Perselisihan

1160 Words
Beberapa kali, Moza mengubah posisi tidurnya di ranjang. Dia terus-menerus gelisah sepanjang malam karena memikirkan suaminya. Sampai dini hari tiba, Moza bahkan tidak bisa memejamkan matanya. Dia hanya diam dan menatap langit-langit kamar. Menunggu suaminya pulang. Moza ingin meminta penjelasan atas apa yang pernah Vano katakan tentang pekerjaan dan apa yang dia lihat di klub sebelumnya. Hingga lagi-lagi, air matanya kembali menetes saat kepalanya mengingat kembali perbuatan sang suami. Vano, sebenarnya kenapa suaminya jadi seperti itu? Apa dirinya sudah sangat amat tidak menarik lagi? Apa karena dirinya tidak bisa memberikan pelayanan terbaik? Ke mana hilangnya rasa cinta dan kasih sayang yang dulu mereka bersemi di antara mereka? Dan bagaimana caranya dia akan menjalani rumah tangganya nanti? Di tengah kesedihannya yang mendalam, telinga Moza tiba-tiba mendengar sebuah suara dari luar. Seseorang membuka pintu dan berjalan melangkah di atas lantai yang dingin. Moza hanya mendengarkan dengan saksama. Sampai langkah kaki itu terdengar berhenti tepat di depan pintu kamarnya. Dia spontan terduduk dan bangkit dari ranjang, mendekati pintu dengan hati-hati. Moza takut jika itu adalah maling. Namun, belum semenit dia berpikir, pintu sudah terbuka dan menampilkan sosok yang sejak berjam-jam lalu dia tunggu. Vano datang dan menatapnya penuh keterkejutan. "Kamu, belum tidur?" Suara halus dan terdengar lelah masuk ke dalam gendang telinganya. Moza terdiam saat Vano membuka jaket dan berjalan menjauh. Aroma parfum wanita bisa dia rasakan dan itu membuatnya kembali mengingat apa yang Vano lakukan sebelumnya. Dadanya lagi-lagi merasakan sakit dan air matanya tanpa sengaja menetes. "Kenapa kamu menangis? Kamu sangat aneh. Aku lelah, ayo tidur," ucap Vano sembari merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia menepuk-nepuk sisi lain dan meminta Moza tidur di sana. Tidak terlalu peduli dengan apa yang mengganggu pikiran Moza. "K-kamu ... dari mana, V-vano?" Setelah menahan kegetiran dan hatinya yang hancur, Moza akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Meski suaranya terdengar serak dan terbata-bata karena sepanjang malam, dia terus menangis. Moza juga bisa melihat bagaimana tatapan Vano yang bingung dan tidak suka. "Kerja, apalagi memangnya? Bisakah kamu berhenti bertanya? Aku lelah! Cepat kemari dan tidur. Kamu sangat aneh, untuk apa jam segini masih bangun." Vano menggerutu. Terlihat wajahnya lelah bukan main. "Bekerja apa di klub malam? Dan apa yang kamu lakukan di kamar bersama dua wanita itu?" tanya Moza yang tidak dapat lagi menahan diri. Pertanyaan yang diiringi air mata itu, berhasil membuat Vano yang mengantuk dan hendak memejamkan mata, tiba-tiba kembali terbuka. Suaminya terduduk dengan mata melotot. Vano tampak kaget dengan perkataannya. "Apa yang kamu lakukan di sana? Apa kamu melihatnya?" Vano menatap datar istrinya. Dia setengah mendesak. Seharusnya dia sudah tahu hanya dengan melihat air mata yang mengalir di pipi sang istri. Melihat Moza menangis seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan, karena tidak mampu menjawab pertanyaannya, membuat Vano bangkit dan mencengkeram tangan sang istri. "Katakan, kamu melihat semuanya?" "Kenapa? Kenapa kamu tega mengkhianati pernikahan kita? Kenapa kamu tidur dengan wanita-wanita itu, Vano? Kamu berkata kamu bekerja sebagai bartender, tapi bagaimana kamu bisa berbohong? Kamu main dengan wanita lain!" Moza hampir menjerit. Namun yang bisa dilakukannya hanya menggoncang tubuh suaminya dan menangis di sana. "Untuk apa kamu mengikutiku?" Moza tidak menjawab, dia hanya memberikan ponsel milik Vano yang dia bawa pulang kembali. Menunjukkan pesan singkat dari orang tak dikenal dan ponsel itu seketika langsung direbut oleh suaminya. Vano terdiam sejenak. Lelaki itu seketika sadar kalau dia meninggalkan ponselnya. "Aku tidak mengkhianati pernikahan kita. Aku hanya mencari uang. Kau tidak percaya, aku mendapatkan uang yang sangat banyak." Vano tersenyum tipis dan menunjukkan pesan dari bank jika transfer dari wanita-wanita itu telah masuk. Meski beberapa saat lalu, dia sempat mencemaskan apakah uangnya sudah masuk atau tidak. Betapa bodohnya dia melupakan ponselnya begitu saja. Namun sekarang, kecemasannya telah hilang. Hanya rasa puas yang dia rasakan saat rekeningnya kini diisi dengan delapan digit angka. Jika dibandingkan dulu, angka itu terbilang kecil, tapi untuknya yang sekarang tidak memiliki apa-apa, uang itu termasuk besar. "Uang?" "Wanita-wanita itu puas dan memberikanku uang sebagai imbalannya. Bagaimana menurutmu? Bukankah kamu harusnya melakukan hal yang sama? Kamu bisa mendapatkan uang hanya dengan tubuhmu dan karena sekarang kamu sudah mengetahui pekerjaanku, aku tidak akan menyembunyikannya lagi." Moza hanya bisa terdiam mendengar perkataan suaminya. Vano tampak sangat senang dengan uang yang didapat dari cara yang salah itu. Moza bisa melihat nominal uang dalam pesan itu, yang memang tidak main-main. Namun, haruskah Vano bekerja sebagai lelaki pemuas nafsu? Moza tidak setuju, dia tidak mau berbagi suami dengan wanita lain. Vano miliknya. "Besok, aku akan mengenalkanmu pada seseorang. Dia akan membuatmu mendapatkan banyak ua—" "Tidak! Aku tidak mau! Aku mohon hentikan semua ini! Aku tidak mau kau menjadi p*****r, Vano. Kita bisa mendapatkan uang dari pekerjaan lain dari pada menjual diri. Aku mohon, berhenti melakukan itu." Moza memeluk erat tubuh suaminya dan menangis di sana. Belum terlambat untuk menghentikan semua ini. Dia tidak mau suaminya terjerumus pada jalan yang salah. Ada banyak cara untuk mendapatkan uang, meski tidak dengan cara yang instan. Apalagi yang dilakukan Vano telah menyakiti hatinya. Memangnya istri mana yang mau melihat suaminya menyentuh wanita lain setiap malam? Sayangnya, senyum yang sempat hadir di bubur Vano seketika lenyap. Dia mengernyitkan alisnya dalam. Vano dengan kasar melepas pelukan Moza dan berkacak pinggang. Dia menggeleng tak percaya saat Moza berani menentangnya. "Kenapa kamu tidak mau mendukungku? Memangnya uang yang kamu hasilkan cukup untuk kita hidup dan membangkitkan kembali perusahaanku? Dengar, aku butuh uang yang banyak untuk mengambil alih perusahaan dan rumah kita kembali. Kita tidak bisa hidup seperti ini terus. Aku juga harus mencari tahu di mana keberadaan si pengkhianat itu." Vano tidak mau membiarkan orang-orang yang telah berkhianat dan menipunya masih berkeliaran bebas dengan uang miliknya, sedangkan dia hidup dalam garis kemiskinan. Vano ingin rumahnya kembali, mobil mewahnya dan perusahaannya. Dia ingin itu kembali dalam genggamannya. Sementara pekerjaan yang Moza lakukan, tidak akan menghasilkan apa pun selain uang untuk makanan mereka sehari-hari. "Kita masih bisa melakukannya dengan cara lain, Vano. Kita bisa bekerja dan menabungkan uangnya." Vano nyaris tertawa mendengarnya. "Kamu meledekku sekarang, huh? Kamu tahu semua perusahaan menolakku? Bagaimana bisa aku bekerja? Di mana?" "Tidak, maksudku bukan seperti itu—" "Diamlah, ini adalah cara cepat untuk kita mendapatkan uang. Kau harusnya menurut dan mendukungku," potong Vano. "Tapi Vano, aku tidak mau kamu tidur dengan wanita—" "Sudahlah, Moza, berhenti mengaturku! Aku tahu apa yang kulakukan. Jangan halangi aku! Mengerti?" Vano tanpa sadar membentak Moza karena tidak bisa menahan emosi. Tidak peduli istrinya kembali menangis karena bentakannya. Dia lebih memilih merebahkan kembali dirinya ke atas ranjang dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. "Berhenti menangis. Jika tidak, tidurlah di luar. Kamu mengganggu waktu tidurku." Moza yang masih tidak bisa menahan tangisnya, akhirnya memilih untuk keluar kamar dan mengistirahatkan pikirannya. Dia duduk di sofa yang menghadap televisi. Tubuhnya meringkuk di sana. Moza tak habis pikir dengan keputusan suaminya. Kenapa kini hidupnya menjadi seperti ini? Kenapa Vano berubah? Moza tahu kalau kebangkrutan perusahaan adalah pukulan keras bagi suaminya, tapi bukan berarti Vano harus mendapatkannya kembali dengan cara yang salah. Ada begitu banyak risiko jika sang suami masih tetap melanjutkan pekerjaannya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD