Tubuh Moza gemetar bukan main. Matanya terbelalak kaget melihat pemandangan tak mengenakan di dalam ruangan itu. Suaminya, Vano tengah b******u mesra dengan wanita lain. Rasanya, itu seperti mimpi buruk bagi Moza. Dia hanya mampu menutup mulutnya syok, hingga air mata perlahan mengalir dari matanya. Semakin lama, semakin banyak. Lututnya terasa lemas seperti jeli.
Ini tidak mungkin. Moza tidak mau percaya jika Vano telah membohonginya. Ini tidak benar, 'kan? Tapi, apa yang dia lihat sekarang sudah sangat jelas. Suaminya sedang asyik bermain bersama wanita. Lantas apa yang perlu diragukan lagi? Namun, kenapa Vano tega melakukan hal ini?
Moza memegang tembok di sebelahnya, saat dia merasakan tubuhnya nyaris oleng ketika melihat kelakuan Vano di dalam. Sungguh, rasanya Moza tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Tentu saja hatinya sangat sakit, seperti sebuah pisau berkarat menghujam jantungnya. Air matanya terus mengalir, sampai saking tidak kuasanya Moza menahan sakit hati yang dia rasakan, kakinya perlahan melangkah mundur. Menjauh dari pintu tempat Vano melayani wanita-wanita itu.
Pemandangan yang ada di dalam ruangan itu terlalu menyesakkan. Dadanya benar-benar sakit. Suaminya telah berkhianat. Bagaimana mungkin, Vano bisa tega melakukan itu? Moza selalu berusaha menjadi istri yang baik selama ini. Dia selalu mendukung Vano jika laki-laki itu benar. Berusaha membantu suaminya di tengah himpitan ekonomi mereka yang merosot, tapi yang Moza dapat, justru amat sangat tidak sepadan dengan semua pengorbanan dan kesabarannya selama ini. Cintanya yang tulus telah dikhianati.
Dua tahun mereka mengenal dan tiga tahun mereka menjalani pernikahan, Moza selalu bersama Vano apa pun keadaannya. Bahkan saat mereka sama sekali tidak punya anak. Bukan karena Moza mandul, tidak. Dokter mengatakan kalau dia sangat sehat. Lantas, apa yang salah dengannya? Entahlah, dia juga tidak tahu, kecurigaannya jatuh pada sang suami, tapi apa pun itu, siapa pun yang bermasalah di antara mereka, Moza tidak peduli. Dia hanya mencintai Vano, hanya laki-laki itu dan Moza berpikir bahwa Vano juga mencintainya.
Sayangnya, semua itu harus terbantahkan saat ini juga. Sepertinya hanya Moza yang mencintai Vano, sementara laki-laki itu tidak. Tidak ada orang yang mencintai, tapi menyakiti orang yang dicintainya seperti ini dan Moza harus sadar, jika kehadiran dirinya selama ini sama sekali tidak berarti bagi Vano.
Moza perlahan mulai berlari menjauhi tempat itu. Dia tak kuasa melihatnya lebih lama lagi atau melabrak mereka. Moza benar-benar sangat kebingungan. Pikirannya buntu. Hanya air mata yang mampu menggambarkan bagaimana kacaunya perasaan dia saat ini. Wajahnya terus menunduk karena takut tangisnya menarik banyak perhatian.
Akan tetapi, Moza yang berlari tanpa melihat jalan, tidak sadar kalau di ujung lorong, beberapa orang laki-laki juga sedang berjalan ke arahnya. Tampak seperti sibuk berbincang dan tak begitu memerhatikannya, hingga ketika jarak mereka sudah dekat, dia tak sengaja menabrak salah satu dari mereka dan membuatnya terjatuh.
Tubuh Moza menimpa salah seorang laki-laki yang terjatuh itu dan tanpa diduga, posisi mereka menjadi begitu intim. Moza bahkan sampai tidak sadar jika bibirnya beradu dengan bibir laki-laki yang saat ini mengenakan topeng setengah wajah. Dalam sekejap, waktu seolah berhenti. Tubuh Moza membeku di tempat, dan tampak sorot matanya terbelalak kaget. Moza menyadari kalau dia tak sengaja berciuman dengan laki-laki asing yang bahkan wajahnya saja tidak diketahui. Apalagi, air matanya menetes dan jatuh di wajah laki-laki itu.
Tiada yang bisa Moza lakukan selain menahan malu dan bangkit. Tak menghiraukan tatapan melongo dari beberapa laki-laki di sekelilingnya. Apa yang terjadi barusan, telah berhasil membuat rasa malunya semakin menumpuk, hingga Moza hanya bisa mengeluarkan kata maaf dengan air mata yang tak henti mengalir. "S-saya ... ss-saaya minta m-maaf, Tuan."
Nada suaranya terdengar bergetar dan tersendat, namun secepat kilat, tanpa menunggu jawaban dari orang yang menjadi korbannya, Moza langsung melarikan diri. Dia terus berlari keluar club malam tanpa begitu memerhatikan jalan dan lagi-lagi, menabrak beberapa orang. Tentunya, kali ini dia tidak sampai mengulang adegan memalukan tadi.
Sementara di sisi lain, laki-laki yang sempat terjatuh karena ulah Moza, hanya bisa menatap wanita itu dengan tatapan sulit diartikan, sampai beberapa orang di sebelahnya lantas membantunya bangkit. Membersihkan jas mahalnya yang kotor karena menyentuh lantai. Ada tatapan kesal terlihat di matanya, sebelum dia mengingat insiden saat bibirnya tanpa sengaja bersentuhan dengan bibir lembut wanita aneh itu.
Diusapnya bekas ciuman itu sambil membenarkan letak posisi topeng yang dikenakannya. Menatap salah seorang bawahannya dengan tajam. "Cari tahu semua tentang wanita itu dan berikan informasinya padaku."
***
Menangis. Hanya itu yang bisa Moza lakukan begitu tiba di rumah. Dia meringkuk di dalam selimut sambil terisak-isak cukup keras. Tak begitu memedulikan mertuanya yang menanyakan tentang makanan atau alasan kenapa dia pulang dalam keadaan kacau? Moza tidak peduli, tapi beruntungnya, saat ini Hellen tidak menghampiri dan merecokinya. Membuat Moza lebih leluasa meluapkan emosinya.
Moza memeluk guling dan menangis di ranjang sempit itu. Dia juga tidak menghiraukan kejadian saat menabrak dan tak sengaja mencium seorang laki-laki asing, itu jelas hanya kecelakaan kecil. Satu hal yang ada dalam pikirannya saat ini adalah Vano. Suaminya. Apa yang harus Moza lakukan kini?
Hatinya terasa tercabik-cabik. Dia masih belum terima dengan apa yang tadi dilihatnya. Moza sadar, matanya tidak buta, tapi rasanya semua itu terlalu sulit dipercaya dan begitu tiba-tiba. Sungguh demi apa pun, Moza tidak bisa melupakannya. Vano telah berbohong dan mengkhianatinya.
Kerja? Kerja seperti apa yang dimaksud? Laki-laki itu malah terlihat seperti bersenang-senang saja, bukan mencari uang. Kenapa suaminya berbohong? Kenapa Vano harus mengatakan itu? Suaminya berdandan dan memakai parfum untuk wanita lain. Suaminya begitu b*******h pada wanita lain, sedang padanya tidak. Hati Moza kembali merasa sakit.
Di tengah rasa sedihnya yang begitu dalam, terdengar gedoran pintu cukup keras. Disusul oleh sebuah teriakan dari luar. Suara mertuanya yang memanggil-manggilnya. Baru saja Moza berpikir kalau mertuanya tidak akan mengganggu, kini ketenangannya justru harus terusik.
"Moza! Mana makanan Mama! Kenapa kamu tidak membawa apa pun? Hei, menantu tidak tahu diuntung! Keluar cepat!"
Moza melirik tanpa minat ke arah pintu. Air matanya menetes semakin banyak. Dia ingin menenangkan diri di sini sendirian. Namun sepertinya, itu tidak akan berhasil. Perasaannya semakin kacau saat telinganya mendengar umpatan kasar sang mertua yang tidak mau berhenti mengganggunya. Hingga dia dengan malas beranjak dari ranjang dan berjalan mendekati pintu.
"Iya, Ma."
"Mana makanan Mama? Mama kelaparan tahu! Katanya kamu mau belikan!" Hellen membentak Moza. Kedua tangannya berkacak pinggang. Dia mengernyit melihat air mata dan mata menantunya yang sembab, juga hidung Moza tampak memerah. Namun karena itu bukan urusannya dan dia tidak mau tahu, Hellen memilih mengabaikannya.
"Maaf, Moza lupa, Ma."
"Alah! Alasan saja, cepat pergi dan beli makan buat Mama!" Hellen menarik lengan Moza keluar kamar dan menuju pintu keluar. Wajahnya benar-benar kesal, bahkan tak segan dia mendorong menantunya hingga Moza hampir terjatuh.
Moza hanya menatap sekilas sembari menyusut air matanya dan melihat pergelangan tangannya yang memerah. Dia kemudian berjalan kembali meninggalkan rumah untuk mencari makanan. Namun langkahnya terlihat seperti mayat hidup. Moza tidak bisa mengalihkan perhatiannya sejenak dari apa yang dia lihat mengenai suaminya. Bahkan kata-kata kasar mertuanya, tidak cukup menyadarkan dia dari rasa sakitnya dikhianati. Dia benar-benar sangat mencintai Vano.