FOTO 15 : Kimchi Reastaurant

1338 Words
“Selamat pagi pak Komisaris bisakah kamu membantuku?” Careline memulai candaan. “Oh mohon maaf, aku sangat sibuk.” Careline tertawa terpingkal-pingkal. “Sungguh? Kalau begitu, aku akan membuatmu bertambah sibuk. Jangan lupa untuk menyuruh asistenmu memasukkanku dalam list.” “Hahaha… baiklah ngomong-ngomong kenapa kamu disini?” Careline tersenyum. Ratu penuh misteri. “Ah, senyummu membuatku kesal. Bagaimana kalau kita pergi makan kimchi. Aku tahu tempat terbaik untuk makan kimchi di kota ini.” “Sungguh?” Careline nampak bersemangat. “Ya, tetapi tunggu setelah aku menandatangani dokumen ini.” “Aku akan menunggu.” Setelah itu, dokumen demi dokumen kutandatangani. Aku memperhatikan Careline sesekali di sofa. Dia bermain handphone, mengantuk dan tertidur. Posisinya menelungkup, dia kedinginan. Aku menghampiri Careline, membungkus badannya dengan coat-ku, setidaknya itu dapat menghangatkannya. Kuperhatikan arloji, sepuluh menit lagi pukul delapan. Sisa dua berkas yang harus kuselesaikan. Aku menguap, sambil menggosokkan kedua telapak tangan. Aku mengerjakan berkas-berkas dengan teliti. Tanda tangan demi tanda tangan, aku berpindah ke halaman berikutnya. Halaman terakhir. Semuanya selesai. Careline masih tertidur. Ada baiknya menunggu Careline terbangun. Aku merenggankan seluruh badan sejenak. “Sudah jam berapa sekarang?” Aku berdiri. Careline terbangun. “Basuh wajahmu! lagipun, masih pukul Sembilan masih banyak waktu hingga larut malam.” Careline menggerakkan badan layaknya orang bangun tidur. Coat-ku jatuh kelantai. Aku mengambil dan membersihkannya. Perempuan ini masih dengan hobinya, tertidur. RRR “Kenapa kita membuat kaca penghalang dengan supir?” tanya Careline sembari melihat pemandangan kota. Salju perlahan turun. “Apa kamu pikir aku mengijinkan supir itu menikmati kecantikan calon istriku? Tentu tidak.” Careline tersenyum kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Aku lupa mengatakan bahwa aku dan Careline telah bertunangan. Sebulan yang lalu ketika aku datang meminang Careline di Surabaya dihadapan neneknya. Careline sendiri yang meminta, katanya ayah dan ibunya begitu selektif memilih pasangan untuknya, tetapi, kalau neneknya menyetujui, aku akan langsung diterima. “Apa ayah dan ibu tidak marah kamu datang ke negara ini sendirian?” tanyaku. “Entahlah, tapi asal kamu tahu, aku melarikan diri kesini ini semua demi kamu. Kita bisa bertemu. Aku sudah tidak sanggup lagi mengurung diriku hingga dua minggu kedepan.” “Careline, tidak baik ketika pasangan bukan muhrim malah jalan berdua” “Kita tidak bersentuhan bukan? Aku berjanji tidak akan menyentuhmu.” Careline marah, dia menampakkan wajah kesal. Kami akhirnya tiba ditempat yang dituju. Mabongnim Kimchi Restaurant. Aku turun, membukakan pintu mobil untuk Careline. Kami jalan berdua, tetapi tidak saling bersentuhan tangan. Kami memasuki sebuah ruangan. Nampak beberapa orang datang menyambut kami. Setelah itu, Careline, matanya tidak berkedip melihat-lihat sekitar, entah apa yang terjadi padanya. “Andi, kamu bilang kamu akan membawaku untuk makan kimchi. Tapi kamu tahu, ini tempat makan kimchi terindah yang pernah kukunjungi. ” Aku tersenyum melihat tingkah lucu Careline. “Duduklah!” Tidak berselang lama, para pelayan datang membawa beberapa makana. “Mengapa tempat ini begitu sepi? Apa karena musim dingin. Hanya kita berdua disini kau tahu?” Bisik Careline membuatku gemas dia malah terlihat seperti anak kecil. “Aku sengaja menyewa ruangan ini, hanya kita berdua.” Careline, perlahan air mata keluar dari sudut matanya, tanda haru. “Aku tidak tahu ingin berkata apa, tetapi terimakasih Andi.” Aku tersenyum. Senang bisa melihatnya bahagia. “Untuk makanan pembuka kamu ingin makan apa? tteokboki atau pajeon?” tanyaku. Tteokboki adalah salah satu makanan khas korea yang terdiri atas tteok yang terbuat dari tepung beras yang dimasak dalam bumbu dengan rasa pedas dan sedikit manis. Sedangkan pajeon terbuat dari adonan tepung dan telur. Pancake sayuran yang berisi daun bawang dengan berbagai macam topping seperti daging sapi, kerang dan jenis seafood lainnya. Careline tidak menyahut dia serius memilih. “Kalau begitu tteokboki saja, pajeon rasanya hampir mirip dengan martabak.” Aku mengambil keputusan. Careline mengangguk. Careline mulai mengunyah makanannya perlahan. Dia mengambil dua, tiga dan terus mengunyah. “Kamu keenakan makan ya? Kita lupa menu intinya." Aku mengambil kimchi juga pelengkapnya. Careline mengambil kimchi setelah meminum lemon. Dia makan lahap