FOTO 14 : Album Cokelat

1053 Words
Malam tiba, aku memperhatikan langit-langit kamar. Tidak sabar besok hari tiba. Memulai hidup baru. Rifqi membangunkanku. Ketika hari masih gelap-gelapnya. “Andi, adzan sudah berkumandang. Kita shalat dulu.” Shalat? Aku lupa terakhir kali kapan aku melakukannya. Sepertinya, aku akan mengingatnya terus setelah ini. Rifqi akan membangunkanku setiap subuh. “Kamu imamnya?” Tanya Rifqi, setelah kami mengambil air wudhu. Aku balas menggelengkan kepala. “Baiklah.” Selepas shalat, Laki-laki teman sekamarku ini mulai membuka Qur’an, membacanya. Aku hanya mendengar lantunan merdu yang dibacakannya. Setelah itu suasana tenang. Hatikupun turut merasa tenang. Tidak pernah setenang ini. Aku memejamkan mata, menikmatinya. Bacaannya berhenti. Aku membuka mata. “Andi, Kamu tidak ingin ikut membacanya? Atau kamu lupa bawa Qur’an. Aku punya banyak di dalam lemari.” Rifqi menatapku. “Aku sedang menikmati bacaanmu. Apa tidak keberatan bila kamu membacanya lagi,” pintaku. “Oh begitu, tidak masalah. Lagipun mendengarkan Qur’an juga dapat pahala.” Hanya mendengarkan? Dapat pahala? Aku baru tahu. Apa semua nikmat yang diberikan Tuhan seindah ini. Aku makin penasaran. Rifqi melanjutkan bacaannya lagi. Aku memejamkan mata. Hatiku kembali tenang. Aku mulai berpikir, mengapa mesti mendengarkan kebisingan bar untuk mencari ketenangan? Selesai. Ayat terakhir telah dibacakan. “Suaramu merdu. Apa setiap pagi kamu melakukannya?” Tanyaku. “Semestinya memang harus setdiap hari, Qur’an kan pedoman hidup.” Aku terddiam. Aku sangat jarang memegang Qur’an, benda suci seperti itu, mungkin tidak pantas bagiku. Setelah itu, aku dan Rifqi bersiap-siap. Menuju ke tempat kuliah. Aku masuk di kelas Internasional. Dasar bahasa Inggis yang bagus membuatku mampu berkomunikasi dengan baik. Setelah itu hari-hariku terus berlalu, seperti biasa. Tidak ada yang begitu istimewa. Hanya saja, semuanya membuatku nyaman hingga aku dapat melupakan masa lalu dengan baik. Hingga tiga tahun berlalu. Burung merpati berlarian menghampiri dua perempuan bercadar yang melemparkan sepotong roti. Suasana disini begitu terik. Ketika melihat kearah yang lebih jauh, nampak ber-air, ilusi fatamorgana. Aku duduk disini, dibawah tiang-tiang tinggi berwarna cokelat. Kairo university. Setelah tiga tahun lamanya aku tidak kembali ke Indonesia dan seorang laki-laki melemparkanku sebuah album berwarna cokelat dari arah yang tidak kuduga sama sekali. Aku tidak sempat melihat wajahnya. Dia berlari kencang. Album ini, aku yakin ini untukku, aku jelas melihat tangannya melempar kearahku. Hanya saja, sIapa tahu saja penglihatanku salah. Album ini memang terjatuh dan pemiliknya berlari karena mengejar sesuatu. Album ini berdebu, aku mengusapnya. Membukanya perlahan. Membuatku tercengang. Album ini jelas mengingatkanku akan masa lalu. Fotoku dengan Ando, pemakaman, Sakura, Careline, semuanya. Deg. Jantungku menciut. Keringat dingin bercucuran deras. Tanganku gemetar. Siapa laki-laki tadi? Kulihat jelas kemana arah laki-laki tadi pergi. Arah jam 12. Kulihat kembali isi album itu lembar demi lembar. Siapa orang itu? Mengapa aku tidak menyadari keberadaannya selama ini. Pekikku dalam hati. Aku penasaran. Sungguh. Satu hal yang harus kulakukan saat ini. Kembali ke Indonesdia. RRR “HAH? Kembali ke Indonesia. Afwan sungguh?” Tanya Rifqi, wajahnya nampak berbinar-binar. “Baguslah, afwan memang harus kembali. Bayangkan, saya saja yang kembali dua kali setahun, Ummi memeluk erat-erat apalagi Abi, kau tahu aku sesak bukan main. Lama pula. Bagaimana bila baru pulang tiga tahun macam afwan? Tetapi, dibalik itu semua dia pasti rindu.” Aku menganggukkan kepala perlahan karena teringat akan Ando. “Kalau boleh tahu kenapa tiba-tiba ingin kembali? Apa terjadi sesuatu, atau antum tiba-tiba mimpi kena pencerahan.” Rifqi tertawa kecil. “Bukan begitu, hanya ada sesuatu yang membuatku tiba-tiba penasaran. Rifqi tersenyum. “Jangan lupa shalat antum,” tambahnya terakhir kali. Aku akhirnya berangkat ke Indonesia setelah sekian lama. - Incheon. Cuaca disini begitu dingin. -4 derajat Celsius, aku harus memakai coat dibuatnya. Besok ada meeting tentang kerjasamaku dengan salah satu perusaahan agensi.. Setelah perusaahan dalam negeri sedang memanas-manasnya, aku mulai mengambil alih perusaahan kembali. Setidaknya, untuk meningkatkan sahamku sekitar 5 % aku harus bekerja sama dan sebuah perusaahan hiburan mengajakku. BG entertainment. Setelah itu, aku juga ikut membuat nama perusaahan agensi sendiri , AK entertainment. Aku telah merangkul seluruh aktor populer dari Indonesia, Thailand, Philifina , Taiwan, Korea, juga Kanada. Selain itu, BG entertainment mengajakku untuk membuat program acara di sebuah stasiun TV pencarian bakat. Dia percaya, dengan begitu, perusaahanku akan dikenal bukan hanya di Asia tetapi juga merambah ke Eropa dan sebagian Amerika bagian Utara. “Meeting akan dimulai besok Pak,” kata asistenku, sambil memegang beberapa kertas penting. “Kalau begitu, ada baiknya Tuan melihat peningkatan perusaahan pangan rumput laut di Taiwan. Produk perusaahan pangan kita sangat laku disana.” “Baguslah, kalau begitu siapkan penerbangan kesana besok kira-kira pukul sepuluh.” “Baik Pak.” “Jangan lupa tentang program acara itu. Apakah media sosial sudah meliput tentang hal ini? Kita akan mengadakan kontrak dengan stasiun Televisi ditujuh negara. Persiapkan segalanya.” “Baik Pak. Namun, agaknya kemarin kita mengalami penurunan pendapatan sekitar tujuh Milyar karena program ini. Apa tidak ada masalah ketika kita mengambil langkah sejauh ini.” “Tenang saja. Pendapatan kita akan normal sehari lagi dan meningkat seminggu dari sekarang. Intinya, persiapkan segalanya. Aku akan betul-betul memanfaatkan momen ini.” Asistenku tersenyum. Aku kini memiliki 3 perusaahan besar dengan cabang dimana-mana. Perusaahan pangan, perusaahan hiburan juga perusaahan pakaian. Aku mengambil langkah yang cukup nekat untuk menjalankan semuanya. Menjual kebun teh kakek sekitar berpuluh-puluh hektar hanya untuk mengembalikan peranku sebagai komisaris, presiden utama di Indoeco group. Bekerjasama dengan perusaahan lainnya dan berhasil merebut sekitar 62 persen suara. Semua ini karena Roy, ketika aku di Kairo dan memutuskan hubungan di Indonesia dia bermain dengan indahnya. Dengan hanya beberapa persen suara yang dia miliki, dia berhasil merangkul segala perusaahan, dan memperoleh suara 80 persen. Ketika aku kembali, Ando yang dulunya memiliki pipi setebal mochi bandung kini kurus tirus. Bibi Nuri nampak bersedih di belakang teras. Hanya menyebut nama Roy berulang kali. Berandal itu. Syukurlah, orang mengirimkan album foto itu lebih cepat. Aku bisa mengatasinya. Meskipun aku telah kehilangan jejak sejak mencari begitu lama siapa yang mengirimkan album foto itu. Aku yakin ini ada hubungannya dengan keluargaku atau bahkan dia adalah keluargaku. Aku akhirnya bertekad kuat. Bukan balas dendam. Hanya ingin mengembalikan apa yang kami miliki demi Ando. Semoga saja Allah mengijinkanku kali ini. Terdengar suara ketukan pintu sesaat setelah asistenku keluar. Seorang perempuan perlahan masuk. Menatapku sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya namun sedikit heran. Careline datang kesini. Mengapa dia tiba-tiba berada disini? Aku juga tidak tahu, mungkin saja dia ingin menagih hutang yang belum kubayarkan atau mungkin dia rindu padaku. Tentu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD