FOTO 18 : Pelaminan 2

1806 Words
Di Incheon, aku menjalankan aktivitasku seperti biasanya. Kembali menjalankan bisnis. Setelah berhari-hari larut dalam kesedihan, aku sudah tampak seperti orang normal sekarang. Meski tidak begitu yakin. Memori ingatanku kembali di hari itu, hari pernikahan Careline, setiap kali dia menelepon. Sering malah. Andai bukan nomor bisnis, aku akan mengganti nomorku segera. Sudah puluhan bahkan ratusan panggilan tidak terjawab darinya. Tentu itu akan mengganggu telepon dari rekan bisnisku yang lain. Untung saja, Frans cepat mengambil alih telepon perusaahan. Memberitahukan siapa pun bahwa nomorku akan segera dihapus dan diganti. Dia kuangkat jadi saudara sekarang. Makan siang? Sebuah pesan singkat masuk dari handphoneku yang satunya. Sakura. Akhir-akhir ini kami begitu dekat. Sekembalinya dari Indonesia. Kami jadi sering makan siang bersama, makan malam bahkan video call via kakao talk.    Hahaha… tunggu, setelah kuselesaikan semua berkas ini Balasku. Sekitar 3 sampai 4 bulan aku di Korea. Program acara yang kubuat Bersama BG entertainment akan rampung. Tinggal proses akhir seleksi, beberapa orang telah kurangkul menjadi artis, aktor, penyanyi juga sebuah grup boyband yang dikelola Frans. Sejujurnya, aku tidak ingin. Namun Frans terus memaksa bahkan akan bertanggung jawab dan turun tangan langsung mengelolanya. Mungkin, cita-cita yang tidak kesampaian. Jadi personil boyband. “Aku akan keluar makan siang Frans. Kamu tetap awasi segalanya,” kataku sembari memasang coat. “Jangan lupa sebungkus kimchi,” kata Frans sambil menyusun dokumen. Aku tersenyum. Menuju ke kafe baru yang disarankan Sakura. Aku masih tetap menggunakan jasa supir. Sebenarnya bukan persoalan bahwa aku tidak ingin menyetir. Sungguh, aku mampu melakukannya apalagi bisa berbincang hangat dengan Sakura tanpaada gangguan. Hanya saja, di negara ini tidak boleh sembarang penyetir dan paling penting, aku sangat membutuhkan ahli penerjemah bahasa.   Memperhatikan pemandangan kota. Entah mengapa, bayang-bayang wajah Careline terlintas jelas di benakku. Seperti terus menghantui. Namun, yang ada hanya bayang-bayang buruk. Dia dan David. Mimpi-mimpi indah yang kurencanakan bersama Careline kini sirna. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Saat ini, keberadaan Frans juga Sakura mampu menghilangkan sedikit kekhawatiranku.  Aku tiba di tempat yang dituju selang beberapa lama, Sakura hadir. Dia memakai pakaian yang berbeda. Sebuah dress berwarna merah, tas hitam setangan dan juga sebuah jas menggantung dikedua bahunya tanpa dimasukkan ke dalam lengan. Tidak salah, anak dari salah satu pemilik perusaahan properti berpenampilan seperti ini. Meski kutahu, saat ini dia mencoba melarikan diri dari rumah, namun tidak dapat menghilangkan kenyataan bahwa dia akan menjadi pewaris satu-satunya perusaahan itu. Sedangkan aku, memakai jas hitam formal. Entah mengapa ini terasa seperti kencan kami yang pertama. “Kamu ingin langsung memesan makanan?” tanyaku. Sakura mengangguk. “Bukannya itu tujuan kita datang kesini.” Aku tersenyum. Kemudian memanggil seorang perempuan pencatat menu. “Aku ingin jus stroberi dan seporsi ttokboki.” “Hanya itu? Ini masih musim dingin. Kamu tidak ingin memesan makanan berat,” tanyaku. Sakura menggeleng. “kupikir, tteokboki adalah makanan berat.” Setelah kami memesan makanan. Suasana menjadi lengang. Kecanggungan entah mengapa terjadi. Ini tidak seperti biasanya. Kami punya banyak topik pembicaraan yang dibahas. Namun kali ini, kami berdua nampak serius. “Apa kamu baik-baik saja?” Aku membuka pembicaraan lebih awal dan sadar, pertanyaan macam apa yang kuucapkan. Aku tidak dapat mengatakan apapun selain itu. Sakura tersenyum. “Apa kamu memikirkan apa yang kupikirkan?” Aku diam sejenak. Berusaha mencerna kata-kata Sakura lebih dalam. “Hmmm…” Aku mengetuk meja berulang kali. “Persoalan pernikahan.” Setelah itu, aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Inikah yang dinamakan orang kebanyakan, dengan salah tingkah? Suasana hening beberapa saat. Kemuddian Tawa lepas Sakura mencuat begitu saja. “Apa itu yang kamu pikirkan. Aku bahkan tidak berpikir sejauh itu Andi.” Aku semakin menjadi-jadi. Berpura-pura memainkan ponsel. Apa jawabanku sekarang? Sakura memecah keheningan. “Apa kamu menyukaiku? Katakan saja. Aku tidak bisa berkata apapun untuk memaksamu sekarang. Kalau benar iya. Maka janjiku akan terpenuhi. Aku akan menikahi orang yang menyelamatkanku di kolam hari itu.” Aku tertegun. Mengingat kejadian hari itu dipantai, aku dan Sakura. “Kalau begitu kita percepat saja. Aku takut jika terus begini. Kamu tahu, hari itu aku tinggal di rumahmu berhari-hari itu adalah masalah besar. Aku tahu pernikahan bukan hal biasa dari sekedar mencoba. Aku juga tidak menjamin diriku untuk menyukaimu selamanya. Namun aku akan berusaha. Semaksimal mungkin.” Sakura tertawa. Lebih lepas. Apa dia menganggap ini hanya bahan guyonan. Aku mengernyitkan dahi. Apa-apaan ini? Tawa Sakura mereda. “Kapan terakhir kali kamu seserius ini Andi. Hahaha… Tidak masalah. Aku juga akan berusaha semaksimal mungkin. Meski aku tidak yakin mampu mendampingi laki-laki sesempurna dirimu.” Dia mulai serius. “Kamu akan menemui banyak kekuranganku nanti. Kalau begitu kamu bisa menentukan tanggalnya. Usahakan secepat mungkin.” Sakura menutup mulut berusaha menahan tawa. “Kalau begitu besok saja,” kataku. “Hah, besok? Sungguh?” “Bukan Sakura. Maksudku kita bisa merencanakan segalanya besok. Tempat, pakaian juga waktu. Hari sudah larut malam setelah kita makan.” Tidak berselang lama, pelayan datang. Kami menghabiskan makanan seperti biasanya. “Jangan lupa jaga kesehatan. Aku akan mengosongkan beberapa schedule-ku untuk ini besok.” Kataku sebelum kami berpisah. “Kamu juga Andi. jangan terlalu memaksakan diri. Meluangkan waktu untuk pernikahan kita, kupikir kamu akan menjadi suami yang baik.” Perlahan-lahan, pipi Sakura memerah. Terlihat jelas. Darimana dia tahu untuk mengucapkan hal seperti ini.  Malam itu, menjadi salah satu malam yang tak terlupakan. Sebentar lagi, bayang-bayang buruk Careline akan menghilang dari hidupku. Semoga saja. RRR Hari ini, aku mengabarkan Frans untuk memundurkan semua scheduleku. Aku juga bercerita persoalan hubunganku dan Sakura. Dia senang. Suara sorakannya terdengar jelas. “Jangan melakukan kesalahan kali ini Andi.” Frans mungkin teringat dengan hubunganku beberapa waktu lalu. Careline. “Tentu tidak. Syukurlah, setidaknya aku belum menikah sebelum mengetahui betapa buruk sikap perempuan jalang itu.” “Hah? Apa. Apa aku tidak salah dengar?” Tanya Frans, tidak percaya dengan apa yang kukatakan barusan.   Aku terdiam. Tidak sepantasnya aku mengucapkan kata-kata seperti itu. “Kututup dulu. Ingat mundurkan schedule-ku.” “Baiklah!” Frans tertawa sejenak sebelum menutup telepon. Aku berangkat, tetap menggunakan jasa supir. Mengenakan suit putih, kemeja hitam, celana putih dan pita hitam. Ini kali pertama aku bercermin lama. Memastikan diri tampil sempurna. Sakura menunggu. Tepat di depan rumahnya. Dia mengenakan dress putih dan jas berbulu, juga tas putih kecil yang dipegang. Rambutnya hitam lurus panjang. Kami serasi. Padahal tidak pernah janjian sebelumnya.  “Aku akan menjadi perempuan sempurna hari ini. Sempurna dalam memilih gaun pernikahan, juga tempat, tanggal, pesta. Kita harus membuatnya sempurna Andi. Ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya. Aku tersenyum. Sakura lebih semangat dari yang kuduga. “Mungkin, perempuan tahu segalanya tentang hal-hal seperti itu. Aku hanya bisa menemanimu hari ini Sakura. Kalau jadwalku kumundur lagi besok…” “Tidak apa Ando. Disinilah keahlianku. Aku tahu segalanya tentang fashion, yang terpenting kita harus memilih pakaian dulu. Ukurannya harus pas untukmu bukan.” Aku tersenyum. Percaya sepenuhnya dengan apa yang Sakura katakan. Di tempat pakaian pernikahan, aku tidak banyak bicara. Aku telah menyerahkan sepenuhnya kepada Sakura (bukan karena memang tidak ingin bicara, tetapi aku sama sekali tidak tahu bahasa Korea). Kami telah sepakat memilih tema merah muda untuk siang dan putih-putih untuk malam di Indonesia. Di Korea lain lagi, Sakura menginginkan warna biru muda. Tiga pasang pakaian yang kami pilih betul-betul bagus menurutku. Bukankah Korea pusat fashion dunia?  Setelah pakaian, aku dan Sakura pergi untuk mencari tempat pernikahan di Korea. Dua hari sebelum pernikahan di Indonesia, kami mengadakan pestanya terlebih dulu di Korea. Hanya saja, pesta pernikahannya lebih kecil, karena hanya keluarga dan teman dekat Sakura yang datang. Sepupu Sakura tidak banyak, mereka juga bukan sepupu kandung dan keluargaku? Ando, bibi Nuri dan juga Bibi-bibi yang lain yang entah apakah mereka betul-betul datang. Namun, meskipun pestanya kecil disinilah intinya. Tempat aku akan mengucapkan akad. RRR Hari yang ditunggu tiba. Pesta Pernikahanku. Kali ini aku betul-betul gugup. Tidak seperti biasanya. Memastikan anak-anak rambut betul-betul rapi. Mengulang beberapa kali kalimat akad. Untung saja aku sendiri di kamar. Menyuruh Frans mengawasi pintu kamar. Aku bisa mengekspresikan diri. Ini lebih sulit dari interview kerja, sungguh. “Andi… Para tamu undangan sudah hadir.” Suara Frans terdengar dari luar. “Sedikit lagi.” Aku merapikan pita biru muda. Menatap ke cermin “kamu bisa Andi.” Aku akhirnya keluar, duduk di pelaminan sendiri. “Kemana Sakura?” tanyaku pada bibi Tri. Bibi yang mengurusi Sakura waktu kecil. Bahkan menjaga Sakura di rumah sakit hari itu.   “Non Sakura? Mungkin dia sedang bercermin, Sangat lama. Hahaha… bukankah ini hari istimewa kalian?” Bi Tri tertawa. Aku juga ikut tertawa, mengingat aku baru saja melakukannya tadi. Maksudku bercermin. “Biar aku ke kamar sebentar. Memastikan apakah dia baik-baik saja,” kata Bibi Tri terakhir kali. Aku mengangguk, lalu ber-terima kasih. Aku menatap para tamu. Mereka juga menatapku. Ada teman dekat, bibi, Ando, juga bibi-bibiku yang lain, kecuali bibiku yang sudah lama tinggal di Eropa, bukankah kabarnya memang sudah tidak lagi terdengar, bahkan dia tidak datang di pemakaman ibu, ayah bahkan kakek. Juga, satu orang lagi, Roy. Aku yakin dia sudah tidak tahu ingin menampakkan wajah memalukannya dimana. Setelah menatap arloji begitu lama, seorang perempuan dengan gaun panjang berwarna biru menarik perhatian seluruh tamu. Aku terpukau. Mematung. Sakura, cantiknya tidak dapat dibayangkan malam ini. Semua tamu hadirin berdiri, memegang sebuah tongkat awan menyala berwarna biru. Sakura pandai memilih tema.    Aku perlahan berjalan menuju Sakura, kemudian memegang tangannya. Semua orang bersorak. Sebuah benda putih mirip salju turun dari atas. Suasana tiba-tiba gelap. Cahaya biru kemudian menyinari kami dari atas. Pesta pernikahan kami betul-betul sempurna. RRR Pesta selesai. Semua orang telah pulang. Sakura memasuki kamar lebih dulu. Disusul aku yang gugup bukan main. Aku dan Sakura memang pernah tinggal bersama waktu badai salju terjadi. Tetapi kali ini berbeda. Apa yang dilakukan pasangan di malam pertama? Aku Memasuki kamar. Sakura duduk di tepian kasur. Aku diam, tidak tahu ingin berkata apa. “Aku mandi dulu. Kamu bisa melihat kamar ini jika kamu mau.” Aku memecah keheningan. “Pesta tadi panas sekali bukan?” Sakura mengangguk, mulai berdiri. Melihat-lihat foto di kamar disusul aku yang mulai masuk ke dalam kamar mandi. Setelah mandi. Aku mengeringkan rambut dengan handuk kecil. “Kamu bahkan tidak punya foto masa kecil sama sekali.” Aku berbalik. Sakura mengagetkanku, dia tengah melihat sebuah album berwarna merah. “Loh, bukannya itu dokumentasi perjalanan bisnisku ke luar negeri. Kamu lupa kita sedang di Korea sekarang? Lagipun kamu tidak akan sanggup melihat foto masa kecilku. Kamu tidak akan sabar memiliki anak sepertiku.” Sakura menatapku. Suasana hening mencekam. Aku baru sadar apa yang baru saja kukatakan. “Bukan Sakura, maksudku bukan kesitu. Aku tidak bermaksud untuk…” Sakura tersenyum, raut wajahnya berubah. Suara tawa tiba-tiba memenuhi seisi ruangan. Aku menunjukkan ekspresi ‘apa yang salah dengan kata-kataku barusan?” Setelah itu, suasana menjadi berbeda. Tidak ada lagi rasa gugup seperti diawal masuk kamar tadi. Kami lebih banyak bercerita hingga mengundang gelak tawa. Sakura tidur di lenganku. Malam itu menjadi malam yang panjang bagi kami berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD