FOTO 5 : Kebun Teh

1065 Words
“Ya, ada yang sengaja menyumbat selang minyak rem mobil yang dipakai tuan Brigit Aharon. Awalnya, kami tidak percaya bahwa itu adalah kesengajaan, karena bisa saja itu hanyalah pasir atau kotoran yang wajar masuk di dalam selang itu. Hanya saja, kami memperhatikan bahwa itu bukanlah pasir biasa. Benda yang menyumbat selang itu merupakan bubuk besi. Bukan pasir,” terang pak polisi. Aku menggaruk kepala, “Seberapa yakin anda bahwa penyebabnya adalah rem blong?” Polisi tertawa kecil, “kami sudah terlatih dalam hal seperti ini tuan! Dan orang yang memiliki kekuasaan tinggi seperti tuan Brigit Aharon bisa saja terjadi, dan kemungkinannya sangat besar.” “Aku juga berpikiran seperti itu. Kami memiliki problem keluarga dan kupikir itu bisa menjadi celah. Lanjutkan penyelidikanmu itu pak. Terima kasih atas bantuannya” “Tak perlu berterima kasih seperti itu, ayahmu, tuan Brigit sudah sangat berjasa dalam hidupku. Istriku bisa saja mati keguguran kalau dia tidak membantu kami ke rumah sakit hari itu. Ini mungkin hanya segelintir dari pembalasan jasanya.” Aku ter-enyuh. Tak kusangka dia betul-betul menjadi manusia yang murah hati dalam kekayaannya yang melimpah ruah. Aku turun dari mobil. Kembali ke rumah kakek. - Selepas membeli makan siang untuk kakek, aku melanjutkan perjalanan. Perjalanannya terasa begitu jauh. Bagaimana caranya menyampaikan kepada kakek, itu hanya akan menambah bebannya saja. Lebih baik aku menyelesaikan masalah ini sendiri. Di perjalanan, aku terus memikirkan tentang apa yang pak polisi katakan. Jika memang benar pembunuhan itu sengaja, kemungkinan besar bibikulah yang melakukannya. Tetapi, pembunuhan? Aku tidak begitu yakin bibiku melakukannya, maksudku ayah selalu memenuhi kebutuhan mereka tanpa mereka harus bersusah payah. Apa teman bisnis ayah? Akhirnya tibalah aku di vila. Ando dan kakek sudah berada di teras. Aku turun menutupi rasa gugupku. “Bagaimana? Apa yang dikatakan polisi?” kakek khawatir. “Tidak ada apa-apa Kek. Dia hanya ingin mengetahui pasti apakah aku adalah anak dari Brigit Aharon” aku tersenyum. Keringat dingin bercucuran mengalir dari pelupuk wajahku. “Oh iya, aku dan Ando pulang dulu. Siapa tau bibi akan curiga. Kami akan datang kesini besok. Aku juga akan telepon nanti,” kataku yakin. Kemudian memberi makan siang pada kakek. Setelah itu, kubawa Ando. Kami pulang Bersama-sama. Bingung bercampur kesal. Tragedi malam itu terlintas kembali dalam benakku. Setelah beberapa hari aku berusaha untuk melupakannya. Namun, aku tidak bisa mengelabui fakta bahwa kepergian ayah menjadi beban berat dalam hidupku. Sebelum tiba di rumah, aku menyempatkan diri membeli obat untuk Ando di rumah sakit. Apoteker masih mencari obatnya, aku berjalan-jalan mengelilingi rumah sakit. Melewati ruangan dimana ayah menghembuskan napas terakhir. Aku menatap pintu ruangan itu dengan jelas sebelum memutuskan pergi. Bersama derap langkah kakiku, perlahan terdengar suara biola di salah satu ruangan VIP. Suaranya kecil, tapi terdengar jelas bila kita berada di depan pintu ruangan. Rasa penasaranku tak dapat lagi kubendung. Aku hanya menunggu di depan pintu itu. Menunggu nadanya selesai. Sesekali aku mengintip ke dalam. Namun kain putih lebar menutup pasiennya. Satu hal yang membuatku ingin menunggu lama di depan ruangan VIP ini, bahkan sampai melupakan Ando di mobil sendirian. Semuanya karena nada yang dimainkan mengingatkanku pada Careline. Perempuan yang membuatku tergila-gila. Nadanya selesai. Aku masih duduk di depan ruangan. “Siapa kau?” Aku mendongak ke atas. Seorang perempuan yang wajahnya tak asing lagi menatapku. Perempuan dress merah yang kutolong tempo hari. “Kau sudah sembuh?” Kataku penuh semangat. Ada rasa bangga juga melihat orang yang ditolong selamat. “Siapa kau?” perempuan itu bertanya. “Aku yang mestinya bertanya. Siapa namamu?” “Sakura. Aku sudah menjawabnya dan kau?” Aku teringat Ando. “Mohon maaf, aku harus pulang. Senang rasanya melihatmu sembuh.” Aku pergi. Berlari tepatnya. Tiba di mobil. Membawa obat untuk Ando. Aku melanjutkan perjalanan lagi. Hingga akhirnya tiba di rumah, semua bibi sudah berkumpul di ruang keluarga. Aku menitipkan Ando kepada bibi Nuri. “Andi aku ingin bicara hal yang serius denganmu.” Bibi Nuri berkata serius. “Apa Bi?” “Kamu harus kembali bersekolah! Bukan homeschooling. Kamu harus bersekolah seperti anak lainnya” Bibi Nuri adalah orang yang sedikit mengerti akan masa depanku. “Baik Bi. Akan kucabut surat itu bila aku sudah berpikir matang,” jawabanku menerima ajakan bibi. aku meng-iyakannya bukan karena aku memang ingin. Tetapi, aku malas berdebat disaat melelahkan seperti ini. Aku kemudian naik ke kamar, menghempaskan badan di kasur dan tertidur lelap, tidak peduli dengan pakaian yang kukenakan, masih dengan kemeja, dasinya kulonggarkan sedikit. -- Alarm berbunyi, saat hari masih betul-betul pagi. Aku membuka gorden kamar, cahaya matahari baru akan nampak. Aku masih sulit mengendalikan diriku, kepalaku terasa berdenyut. Namun, aku sudah mengatakan kepada karyawan di kantor untuk mengadakan meeting hari ini. Oleh karena itu, aku bangun lebih pagi dari biasanya. Aku mengadakan meeting setelah melihat grafik penghasilan perusaahan yang menurun secara perlahan. Aku mempersiapkan diri memakai jas berwarna abu-abu. Kemudian merehatkan badan di sofa sambil meminum segelas kopi yang mungkin dapat meringankan sakit kepala. Kubuka handphoneku. Pesan mulai bertumpuk di dalamnya. Kubuka yang penting saja dan satu pesan yang membuat mataku berbinar-binar. Pesan dari Careline. Aku tahu kamu sedang ditimpa bertubi-tubi masalah. Aku hanya ingin kamu menghubungiku ketika kamu mulai bangkit dari masalahmu Begitu isi dari pesannya. Tidak menunggu lama, aku langsung menghubunginya. Hari masih pagi, dia belum ke sekolah. Tiit… tiit…tiit. Careline mengangkat telepon. “Kamu sudah baikan?” Tanya Careline di seberang sana. “Lupakan saja. Oh iya, aku minta maaf dengan kejadian malam itu di rumahmu.” “Minta Maaf? Tidak perlu. Kupikir, itu memang hal tepat yang seharusnya kau lakukan. Aku tidak dapat berkata banyak lewat telepon. Temui aku minggu depan di kafe pinggir pantai.” “Tentu saja, aku janji akan datang.” Careline kemudian menutup telepon. Aku senang alang-kepalang dalam hati. Kukatakan pada bibi Nuri bahwa aku akan tetap melanjutkan sekolah di sekolah umum minggu depan. Demi bertemu Careline. Hari ini, aku menjalankan meeting dengan baik berkat Careline. RRR Minggu yang ditunggu pun tiba. Aku memakai pakaian yang spesial. Pakaian terbaik. Kupersiapkan diriku agar tidak gugup dihadapan Careline nanti. Suit putih dan pita hitam menghiasinya. Tiba di tempat yang dituju. Mataku mencari-cari dimana Careline berada. Aku sesekali meneleponnya. Tapi, hasilnya sia-sia saja. Suara yang begitu keras terdengar dari seberang sana. Dia hanya mengirim pesan singkat ‘Aku memakai dress putih’. Sungguh, ingin rasanya kuputar waktu dan kusuruh dia memakai pakaian berwarna merah. Cahaya berwarna kuning redup, suasana ramai ditambah kebisingannya. Butuh waktu dan tenaga luar biasa untuk menemukan tubuh mungilnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD