“Kek, se-sebenarnya aku ingin menyampaikan hal yang penting. Bi…bibi.” Kataku buru-buru.
Kakek dengan santainya meneguk cokelat panas. “Kakek sudah tahu…”
“Maksudnya… ini tentang bibi Kek. Dia meninggal.”
“Ya. Kakek sudah tahu. Semuanya akan terjadi. Mereka akan makan-memakan satu sama lain, karena ketamakan mereka. Hanya saja, kakek belum tahu siapa diantara mereka yang melakukan semua ini. Banyak yang tamak akan harta. Tetapi, hanya sedikit yang rela melakukan hal sekeji ini. Membunuh, mengorbankan nyawa dan tidak takut dipenjara. Sekarang, hanya tersisa Peti, Sini dan Keti yang kini ada di luar negeri. Satu hal yang perlu kau ketahui Andi. Berhati-hatilah, bisa saja kau setelah ini. kakek, bibimu Nuri atau bahkan Ando.”
Kakek meneguk cokelat lagi. “Kamu tidak meminum coklat? Kita akan berangkat setelah pemakamannya selesai.”
Aku menganggukkan kepala perlahan setelah mencerna apa yang kakek katakan. Kata-kata yang mampu membangkitkan semangatku untuk terus hidup, demi keluarga, demi Ando.
Aku menaruh gelas, tegukan terakhir. “Baiklah Kek. Aku akan mempertahankan keutuhan keluarga kita.”
“Bu-bukan. Bukan itu maksudku Andi. Hanya saja, kamu perlu menyelamatkan dirimu dan Ando. Kemudian pergi melarikan diri dari rumah itu.”
“Tetapi, rumah itu sudah menjadi saksi bisu perjuangan kakek dalam hidup. Aku tidak akan mungkin melepaskannya kan?” kataku meyakinkan.
“Kamu belum mengetahui banyak hal tentang rumah itu Andi. Banyak penderitaan di dalamnya.” Kakek tersenyum.
Ada satu hal yang membuatku curiga dan takjub pada kakek. Dia tidak kaget sama sekali ketika mengetahui kedua putrinya meninggalkannya lebih dulu. Yang ada hanya raut wajah yang selalu tersenyum, menyeruput cokelat hangat berkali-kali. Dia seperti anak-anak yang berada di Playgroup. Bahagia akan apa yang ada saat ini dan bersedih sebentar saja ketika suatu barangnya menghilang.
“Kek, maaf, aku tidak bisa membawa Ando karena terburu-buru,” kataku lagi.
“Hahahaha… anak yang lucu itu membuatku ingin hidup lebih lama. Kapan kau akan mengajaknya kesini lagi?”
“Kapan pun kakek mau.”
“Hahahaha… kalau begitu kakek ingin setiap saat.” Aku dan kakek tertawa bersama.
Waktu kemudian menunjukkan pukul dua siang. Pemakamannya sudah selesai. Aku dan kakek langsung menuju ke pemakaman.
Di perjalanan, kakek tidak banyak bicara, dia hanya diam. Memikirkan sesuatu. Apa dia bersedih karena putrinya telah pergi atau dia memikirkan sesuatu yang lain.
Kami pun tiba di pemakaman. Suasananya mengingatkanku pada ayah. Kuperhatikan jelas kuburannya, tanahnya masih basah, bunga-bunganya masih segar. Di sebelahnya, ada makam ibu, kuburannya sudah diperbaiki, sangat indah, dengan warna coklat tua dan mudanya. Akan tetapi, aku harus sadar, bahwa keyakinanku untuk selalu tegar adalah pilihan jalan hidupku dan ayah pernah menjadi bagian hidupku yang paling indah.
Kenangan masa kecilku. Aku jadi teringat akan sebuah tempat di taman kota. Setiap Sabtu sore, aku, Ando, ayah dan ibu akan berkunjung disana. Memakan muffin kesukaanku. Ibu juga akan menghamparkan tikar, mengambil bahan makanan. Kami kemudian berpiknik. Bayangan indah itu. Kuhirup udara segar. Mencoba mengingat-ingatnya lagi.
Akan kuputuskan untuk pergi ke tempat itu lagi. Besok hari. Bernostalgia. Kembali memupuk harapan-harapan yang tersisa. Tanpa sadar, aku sudah menjadi anak yatim piatu. Ingin sekali rasanya melihat ayah bangga akan keberhasilanku. Melihat ibu menimang cucu. Tetapi, apalah daya. Takdir berkata lain. Merenggut harapan-harapan itu dengan beringas.
Kakek menaburkan bunga-bunga. Kemudian berkata ingin pulang lebih cepat. Aku menurut. Kuperhatikan kakek dari belakang. Aku belum bisa membaca pikirannya dengan jelas. Apakah sebenarnya arti hidup bagi dirinya? Jika orang ‘baru’ bertemu dengannya, mereka bisa saja langsung menyimpulkan bahwa kakek adalah orang yang ingin kembali menjadi pengecap gulali.
Sigap kakek melangkah. Dia ingin buru-buru pulang dan menyeruput cokelat hangat di rumahnya yang mungil itu. Vila keluarga. Berwarna putih, minimalis dengan udara segar akibat kebun teh yang terhampar luas.
Kami menuju ke vila. Aku singgah ke minimarket membeli kebutuhan kakek. Aku menawarkan seorang tukang kebun menemaninya untuk mempermudah hidup. Namun, dia menolak katanya lebih baik hidup sendiri.
Sekejap, kami tiba di vila. Akibat terbiasa hingga tidak membutuhkan waktu lama.
Dari lubuk hati yang paling dalam, ingin rasanya kubawa kakek menuju ke rumah. Namun, sikapnya menunjukkan bahwa dia tidak akan pergi ke tempat yang bahkan tidak bisa dimengerti olehnya, tempat yang meninggalkan pertanyaan sama setiap hari sepanjang tahun selama dia tinggal disana. Mengapa anak-anaknya tamak akan harta?
Aku menurunkan barang-barang. Kakek menyeruak cepat masuk ke dalam vila. Tercium khas bau cokelat panas yang dibuatnya.
Aku menyalami kakek. Dengan tujuan hendak pergi.
“Andi. Datanglah kesini besok. Kakek ingin menunjukkan sesuatu. Sesuatu yang hanya akan kau lihat sekali dalam sehari itu. Sesuatu yang akan mengubah hidupmu. Kau harus memulai hidup baru, Andi. Hidup yang dapat mengubahmu dalam status kita di keluarga ini.” Kakek langsung memelukku erat. Tulang dadaku terisak.
Kemudian aku memasuki pintu gerbang rumah. Banyak mobil polisi yang terparkir. Semuanya mungkin mencari keterangan yang jelas mengenai kecelakaan bibiku.
Tiba di ruang tamu utama.
“Ada apa ini?” Tanyaku pada bibi Nuri.
Senyap sesaat.
“Anda tuan Andi Aharaon?” Kata seorang polisi berbadan tinggi besar.
“Ya, ini dengan saya sendiri.”
“Bisa ikut kami ke kantor?”
“Mohon maaf pak, saya lelah hari ini. Saya akan datang besok pagi.”
“Tapi…” Kening polisi mengerut.
Bibi Peti memotong pembicaraan. “Biarkan saja pak. Dia sudah sangat kelelahan.” Polisi kemudian pergi.
Seperti terdengar ada kerja sama antara pak polisi dan bibi Peti. Apa jangan-jangan dia menuduhku membunuh bibi karena tidak hadir di pemakaman? Tapi ah lupakan saja. Aku sudah sangat lelah. Padahal, jam masih menunjukkan pukul 20.00 . Semuanya sebab tadi malam aku bahkan hanya tidur beberapa menit. Otakku sudah tidak dapat memikirkan hal yang lebih. Biarkanlah ini menjadi masalah besok hari.
RRR
Aku terbagun, bersiap-siap menuju ke kantor polisi. Setelah itu, aku akan membawa Ando menuju ke rumah kakek. Akhir-akhir ini, aku memang sudah sangat jarang bermain dengan Ando. Tidak seperti dulu, waktu ayah masih ada. Kami biasanya bermain sore hari, juga sebelum berangkat ke sekolah. Tetapi kini Ando hanya menghabiskan banyak waktu bersama dengan bibi Nuri. Kesibukan membuatku lupa lingkungan sekitar juga cara bersenang-senang.
Setelah bersiap-siap, aku langsung ke kantor polisi. Kubawa Ando juga. Dia nampak kegirangan, aku tersenyum, sambil kupasang sabuk pengamannya.
Kantor polisi. Aku jadi teringat dengan bapak polisi yang datang memberitahukan berita tentang kecelakaan hari itu. Tentang ada orang yang sengaja mencelakakan ayah. Tetapi, polisi yang memberitahukanku tempo hari belum memberikan konfirmasi apapun. Aku yakin mereka akan butuh waktu yang lama untuk menyelidiki semuanya.
“Apa benar anda tuan Aharon?”
Seorang polisi mewawancaraiku. Ini lebih mirip interview kerja agaknya.
Banyak pertanyaan telah kujawab. Ternyata ini hanya pengakuanku sebagai pihak korban yang tidak diketahui siapa pelakunya. Pertanyaannya lebih merujuk kemana dia? Apakah dia memang kesana? Apa yang terjadi sebelumnya. Intinya, untuk memastikan bahwa ini adalah murni kecelakaan tunggal bukan karena kesengajaan, dan untuk menyelesaikannya pihak dari korban maksudnya aku dan keluargaku harus menerima bahwa itu memang kecelakaan tunggal.
“Aku yakin ini kecelakaan tunggal Pak.”
Pak polisi tersenyum. Kami bersalaman ketika aku hendak membuka pintu mobil.
Aku akhirnya dapat berangkat ke tujuan utama. Vila di Malang.