Hari itu, kantor tempatku bekerja menerima beberapa karyawati baru yang ditempatkan di divisi kami yang kebetulan sudah sejak lama membutuhkan sumber daya manusia tambahan. Seorang wanita berjilbab biru wardah itu sudah menyita perhatianku sejak pertama kali dia memperkenalkan dirinya padaku. Namanya, Hanna.. Lengkapnya adalah Hanna Putri.
Wajahnya sangat cantik, tapi sungguh bukan itu yang membuatku jatuh hati dan tertembak di tempat oleh visual mumpuninya. Aura keibuannya begitu jelas terlihat, apakah ini yang disebut intuisi? Entah kenapa aku merasakan hal yang tak biasa darinya. Nampaknya usianya jauh dibawahku, tapi bisakah aku memintanya untuk menjadi Ibu untuk Senja?
Ah, kacau sekali kau Ghani. Baru satu jam yang lalu kau berkenalan dan kau ingin menjadikan dia ibu dari anakmu? Lucu sekali! Jangan-jangan ini adalah sebuah syahwat yang tiba-riba saja menyerangku karena melihat kemolekan paras Hanna. Sudahlah, jangan berkhayal yang bukan-bukan Ghani. Wanita muda sepertinya, sudah pasti belum pernah menikah dan juga seleranya pasti tinggi, paling tidak yang masih lajang dan sudah mapan tentunya. Bukan duda beranak satu seperti aku ini.
Berhari-hari kemudian hati ini terus saja gelisah, tanpa sadar aku mulai memberikan banyak perhatian untuk Hanna. Entah Hanna menyadarinya atau tidak, yang jelas dia bersikap biasa saja. Dia menerima setiap kebaikan kecilku dan selalu saja terulas senyum di wajah jelitanya itu. dan senyum itu, sungguh aku jadi makin bersemangat menjalani hari-hari berharga itu. bisakah kantor tidak libur di hari sabtu dan minggu? Ah, tidak.. tidak.. weekend adalah milik Senja seorang. Ya, milik putri kecilku saja.
Meski hanya hal-hal kecil saja, tapi aku merasakan hal yang sangat aneh. Ada yang tidak beres pada diriku. Mataku pasti sudah rabun parah, semakin hari semua wajah di kantor tampak semakin memudar, hanya wajah Hanna saja yang bersinar dan lagi membuat jantungku berpacu lebih cepat tatkala tak sengaja berpapasan atau bercakap-cakap membahas pekerjaan dengan wanita berjilbab itu. tapi, lambat laun aku jadi sangat malu dan merasa buruk. Bagaimana jika Hanna nantinya akan merasa risih karena segala bentuk perhatianku itu? Ah, memalukan sekali kau ini, Ghani.
Sekuat apapun perasaan yang aku rasakan, tetap saja aku sama sekali tak punya nyali untuk berusaha lebih dekat dengan Hanna. Disamping itu, niatku adalah mencari Ibu untuk Senja, bukan mencari istri yang cantik jelita agar mata dan perasaanku nyaman di dekatnya. Ibu untuk Senja tentu saja tidak perlu cantik, dia hanya harus punya kasih sayang untuk Senja. Jadi, pasti itu bukan Hanna. Lagipula, gadis muda sepertinya mana punya sifat keibuan. Meinkah saja dia belum pernah, bagaimana bisa dia tiba-tiba memiliki anak? Bagaimana bisa hal itu tak mengusik hatiku. Ghali, ayolah sadarlah! Sejak itu, aku mulai menjaga mataku, menjaga hatiku agar tak terlalu dalam terpedaya oleh perasaan yang aku pikir cinta ini.
Sebulan sudah kami saling mengenal, hingga suatu hari Hanna bertanya apakah dia bisa menumpang di mobilku karena ban mobil miliknya pecah di tengah jalan. Sementara hari itu, kami akan bertemu dengan seorang klien penting.
Tak pakai ba-bi-bu lagi, setelah aku matikan ponsel aku langsung meluncur ke area dimana Hann berada. Sejak itu, aku mulai memberinhya perhatian lebih. Aku kerap kali mengajaknya makan siang bersama. Hanna nampak tak keberatan, karena dia tahu bahwa aku sudah tak lagi beristri. Itu mungkin membuatnya nyaman, karena dirinya akan jauh dari pandangan miring orang-orang, seperti jika aku masih memiliki seorang istri.
Rupanya, Hanna menangkap sinyal-sinyal cinta yang aku punya. Dia tak pernah keberatan saat aku menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Dia dan senyum ramahnya itu, dia pasti sayang pada Senja. Itu saja isi pikiranku, sekedar menghalau rasa takut kalau-kalau wanita yang aku cintai ini tak bisa cocok dengan Senja, atau mungkin sebaliknya.
Suatu hari, aku mengajak Hanna makan malam bersama Ibu dan Senja. Lagi-lagi dia tak menolak. Hanna tak tahu bahwa Senja putriku itu adalah anak istimewa, sampai pada pertemuan di pukul tujuh malam, bertempat di sebuah restoran seafood. Hanna untuk pertama kalinya melihat Senja. Jantungku hampir copot karena begitu gugup menerka-nerka respon Hanna tatkala dia melihat Senja.
Saat itu, Ibu dan Senja sudah duduk di sebuah meja. Aku menjemput Hanna di parkiran, dia datang seorang diri naik taksi. Kami berjalan masuk ke restoran, dan setelah jarak kami cukup dekat dengan meja yang sudah aku pesan untuk kami makan malam bersama. Tiba-tiba Senja berhamburan ke arah kami.
Aku sudah mengulurkan tangan menyambut Senja, untuk kemudian memeluknya. Tapi Senja tak mendatangiku, gadis kecilku itu menghampiri Hanna dan menatapnya dengan wajah polos. Hanna berlutut di depan Senja, menyapanya dengan riang dan ramah. Sungguh, airmataku hampir meleleh tak tertahankan.
“Halo Sayang, Assalamualaikum..” sapanya pada Senja.
Senja menyentuh pipi Hanna dengan tangan mungilnya. Saat itu, setitik bulir bening sudah terlanjut meleleh di sudut mataku, aku berpaling sejenak, menyeka benda cair itu.
“Hanna, ini Senja, putri Abang..” ucapku.
Hanna menoleh dan tersenyum diakhiri dengan anggukan lembutnya. Nampaknya dia sama sekali tak canggung bertemu Senja. Hanna nampak sangat hangat.
“Senja sudah lama tunggu ya? Ayo maem!” ajak Hanna. Senja bertepuk tangan dan meraih lengan Hanna, mereka berdua berjalan bersama ke arah Ibu, hanna langsung menyalami Ibu.
“Ibu, ini Hanna yang sering Ghani ceritakan.”
Ibu mengusap-usap pundak Hanna, aku tahu beliau amat terharu.
“Terimakasih sudah datang, Nak.” Sapa Ibu.
Hanna tersenyum dan membalas basa-basi Ibu dengan kalimat santun.
Kami makan seraya mengobrol santai. Senja nampak sangat manja di depan Hanna, dia terus saja mencari cara agar mendapat perhatian Hanna. Dia menjatuhkan sendok, menumpahkan air dalam gelas, menepuk-nepuk pipi Hanna dengan garpu. Tapi, Hanna sangat sabar, tak nampak secuilpun perasaan tak sukanya pada Senja yang tak bisa diam.
Aku sungguh berharap, Hanna bisa menjadi Ibu yang baik untuk Senja. Menggantikan Ibu kandung Senja yang tak pernah sudi menatap Senja.
***
Kami kembali kerumah, dan Senja langsung tertidur di kamarnya. Ibu keluar dari kamar Senja dan dengan perlahan Beliau menutup pintu kamar.
“Bu, malam ini, biar Ghani yang menemani Senja tidur,” ujarku.
Ibu mengangguk dan tersenyum.
Aku masuk ke kamar Senja yang terang. Senja tak suka jika tidur dalam keadaan gelap. Aku duduk di tepi tempat tidur Senja. Membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang.
“Nak, kelak kau adalah penghuni Jannah yang suci. Besarkan hatimu, Nak. Bahagialah menerima segala ketetapan Allah. Karena sejatinya, Dia adalah tempat kita akan kembali dan menjalani kehidupan kekal yang indah. Berprasangka baik padaNya. Bahwa semua ini adalah yang terbaik untukmu, Nak, Papah menyayangimu dan akan selalu bersamamu hingga akhir hayat Papah.” Aku mencium keningnya dan membasahi kening Senja dengan airmata yang tak pernah bisa kubendung dan tak tertahankan itu.