FOTO 16 : Hotel

1704 Words
Kami akhirnya tiba disini, di Taiwan Taoyuan International Airport. Frans sebelumnya telah memesan mobil untuk perjalanan bisnisku. Disetiap perjalananku malah. Termasuk ketika aku ke Toronto, Berlin bahkan waktu liburan ke Afrika selatan. Oh terkecuali di Mesir. Namun, bagaimanapun dia betul-betul telah menjadi asisten yang baik. Aku terus menatap keluar jendela dalam perjalanan. Ibu kota Taiwan ini hampir mirip dengan Seoul, hanya saja, bangunannya lebih tinggi. “Tidak kusangka, perjalanan kita secepat ini.”Kata Careline. Dia mulai ceria kembali. “Tentu. Bukannya Korea dan Taiwan itu tetangga. Hahaha… Itu akibatnya kalau sering ketiduran pas pelajaran sejarah.” Frans tertawa kecil.  “Apa? Maksudku, kamu betul-betul memperhatikanku bahkan ketika aku tertidur? Asal anda tahu pak komisaris, buat apa juga belajar Sejarah toh dulu kita juga masuk jurusan IPA,” balas Careline. “Hmm, mempermudah hidup itu dengan belajar bukan belajar untuk mempermudah hidup. Kan begini jadinya. Liatlah, aku akhirnya jadi pebisnis. Kamu tahu itu jurusan IPS?” Careline memainkan bibirnya. Dia tidak ingin dikalah. Kami akhirnya tiba ditempat rapat, Careline ingin berjalan-jalan melihat kota Taiwan, setelah rapat dia minta dijemput. Rapat tentang rumput laut ini lebih lama dari yang kuduga. Aku malah tidak fokus karena mengkhawatirkan Careline. Apa yang dia lakukan dikota sebesar ini. Aku terus menatap arloji. Sesekali memberi isyarat pada Frans. ‘Apa masih lama?’ Bisikku sesekali. “Ada apa Andi, Apa terjadi sesuatu?” Kata Frans yang mungkin sudah bosan terus diberi pertanyaan. “Coba cek GPS-nya. Dimana dia sekarang,” perintahku. “Apa anda betul-betul sudah menghubungkannya, sejak kapan?” “Sudah lama, aku menghubungkannya diam-diam agar aku tidak perlu khawatir dimanapun dia berada. Cepatlah, aku sudah tidak tahan lagi dengan bahasa mereka. Lihatlah, penerjemah itu, sudah sangat lelah mengartikan bahasa. Apalagi, direktur kita di Taiwan ini tidak henti-hentinya mengoceh.” Aku perlahan memberikan ponselku kepada Frans. Menatap ahli penerjemah yang sudah sangat kelelahan. Sedangkan aku, tidak peduli apa yang dikatakannya. Aku hanya terus berharap Frans memberikan informasi tentang keberadaan Careline. “Hotel….” “Hotel? Apa yang dilakukannya disana? Kami bahkan belum menikah dia sudah memesan hotel untuk liburan bulan madu?” Bisikku pada Frans. “Mungkin dia ingin mempersiapkan surprise untuk anda. Jauh-jauh hari.” “Setahuku Careline bukan orang seperti itu, maksudku dia orang yang fleksibel tidak suka berbelit-belit. Aku tidak bisa lama disini. Aku harus pergi sekarang! Aku percayakan semuanya padamu, Frans.” Aku meninggalkan rapat tanpa berkata sepatah katapun. Frans, dia langsung mengambil alih posisiku. Aku turun dari bangunan nan tinggi ini. Aku menyuruh supir untuk bergegas, setelah memberi alamat yang akan kutuju. Entah mengapa, kali ini aku punya firasat buruk. Mungkin saja terjadi sesuatu pada Careline. Tiba di hotel, aku berlari. Aku menelepon Careline menanyakan kabarnya dia bilang baik-baik saja. Dia tidak bisa bilang dia dimana. Dia bahkan berbohong. Ada sesuatu yang disembunyikannya. Perlahan, pintu hotel terbuka otomatis. Sosok yang kucari akhirnya kutemukan. Namun, ada seseorang disebelahnya. Tokoh masa lalu. “Careline, David. Apa yang kalian berdua lakukan disini?” Tanyaku. “Andi, bagaimana kamu bisa ada disini? Aku belum minta dijemput. Tenang, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku bisa jelaskan semuanya.” Careline kaget dengan keberadaanku. “JELASKAN APA CARELINE? KAMU BERDUA DENGANNYA KAMU TAHU, KITA SUDAH BERTUNANGAN BUKAN.” “Andi tolong tenangkan dirimu!” David tersenyum. Aku tidak tahan lagi. Sebuah pukulan hampir kulayangkan andai Careline tidak memeluk, menahanku.   “Dav. Pergilah dulu.” David menurut. Tinggal aku dan Careline. “Kamu sebenarnya ingin hidup dengan siapa Careline? Kamu tahu, aku sungguh khawatir.” Careline memegang pelipisnya. Dia seperti tidak tahu ingin berkata apa. Careline tertunduk, air mata perlahan jatuh. “Aku tidak tahu Andi. Aku tidak tahu aku sebenarnya hidup dengan siapa.” “Hiduplah denganku.” Aku menarik tangan Careline, kubawa dia ketempat yang aman di restaurant dalam hotel. Hanya kami berdua. Ini perkara serius. Careline masih terisak. “Apa jangan-jangan kamu mencintai Dav?” Kataku ketika suasana lengang. “Tidak, bukan itu. Aku sungguh mencintaimu Andi. Teramat mencintaimu.”  “Lantas? Apa jangan-jangan persoalan bisnis? Orangtuamu yang menyuruh?” Careline menggelengkan kepala. Menyeka air matanya kemudian berbisik. “Aku hamil Andi.” Diam, tidak bergerak. Seolah waktu berhenti. Kalimat Careline terus bergema. Aku tidak bisa berkata apa-apa sekarang. Dia bilang dia hamil? Apa ini mimpi. Atau ini hanya akal-akalannya, dia mungkin saja membuat semacam surprise atau prank. Careline, terisak, terus berlutut dihadapanku, memohon maaf. Ini sungguhan. Kutarik napas dalam-dalam. Kali ini aku harus bersikap dewasa. “Mengapa ini bisa terjadi Careline?” Kutarik Careline, kubuat dia berdiri. Kutenangkan dia. “Aku tidak tahu bagaimana semuanya bisa terjadi Andi. Semuanya seakan terjadi begitu saja. Hari itu, aku juga David merasa betul-betul kehilangan dirimu. Sehingga menyebabkan hal menjijikkan itu terjadi.” Aku menghela napas penjang. “Tidak, Careline, aku paham. Aku mengerti sekarang. Ini salahku kuharap kamu tidak menyalahkan dirimu. Aku minta maaf, sungguh. Kembalilah ke mobil, pulanglah bersama Frans. Aku menunggumu di Incheon. Aku ingin menyendiri sementara waktu. jangan hiraukan aku. Aku hanya ingin mencari solusi. Tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja.” Aku menggenggam erat kedua tangan Careline. Aku menyentuhnya sebelum menikah. Ini dosa besar namun terjadi begitu saja. Aku keluar dari hotel itu, pergi. Memesan tiket lebih dulu ke Korea, tetapi bukan ke Incheon tetapi ke Seoul.    RRR Di Korea, aku merehatkan badan. Bukan di hotel sebelumnya, di hotel yang lain. Aku tidak ingin melihat wajah Careline sementara waktu. Meskipun aku terus memikirkannya juga anak yang dikandungnya. Bagaimana kami bisa bersama kalau dia tengah hamil anak orang lain. Apalagi David. Dia sahabatku dulu. Apa aku harus memohon kepada David kalau itu adalah anak kami? Atau mengaborsinya. Sungguh, aku akan dilaknat sampai mati bahkan setelah mati. Aku tidak bisa berpikir jernih. Aku sudah banyak melemparkan benda ke jendela juga cermin hotel. Aku tidak peduli persoalan ganti rugi. Kepalaku sakit sekali. Kuambil jaket, pergi kesuatu tempat. Menyusuri jalanan kota dengan lampu kuning remang-remang.   Menemukan minum malam hari di Korea tidaklah sulit. Aku memesan beberapa botol soju. Sakit kepala perlahan menghilang diiringi tegukan demi tegukan. Careline. Wajahnya terus terbayang dalam benakku, juga anaknya. Aku kemudian kehilangan kesadaran. Tertidur. Aku membuka mata perlahan, seseorang membangunkanku. Dia menggunakan bahasa Korea tentunya. Intinya dia mengusirku, tempat minum akan segera ditutup. Mereka tidak buka dua puluh empat jam. Aku berjalan pulang, rasa pening dikepala tidak tertahankan lagi. Aku jatuh begitu saja. Ditepian jalan. Suhu yang dingin membuatku terbangun. Kugosokkan kedua tanganku. Dimana aku sekarang? Kuperhatikan sudut ruangan. Ini sebuah kamar, gelap, hanya cahaya lampu kamar redup yang meneranginya. Aku menarik selimut. Seolah tidak peduli dimana aku sekarang. Aku yakin aku akan baik-baik saja. “Diluar sedang badai salju.” Aku berbalik, nampak seorang perempuan dengan segelas minuman hangat juga sebuah mangkuk sup di tangannya. Aku duduk, berusaha memperbaiki posisi. “Kamu orang Indonesia?” Dia menyalakan lampu. Seketika terang. Raut wajahnya terlihat jelas. Aku masih mengingatnya. Dress, kolam, pesta ulang tahun, rumah sakit, juga ayah. Cukup. Itu saja. “Sakura? Kamu perempuan yang kuto…” Perkataanku terhenti. Sakura memelukku erat. Dia perlahan menitikkan air mata. Pundakku terasa basah. Perlahan mulai terdengar suara tangisan. “Apa yang terjadi?” Aku mendekap perempuan dihadapanku erat. Aku seperti memeluk ayah. “Banyak Andi. Banyak.” Lengang beberapa saat. “Kamu tahu, kalau saja dari awal kamu berkata jujur tentang dirimu. Menyelamatkanku di kolam. Mungkin aku tidak akan pergi sejauh ini.” “Pergi? Kamu pergi dari rumah?” “Iya, aku pergi mengikutimu. Aku selalu dirundung rasa bersalah Andi. Apalagi ayahmu, hatinya kini jadi milikku. Aku seperti orang yang tidak tahu terima kasih.” Sakura perlahan melepas pelukannya. “Tidak apa Sakura. Toh setidaknya ayahku tidak mati sia-sia. Dari awal dia memang hidup untuk menolong orang lain.” Aku menatap mata Sakura, masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Aku masih memiliki sejuta pertanyaan. Namun, tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. “Makanlah sup haejangguk ini, ini bisa menghilangkan rasa mabuk, menghangatkanmu juga ketimbang selimut. Mohon maaf, penghangat ruangan sementara rusak, tukang service akan segera memperbaikinya.” Sakura memberi sup padaku. Aku memakannya perlahan. Juga meminum minuman hangat yang dibawanya. “Kamu tahu Sakura, ini Korea. Bagaimana kamu bisa berada disini? Dan lagi-lagi kamu melarikan diri. Itu bukan hal yang baik. Mereka pasti khawatir bukan?” “Mereka? Maksudmu, orangtua angkatku? Andi, dia sudah meninggal setahun yang lalu, kecelakaan waktu perjalanan bisnis.” “Mohon maaf, aku ti…” “Tidak apa-apa Andi. Aku tahu.” “Lantas, bagaimana kamu bisa tahu aku ada disini?” “Semua orang tahu Andi, berita tentang program acara televisi itu, menyebar luas. Syukurlah, aku memang sedang kerja disini. Aku membuka butik pakaian. Jadi, aku mencari informasi keberadaanmu, lewat Careline. Dia selalu update status. Bahkan waktu kalian di Taiwan. Namun, kemarin entah mengapa dia tidak melakukan sesuatu dan kamu kutemukan dalam keadaan mabuk di area Gangnam pula. Apa terjadi sesuatu diantara kalian?”  Aku menggelengkan kepala. “Ceritanya panjang.” Sakura tersenyum simpul. Setelah itu, kami melewati hari-hari yang panjang. Aku masih berada di rumah Sakura. Tidak memberi kabar apapun kepada Frans apalagi Careline. Badai salju masih terjadi. Sakura, dia orang yang ramah, tidak banyak bicara ketika makan, pastinya baik. Tidak seperti perempuan cantik kebanyakan. Masakannya pun enak-enak. Selain kimchi dia juga pandai membuat tteokboki. Sudah lima hari berlalu, menurut ramalan lembaga cuaca, badai salju tinggal sehari lagi,. Aku dan Sakura masih terus bercerita selepas makan, kami tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Bahkan, kami sudah saling mengenal, aku mengenal kehidupannya dan aku sudah menceritakan segala hal-hal buruk yang terjadi padaku, termasuk kakek juga Ando, perebutan harta yang terjadi. bahkan hamilnya Careline. Intinya Sakura sudah tahu ‘segalanya’. “Aku turut prihatin,” kata Sakura diakhir pembicaraan.  “Sakura, apa aku bisa minta tolong? Bila saja kamu tidak sibuk.” Sakura tersenyum. “Tentu. Kupikir, setelah badai reda tidak ada yang langsung pergi membeli pakaian di butik. Mereka pasti berlarian ke toko makanan.” “Baguslah, aku hanya ingin kamu menemaniku membicarakan hal ini pada Careline. Aku tidak pandai mengolah kata-kata. Aku terlalu gugup untuk membicarakan hal ini didepannya sendirian. Kupikir, dengan keberadaanmu aku bisa menyampaikan segalanya. Kami bisa membahas anak itu.” “Maksudnya, kamu bersedia menerima keberadaan anak itu,” tanya Sakura. Aku terdiam, tidak tahu ingin menjawab apa. “Kita lihat saja besok,” jawabku ketika Sakura hendak pergi. Perempuan itu melemparkan senyum seolah meyakinkan semuanya akan baik-baik saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD