Di perjalanan, sesuatu tiba-tiba terus mengganjal dalam benakku. Apa bibi juga bernasib sama dengan ayah. Apa ada orang yang benar-benar ingin mencelakakan keluarga kami? Aku tidak habis pikir. Aku akan menghubungi polisi yang kutemui tempo hari di alun-alun kota Malang. Kekhawatiranku semakin menjadi-jadi. Aku takut Ando dan kakek akan terkena juga. Aku akan meyakinkan dia untuk tidak tinggal sendiri di vila. Agar dia lebih yakin, aku akan menceritakan segalanya, tidak ada yang perlu disembunyikan lagi. Ini demi kebaikannya juga.
“Ayah.”
Pikiranku teralihkan. Ando, aku tidak percaya, dia berkaya ayah barusan. Ternyat, dia menemukan foto ayah yang kusimpan di dalam laci dashboard mobil. Aku tidak bisa menatapnya dan berkata apa-apa sekarang. Aku menahan air mata yang bisa tumpah kapan saja.
Tiba di vila. Aku mengetuk pintu, keras sekali. Sudah hampir tiga jam kami menunggu di teras. Tetapi, kakek belum juga membuka pintu. Kupikir, kakek sedang tertidur, tetapi Feelingku mengatakan sesuatu. Kakek sedang tidak dalam keadaan yang ‘baik-baik saja’.
Sontak Kudobrak pintu.
BRAK.
Pintu terbuka, Ando berteriak ketakutan. Bukan karena suara pintu yang begitu keras. Tetapi, tubuh kakek yang berlumuran darah tergeletak di dalam dengan sadisnya. Aku berlari, langkahku diiringi air mata yang jatuh. Kupeluk tubuh lelaki tua renta itu. Aku berteriak. Meraung-raung, menangis-nangis.
Kupegang denyut nadinya. Sudah tidak berdenyut. Tubuhnya dingin. Dia sudah tidak bernyawa lagi. Kupegang perutnya, ada bekas tusukan disana. Ini pembunuhan. Siapa lagi orang yang tega melakukannya? Emosiku menyeruak. Ini pasti ulah diantara kedua bibiku yang tersisa. Dan tuduhan terbesar, bibi Sini. Bukan dia, anaknya Roy. Tetapi, dia pasti melakukan kerjasama. Supaya Roy memperoleh harta. Hipotesis sementara. Apalagi, Roy sudah tidak pernah memperlihatkan batang hidungnya akhir-akhir ini.
Kutelepon polisi dengan sigap. Juga ambulance. Setelah itu, aku sendiri hanya menenangkan Ando yang sedari tadi meraung-raung tidak karuan.
Aku menatap kacamata dan pulpen di meja. Di bawah kedua benda itu, terdapat secarik kertas yang tertindis dengan rapi. Mungkin, itu merupakan hal terakhir yang dilakukan kakek. Kuambil kertas itu perlahan kubuka dan k****a isinya.
Ando.
Ketika kamu membaca surat ini, itu berarti aku sudah menghembuskan napas terakhir. Napas yang terhembus bersama dengan penyesalan-penyesalan. Kamu pasti memiliki berbagai macam pertanyaan, salah satunya, mengapa aku tidak tinggal di rumah megah itu? Semuanya, karena memperoleh rumah itu membutuhkan perjuangan. Bukan perjuangan tentang seseorang yang berhasil dari jerih payahnya bekerja dan mendapatkan uang. Dimulai dari nol. Tetapi, perjuangan yang kulakukan adalah suatu perjuangan untuk membunuh seseorang. Orang tua dari ibumu. Aku membunuhnya dengan tanganku dan menyogok polisi untuk diam dan menganggap semuanya hanyalah bunuh diri. Ayah dan ibumu kemudian dinikahkan. Pada saat itu, sepuluh hari setelah kematdian orang tua ibumu. Kakek dan orang tua ibumu memang adalah rekan bisnis yang baik. Tetapi, perusaahanku bangkrut. Dan aku kemudian mendapatkan harta itu dengan cara yang k**i. Asal kamu tahu, setelah itu aku bahkan tidak mendapatkan kebahagiaan apa pun. Anak-anakku mulai mencintai harta dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Teror setiap malam kurasakan di rumah tua itu. Bahkan, sehari setelah kamu membaca surat ini. Saat itu, anak-anakku menganggapku GILA. Aku betul-betul menjadi Gila ketika mereka mulai berembuk untuk membawaku ke rumah sakit jiwa.
Satu hal yang perlu kau ketahui, Andi. Setelah hari itu, kakekmu ini merasakan kepahitan hidup yang luar biasa. Diiringi dengan penyesalan dan rasa bersalah.
Dan satu lagi pesanku : pergilah dari rumah mengerikan itu dan mulailah hidup baru! Awalnya ayahmu, kedua bibimu, kini kakek dan bisa saja besok adalah dirimu. Bahkan Ando.
Aku menutup suratnya. Menelan ludah. Kutatap Ando sekali lagi. Dia mulai menenangkan diri. Setelah itu, ambulance juga polisi datang hampir bersamaan.
RRR
Kembali lagi ke pemakaman. Ditemani hujan yang jatuh perlahan, membasahi bunga-bunga di atas batu nisan kakek. Bibi-bibiku, telah pulang lebih dulu. Mereka hanya mengira bahwa kakek mati begitu saja di rumah sakit jiwa. Meskipun aku memberitahukan polisi untuk melakukan penyelidikan tertutup terhadap kakek dan juga tidak memberitahukan kematian kakek kepada bibi dengan alasan mereka akan larut dalam kesedihan. Namun aku merasa kecewa, setidaknya, sebagai anak, bibi-bibiku juga harus ikut mencari tahu. Apa mereka hanya sekedar percaya bahwa kakek mati tiba-tiba begitu saja.
Aku gila. Semua masalah datang secara perlahan membungkam kehidupanku dan kemudian berhenti. Aku tidak tahu, apa yang akan kulakukan setelah ini. Masa depanku hancur. Bahkan, tidak tahu bagaimana cahaya masa depan akan menghampiri. Aku seolah lupa bagaimana caranya bahagia.
Bayang-bayang rumah membuatku depresi. Bertanya-tanya siapa dalang dibalik ini semua.
Maka aku berubah, seketika itu juga. Semenjak kepergian kakek dan pelakunya tidak dapat diungkap karena telah menyewa tim intelijen khusus untuk membunuhnya. Sidik jari, langkah, aroma semuanya dimanipulasi. Bukan hanya kakek, ayahpun begitu, meskipun polisi yakin bahwa ayah dibunuh secara sengaja namun tidak ada bukti lanjut yang menguatkan hal itu, hanya sebatas serbuk besi. Polisi tidak dapat melakukan penyelidikan lebih lanjut. Karena waktu penyelidikannya sudah sangat lama namun belum menemukan satu pun barang bukti untuk dapat mengungkap sang pelaku.
Aku menjadi seorang penjahat dan aku mengakuinya. Aku bukan lagi seorang kutu buku yang setiap guru bertanya aku akan mengangkat tangan. Aku bahkan memasang earphone di telinga setiap guru menjelaskan. Prestasiku menurun drastis. Lebih buruknya lagi, setiap malam aku menghabiskan waktu di Bar. Hanya saja, aku menganggap semua ini sebagai jalan yang benar sebab aku hanya merugikan diriku sendiri. Terkecuali mengusir seluruh bibiku dan anak-anaknya dari rumah, selain bibi Nuri. Dia harus mengurus Ando ketika aku sekolah atau kerja. Tidak baik memilih orang lain bila masih ada keluarga yang sedikit dipercaya. Lagipun, kalau bukan bibi Nuri aku tidak akan bersekolah disini lagi. Namun, betapa baiknya dia yang masih peduli denganku dan aku memang percaya bahwa pendidikan itu penting. Aku tidak bisa menatap dan berkata apa-apa pada
Hari ini kelas sepi, tidak ada guru. Aku hanya duduk di tempat sambil membaca novel. Meskipun sudah menjadi penjahat, hobiku untuk membaca belum berubah. Hanya novel, bukan buku pelajaran. Entah kalau besok atau lusa.
Beberapa hari yang lalu, aku sudah melepas kacamataku. Setelah operasi yang kujalani selama beberapa tahap. Aku menanamkan lensa Implantasi Phakic IOL yaitu lensa kecil dari bahan polimetil metakrilat (Pmma). Ditanam di antara kornea dan iris mata. Lensa Phakic IOL telah menjalani uji coba lama. Dan sudah disetujui FDA, badan pengawas obat dan makanan Amerika. Ini lebih baik. Penggunaan Kacamata hanya merusak penampilanku ketika di Bar. Buruk sekali.
Ketika kubuka halaman 96 dari novel itu, tiba-tiba ada yang menarik novel itu dan membuangnya. Aku berbalik ke belakang. Sudah kuduga, Bram. Laki-laki b******k itu. Orang yang dulu selalu memalakku.
“APA MAUMU HAH?” Teriakku.
Bram b******k itu malah bertepuk tangan. “Sudah berani melawan kamu ha? Jangan pikir karena sudah melepas kacamata kamu tidak terlihat seperti anak cupu. Tetap sama saja.”
Emosiku sudah tidak tertahankan lagi.
BUGK.
Kuayunkan tinjuku tepat di wajahnya. Bram memegang sela bibirnya yang perlahan merasa kesakitan.
BUGK.