sungguh, Aurel ingin memuntahkan isi perutnya saat itu juga. Tidak bisakah salah satu dari mereka menjadi pacarnya saja ketimbang harus menjadi seorang gay? Itu sangat menggelikan. Rasanya sayang sekali mereka mempunyai wajah tampan dan tubuh tegap seperti itu jika pada akhirnya mereka menyukai seseorang dengan wajah tampan dan tubuh tegap juga. Aurel melangkah mundur. Ia memutuskan untuk kembali menonton saja. Ia mendesah pelan ketika ia sadar jika mimpi buruk itu kembali hadir. Ia tak pernah suka dengan kehadiran Jordan. Pria itu selalu berhasil merebut perhatian Deo dan pria itu adalah mimpi buruknya.   ****   Aurel tak henti-hentinya menggerutu kesal. Jordan memang selalu bisa membuatnya emosi. Dengan seenak jidatnya dia menyuruhnya untuk memasak dan membersihkan bekas makanannya sementara dia sendiri enak-enakkan menggoda Deo. Aurel mengeringkan tangannya setelah semua piring bekas makan malam mereka telah dicucinya. Ia melangkah menuju ke kamarnya untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Namun, ketika ia bersiap untuk masuk ke dalam kamarnya, ia malah mendapati sebuah adegan Deo dan Jordan yang sedang berciuman. Menjijikkan sekali. Ini tidak boleh terjadi. Ia tak ingin ikut terkena azab karena dua orang pria tersebut berzina di tempat yang juga ditinggalinya. Bagaimanapun caranya ia harus menghentikan aksi dua sejoli itu. Aurel bergegas pergi ke dapur dan mengambil satu gelas kaca. Setelah itu, ia kembali ke depan kamar dan menjatuhkan gelas tersebut dengan sengaja sehingga menimbulkan suara dentingan yang cukup keras. Ia segera mengambil posisi duduk di sebelah pecahan kaca-kaca tersebut. Ia mulai memasang wajah terkejutnya dan mencoba untuk terlihat menyedihkan agar semua yang sudah dilakukannya tak berujung sia-sia. "Astaga! Apa yang terjadi?" Deo berjongkok di samping Aurel dan segera menangkup wajah gadis itu dengan panik. "Aku jatuh, Kak," balas Aurel dengan nada suara yang sengaja ia buat sesedih mungkin. Deo segera memeriksa tubuh Aurel dengan cemas. "Kau baik-baik saja, kan? Tidak ada pecahan kaca yang melukaimu, kan?" Aurel menggelengkan kepalanya. Sementara itu, Jordan yang berdiri tak jauh dari mereka hanya memutar malas kedua bola matanya. Ia tahu betapa liciknya otak gadis kecil itu. Ia tahu semua itu hanyalah pura-pura. Deo menggendong Aurel seperti seorang bayi; dengan kedua kaki yang melingkari pinggangnya dan kepala gadis itu yang bersandar di bahunya. Aurel menjulurkan lidahnya saat ia melewati Jordan. Ia merasa menang kali ini. Lihat saja nanti, ia tak akan membiarkan Jordan memengaruhi Deo. "Kau tidur saja. Sudah malam," ucap Deo seraya membaringkan Aurel di atas ranjang. "Kakak tidak tidur?" "Aku masih ada urusan." "Tetapi aku tak bisa tidur sendirian. Kau tahu itu, Kak," rengek Aurel manja. Deo menghela napas panjang lantas menoleh ke arah Jordan yang tengah memerhatikan mereka sambil bersandar pada dinding yang berada di samping pintu kamar. "Kau tidak apa-apa kan kalau malam ini tidur di sofa?" Jordan mengedikkan bahunya lantas berjalan mendekat ke arah ranjang. "Ranjang ini muat untuk tiga orang," ucapnya seraya berbaring di sebelah Aurel. Aurel membulatkan matanya tak suka. "Memangnya siapa yang mau tidur satu ranjang dengamu!" teriaknya sambil mendorong Jordan, tetapi tak berpengaruh apa pun mengingat tubuh pria itu yang lebih besar darinya. "Pelit sekali. Geser ke sana sedikit supaya Deo bisa tidur di sampingku." "Aku ingin tidur di samping Kak Deo." "Ya sudah, geser ke sana sedikit. Deo di tengah kalau begitu." "Aku tidak mau di pinggir. Bagaimana kalau aku jatuh?" Deo memijit pelan pelipisnya. Kepalanya terasa pusing saat mendengarkan perdebatan kedua orang itu yang tak ada habisnya. Ia menghela napas panjang dan segera berbaring di samping Aurel. Keduanya terdiam begitu melihat Deo yang berbaring di samping Aurel. Senyum kemenangan pun muncul di bibir Aurel. Gadis itu kembali menjulurkan lidahnya ke arah Jordan dan berbalik menghadap ke arah Deo, membuat Jordan mencibir kesal ke arahnya. "Hey! Jangan memelukku!" teriak Aurel saat ia merasakan Jordan yang tengah memeluk perutnya. "Kau berisik sekali! Kalau tidak mau di peluk, kau bisa bertukar posisi dengan Deo. Aku tidak bisa tidur tanpa memeluk apa pun." "Cukup!" teriak Deo yang berhasil membuat keduanya terdiam. "Aku pusing mendengar kalian terus berdebat. Aku tidur di ruang kerjaku saja dan jangan ada satu pun diantara kalian yang menyusulku," lanjutnya tak terbantahkan dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua. "Lebih baik aku tidur di sofa saja," ujar Aurel sesaat setelah Deo keluar dari kamarnya. Ia segera bangkit dari tidurnya seraya mengambil bantal dan selimutnya kemudian membawanya ke sofa panjang yang terletak di dekat jendela kamar. "Ya sudah sana!" balas Jordan tak peduli.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD