Hari ini, badai mulai reda sesuai dengan prediksi lembaga cuaca. Aku dan Sakura mulai bersiap-siap, kami berangkat amat pagi. Sebab sebelum menemui Careline aku ingin mampir ke kantor dulu. Membahas proyek kemarin bersama Frans sebelum melakukan rapat terakhir.
“Ternyata suhu diluar masih dingin,” kataku ketika Sakura mengunci pintu rumahnya.
“Badai memang sudah reda, namun musim dingin belum berakhir.”
Aku ber-oh menganggukkan kepala.
Diperjalanan, aku dan Sakura lagi-lagi berbincang hangat sembari melihat petugas-petugas berbaju biru membersihkan jalanan dari tumpukan salju.
“Kamu tidak ingin menghubungi asistenmu sebelum tiba di kantor?” tanya Sakura sambil membelokkan mobilnya di perempatan jalan.
Aku menggeleng. “Ini semacam surprise kau tahu, aku ingin lihat bagaimana kinerjanya ketika aku tidak ada.”
“Bukannya kamu bilang dia sudah sangat loyal. Itu berarti kamu belum sepenuhnya percaya pada asistenmu.”
Aku tertawa kecil. “Begitulah.”
Kami akhirnya tiba di kantor. Sesuatu telah terjadi. Kantor berubah, sudah ada tulisan ‘AK entertainment’ didepannya. Warna juga jadi lebih baik. Ini sudah seperti agensi kelas atas. Frans betul-betul bekerja dengan baik.
“Salah satu pemuda terkaya telah jalan bersamaku. Setidaknya ada bekas dudukannya di mobil,” Sakura mendongakkan kepalanya keatas. Dia mungkin saja takjub.
Aku tertawa kecil. “Hahaha… ada-ada saja. Ayo masuk. Aku penasaran apa yang Frans lakukan di dalam.”
Kami mulai masuk. Menaiki lift hingga tiba didepan ruangan kerjaku. Aku yakin Frans ada di dalam.
Aku membuka pintu. Frans nampak duduk memeriksa berkas-berkas kemarin.
“Apa yang kamu lakukan Frans. Nampaknya kamu terlihat sibuk.”
Frans menatap kebelakang tidak percaya. Dia berdiri menyambutku.
“Oh Andi. Kemana saja kamu? Apa kamu baik-baik saja. Aku bahkan hampir menyuruh pihak kepolisian Korea untuk mencarimu. Kupikir kamu diculik. Kamu sungguh membuatku khawatir. Rapat kemarin, aku hanya meng-iyakannya tanpa meminta persetujuanmu. Habisnya kamu lari dari rapat begitu saja.” Frans menyerbuku bertubi-tubi. Mulutnya hampir saja berbusa-busa. Aku tertawa dibuatnya. Dia betul-betul peduli terhadapku.
Sakura, dia juga ikut tertawa.
“Siapa perempuan ini Andi?”
“Dia Sakura.”
“Sakura.”
“Frans.”
Mereka berdua berjabat tangan.
Setelah itu, aku dan Frans berbincang-bincang tentang proyek kemarin. Sakura juga turut mendengar.
Aku tiba-tiba teringat dengan Careline. “Bagaimana dengan Careline apa dia baik-baik saja?”
“Uhuk.” Frans menyemburkan seluruh kopinya. Dia memberi kode kepadaku untuk memberinya segelas air.
“Kamu, jadi lancang ya sekarang.” Kataku sambil memberinya air dan memukul bahunya. Sakura tertawa, aku juga turut tertawa.
“Apa kamu belum tahu Andi? Sungguh?” Frans bertanya dengan ekspresi kagetnya yang luar biasa.
“Tahu apa?”
“Oh… Tuhan, bantulah aku menjelaskan ini. Kupikir, kamu sudah tahu hingga membawa perempuan kesini. Kupikir ketika kamu tidak menghubungiku kamu sibuk menghubungi Careline.”
Aku menggeleng. Tidak mengerti dengan apa yang Frans katakan.
“Aku tidak bisa mengatakannya secara langsung Andi. Aku tidak sanggup. Begini saja, pergilah ke Indonesia dan jangan lupa bawa Sakura juga, kamu akan sangat membutuhkannya disana.”
Aku bertambah bingung.
“Jangan bingung sekarang Andi. Kamu harus cepat, ambil penerbangan pertama hari ini.”
Aku sudah sangat percaya dengan Frans. Aku menarik tangan Sakura, membawanya keluar. Firasat buruk itu lagi-lagi hadir.
“Andi, kamu menarikku terlalu kencang.” Keluh Sakura.
Aku merenggangkan tangan. Apa yang dikatakan Sakura benar, aku menariknya terlalu kuat. Mungkin, karena takut.
“Sakura, apa tak masalah kamu pergi ke Indonesia denganku hari ini juga. Tanpa persiapan apapun seperti ini. Tiba-tiba.”
“Tentu tidak, aku sudah janji akan menolongmu, lagipun aku juga ingin melihat-lihat keadaan disana. Meskipun aku takut, tetapi aku sangat suka dengan tantangan Andi kau tahu.”
Kami akhirnya memesan penerbangan pertama tanpa transit ke Indonesia dengan segera. Sakura kebanyakan diam diperjalanan. Tidak seperti biasanya. Mungkin karena mabuk perjalanan. Namun, dia baik-baik saja karena sering memainkan handphonenya atau karena hal yang lain.
“Andi. Apapun yang terjadi kamu harus siap menerimanya.” Sakura tiba-tiba menggenggam erat tanganku diperjalanan menuju ke rumah Careline.
Aku mengangguk. “Tenang saja. Apapun yang terjadi aku akan baik-baik saja. Juga Careline.”
Sakura tersenyum.
Entah mengapa, ketika bersama Sakura, aku merasa tidak bersama dengan perempuan. Aku merasa bersama dengan ayah.Sehingga aku tidak membuat batasan dengannya. Apa karena hati ayah ada dalam dirinya.
Kami akhirnya tiba di rumah Careline.
Deg. Jantungku terus berdegup kecang. Janur kuning nampak jelas di depan rumah Careline. Kuraih dengan erat tangan Sakura. Kami berdua masuk kedalam diantara kerumuman orang-orang.
Aku melihat diatas pelaminan dengan jelas David dan Careline duduk berdampingan. Apa ini mimpi? Aku ingin kembali, namun orang-orang malah terus menyuruhku untuk maju. Mau bagaimana lagi, aku harus pergi dan menemui Careline juga David. Aku harus tegar. Mungkin inilah jalan terbaik. Meski aku tidak mampu menerimanya, sungguh.
Jantungku terus berdegup kencang keringat dingin perlahan bercucuran. Kini, aku berada dihadapan Careline. Aku melihat dengan jelas dia tidak dapat membendung air matanya.
“Andi, kamu tahu aku…”
“Cukup Careline. Jangan lupa datang di pernikahan kami juga.” Aku berbalik kearah Sakura.
“Sakura?” Careline kaget dengan sosok dibelakangku.
“Careline, aku…”
Aku menarik tangan Sakura dengan sigap, setelah kami menyalami David. Aku tidak bisa berlama-lama disini. Badanku sudah sangat lemas. Aku ingin mati saja.
Sakura, dia juga menggenggam tanganku erat.
“Kita harus kembali ke Korea. Aku tidak bisa berlama-lama disini juga kamu Sakura,” kataku ketika kami telah memasuki mobil.
Sakura tersenyum, wajahnya pucat.
“Apa kamu baik-baik saja?”
Sakura mengangguk. “Betul Andi, kita langsung kembali, kuharap aku bisa tiba disana secepat mungkin.”
“Persoalan tadi, aku betul-betul minta maaf, aku tidak tahu ingin berkata apa lagi.”
“Tidak masalah. Sebenarnya, aku sudah tahu tentang pernikahan itu ketika dalam perjalanan menuju ke rumah Careline.”
“Frans, dia benar, aku sangat membutuhkanmu disana.”
Perempuan di sebelahku tersenyum. Namun, sembari melihat senyumnya aku lebih fokus pada matanya yang pucat. Apa dia benar-benar baik-baik saja?
Di Incheon, aku menjalankan aktivitasku seperti biasanya. Kembali menjalankan bisnis. Setelah berhari-hari larut dalam kesedihan, aku sudah tampak seperti orang normal sekarang. Meski tidak begitu yakin.
Memori ingatanku kembali di hari itu, hari pernikahan Careline, setiap kali dia menelepon. Sering malah. Andai bukan nomor bisnis, aku akan mengganti nomorku segera. Sudah puluhan bahkan ratusan panggilan tidak terjawab darinya. Tentu itu akan mengganggu telepon dari rekan bisnisku yang lain. Untung saja, Frans cepat mengambil alih telepon perusaahan. Memberitahukan siapa pun bahwa nomorku akan segera dihapus dan diganti. Dia kuangkat jadi saudara sekarang.
Makan siang?
Sebuah pesan singkat masuk dari handphoneku yang satunya. Sakura. Akhir-akhir ini kami begitu dekat. Sekembalinya dari Indonesia. Kami jadi sering makan siang bersama, makan malam bahkan video call via kakao talk.
Hahaha… tunggu, setelah kuselesaikan semua berkas ini
Balasku.