Pagi itu, adalah pagi yang menjadi awal sangat menyenangkan begitu dia membuka mata. Moza tak henti-hentinya tersenyum memandangi wajah suaminya yang masih terlelap di sampingnya. Selimut tipis, kini dia tarik untuk menutupi tubuh telanjang di baliknya. Sungguh malam yang mengesankan. Moza tahu dia bodoh. Sangat amat bodoh saat Vano memintanya, dia memberikan dirinya begitu saja dengan sukarela. Setelah lelaki itu menyakitinya dan bahkan tidur dengan wanita lain, dia malah luluh oleh sikap manis yang ditunjukkan Vano semalam. Moza menyangga kepalanya dengan salah satu tangan. Dia memerhatikan wajah suaminya dengan lekat dan tangannya mulai terulur menyentuh beberapa lebam di sana. Pasti sakit. Vano dipukuli sampai seperti ini. Moza merasa kasihan melihatnya. Dia tidak tega dengan keadaan