sekali. RRR Besoknya, aku bangun setelah mendengar alarm berbunyi. Asistenku sedari tadi mengetuk pintu, Frans. “Pak, beberapa menit lagi meeting akan dimulai. Bapak ingat kita juga akan ke Taiwan bukan?” Aku mengangguk, sambil memakai dasi, meraih tas dan menuju tempat meeting. “Frans, berapa lama waktu yang dibutuhkan agar kita dapat tiba ditempat meeting,” tanyaku sambil melihat arloji. “Sekitar dua puluh menit Pak. Apa bapak melupakan sesuatu?” Aku menggeleng. Setelah itu melihat pemandangan kota diluar sana, aktivitas sudah dimulai. Negara ini sangat disiplin. Yang terkenal dengan budaya palli-palli (cepat-cepat) nya Tiit, tiit. Pesan masuk. Kamu meninggalkanku? Bukannya kita akan ke Taiwan. Kamu harusnya membangunkanku, kamu tahukan aku suka terlelap. Kamu jahat Aku tersenyum. Perempuan ini benar-benar lugu. Ya Aku penasaran melihat responnya. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Itu karena saat ini kita beda kamar. Tapi, lihat saja nanti ketika kita menikah aku akan bangun lebih awal darimu, membuatkanmu segelas kopi juga toppoki aku akan belajar membuatnya, setelah itu memasangkan dasi untukmu aku akan mencari video tutorialnya di youtube. Aku janji. Aku tertawa, tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Careline saat ini. “Ada apa Pak, apa terjadi sesuatu?” Frans bertanya. Dia mungkin heran karena aku sangat jarang tertawa. Aku menggelengkan kepala. “Saya tahu Pak.” Frans tersenyum penuh makna. “Kalau begitu, mulai hari ini kamu bisa memanggil namaku saja. Anggap kita adalah teman bahkan saudara. Tidak usah memanggilku dengan Pak, Tuan atau apalah. Cukup Andi saja. Loyalitasmu sudah menjamin itu. Lagipun, aku tidak ingin nampak tua dihadapan Careline,” tegasku. “Siap Pak. Maksudku Andi,” jawabnya ragu. Kami akhirnya tiba ditempat meeting. Salah satu perusaahan agensi terbesar di negara ini bahkan dunia. BG entertainment. Meeting-nya berjalan lancar. Hanya saja, sedikit kendala pada komunikasi. Pemilik perusaahan bahkan harus menggunakan ahli bahasa. Namun, tidak mengganggu hasil dari meeting. Masih sesuai yang kuharapkan. “Sekarang pukul sembilan Andi. Keberangkatan kita tinggal sejam lagi. Jadi, kita hanya kembali ke hotel untuk mengambil barang dan kemudian berangkat.” Jelas Frans sambil melihat schedule-nya. “Juga menjemput Careline. Selain itu, aku juga lupa menyiapkan barang-barangku semalam. Mungkin karena pulang larut.” Frans lagi-lagi tersenyum. Ini senyumnya yang kesekian kali. “Sudah kubilang biar aku saja yang menyiapkan barangnya namun anda selalu menolak.” Tiba di hotel, sesuatu yang tidak kuduga sama sekali. Careline sudah menunggu di depan. Dengan banyak barang. “Apa-apaan ini?” Tanyaku. “Mohon maaf pak Komisaris, anda tidak dapat membohongiku bahwa anda sudah benar-benar berangkat. Aku sudah menyiapkan barang-barangmu Pak komisaris dan asistenmu, dia betul-betul disiplin telah menyiapkan barangnya sendiri, kamu harus banyak belajar darinya. Baiklah, aku tidak dapat menunggu lama angkat barang kalian masing-masing,” Perintah Careline kemudian masuk kedalam mobil. Aku dan Frans mengambil barang. Frans menyikutku. “Dia bisa jadi istri yang baik Andi.” Meskipun terkesan lancang, namun aku suka kami bisa menjadi lebih dekat dengan begini. Lagi pun umur kami tidak jauh beda. Frans duduk di depan dekat supir, Careline dan aku duduk di belakang. Aku kebanyakan diam memikirkan suatu hal. “Apa yang kau pikirkan Andi?” Aku tersenyum, dia tidak memanggilku dengan sebutan ‘pak komisaris’ lagi. “Ini hanya tentang barang-barangku, bagaimana kamu bisa menyiapkannya?” “Hahaha…” Careline tertawa lepas. “Tenang saja, aku jamin tidak ada yang terlupa.” “Bukan itu…” Careline mengangkat alisnya sebelah. “Terus?” “Kamu tahu kan Careline, ada sesuatu yang tidak boleh kau lihat disana. Sesuatu yang lebih sensitif.” Suasana lengang beberapa saat, setelah itu, Careline tertawa, lebih lepas dari sebelumnya, dia bahkan sampai memukul pundakku berkali-kali. Dia melupakan janjinya untuk tidak menyentuhku. Tawanya reda. Air nampak di sudut matanya. “Kamu ternyata masih lugu Andi. Kupikir, setelah kamu melakukan perkelahian hari itu di sekolah dan men…” Aku segera menutup mulut Careline. Kali ini, aku yang menampakkan wajah kesal. “Sudah lupakan saja. Kamu juga akan melakukannya setiap ada meeting di luar negara.” Careline tersenyum. Kemudian melihat ke kaca jendela. Setelah itu, suasana jadi berubah, bahkan di bandara juga di pesawat. Careline seperti memikirkan sesuatu. Khawatir tepatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD