FOTO 6 : Rumah Sakit

1068 Words
Akhirnya aku menemukannya. ketika dia diberi cincin oleh seorang lelaki yang wajahnya tidak asing bagiku. Laki-laki yang hari itu sangat bersemangat ingin memberikan hadiah kepada Careline di hari ulang tahunnya. David. Inikah yang ingin Careline perlihatkan. Careline menyadari keberadaanku, dia menatapku cemas. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari meninggalkan tempat itu. pergi meninggalkan kebisingan, menyusuri jalan di pinggir pantai diiringi rasa penyesalan. Kalau saja aku tahu, dia ingin memamerkan hubungannya dengan David aku bisa saja mencari alasan. Hancur sudah. Siapa lagi yang bisa membuatku bahagia? Semuanya sudah sirna. Apa kesalahanku sampai hidupku menjadi seperti ini. Dosa apa yang kuperbuat di masa lalu? Pertanyaan menghantuiku. Aku mengepalkan tanganku kuat. Menendang setiap batu-batu kecil dihadapanku. Tidak sadar, aku sudah melangkah jauh dari kafe itu. Aku menghentikan langkahku. Sebuah kursi Panjang kutemui di taman pinggir pantai ini. Suasananya begitu sepi, hanya seorang perempuan yang duduk di sebuah kursi panjang berwarna merah. Dia menutupi wajahnya dengan tangan. Dia menangis. Sungguh. Aku berdiam diri. Suara hembusan pantai ditambah isak tangis perempuan di sebelahku menghiasi taman ini. Hampir 30 menit perempuan itu menangis. aku memberanikan diriku. “Kau baik-baik saja?” tanyaku. “Ya” kata perempuan itu sesenggukan. “Maksudku kenapa kau menangis?” “Tidak, a-aku hanya menenangkan diriku.” Balas perempuan itu. Tangisannya perlahan mulai berhenti. Dia mengusap air matanya. Kuperhatikan wajahnya samar-samar. Aku mengenalinya, meskipun matanya memerah dan sedikit bengkak di sudutnya. Perempuan dress merah yang kutolong di kolam hari itu. “Ternyata kau… kau sudah sembuh?” Kataku kaget. Aku membersihkan lensa kacamataku dan melihat wajahnya lagi untuk sekedar memastikan. Perempuan itu hanya menatapku. Agak lama aku menunggu jawaban darinya. Dia menelan ludah. Isak tangisnya mulai berhenti. “Kau laki-laki yang mendengarkanku bermain biola di rumah sakit hari itu?” Tanyanya serak. “Iya.” “Kenapa kamu mengenalku hari itu?” “Sudahlah lupakan saja. Kamu cepat sembuh juga ya?” Aku mengalihkan pembahasan. “Sebenarnya aku melarikan diri dari rumah sakit,” Sakura menunjukkan gelang tanda pasiennya. “APA? Tunggu dulu, kamu harus kembali. Sini aku akan menemanimu pulang. Tunggu dulu, siapa namamu? Oh Sakura. Aku masih mengingatnya. Jadi, Aku akan mengambil mobilku secepat kilat. Kalau perlu, aku akan mengangkatmu ke mobil,” aku berkata panik. Satu hal yang membuatku khawatir dengan perempuan yang satu ini, itu semua karena hati ayahku ada dalam dirinya. Paling tidak, dengan melindunginya secara tidak langsung aku bisa melindungi ayahku meski dia sudah tiada. Di lain hal, perempuan yang satu ini membuatku sedikit mengerti akan arti hidup. “Itu tidak perlu, kita bisa berbincang-bincang hangat disini bukan? Aku hanya perlu menenangkan diriku dan melupakan segalanya.” Aku yakin, dia pasti punya alasan tersendiri hingga lari dari rumah sakit. “Kamu perlu bercerita mengenai pertanyaanku yang satu ini. Mengapa kamu ada disini?” Tanyaku lebih menekan. Sakura tertunduk. Menelan ludah dan mulai bercerita. 1 Jam yang lalu, SAKURA : “Bibi Tri, bisa tolong ambilkan handphoneku?” “Tentu saja Non,” Bi Tantri mengambil handphone di atas meja. Aku meraihnya. Bermain game, membuka berbagai media sosial. Ada sebuah pesan yang masuk. k****a perlahan. ‘Who Am I’. Hanya itu isi pesannya. Tetapi, ada sebuah gambar yang dia kirim. Sepuluh menit sebelum kata ‘Who Am I’. Kuperhatikan gambar itu dengan jelas. Isinya membuat peganganku menjadi lemas. Handphoneku terjatuh. Kubaringkan badanku begitu saja. Mataku menembus jauh daripada pemikiranku. Isinya. Itu adalah surat adopsi. Tidak kusangka, aku hanyalah anak adopsi. Banyak pertanyaan yang menyelubungiku. Disertai sebuah penyesalan. Aku terlalu banyak berharap orang tuaku menyayangiku. Berharap kalau mereka meninggalkan pekerjaannya dan menjengukku di rumah sakit. Berharap dia selalu mengucapkan selamat malam dan mengecup keningku kemudian mematikan lampu. Berharap dia membeli es krim rasa vanila kesukaanku. Padahal nyatanya, aku adalah anak yang beruntung. Bibi Tantri kemudian panik melihatku. Dia memanggil dokter. Aku sendirian. Berganti pakaian. Keluar. Meninggalkan rumah sakit. Tak tentu arah. Aku tiba di sebuah taman dekat pantai. Duduk, termenung dan menangis. ANDI POV : Sakura menangis. Aku hanya bisa menenangkannya. Malam ini, ternyata ada orang yang juga merasakan penderitaaan yang sama sepertiku. Aku ikut larut bersama dalam penderitaan. Daun berguguran, hembusan angin, dan lampu bercahaya kuning menjadi saksi pertemuanku dengan Sakura. Perempuan yang malang. “Apa tujuan hidupmu saat ini?” Tanyaku memecah keheningan. “A-aku hanya ingin hidup tenang. Bersama dengan orang yang pernah menolongku ketika aku tenggelam. Aku bisa saja mati mengambang di kolam itu tanpa mengetahui siapa aku sebenarnya. Tetapi, orang yang menolongku membuatku ingin melihat cahaya kehidupan. Bahwa hidup bukan hanya penderitaan. Aku tidak bisa membayangkan aku mati, bersama dengan penderitaan-penderitaan yang mengikatku. Erat. Bukan hanya itu, aku juga belum tahu siapa yang rela mendonorkan hatinya kepadaku. Aku menjadi orang yang teramat jahat ketika hanya membalas hati dengan ucapan terima kasih.” Wajah Sakura Nampak bercahaya, dia sudah menemukan tujuan hidupnya. Orang yang kau maksud itu adalah aku Sakura dan yang mendonorkan hatinya, itu adalah ayahku. Ingin rasanya aku menyampaikannya dihadapanmu sekarang. Hanya saja, aku tidak tahu harus memulai dari mana, lagipun kau juga belum tentu percaya. “Waktu sudah larut malam. Kau harus pulang. Satu hal yang pasti Sakura, kau tidak boleh melarikan diri dari kenyataan. Untuk memulai hidup baru dan meraih tujuanmu you must begin from your real life.” Sakura kemudian mengangguk. Kami akhirnya pulang Bersama. Setibanya di rumah sakit, Sakura Meminta bantuanku agar dia tiba di kamarnya tanpa diketahui oleh perawat yang piket malam itu. Untung saja ada jaket hitam di mobil yang dapat menutupi wajah Sakura. Di kamar, nampak seorang perempuan paruh baya yang sedari tadi khawatir berlari ke arah Sakura kemudian mendekapnya erat. “Non, tidak apa-apa? Bibi Tri yakin Non akan kembali. Tenang saja Non, Bibi tidak akan memberitahu ayah dan bunda tentang hal ini. Karena bibi percaya sama Non. Tetapi, kalau Non bosan di rumah sakit kan bisa beritahu bibi untuk jalan-jalan keluar.” Sakura tersenyum. Kemudian membalas pelukan bibinya. “Baiklah Bi. Lain kali, kalau Sakura keluar, pasti Sakura beritahu bibi dulu. Oh iya, bibi, kenalkan ini teman Sakura namanya…” “Andi.” Jawabku singkat mencium tangan bibi. “Bibi Tantri, panggil saja bibi Tri. Bibinya Non Sakura.” “Andi? Apa jangan-jangan…” kata Sakura lirih. Aku baru ingat, seharusnya aku tidak menyebut namaku di depan Sakura. “Sakura, bibi, aku harus kembali. Hari sudah larut malam.” Aku mencari alasan agar pergi dari hadapan Sakura segera. “Andi, terimakasih hari ini kamu sudah menemaniku, kalau begitu hati-hati di jalan ya.” Kata Sakura sebelum kami berpisah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD